MALIPIR #57: Kisah Odysseus, dari Yunani ke Tatar Sunda

PENULIS
Hawe Setiawan
Setiap orang toh bisa seperti Odysseus: menempuh perjalanan panjang, sempat "kasarung" alias tersesat, lalu bersusah payah mencari jalan pulang.
SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Sebuah Proyek yang Kebetulan Berbudaya

Penulis
Abah Omtris
Bandung memiliki sejarah panjang sebagai ruang tumbuh musik, sastra, seni rupa, teater, desain, arsitektur, dan berbagai eksperimen kebudayaan.
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #100: Ketika Cicalengka Belum Siap Merayakan Dirinya

Penulis
Nurul Maria Sisilia
Ketika ruang perayaan saat karnaval Hari Kemerdekaan dibuka lebar-lebar, kita justru menyaksikan sebuah kegagalan kolektif dalam menafsirkan identitas daerah.
Melanjutkan Jejak Tak Tuntas: Dari Soewalan ke Sualan

Penulis
Rinaikelana
Apakah Sualan Prospek yang tercatat dalam literatur geologi merupakan Gunung Sualan di Kabupaten Bandung yang selama ini kami daki?
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #99: Ketika Arak-arakan Hari Kemerdekaan Menjadi Amukan di Cicalengka

Penulis
Andrian Maldini Yudha
Para jagoan mabuk justru datang ketika warga sedang merayakan kemerdekaan, lalu menjadikan kegembiraan sebagai kegaduhan.
Jernih Membaca Elektabilitas Dedi Mulyadi

Penulis
Ronny P Sasmita
Angka elektabilitas hanya menunjukkan besarnya dukungan, bukan karakter dukungan.
MAHASISWA BERSUARA: Faculty of Wonder dan Matinya Skeptisisme Profesional

Penulis
Madeleine Constance Tanur
Hilangnya skeptisisme di kehidupan sehari-hari membuat seseorang lebih rentan terhadap manipulasi narasi, disinformasi digital, maupun relasi yang toksik.
CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya

Penulis
Bob Anwar
Monolog “Trik” karya Putu Wijaya bercerita tentang orang yang mencintai negerinya dengan gelisah, yang menolak berpura-pura tak melihat apa yang keliru.
Ada Apa dengan War Ticket Nonton Upacara Peringatan Kemerdekaan di Istana Negara

Penulis
Mang Sawal
Jika kemerdekaan adalah milik bersama, maka pengalaman merayakannya tidak semestinya menjadi privilese yang diperebutkan lewat adu cepat jari-jari di layar ponsel.
Indonesia Merdeka, tapi untuk Siapa?

Penulis
Setiawan Maulani
Kita mengibarkan bendera tinggi-tinggi, namun membiarkan cita-cita pendidikan dan kemanusiaan terbenam makin dalam.











