MAHASISWA BERSUARA: Ekologi yang Dikorbankan Atas Nama Pembangunan dan Demokrasi yang Ditinggalkan

PENULIS
Moh. Syahrul Muzammil
Pengorbanan ekologi dan penyempitan demokrasi menjadi konsekuensi logis dari paradigma pembangunan yang menempatkan pertumbuhan sebagai tujuan utama.
MAHASISWA BERSUARA: Kuliah Empat Tahun Tak Cukup, Dilema Mahasiswa Pendidikan dalam Sistem PPG

Penulis
Anita
Kenyataan di lapangan sudah menunjukkan bahwa guru yang sudah mengantungi sertifikat program Pendidikan Profesi Guru (PPG) pun masih kesulitan dalam mengajar.
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Perpustakaan Daerah Tutup Terlalu Dini

Penulis
Tisya Intan Rahmasandi
Jam operasional perpustakaan mencerminkan cara pandang pemerintah daerah dalam memaknai layanan publik, khususnya terkait akses warga pada pengetahuan.
MAHASISWA BERSUARA: Selaput Dara dan Kuasa Sosial, Bagaimana Keperawanan Menjadi Instrumen Disiplin Tubuh Perempuan
Keperawanan tidak melindungi perempuan, tidak memuliakan moralitas, dan tidak menjamin kehormatan siapa pun.
Krisis Ruang dan Masa Depan Kita

Penulis
Taufik Hidayat
Bencana banjir dan longsor hari ini adalah "tagihan" dari kesalahan pengelolaan ruang di masa lalu.
MAHASISWA BERSUARA: Peternakan Bernama Pendidikan Tinggi

Penulis
Alfatan Zullyansyah
Pasar bebas intelektual menjelma sebagai tren baru di kalangan civitas akademik. Akademisi hari ini dipaksa untuk berubah demi terpenuhinya kebutuhan pasar.
Peristiwa Malari, Krisis Imajinasi Pembangunan, dan Sunyi yang Terus Diulang

Penulis
Abah Omtris
Jika peristiwa Malari adalah jeritan keras atas ketimpangan, kemarahan hari ini lebih sunyi tetapi lebih luas.
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Braga Tak Pernah Sepi dan Catcalling Tak Pernah Berhenti

Penulis
Winda Ariqah Khairunnisa
Catcalling di ruang publik menjadi cerminan budaya yang masih menormalisasi pelecehan secara verbal. Keramaian menjadi tameng pelaku dan kesunyian bagi para korban.
MAHASISWA BERSUARA: Menggugat Pendidikan Gaya Bank yang Melawan Amanat Konstitusi

Penulis
Syachrul Bachri
Undang-undang menuntut pendidikan yang memerdekakan, bukan yang membekukan pikiran.
Jejak Kuburan-kuburan Tua dalam Peradaban Manusia

Penulis
Johan Arif
Budaya penguburan jenazah telah dikenal sejak akhir Zaman Es Plestosen Atas. Jenazah umumnya diletakkan dalam posisi membujur atau menekuk.







