• Berita
  • Merajut Kembali Ikatan Manusia dan Pohon di Sesar Lembang Kalcer

Merajut Kembali Ikatan Manusia dan Pohon di Sesar Lembang Kalcer

Warga diajak mengenali keanekaragaman hayati, menyelami pengalaman bersama pohon, dan memahami pentingnya menjaga kawasan alam.

Acara Ekosimpul di Sesar Lembang Kalcer, Cigadung, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang6 November 2026


BandungBergerak – Pagi yang cerah di atas hamparan hijau di Sesar Lembang Kalcer, Cigadung, Bandung, Minggu, 1 November 2026. Orang-orang berkeliling sambil mengamati keanekaragaman hayati dalam acara Jelajah Taksa bersama Tunas Nusa. Mereka membawa kamera, alat tulis, tas, dan topi. Tujuannya tidak lain untuk mengenal lebih dekat pada pohon, tumbuhan yang selama ini terasa semakin jauh dengan kehidupan masyarakat urban.

Selepas dua jam berkeliling, peserta diajak berjalan tanpa alas kaki di rerumputan sebagai grounding dan rehat sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Di tempat inilah Kumpul Ekosimpul Pohon pertama digelar. Sebuah perjumpaan dalam mempertemukan manusia dengan pohon tanpa sekat. 

Salah satu peserta dari Melihat Lebih Jernih, Cici Purnamasari, mengingat kembali masa kecilnya melalui pohon, terlebih pohon cengkeh. Sewaktu kecil, ia terbiasa memanjat pohon cengkeh dan kini Cici merasa nostalgia dengan dipertemukannya kembali dengan pohon tersebut saat mengikuti Jelajah Taksa di Sesar Lembang Kalcer. 

“Saya jadi paham bahwa kita yang ada di bumi ini, mau manusia, mau pohon, ataupun mau faunanya, ternyata kita saling terhubung,” katanya. 

Cici baru tahu bila banyak bagian tubuh manusia mirip dengan kondisi alam. Sembari menunjukkan telapak tangan, ia melihat koneksi bahwa struktur garis-garis tangan manusia mirip dengan jari-jari pada daun.

Koneksi manusia dan pohon yang dialami Cici menjadi salah satu potret yang ingin ditampilkan di Ekosimpul ini. Bagi Dea, pegiat Salira Sarerea, Ekosimpul berangkat dari keinginan menyediakan ruang belajar partisipatif tentang manusia dan alam. 

Pengetahuan, menurutnya, tidak semestinya dimiliki oleh segelintir orang atau diakui melalui ukuran keilmuan formal. Pengetahuan sehari-hari bahkan pengetahuan yang diwariskan para leluhur juga menjadi wadah ilmu pengetahuan bisa tersalurkan. 

Ada tiga pendekatan yang dilakukan, yakni keterhubungan ekosistem dengan keanekaragaman hayati, menelusuri pohon yang ditempatkan kembali ke kawasannya di hutan dengan sadar kawasan, dan pengalaman manusia yang terhubung dengan lingkungan hidup. 

“Ekosimpul ini sebenarnya ya sama, gimana cara menelusuri keterhubungan diri sesama sama alam. Makanya ada tiga pendekatan tadi,” ungkap Dea. 

Gagasan itu pula yang tercermin dalam Ekosimpul. M. Andi Nurfauzi dari Salira Sarerea menjelaskan, pertemuan ini bukan dimaksudkan untuk menghasilkan satu kesimpulan tunggal tentang alam. Melainkan merajut keterhubungan yang selama ini luput atau bahkan tidak terwariskan. Dari sana, pengetahuan tentang pohon diharapkan tumbuh dari pertukaran pengalaman para peserta. 

“Untuk itulah sebetulnya ekosimpul itu menjadi hadir untuk menyimpulkan, tapi bukan berarti membuat kesimpulan, hanya menyimpulkan membuat simpul-simpul yang nantinya akan berakhir pada sebuah produksi pengetahuan bersama,” ucap Andi. 

Membaca Alam Lewat Pohon, Pengalaman, dan Kawasan

Dalam memaknai keterhubungan alam, setiap peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yakni keanekaragaman hayati bersama Tunas Nusa, sadar kawasan bersama Gunung Institute, dan pengalaman manusia dengan alam bersama Semai Rasa. 

