MAHASISWA BERSUARA: Ketika Krisis Agraria Menjadi Krisis Ekologi

PENULIS
Muhamad Akbaruddin Ramadhani
Munculnya persoalan agraria menjadi tanda bahwa sistem produksi pangan global telah mencapai batas ekologisnya.
MAHASISWA BERSUARA: Cengkeraman Neoliberalisasi Pendidikan dan Resistensi-resistensi Kecil yang Bisa Kita Upayakan

Penulis
Yoga Firdaus
Pada akhirnya kita pun menyadari akar masalahnya: bukan karena kampus “gagal berbisnis”, melainkan justru karena kampus memang berbisnis dalam kerangka kapitalis.
SUDUT LAIN BANDUNG: Memetakan Kebudayaan, Menghidupkan Kota

Penulis
Abah Omtris
Tanpa pemetaan berbasis wilayah, kebijakan akan bersifat umum. Program dibuat dengan pendekatan seragam untuk konteks yang berbeda.
Sebelum Kritik Mati: Pertanggungjawaban Juri Sayembara Esai Mahasiswa Bersuara 2025

Penulis
Tim Redaksi
Sayembara Esai Kritis Mahasiswa Bersuara boleh jadi adalah sebuah usaha mungil untuk merawat kritik. Ada 380 naskah esai dari 331 orang mahasiswa di 90 kampus.
Ketika Buku Seorang Anak SD di NTT Lebih Mahal dari Janji Negara

Penulis
Mochamad Taufik
Negara harus hadir dalam bentuk paling dasar yaitu keadilan sosial untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
MAHASISWA BERSUARA: Bersemi Sekebun, di Bawah Bayang-bayang UU ITE

Penulis
Eisia Azzahra
Menumbuhkan ruang digital yang sehat seharusnya berangkat dari literasi, pendidikan, dan perlindungan hak; bukan ancaman penjara.
Mencegah Kejahatan Perkawinan

Penulis
Renny Maria
Mengakui bahwa perkawinan bisa menjadi ruang kejahatan bukan berarti menolak nilai keluarga, melainkan upaya melindungi martabat manusia di dalamnya
Bandung: Antara Kreativitas dan Intrik Politik

Penulis
Kiki Esa Perdana
Bandung adalah contoh nyata bagaimana budaya populer dan politik saling berhubungan, namun secara rumit.
Dinamika Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Pemikiran Alan Chalmers

Penulis
Taufik Hidayat
Alan Chalmers menempatkan dirinya di posisi yang unik: ia menolak otoritarianisme metode universal sekaligus menolak nihilisme relativisme.
CERITA GURU: Dewa Petir

Penulis
Laila Nursaliha
Dunia anak itu memang unik. Imajinasi mereka masih luas tak terbatas. Tapi dari tugas perkembangannya, ia memerlukan benda-benda konkret untuk dimengerti.







