CERITA DARI LAPANGAN BARUTUNGGAL: Persib dan Terasingnya Sepak Bola Tarkam
Tentang anak-anak Bandung yang menciptakan permainan sepak bola sendiri, dan ekosistem yang tak pernah datang menjemput.

Iman Herdiana
Editor BandungBergerak.id, bisa dihubungi melalui email: [email protected].
24 Mei 2026
BandungBergerak – Jalan kampung Barutunggul, Ciwidey yang menanjak seperti gunung riuh dengan nada gamelan tradisional. Suara terompet tradisional menjadi melodi yang paling mencolok, dengan sesekali gong dipukul. Orang-orang kampung berbaris dengan berbagai kostum lokalnya. Sebagian dari mereka mengusung jampana, rumah-rumahan berisi hasil panen produk pertanian khas Bandung Selatan.
Beberapa orang tampak susah payah mendorong kerbau-kerbauan yang di bagian kakinya dipasangi roda kecil. Jalan yang menanjak membuat kerbau buatan seukuran sepeda motor sport itu sulit digerakkan.
Di dalam barisan, anak-anak SD berdandan seperti petani. Anak-anak lelaki memakai kampret hitam serta kumis dan cambang dari arang, sementara anak-anak perempuan memakai kebaya serta kain. Mereka membawa cangkul dari kayu dan bergerak seperti petani yang sedang mencangkul, mengikuti irama gamelan.
Warga kampung menyambut karnaval Agustusan itu di kiri kanan jalan. Beberapa di antaranya adalah orang tua dari anak-anak SD tadi. Suasana meriah sekaligus hangat yang lazim terjadi pada era 1990-an.
Setelah melewati perjalanan menanjak dan melelahkan, seluruh peserta karnaval akhirnya tiba di lapangan sepak bola untuk bergabung dengan peserta lain dari desa berbeda. Mereka duduk dengan tubuh bermandikan keringat di atas rumput liar lapangan yang tak rata.
Setiap bulan Agustus menjelang hari kemerdekaan, Ciwidey punya tradisi karnaval ini. Masing-masing desa dari berbagai penjuru kecamatan memamerkan keunikan lokalnya. Puncak karnaval berbarengan dengan perhelatan final sepak bola antarkampung (tarkam) yang babak penyisihannya sudah dimulai sejak menjelang Agustus.
Barutunggul beruntung karena memiliki lapangan yang terbilang luas untuk ukuran kampung. Lapangan ini terletak di atas SD Barutunggul. Anak-anak SD sering bermain bola di sana, baik saat istirahat maupun ketika pulang sekolah. Mereka biasanya memakai seperempat lapangan saja, dengan gawang dibuat dari tumpukan batu atau tas-tas sekolah. Di benak mereka, lapangan Barutunggul tak ubahnya stadion yang luas dan mudah membuat lelah. Mereka berani bermain satu lapangan penuh jika ada acara khusus, seperti pertandingan antarsekolah, tetapi ini amat jarang.
Pada dekade tersebut, tradisi sepak bola di Ciwidey terasa kuat, setidaknya bagi anak-anak. Mereka biasa patungan membeli bola karet jika memiliki cukup uang. Namun jika bekal menipis, bola plastik pun cukup.
Di luar lapangan Barutunggul, mereka juga biasa bermain sepak bola di jalan yang belum beraspal, di gang, atau menumpang sembarangan di halaman orang. Yang terakhir ini biasanya berakhir dengan konflik dengan pemilik lahan. Mereka mengeluhkan permainan liar ini merusak tanaman atau mengganggu sapi-sapi mereka. Selain bertani, sebagian warga Ciwidey juga memelihara sapi perah. Sapi-sapi ini biasanya gelisah jika menghadapi kegaduhan anak-anak. Tapi penyebab utamanya karena sapi tak suka sepak bola.
Panas Laga Derby
Ketika laga final sepak bola tarkam digelar di lapangan sepak bola Barutunggul sore itu, Liga Indonesia sedang mememas terutama dengan hadirnya derby Persib versus Bandung Raya. Setelah sekian lama Persib menjadi klub “tunggal” di Jawa Barat, mereka “tiba-tiba” menemukan rival sekota yang kuat dan menebar ancaman juga kepada klub-klub lain di Liga Indonesia.
Perjalanan Bandung Raya, eks klub Galatama, mencapai puncaknya ketika tampil sebagai juara Liga Indonesia 1995–1996. Tidak hanya orang dewasa, banyak anak-anak yang jatuh hati pada klub yang dibentuk tahun 1987 itu. Nama Peri Sandria, striker, menjadi buah bibir karena menjadi momok bagi gawang lawan. Ia berhasil mencetak 34 gol dalam 37 pertandingan. Torehan tersebut menjadi rekor baru yang bertahan selama kurang lebih 12 tahun, sebelum kemudian dipecahkan oleh Sylvano Comvalius pada Liga 1 2017 dengan 37 gol.
