Lompat ke konten utama
Bandung Bergerak

Layar Tancap Terang Bulan: Membaca Ulang Ketionghoaan lewat Sinema, dari Luka Mei 1998 hingga Krisis Identitas

Dua belas film dalam Layar Tancap Terang Bulan menelusuri trauma sejarah, ingatan keluarga, dan pergulatan identitas Tionghoa-Indonesia lintas generasi.

Retna Gemilang20 Oktober 2026

Film dan cerita Owen mengemuka dalam Layar Tancap Terang Bulan bersama SineSofia di rangkaian acara CapCipCup Fest 02: TERANG BULAN di Tjap Sahabat, Jl. Cibadak No. 168A, Bandung, Sabtu malam, 17 Oktober 2026.  (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Film dan cerita Owen mengemuka dalam Layar Tancap Terang Bulan bersama SineSofia di rangkaian acara CapCipCup Fest 02: TERANG BULAN di Tjap Sahabat, Jl. Cibadak No. 168A, Bandung, Sabtu malam, 17 Oktober 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak) — Foto ilustrasi purwarupa BandungBergerak.id.

BandungBergerak - Niu Niu menemukan kumpulan surat lama dan materi arsip yang mengungkap masa lalu kakeknya di Indonesia. Banyak pertanyaan, cerita, dan memori yang sudah lama tersimpan membawanya mundur ke memori kelam Krisis Moneter dan Kerusuhan Mei 1998. Rumah keluarganya dibakar oleh massa hanya karena mereka Tionghoa. Mencari selamat, Niu Niu melarikan diri ke Singapura sebagai seorang pengungsi dan penyintas yang memendam trauma. 

Dalam pencarian identitasnya, Niu Niu berhadapan dengan mitos seputar tokek atau gecko. Suara dan visual binatang melata yang terus berkelindan dalam dirinya ini seolah menjadi penanda bahwa terdapat sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang, yakni ingatan masa lalu akan trauma antargenerasi. Dan itu diwariskan lewat cerita keseharian dalam keluarga. 

Kisah Niu Niu tersaji dalam film pendek Gecko (2026) yang diputar dalam “Layar Tancap Terang Bulan” bersama SineSofia di rangkaian acara CapCipCup Fest 02: TERANG BULAN di Tjap Sahabat, Jalan Cibadak No. 168A, Bandung, Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Berdurasi 14 menit, film ini berusaha mengungkap arsip tentang bagaimana keluarga Tionghoa-Indonesia bertahan setelah mengalami sejarah kerusuhan yang kelam. Inspirasinya datang dari keluarga sang sutradara, Owen Effendi. 

Pelarian keluarga Owen ke Singapura bahkan terarsipkan oleh artikel koran di negara tersebut. Selain itu, ada koleksi foto-foto keluarga yang masih tersimpan. Dan lewat arsip-arsip seperti inilah, Owen, sebagai orang yang lahir pascareformasi, memahami luka antargenerasi. Di sepanjang perjalanannya, berserakan momen ketika ia mengalami krisis identitas sebagai Tionghoa-Indonesia. 

“Saya ini orang Indonesia tapi bukan Cina," tuturnya. "Ketika di Cina juga, (saya) bukan sama sekali Cina.”  

Selain Gecko, ada dua film pendek lain yang diputar di pekan pertama “Layar Tancap Terang Bulan”, yakni Acung Memilih Bersuara (2023) karya Amelia Hapsari berdurasi 10 menit dan Vania On Lima Street (2022) karya Bayu Prihantoro berdurasi 24 menit. Ketiganya melengkapi daftar 12 film terkurasi tentang dinamika Tionghoa di Indonesia yang akan ditayangkan masing-masing tiga film tiap hari Sabtu, dari 17 Oktober sampai 7 November 2026. Benang merah semua film adalah upaya mendefinisikan ulang luka dan trauma warga Tionghoa sebagai bentukperwatan ingatan antargenerasi. 

Baca Juga: Forgotten: Melawan Sampai Akhir Hidup
ULAS FILM: 'Where is the Friend's House?', Ketika Anak- ...

Film dan cerita Owen mengemuka dalam Layar Tancap Terang Bulan bersama SineSofia di rangkaian acara CapCipCup Fest 02: TERANG BULAN di Tjap Sahabat, Jl. Cibadak No. 168A, Bandung, Sabtu malam, 17 Oktober 2026.  (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Film dan cerita Owen mengemuka dalam Layar Tancap Terang Bulan bersama SineSofia di rangkaian acara CapCipCup Fest 02: TERANG BULAN di Tjap Sahabat, Jl. Cibadak No. 168A, Bandung, Sabtu malam, 17 Oktober 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Membaca Ulang Ketionghoaan di Layar Sinema

Kurator "Layar Tancap Terang Bulang" Gorivana Ageza mengatakan, ke-12 film terkurasi memperlihatkan bagaimana isu ketionghoaan dieksplorasi oleh para sineas Indonesia, khususnya melalui film pendek. Film-film juga menyajikan bagaimana jejak karya asli sineas-sineas Tiongkok dalam mengolah isu yang lekat dengan identitasnya, melalui persimpangan nilai tradisi, memori sejarah, trauma, hingga kegagapan identitas. 

