Kabinet Bayangan dan Batas Imajinasi Oposisi Masyarakat Sipil

PENULIS
Martin Dennise Silaban
Apakah keberadaan kabinet bayangan dapat memperbesar kapasitas warga dan organisasi warga untuk mengawasi dan memengaruhi kekuasaan?
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan

Penulis
Nayla Arifani
Selama bertahun-tahun, televisi, keluarga, dan budaya populer terus mengulang anggapan bahwa kartun adalah tontonan anak-anak.
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern

Penulis
Ahmad Zaydan Puliwarna
Sepak bola sudah menjadi sistem produksi ekonomi-politik yang digerakkan oleh hubungan material dan kontradiksi di dalamnya.
Mendengarkan Garong-nya Voice of Baceprot, Menggugat Praktik Culas Pejabat

Penulis
Muhammad Akmal Firmansyah
Nadanya seperti sebuah demonstrasi: tuntutan diteriakkan, poster diangkat, dan kemarahan diarahkan pada praktik culas yang terus dipelihara.
Demokrasi di Bawah Bayang-bayang Ketimpangan

Penulis
Cusdiawan
Ketimpangan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan sosial dan politik yang turut menentukan kualitas demokrasi.
MAHASISWA BERSUARA: 81 Tahun Kemerdekaan yang Hanya Dirasakan Segelintir Orang

Penulis
Pernando Philip Aigro Simbolon
Kemerdekaan tidak seharusnya hanya terasa ketika lagu kebangsaan dinyanyikan dan bendera dikibarkan.
MAHASISWA BERSUARA: Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Penulis
Vianka Zahra Nafralli
Kemerdekaan hari ini bukan lagi perjuangan melawan penjajahan fisik, melainkan perjuangan membangun karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
MAHASISWA BERSUARA: Tujuannya Merdeka 100%, Bukan Setengah!

Penulis
Aldi Alfaridzin
Gagasan Tan Malaka tentang Merdeka 100% lebih tepat dibaca saat ini sebagai pertanyaan yang belum tuntas dijawab. Kemerdekaan adalah hak yang belum genap dibayar.
Jebakan Teknologi dan Individualisasi Risiko

Penulis
Naufalul Ihya' Ulumuddin
Teknologi hadir bak pahlawan kecanggihan dengan tawaran solusi kecanggihan teknologi lainnya dari masalah yang diciptakannya sendiri.
Ruang yang Hilang, Kota yang Mati Rasa: Dago Elos, Sukahaji, Melankolia di Kolong, dan Bagaimana Kita Merayakan Hidup

Penulis
JIM
Ruang yang hidup adalah ruang yang menolak mengasingkan, menolak jadi melulu transaksional. Seperti yang terjadi di Dago Elos, Sukahaji, dan Melankolia di Kolong.








