Jernih Membaca Elektabilitas Dedi Mulyadi

PENULIS
Ronny P Sasmita
Angka elektabilitas hanya menunjukkan besarnya dukungan, bukan karakter dukungan.
MAHASISWA BERSUARA: Faculty of Wonder dan Matinya Skeptisisme Profesional

Penulis
Madeleine Constance Tanur
Hilangnya skeptisisme di kehidupan sehari-hari membuat seseorang lebih rentan terhadap manipulasi narasi, disinformasi digital, maupun relasi yang toksik.
CATATAN SI BOB #40: Setelah Trik Putu Wijaya

Penulis
Bob Anwar
Monolog “Trik” karya Putu Wijaya bercerita tentang orang yang mencintai negerinya dengan gelisah, yang menolak berpura-pura tak melihat apa yang keliru.
Ada Apa dengan War Ticket Nonton Upacara Peringatan Kemerdekaan di Istana Negara

Penulis
Mang Sawal
Jika kemerdekaan adalah milik bersama, maka pengalaman merayakannya tidak semestinya menjadi privilese yang diperebutkan lewat adu cepat jari-jari di layar ponsel.
Indonesia Merdeka, tapi untuk Siapa?

Penulis
Setiawan Maulani
Kita mengibarkan bendera tinggi-tinggi, namun membiarkan cita-cita pendidikan dan kemanusiaan terbenam makin dalam.
CERITA GURU: Buku dan Guru, Dua Entitas yang Diabaikan Negara

Penulis
Nurul Maria Sisilia
Sejarah telah mencatat bahwa pengabaian negara pada literasi dan pendidikan adalah jalan yang paling sempurna menuju era gelap suatu peradaban.
Kabinet Bayangan dan Batas Imajinasi Oposisi Masyarakat Sipil

Penulis
Martin Dennise Silaban
Apakah keberadaan kabinet bayangan dapat memperbesar kapasitas warga dan organisasi warga untuk mengawasi dan memengaruhi kekuasaan?
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan

Penulis
Nayla Arifani
Selama bertahun-tahun, televisi, keluarga, dan budaya populer terus mengulang anggapan bahwa kartun adalah tontonan anak-anak.
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern

Penulis
Ahmad Zaydan Puliwarna
Sepak bola sudah menjadi sistem produksi ekonomi-politik yang digerakkan oleh hubungan material dan kontradiksi di dalamnya.
Mendengarkan Garong-nya Voice of Baceprot, Menggugat Praktik Culas Pejabat

Penulis
Muhammad Akmal Firmansyah
Nadanya seperti sebuah demonstrasi: tuntutan diteriakkan, poster diangkat, dan kemarahan diarahkan pada praktik culas yang terus dipelihara.