Dalam memaknai alam lebih lanjut, setiap peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yakni keanekaragaman hayati bersama Tunas Nusa, sadar kawasan bersama Gunung Institute, dan pengalaman manusia dengan alam bersama Semai Rasa. 

Di rangkaian Ekosimpul, Tunas Nusa melaksanakan Jelajah Taksa ke-11 dengan menelusuri ragam tanaman dan pengamatan burung. Bagi Ramalis Sobandi, pendiri Yayasan Tunas Nusa, kawasan Sesar Lembang Kalcer menyimpan lebih banyak kehidupan daripada yang tampak sekilas. Hamparan rerumputan yang mungkin dianggap biasa, ternyata menjadi tempat tumbuh 46 tanaman. Bahkan beberapa di antaranya bisa dimakan, seperti Duri Walang Sangit, pohon nangka, dan lainnya. 

Temuan ini memperlihatkan bahwa ruang hijau yang barangkali sekilas tampak hanya dipenuhi pohon, nyatanya menyimpan beragam jenis kehidupan dan pengetahuan alam. 

“Untuk kami ini adalah suatu eksperimen baru, karena Jelajah Taksa 11 kita selenggarakan sebagai satu gerakan kolektif untuk lebih dekat dengan pohon,” tutur Ramalis. 

Melalui Jelajah Taksa, ia mengajak peserta untuk mendekat, mengamati, dan mengenali keanekaragaman hayati yang tumbuh. Pendekatan yang dilakukan, tambah Ramalis, yakni ABC dengan akronim Antusias, Berpartisipasi, dan Catat. Di akhir penelusuran, peserta mendokumentasikannya ke dalam zine. 

Bagi Ramalis, Jelajah Taksa bukan sekadar kegiatan mengenali nama-nama tumbuhan. Ini juga menjadi upaya mempertemukan orang dengan pengetahuan yang mereka temukan sendiri di lapangan. Pengetahuan, tidak harus datang dari seorang ahli, tapi juga dapat tumbuh melalui pengamatan dan pengalaman bersama. 

“Jadi proses ini, kita menghubungkan semua orang untuk membangun ilmu bersama,” ujarnya. 

Berbeda dengan Tunas Nusa dengan pengenalan keanekaragaman hayati, Semai Rasa membawa peserta mengalami langsung kedekatan dengan pohon. Avitia Nurmatari dari Semai Rasa mengajak peserta berjalan perlahan tanpa alas kaki, mengamati, duduk, tidur, hingga memeluk pohon di sekitar mereka. 

Bagi Avi yang juga sebagai Marketing and Activation Lead Sesar Lembang Kalcer, hubungan dengan pohon bukan semata mengetahui fungsi ekologisnya. Ada pengalaman personal dan ingatan yang bisa muncul ketika seseorang berada dekat dengan pohon. Ia sendiri mengingat kebiasaan mendatangi pohon kersen ketika merasa lelah saat masih bekerja sebagai jurnalis. 

Pengalaman itu juga tercermin dalam kebiasaan mereka memeluk pohon Kayu Afrika yang disebut Ambu. Avi menggambarkan kedekatan tersebut seperti sedang memeluk seorang ibu. 

“Karena biasanya kalau kami memeluk pohon itu tuh rasanya seperti memeluk ibu,” ujar Avi. 

Melalui Semai Rasa, peserta diajak berbagi ruang dengan alam. Harapannya, interaksi langsung dengan pohon dapat menumbuhkan kesadaran untuk menghargi hubungan manusia dengan alam sekitarnya. 

“Ternyata pengalaman manusia dengan pohon, dengan alam sekitarnya bisa membawa kesadaran tersendiri buat teteh-teteh tadi yang merasakannya. Terima kasih sudah berbagi pengalaman di sana,” tuturnya. 

Bagi Gunung Institute, memahami alam juga berarti mengenali batas-batas ruang yang seharusnya dijaga dari aktivitas dan eksploitasi manusia. Melalui pendekatan sadar kawasan, peserta diajak berdiskusi bahwa tidak semua wilayah bisa dimanfaatkan sesuka hati. Ada kawasan yang diperuntukkan bagi perlindungan alam dan kehidupan di dalamnya. 

