Ada Apa dengan Dunia Sepak Bola Hari ini?

PENULIS
Raden Muhammad Wisnu Permana
Di sepak bola, kegagalan saat eksekusi penalti atau pelatih yang tidak mampu membawa tim juara, sering kali jadi bahan tertawaan, bullying, bahkan pelecehan.
Melupakan Maaf pada Bumi

Penulis
Salman A Ridwan
Idulfitri bisa dibaca secara berbeda. Ia bisa menjadi momen untuk meredefinisikan tentang hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga antara manusia dengan alam.
Tampak Seperti Tanya‑Jawab Biasa, Ternyata...

Penulis
Mang Sawal
Di balik doorstop atau konferensi pers, terjadi pertarungan pengendalian narasi. Seruan moral semata tidak cukup untuk mengubah situasi.
Mendengar Kopo, Mengapa Kita Memilih Putar Balik

Penulis
Muhammad Akmal Firmansyah
Di antara sejarah, ekspansi kota, dan kemacetan, Kopo menjelma jadi ruang di mana orang datang dengan harapan—dan pulang dengan kelelahan.
Citra Rakyat Dedi Mulyadi

Penulis
M Fauzi Ridwan
Citra yang dibangun Dedi Mulyadi tidak cukup hanya berada di permukaan untuk menyenangkan rakyat di media sosial.
MAHASISWA BERSUARA: Kebohongan atas Anarkisme Perlu ditinjau Kembali

Penulis
Fadlan Naufal R.
Mengapa diksi “Anarkis” dapat dengan normal masuk ke dalam telinga sebagai pengganti diksi “kekacauan”?
Kapan Ruang Publik Kita Merdeka dari Bayang-bayang Chilling Effect?

Penulis
Mugi Muryadi
Kasus Andrie Yunus menjadi ujian nyata bagi komitmen negara terhadap demokrasi. Penanganan yang transparan dan akuntabel menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar.
MAHASISWA BERSUARA: Dari Karya ke Korupsi, Sebuah Kritik pada Cara Hukum Menilai Kasus Amsal Sitepu

Penulis
Pernando Philip Aigro Simbolon
Hukum tidak boleh menjadi alat yang menakut-nakuti atau mengekang kreativitas masyarakat.
Anak Bukan Angka: Kritik Ibu atas Program Makan Bergizi Gratis

Penulis
Endang Susanti (Mamak Bersuara)
Persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya distribusi, tetapi juga kualitas dan kesiapan sistem yang belum matang.
Gentengisasi dan Punahnya Kearifan Lokal

Penulis
Sandewa Jopanda
Secara tradisional orang Indonesia lebih mengenal ijuk atau sirep dan atap-atap yang tidak bersinggungan dengan elemen tanah.







