Warga Dago Elos di konser Melankolia di Kolong, Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Dari Kolong Jalan Layang Pasupati, Warga Dago Elos Mengabarkan Perjuangan yang Belum Usai

Penulis Yopi Muharam20 Juli 2026

“Makanya narasi kami itu adalah ya (PK 2) ini adalah upaya hukum terakhir bagi warga Dago Elos.”


MELANKOLIA DI KOLONG: Mengembalikan Musik kepada Jalanan, kepada Warga, dan kepada Solidaritas

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 20 Juli 2026

“Dongker lahir dari komunitas dan semangat solidaritas. Kami ingin balik lagi ke ruang publik untuk mengaktivasi itu.”

Pseudo-Entertainment #2: Sebuah Pertunjukan Seni, Sekian Usaha Membaca Kota

Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 14 Juli 2026

Melalui festival pertunjukan Pseudo-Entertainment #2, para seniman kembali membaca dan membicarakan Bandung setelah beragam eksplorasi.

Dari Kardus Bekas, Alzhea Membangun Mimpi di Pinggir Terminal Ledeng

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 13 Juli 2026

Bersama teman-temannya, siswi kelas 3 SD ini menyulap kardus menjadi photobooth, menjual karya buatan tangan, menabung untuk membeli tas sekolah, dan berbagi.

KABAR DARI REDAKSI: Menelusuri Jalan Berliku BRT Bandung Raya

Penulis Tim Redaksi6 Juli 2026

Pembangunan BRT Bandung Raya digadang menjadi solusi kemacetan. Namun ada dampak sosialnya. Simak liputan khusus BandungBergerak di Teras.id.

Ketika Becak Menepi di Pinggiran Sejarah Kota Bandung

Penulis Yopi Muharam4 Juli 2026

Pameran Amni Isnaeni Rustam menghadirkan kisah para penarik becak, sejarah yang terlupakan, hingga harapan menjaga warisan budaya di tengah laju modernisasi Bandung.

Pesan dari Gunung Tangkuban Parahu: Pamali yang Mulai Dilupakan

Penulis Prima Mulia29 Juni 2026

Di puncak Gunung Tangkuban Parahu, warga adat mengingatkan batas hubungan manusia dengan alam yang kian dilupakan.

Melihat Bandung dari Jendela Angkot, Bukan dari Bingkai Media Sosial

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 23 Juni 2026

Ngobras di Jok Angkot mempertemukan orang-orang asing untuk berbagi cerita tentang kota, memori, dan ruang-ruang yang jarang muncul di media sosial.

Sebuah Konser Hardcore Punk dengan Segenggam Beras sebagai Tiketnya

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 23 Juni 2026

“Kadang saya juga enggak punya uang. Yang bisa saya pertukarkan untuk hadir ya beras yang ada di rumah."

Nyaring Hip-Hop di Taman Cibeunying: Merebut Ruang dari Bayang-bayang Budaya Takut

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah21 Juni 2026

“Selama masih ada ketimpangan, ketidakadilan, dan persoalan sosial, hip-hop akan selalu relevan.”

Lihat Semua
image
image
//