Rizal atau Kang Ijal dari Gunung Institute menjelaskan, kawasan tersebut dibagi menjadi cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, kawasan konservasi, dan lainnya. Kawasan-kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis yang penting bagi keberlangsungan makhluk hidup. Karena itu, kepentingan manusia tidak semestinya selalu ditempatkan di atas hak alam. 

“Di mana ada kawasan-kawasan yang memang diperuntukkan untuk hak alam. Di sana kita tidak bisa memaksakan. Karena memang kawasan tersebut itu suah diberikan untuk hak alam,” ujar Rizal.  

Sementara itu, Yudi yang juga dari Gunung Institute sekaligus sejarawan Unpad mengajak peserta melihat perubahan lanskap hutan di Priangan melalui perjalanan sejarah. Ia menyinggung masa Preanger Stelsel, pembangunan Jalan Raya Pos, sistem tanam paksa, hingga berkembangnya perkebunan swasta setelah UU Agraria 1870. Rangkaian kebijakan dan aktivitas tersebut turut membentuk perubahan lanskap lahan di wilayah Jawa. 

Perubahan itu menyisakan persoalan tentang ketimpangan natara laju kerusakan dan pemulihan diri alam. Yudi mengingatkan, pertumbuhan pohon tidak sebanding dengan kecepatan kerusakan yang tengah terjadi. 

Baca Juga: Karnaval, Citra Kota, dan Pesta di Atas Amnesia
Menolak Geotermal Adalah Pertahanan Warga Gunung Tampomas demi Tanah dan Air

Acara Ekosimpul di Sesar Lembang Kalcer, Cigadung, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Acara Ekosimpul di Sesar Lembang Kalcer, Cigadung, Bandung, Minggu, 1 November 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Manusia Pohon

Seluruh aktivitas itu menjadi bagian upaya mengenali keterhubungan manusia dengan alam. Namun, pengetahuan tidak hanya berhenti pada apa yang dipelajari selama Ekosimpul. Ayah Nunu, yang dikenal dsebagai manusia pohon, mengingatkan bahwa kehidupan manusia justru bergantung pada keberadaan alam. 

Ia menjelaskan, pohon memiliki banyak peran bagi kehidupan. Selain menghasilkan oksigen dan menjadi sumber pakan bagi makhluk hidup, pohon juga bantu mencegah erosi, menjadi sumber bahan obat, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Karena itu, menanam pohon saja tidak cukup tanpa diikuti kepedulian dalam merawatnya. 

“Da alam mah teu butuheun ku manusa, justru manusa anu butuh ku alam,” ujar Ayah Nunu. 

Ia juga mengingatkan, kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari tempat tinggal. Tidak harus selalu dengan aksi besar. Menurutnya, setiap orang dapat mengambil peran dengan menanam dan menjaga pohon di lingkungan masing-masing. 

“Di mana bumi dipijak, di situ pohon ditanam,” tambahnya. 

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya perkara pemanfaatannya, melainkan juga merawat lingkungan tempat manusia hidup. Sebab, sebagaimana tiga pendekatan yang dikenalkan dalam Ekosimpul, upaya jaga alam dapat dimulai dari mengenali kehidupan di sekitar pohon, mengalami kedekatan dengannya, dan memahami hukum kawasan yang menopang kehidupan. 

Di akhir perjumpaan, Salira Sarerea mengajak seluruh peserta untuk mendokumentasikannya ke dalam kolektif zine dengan masa pengumpulan 1-30 November 2026. Dea mengutarakan, zine ini akan menampung segala macam pengetahuan, baik dalam ilustrasi, foto, puisi, atau cerita tanpa ada kurasi. Bagi Dea, zine kolektif ini hadir sebagai bentuk merawat pengetahuan warga. 

Selepas Ekosimpul, cuaca di Bandung Utara itu berganti menjadi hujan deras. Peserta yang masih tanpa beralaskan kaki meneduh di tenda-tenda. Namun, tak selang berapa lama cuaca kembali cerah dan Ekosimpul resmi ditutup dengan botram bersama dari Ngaliwet Raos.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//