Persib dan Politik Kebudayaan

PENULIS
Dodi Rokhdian
Loyalitas bobotoh Persib tidak selalu dibangun oleh kemenangan. Kadang justru tumbuh dari luka yang dipikul dan diwariskan bersama.
Sepenggal Potret Normalisasi Politik Kekuasaan di Indonesia, Siapa Sih Yang Benar?

Penulis
Mang Sawal
Ada warga yang membela mati-matian penguasa, padahal bukan “buzzer”. Dia menilai kritik sebagai mengganggu stabilitas dan aktivis sebagai antek asing.
MAHASISWA BERSUARA: Rebottle Campus, Cara Sederhana Mengurangi Sampah Plastik di Lingkungan Kampus

Penulis
Loveline Destin Hwang
Banyak orang masih menganggap kegiatan memilah sampah sebagai sesuatu yang merepotkan dan tidak memberikan manfaat langsung
Catatan Atas Pameran PicuPacu Keliling Dunia: Belajar pada Kejujuran Anak-anak

Penulis
Herry Dim
Keberanian membuat titik pertama pada kertas kosong oleh seorang anak bisa jadi sebuah pengalaman awal menjadi manusia yang berani mencipta.
MAHASISWA BERSUARA: Dolar Naik Jadi Candaan, Rakyat Kecil Jadi Taruhan

Penulis
Ferdyansa Rangga
Rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling akhir sadar ada gejolak kurs, tapi paling cepat merasakan kenaikan harga.
PELAJAR BERSUARA: Menjawab Kaburnya Batas antara Pakar dan Pemengaruh, Mengutuk Otoritas Pakar

Penulis
Nayla Wulandari
Dogma itu akhirnya melanggengkan konstruk masyarakat yang tetap bungkam terhadap kekuasaan yang menindas.
Filsafat, Perlu Gitu Cuy?

Penulis
Sylvester Kanisius L.
Filsafat mendorong refleksi yang serius, pemikiran yang teliti, dan ekspresi yang jelas dari ide-ide yang terkadang kompleks dan sulit.
Persib dan Hal-hal yang Diwariskan

Penulis
Muhammad Akmal Firmansyah
Untuk mama dan bapa yang sengaja membelikan baju Persib sebelum bintang lima di dada.
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Sekolah hanya Menjadi Nama

Penulis
Aprianus Gregorian Bahtera
Realitas di Indonesia memperlihatkan bahwa mutu pendidikan masih sangat ditentukan oleh di mana seseorang dilahirkan dan seberapa tebal kantong orang tuanya.
Seni sebagai Laku Kepulangan: Dialektika Estetika dan Etika dalam Proses Kreatif

Penulis
Annisa Resmana
Untuk apa kita terus memproduksi keindahan jika ia gagal menyelamatkan kemanusiaan yang paling mendasar di sekitar kita?