Panasnya derby Bandung semakin terasa karena masing-masing klub memiliki kelompok pendukung fanatik. Bobotoh Persib tidak perlu diragukan lagi kecintaannya pada Maung Bandung. Ini bahkan bisa didengar dari lagu Kang Ibing berjudul “Jung Maju Maung Bandung” yang masih diputar hingga sekarang. Namun kehadiran Bandung Raya membuat bobotoh atau penonton sepak bola Jawa Barat terbelah: ada yang tetap setia bersama Maung Bandung, tapi tak sedikit pula yang memilih “menyeberang” ke Bandung Raya.
Tidak berlebihan jika aura derby Persib vs Bandung Raya terasa seperti North West Derby (Manchester United vs Liverpool), El Clásico (Barcelona vs Real Madrid), Derby della Madonnina (AC Milan vs Inter Milan), atau Superclásico (Boca Juniors vs River Plate).
Tensi derby dua klub Bandung merembes hingga ke akar rumput, termasuk dalam kompetisi tarkam di Ciwidey. Di turnamen Agustusan itu, klub dari Barutunggul mendatangkan pemain dari Persib, sementara klub kampung lain mendatangkan pemain dari Bandung Raya. Turnamen tarkam pun terasa seperti liga profesional, setidaknya bagi anak-anak penggila bola yang sehari-hari bermain di pinggir lapangan, halaman rumah, atau dekat kandang sapi.
Penonton berjubel di empat penjuru lapangan Barutunggul. Sebelum pertandingan dimulai, beberapa orang dewasa sibuk berbisik, membakar kemenyan, lalu menyuruh anak-anak mengencingi gawang lawan. Air seni diyakini bisa membuat tim lawan kalah. Anak-anak menurut saja karena mereka juga ingin kampungnya menang. Kompetisi tarkam menjadi semakin lengkap dengan nuansa mistisnya.
Sayangnya, masa keemasan Bandung Raya telah lewat dan tampaknya belum akan kembali dalam waktu dekat. Persib, bersama para bobotohnya, kehilangan rival sekota. Persib kembali menjadi satu-satunya klub dari Bandung yang eksis di liga utama.

Menengok Street Soccer
Di luar negeri, khususnya di negara-negara Amerika Latin, sepak bola jalanan (street soccer) telah melahirkan pemain-pemain bintang. Pelé, sebelum menyandang status sebagai salah satu pesepak bola terhebat sepanjang masa, mengawali permainannya di jalanan Brasil. Begitu pula Diego Maradona, legenda Argentina yang tumbuh besar dengan bermain sepak bola jalanan di lingkungan Villa Fiorito di Buenos Aires. Jalanan juga menjadi “akademi” pertama bagi Zinedine Zidane, Francesco Totti, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan seniman-seniman lapangan hijau lainnya.
Bagi para pemain ini, street soccer lebih dari sekadar ruang bermain. Di jalanan, mereka bukan hanya berkompetisi untuk mencetak gol ke gawang seadanya, melainkan juga menyerap budaya sepak bola itu sendiri. Tak heran muncul ungkapan bahwa di negeri-negeri seperti Argentina dan Brasil, sepak bola menyerupai agama, dan jalanan adalah salah satu ritusnya.
Caroline M. Petrilla dan koleganya, dalam riset Cultivating Positive Youth Development through Latin American Street Soccer Programming, mengungkap bahwa di banyak kota di Amerika Latin, sepak bola jalanan tumbuh dari ruang-ruang yang jauh dari ideal. Praktik ini berangkat dari realitas sehari-hari anak muda di lingkungan urban. Di Argentina, ia menemukan bagaimana anak-anak bermain di gang sempit, lapangan tanah tak rata, dan area seadanya.
“Permainan yang dimainkan oleh anak muda di ruang-ruang terpinggirkan, termasuk di sekitar tempat pembuangan sampah,” tulis Caroline, menggambarkan kondisi street soccer di Argentina.
Namun justru dari keterbatasan itulah, budaya bermain membentuk cara belajar yang khas. Bisa jadi dari tradisi ini terjawab mengapa pemain seperti Maradona atau Messi mampu menggiring bola dari ujung ke ujung lapangan, melewati dua, tiga, bahkan enam orang pemain lawan.
Dalam situasi lapangan yang terbatas, anak-anak dipaksa terus beradaptasi. Gang sempit membuat mereka harus mengontrol bola dengan cepat dan tepat. Permukaan tanah yang tidak rata melatih sentuhan dan keseimbangan. Ruang yang padat menuntut keputusan yang akurat. Semua ini terjadi secara alami, tanpa instruksi pelatih atau kurikulum formal.
