KABANDANG LEMBANG #1: Menjadi Warga Baru Kampung Andir
PENULIS
Ernawatie Sutarna
Sejak hari pertama, aroma hutan perlahan menghapus bau hangus yang sesekali masih datang mengganggu.
SISI SELATAN BANDUNG: Dari Kabupaten Menuju Kota

Penulis
Dinda Aina
Yang melelahkan adalah ketika banyak kebutuhan hidup akhirnya mengharuskan kami pergi ke kota.
SUDUT LAIN BANDUNG: Merayakan Bandung, Mempertanyakan Arah Kota

Penulis
Abah Omtris
Hari Jadi Bandung seharusnya menjadi kesempatan untuk mempertanyakan apa yang belum selesai, apa yang mulai hilang, dan apa yang berpotensi mengancam masa depan.
CERITA GURU: Seni Menyakiti Diri Sendiri, Menjadi Guru Sekaligus Aktivis Literasi

Penulis
Nurul Maria Sisilia
Para guru honorer yang merangkap aktivis literasi di celah-celah garis kemiskinan struktural, mari pahami beberapa hal. Pilihan Anda untuk bertahan terdengar gila.
SUDUT LAIN BANDUNG: Catatan dari Aliansi Bandung Ngagoak dan Tanggung Jawab Moral Seniman Bandung

Penulis
Abah Omtris
Bandung tidak kekurangan seniman. Bandung juga tidak kekurangan kegelisahan.
CATATAN SI BOB #41: Konser Pejalan

Penulis
Bob Anwar
Yang membedakan Konser Pejalan dari sekadar "konser bertema lingkungan", bukan temanya, tetapi siapa yang dipanggilnya naik ke panggung.
CATATAN DARI BANDUNG TIMUR #101: Lampu Menyala, Rasa Aman Meredup di Cicalengka

Penulis
Andrian Maldini Yudha
Belakangan, malam di Cicalengka seperti meminta lebih banyak kewaspadaan. Kabar tentang begal mengusik ketenteraman warga.
SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Ketika Ia Kehilangan Daya Spiritual

Penulis
Abah Omtris
Bandung bukan kota yang kekurangan seniman dengan gagasan dan pengalaman yang beragam. Mereka tidak selalu memiliki akses pada pintu yang sama.
PAYUNG HITAM #80: Khayalan Utopis tentang Gigs, Uang, dan Ruang yang Bisa Kita Miliki

Penulis
Chan
Kita mengkritik masyarakat konsumsi, tetapi pada akhirnya mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar mendapatkan akses yang lebih mudah.
SISI SELATAN BANDUNG: Terkungkung di Zona Nyaman Sinumbra

Penulis
Dava McCabal
Yang rileks dan lambat itu bukanlah sebuah pilihan gaya hidup yang merdeka, melainkan cermin dari keterkungkungan yang sudah mengakar.









