Parrhesia dan Tragedi Kemanusiaan di Bulan September

PENULIS
Andreas Doweng Bolo
September menjadi saat paling tepat merenungkan kemanusiaan kita sebagai bangsa Indonesia. Di sana, rentetan tragedi kemanusiaan terjadi di luar nalar kemanusiaan.
SUDUT LAIN BANDUNG: Penggusuran Kios Buku Cihapit, di antara Kebanalan Bahasa dan Demokrasi

Penulis
Abah Omtris
Penertiban kios buku Cihapit seharusnya tidak dilihat semata sebagai persoalan PKL. Ia adalah cermin kecil bagaimana sebuah kota memperlakukan ingatannya sendiri.
Bagja, Buku, dan Puing-puing di Trotoar Cihapit

Penulis
Muhammad Akmal Firmansyah
Dari kios buku lawas di Cihapit hingga Perpustakaan Gasibu, ruang literasi menyusut. Namun, di sudut-sudut kota, warga terus menghidupkan tradisi membaca.
Baros Nyarita: Dari Leuweung ke Lembur
Perubahan Desa Baros tersimpan dalam ingatan warganya. Tanpanya, pembangunan dapat membuat masyarakat kehilangan pengetahuan tentang ruang yang sedang berubah.
Ranca Upas, Lahan Gambut Pegunungan yang Perlu Diselamatkan

Penulis
Eko Yulianto
Ranca Upas menjadi contoh langka ekosistem gambut pegunungan yang dapat menjadi laboratorium alam sekaligus ruang pendidikan publik. Kelangsungannya kini terancam.
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #104: Hilangnya Lapang Beko di Desa Cangkuang

Penulis
Devita Siti
Pembangunan memang menjadi tanda bahwa suatu daerah sedang berubah. Namun, perubahan tersebut sebaiknya tidak mengorbankan masyarakat kecil di sekitarnya.
Pemerintah yang ‘Ngelunjak’, Masyarakat yang Pemaaf

Penulis
Zul Fadli Rambe
Jika kritik hanya dipahami sebagai serangan dan pembelaan pemerintah selalu dianggap sebagai kebenaran, percakapan politik kehilangan fungsi korektifnya.
CATATAN SI BOB #44: Haiku Acep Zamzam Noor, Sebuah Latihan Memerhatikan

Penulis
Bob Anwar
Kumpulan haiku Acep Zamzam Noor dalam Remang Jalan ke Surau, menyodorkan bentuk yang hemat sebagai penawar atas inflasi kata-kata yang melanda kebudayaan kita.
Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club

Penulis
Iqa Kinanti Nandakasih
Saya hanya ingin menjadi seperti perempuan-perempuan yang menari di hari itu. Tidak tahu bagaimana caranya, tetapi suatu hari saya akan ke sana.
Situs Batu Kalde #3: Saat Mitos Ronggeng Gunung dan Aria Sapi Gumarang Menjadi Pelindung Sejarah

Penulis
Merrina Listiandari
Situs Batu Kalde berkelindan dengan Ronggeng Gunung dan Aria Sapi Gumarang dari Kerajaan Pananjung.