“Sinema di titik ini menjadi semacam terang bulan atas temaramnya sejarah yang memberikan kesempatan untuk kita memandang kembali dengan lebih terang-benderang hal-hal yang selama ini disinggungkan dalam film,” ujar dosen yang juga menjadi juri film cerita pendek di Festival Film Indonesia (FFI) 2021-2023 ini. 

Menurut Gorivana, telah terjadi pergeseran pola tema sinematik tentang Tionghoa. Dari film-film yang membahas dinamika keluarga Tionghoa menuju film yang lebih banyak mengangkat trauma dan rekonsiliasi sejarah. Film-film yang dikurasi dalam program ini, mayoritas dirilis pada 2023-2026, memperlihatkan kecenderungan tersebut. Bagi Gorivana, kecenderungan ini menarik untuk dibaca lebih jauh, terutama ketika film-film tentang trauma dan kebingungan identitas muncul di tengah generasi muda yang lahir pascareformasi. 

Namun, pengalaman menjadi Tionghoa-Indonesia tidak melulu berkaitan dengan trauma. Sutradara sekaligus pendiri Kineruku, Ariani Darmawan, menemukan cara lain dalam memahami identitasnya. Lewat film dokumenter bertajuk Anak Naga Beranak Naga (2006), dia berkisah tentang sejarah musik gambar kromong sebagai akultuasi budaya Tionghoa dan Betawi di kawasan Cina Benteng, Tangerang. 

Dalam film yang lain, Sugiharti Halim (2008), Ariani mengangkat persoalan identitas melalui pengalaman seorang perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia. Baginya, pengalaman personal dan sejarah di sekitarnya dapat menjadi latar kuat untuk menceritakan luka dan identitas kepada penonton. “Setelah bikin film itu, saya pikir, saya menjadi lebih tulus tentang kecintaan saya,” ucapnya. 

Hubungan Ariani dengan identitas Tionghoa menyimpan jejak sejarah yang lebih rumit. Dalam keluarganya, sebagian unsur kebudayaan Tionghoa telah terkikis. Dia mengaku tidak memiliki nama Tionghoa dan tidak bisa berbahasa Mandarin. Meski begitu, ketika perayaan Imlek kembali diperbolehkan setelah puluhan tahun dilarang, ibu Ariani kembali merayakannya bersama keluarga. 

“Walaupun kayak kecinaan kita sudah terkikis, tapi kayak dia (ibu) juga mau mengingatkan mungkin bahwa kecinaan itu adalah salah satu bagian dari hidup dia dan dia ingin tetap meneruskannya jadi identitas,” tuturnya. 

Representasi Tionghoa dan Tanggung Jawab Sineas

Menggambarkan pengalaman suatu kelompok seperti Tionghoa-Indonesia dalam film tidak cukup dengan menghadirkan karakter yang tampak familiar. Kurator "Layar Tancap Terang Bulan" sekaligus Programmer Jogja Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Yustinus Kristianto, menyebut penggambaran budaya perlu dibangun dengan pemahaman yang lebih mendalam. Membedakan film Tionghoa-Indonesia berdasarkan latar belakang etnis sineasnya tidak selalu mudah. Namun, ketika mengamati karya, ia terkadang terkoneksi dengan kepekaan tertentu yang membuat penggambaran narasi Tionghoa terasa dekat. 

“Seringkali film yang akhirnya menggunakan karakter tertentu, dari etnis tertentu, dia akhirnya menempelkan familiritas tertentu, tapi tidak betul-betul dalam, tidak betul-betul dibangun, tidak genuine rasanya,” ujar Yustinus yang tumbuh dalam lingkungan Tionghoa di Tangerang

Bagi Yustinus, persoalannya bukan hanya siapa yang membuat film tapi bagaimana pengalaman suatu kelompok dapat dihadirkan di layar. Pandangan tersebut menjadi penting ketika film Tionghoa-Indonesia kerap bersinggungan dengan trauma sejarah, diskriminasi, dan persoalan identitas. Bila narasi cerita berhenti pada ciri-ciri mewakili etnis, pengalaman orang-orang di dalamnya berisiko menyempit jadi stereotip. 

“Bukan berarti mereka yang di luar spektrum itu tidak boleh menceritakan ya, tapi akhirnya apakah yang diceritakannya mendekati dengan apa yang sedang dirasakan oleh teman-teman itu sendiri,” tambahnya. 

Demikianlah dalam "Layar Tancap Terang Bulan" ini, ke-12 film terkurasi berusaha memperlihatkan realitas akan cerita warga Tionghoa-Indonesia. Di sana, ada sekelumit sejarah dan trauma yang tidak akan bisa ditutupi meski masa dan rezim telah berganti. 

Pemutaran dan diskusi film menjadi bagian dari pameran CapCipCup Fest 02: Terang Bulan yang hendak menghadirkan kembali budaya-budaya Tionghoa. Di Tjap Sahabat, pengunjung dapat menikmati instalasi karya media campuran interaktif tentang 12 shio. Adapula lukisan dan kaligrafi aksara Mandarin dari hasil karya tangan. Pameran berlangsung dari 24 September hingga 15 November 2026

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Tanggapanmu

0

Ruang berdialog yang santun, bebas dari ujaran kebencian dan fitnah. Komentar dimoderasi redaksi sebelum ditayangkan.

Tuliskan Tanggapan Anda

Belum ada tanggapan pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Baca juga

Nawala

Satu surel untukmu setiap pekan, merangkum cerita-cerita dari pinggir.