MAHASISWA BERSUARA: Teror Pocong dan Logika Ketakutan Kekuasaan

PENULIS
Adzin Aris Aniq Adani
Logika pocong yang meneror merupakan metafor yang menggambarkan kondisi perpolitikan kita hari ini.
MAHASISWA BERSUARA: Banjir Bandung Bukan Bencana Alam

Penulis
Valerie Alexia Thomas
Solusi banjir Bandung tidak akan tuntas jika hanya mengandalkan bendungan dan pelebaran sungai. Akar masalahnya ada pada sistem pengelolaan air hujan tiap bangunan.
Ironi Negeri yang Kekurangan Lapangan Pekerjaan, Diberi Makan Bergizi Gratis

Penulis
Herlin Septiani
Pemerintah terlalu cepat berlari menuju program-program besar yang bersifat simbolis, sementara fondasi yang lebih mendasar masih menyisakan banyak persoalan.
Korupsi MBG dan Ironi di Balik Geng IPB University

Penulis
Ishak Wiraatmaja
IPB tidak dibangun untuk menjadi pelayan kekuasaan yang pragmatis. IPB dibangun dalam jalan perjuangan untuk rakyat.
Magnifica Humanitas dan Ilusi Netralitas Kebijakan Publik

Penulis
Yoh. Sandriano N. Hitang
Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV mengingatkan bahwa ada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah pembangunan membuat manusia semakin bermartabat?
CERITA GURU: Stadion yang Tak Mampu Saya Masuki, Dilema Guru Honorer untuk Persib yang Dirampas

Penulis
JIM
Persib adalah ingatan kolektif kelas pekerja Jawa Barat dan ingatan itu tak pernah bisa dijual, sebagaimana harga diri kami sebagai guru honorer.
Gerakan Reformasi Jilid Dua

Penulis
Mugi Muryadi
Jika pada 1998 perjuangan utama adalah mengakhiri otoritarianisme, tantangan hari ini adalah mencegah demokrasi terjebak dalam dominasi oligarki.
CATATAN SI BOB #34: Carpe Diem

Penulis
Bob Anwar
Buku puisi ketiga Willy Fahmy Agiska, Seperti Orang Mati yang Hidup, menemukan jangkar kontekstualnya. Ia mendata apa saja yang tersisa setelah dihantam rutinitas ke
Balada Tukang Becak Pasar Sayati

Penulis
Widya Putri Pramesti
Di antara ramainya kendaraan dan pesatnya perubahan transportasi di perkotaan, becak-becak tua masih bertahan di sudut-sudut jalan.
MAHASISWA BERSUARA: Dunia Laki-laki dalam Diskusi Pameran NeoFemisida

Penulis
Alghiffara Maulidansyah
Sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, secara paradoks juga menuntutnya untuk selalu tampil dominan, rasional, dan tidak menunjukkan kelemahan.