Interaksi sosial juga terbentuk di ruang-ruang ini. Karena tidak ada wasit, pemain harus bernegosiasi sendiri ketika terjadi pelanggaran atau konflik. Dalam praktiknya, aturan permainan sering kali disepakati bersama sebelum dimulai. Menurut Caroline, street soccer menekankan “pembuatan aturan secara kolektif dan dialog antarpemain, bukan dikendalikan oleh pihak luar”. Maka, tak heran jika permainan kolektif klub-klub Amerika Latin terlihat seperti sudah terbentuk sejak dalam pikiran.
Di lapangan-lapangan informal itu pula, batas sosial cenderung mencair. Anak-anak dari latar belakang berbeda bermain bersama, termasuk laki-laki dan perempuan. Tidak ada seleksi ketat. Siapa pun bisa ikut selama mau bermain.
Meneliti kultur sepak bola Brasil, João Bosco Gomes Lima Júnior dan koleganya mengungkap bagaimana budaya sepak bola jalanan menjadi fondasi penting dalam membentuk kualitas teknis dan kecerdasan bermain. Permainan tradisional dalam kultur akar rumput nyatanya menyediakan “lingkungan pembelajaran representatif” yang kuat bagi pemain muda.
Di sinilah relevansi budaya akar rumput menjadi semakin jelas. Karena sifatnya fleksibel dan adaptif, permainan jalanan menyediakan ruang bagi setiap pemain untuk berkembang sesuai kemampuannya. Tidak ada satu pola baku, yang ada adalah interaksi antarpemain, lingkungan, dan permainan itu sendiri.
Implikasinya bagi pembinaan modern cukup tegas. Alih-alih sepenuhnya menggantikan metode informal dengan sistem akademi yang kaku, pelatih justru didorong untuk mengadopsi prinsip-prinsip dari budaya ini. Dengan kata lain, pola pembinaan bersifat dari bawah ke atas, bukan sebaliknya.
Baca Juga: Persib, Bandung, dan Kota yang Belajar Percaya pada Kemustahilan
Lima Ribu Rupiah di Tribun Selatan
Kembali ke Sepak Bola Tarkam
Bagaimana dengan dengan Indonesia? Kita dan negara-negara di Amerika Latin sebenarnya memiliki sejumlah kesamaan mendasar, meskipun juga terdapat perbedaan yang cukup jelas. Kita sama-sama memiliki tradisi sepak bola jalanan dengan istilah lokal: sepak bola tarkam atawa tarkam, seperti yang terlihat dalam tradisi Agustusan di Ciwidey.
Kesamaan lainnya terletak pada panjangnya sejarah. Di Indonesia maupun di Amerika Latin, sepak bola telah dikenal lebih dari satu abad. Di Bandung, misalnya, sepak bola sudah muncul sejak awal 1900-an. Atep Kurnia dalam buku Maenbal: Sejarah Sepak Bola di Bandung Tahun 1900–1950 (2022) mencatat lahirnya klub sepak bola pertama di Bandung, Bandoengsche Voetbal Bond (BVC), pada tahun 1900.
Namun perbedaannya juga cukup mencolok. Di Amerika Latin, tradisi street soccer dirawat dan dilestarikan. Hal ini tampak dari masifnya praktik sepak bola jalanan di kota-kota urban. Banyaknya pemain jebolan street soccer yang kemudian menjadi atlet profesional menunjukkan adanya ekosistem yang menghubungkan permainan jalanan dengan jalur klub. Dengan kata lain, klub-klub profesional kerap mengambil bibit pemain dari anak-anak yang tumbuh dalam budaya jalanan ini.
Sebaliknya, tradisi tarkam di Indonesia sering kali terasing dari ekosistem tersebut (atau memang ekosistemnya tidak ada?). Ia dibiarkan tumbuh seperti belukar, lalu menghilang tanpa menemukan jembatan menuju jalur profesional. Anak-anak kampung yang gemar bermain bola di pinggir lapangan, halaman rumah, atau gang sempit, seolah terisolasi dalam dunia dan mimpinya sendiri yang kemudian pupus ketika mereka dewasa.
Di sisi lain, klub justru lebih sibuk mendatangkan pemain asing, bahkan terlalu fokus pada upaya menaturalisasi pemain agar klubnya tetap elite di liga.
Studi yang dilakukan João menunjukkan bahwa kekuatan sepak bola Brasil (Amerika Latin) lahir dari akar budaya bermain yang hidup di ruang-ruang informal, di jalan. Sulit membayangkan budaya sepak bola Brasil tanpa mengadopsi tradisi street soccer di tingkat akar rumput.
Sementara itu, di Indonesia, kita justru cenderung melupakan sepak bola tarkam, dan mungkin memandangnya kampungan. Padahal di sanalah akar budaya sepak bola kita tumbuh, terasing, dan menunggu… mati.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


