PAYUNG HITAM #79: Mengingat Kembali Sebuah Tulisan tentang Kesetaraan, Patriarki, dan Beban Menjadi Laki-laki

PENULIS
Chan
Patriarki sering dipahami semata-mata sebagai sistem yang menempatkan laki-laki di atas perempuan. Pemahaman itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga belum lengkap.
SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Gerakan Balada di Bandung Mencari Ruang #1

Penulis
Abah Omtris
Dari Balada Siluman Jumat Tapi Sore menuju ManjingManjang, titik awal perjalanan gerakan balada di Bandung untuk menjaga ruang perjumpaan.
CATATAN SI BOB #39: Membaca Antologi Patah Hati

Penulis
Bob Anwar
Antologi Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan karya Imana Tahira merangkum keputusasaan dengan banalitas keseharian anak urban.
MALIPIR #56: Biar tidak Mati Gaya Saat Menulis

Penulis
Hawe Setiawan
Kita berupaya memahami cara sang penulis mengolah anasir-anasir literer seperti pilihan kata, tata kalimat, majas, dan sebagainya. Kita membaca sebagai penulis.
SUDUT LAIN BANDUNG: Balada dan Ingatan Sebuah Kota

Penulis
Abah Omtris
Balada bukan sekadar pilihan musikal. Ia adalah cara memandang dunia. Di dalamnya ada perjumpaan antara lagu, sastra, diskusi, dan kegelisahan sosial.
PAYUNG HITAM #78: Dari Bandung Darurat Begal Menuju Darurat Moral, Ketika Kebencian menjadi Spektakel

Penulis
Chan
Kebencian yang terus dipelihara jarang berakhir pada penyelesaian masalah. Ia hanya melahirkan kambing hitam baru, sementara akar persoalan tetap utuh di tempatnya.
SISI SELATAN BANDUNG: Batas Imajiner Kampung Halaman

Penulis
Jein Octaviany
Bagi manusia, sebuah wilayah hanya dibatasi oleh perasaan nyaman dan aman, terutama jika menyangkut kampung halaman.
CATATAN SI BOB #38: Ternyata Buku Puisi Bisa Sejelas ini

Penulis
Bob Anwar
Ada sesuatu yang mengganjal setelah halaman terakhir buku puisi Cermin (2026) karya Abdurrahman ditutup, ganjalan itu datang dari judulnya sendiri.
SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Barometer Musik ke Barometer Algoritma

Penulis
Abah Omtris
Algoritma bekerja secara halus. Ia tidak perlu membungkam kritik. Ia hanya perlu memberi penghargaan lebih besar pada apa yang cepat menarik perhatian.
CATATAN SI BOB #37: Beser di Bandara

Penulis
Bob Anwar
Hamzah Muhammad bukan penyair pertama yang memilih bahasa jalanan. Dan dari pilihan itulah muncul kekuatan yang jarang ditemukan dalam puisi hari ini.












