• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG 117#: Di Antara Barisan Nisan, Ganjar Suhendar Menemukan Arti Pulang

CERITA ORANG BANDUNG 117#: Di Antara Barisan Nisan, Ganjar Suhendar Menemukan Arti Pulang

Setiap hari ia menggali liang untuk orang lain, memikul peti dan menemani keluarga yang berduka di TPU Pandu.

Ganjar Suhendar, petugas penggali makam di TPU Pandu, Rabu, 9 September 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Penulis Abimanyu Ismoyo Santoso14 September 2026


BandungBergerak - Hawa Panas berembus pelan di antara jajaran nisan tua Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Pandu. Sunyi komplek permakaman berluas belasan hektare tersebut berkelindan dengan bising deru kendaraan yang melintas di luar TPU. Di balik suana itu, Ganjar Suhendar, 44 tahun, menyapu keringat di dahinya.

Dengan seragam kerja yang melekat di tubuhnya, lelaki kelahiran Bandung, 1982 itu kembali bersiap dari istirahatnya. Bagi Ganjar, tanah dan kematian bukanlah hal yang asing, melainkan ruang hidup ia dan keluarganya menggantungkan napas selama puluhan tahun.

“Untuk cita-cita, saya terinspirasi dari orang tua. Jadi abdi negara,” cerita Ganjar saat ditemui di TPU Pandu, Rabu, 9 September 2026.

Abdi negara yang dimaksud Ganjar bukan ASN atau militer. Ia meneruskan takdir keluarganya sebagai penggali tempat peristirahatan terakhir manusia.

“Kakek saya, turun ke bapak saya, terus ke saya, terus ada keponakan saya juga. Jadi sudah empat generasi saya di permakaman,” ujarnya.

Sebelum menetap di TPU Pandu, Ganjar muda sempat bekerja serabutan, dari kuli bangunan hingga petugas parkir. Baru pada 2004, ia memberanikan diri meminta izin kepada ayahnya untuk mengikuti jejak keluarga menggali kubur. Kehidupan sang ayah yang sanggup membiayai empat orang anak dari profesi itu menjadi pemantik utamanya.

Memulai langkah di TPU Ciburuy, Ganjar kemudian dipindahtugaskan ke TPU Pandu pada 2009 hingga kini.

Keseharian Ganjar dimulai sejak fajar. Setiap pagi, ia berangkat pukul 06.00 dari kediamannya di kawasan Jamika untuk mengantar anak-anaknya sekolah di kawasan Gatot Subroto, kemudian bergegas menuju TPU Pandu untuk melayani pemakaman hingga pukul 16.00 WIB. Jam kerjanya terikat rutin, meski panggilan pelayanan tak pernah mengenal jam kerja.

Menggali kubur di TPU Pandu memiliki kerumitan yang berbeda dibanding permakaman muslim. Meski standar kedalaman galian di TPU Pandu sekitar 1,1 meter, ukuran lubangnya harus disesuaikan berdasarkan dimensi peti jenazah. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sendiri; Ganjar dan timnya harus bekerja dalam kelompok berisi empat hingga lima orang.

“Capek sih ya capek, tapi gimana namanya kerja, dibayar, udah tuntutan. Pikul peti juga kita, enggak mungkin keluarga yang mikul,” tutur Ganjar.

Tidak hanya soal beban fisik, dinamika di TPU Pandu juga terikat pada tradisi dan kepercayaan ahli waris. Dalam tradisi Tionghoa contohnya, proses pembongkaran makam untuk kremasi sering kali harus mengikuti perhitungan tertentu atau petunjuk berdasaran fengshui.

Ganjar dan kawan-kawan tak jarang harus menggali tanah di tengah kegelapan malam atau menjelang subuh.

“Sering malam-malam, jam 1 malam dibongkar,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, tantangan terbesar yang dihadapi Ganjar bukan lagi sekadar tanah yang keras atau cuaca ekstrem, melainkan krisis ruang permakaman di Kota Bandung. Tahun demi tahun berlalu, Ganjar menyaksikan sendiri bagaimana sudut-sudut kosong di TPU Pandu kian menyusut terisi nisan baru.

Kondisi tersebut memaksa penerapan skema makam tumpang, yaitu memasukan jenazah baru ke petak makam keluarga yang sudah ada sebelumnya. Sebagai pekerja di lapangan, Ganjar harus menjembatani aturan teknis pemerintah dengan keluarga yang kerap berharap mendapatkan petak di area strategis. 

“Kebanyakan keluarga penginnya di pinggir jalan biar gampang, padahal udah penuh. Jadi kita kasih ke agak dalam. Ya terpaksalah kita pun melakukan itu, wayahnya,” ucapnya.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #115: Rumah Terakhir Neneng di Rusunawa Rancacili
CERITA ORANG BANDUNG #116: Muhammad Tavip dan Dunia Wayang Plastik Bekas

Ganjar Suhendar, petugas penggali makam  di TPU Pandu, Rabu, 9 September 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)
Ganjar Suhendar, petugas penggali makam di TPU Pandu, Rabu, 9 September 2026. (Foto: Abimanyu Ismoyo Santoso/BandungBergerak)

Mungkin Besok Bagian Saya

Sejak berdiri pada 1932, TPU Pandu bukan sekadar hamparan tanah tempat orang-orang dikebumikan. Di antara nisan-nisannya tersimpan jejak sejarah Kota Bandung. Sejumlah tokoh yang pernah mewarnai perkembangan kota dimakamkan di sana, termasuk arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker. Sebagian makam bahkan merupakan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe di Jalan Pajajaran yang dibongkar pada 1973.

Kini, hampir seabad setelah berdiri, Pandu menghadapi persoalan yang berbeda: lahan yang kian sesak, makam yang harus ditumpangkan, serta data pemakaman yang belum sepenuhnya terbarui. Di tengah perubahan itu, Ganjar Suhendar menjadi salah satu orang yang menyaksikan bagaimana ruang kematian di Bandung terus berubah dari hari ke hari.

Selama 22 tahun menggeluti profesi ini, ia paham betul bahwa pekerjaannya tak sekadar mengayunkan cangkul dan sekop. Ia berhadapan langsung dengan orang-orang yang sedang berduka. Empati menjadi hal  yang utama saat berinteraksi dengan keluarga jenazah.

“Kita tidak bisa seenaknya menanyakan apa pun. Kita harus sebaik mungkin, serendah mungkin nanya ke ahli waris. Takutnya tersinggung. Kita harus tetap pakai SOP dan etika yang benar pada keluarga yang lagi berduka,” tegasnya.

Tahun demi tahun telah Ganjar lalui, dan ribuan nisan yang berdiri di sana ikut membentuk cara pandangnya tentang hidup. Menggali tanah dan menyaksikan kepulangan manusia setiap hari menjadi pengingat akan batas usianya sendiri. Di tengah fisiknya yang mulai tergerus usia dan tenaganya yang tak sekuat dulu, ia memilih untuk terus bertahan di atas tanah duka.

“Setiap kali ada permakaman, saya pribadi merasa lebih sensitif, mungkin besok bagian saya,” pungkas Ganjar.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//