Ketika Data Statistik Menyatakan Angka Kemiskinan Menurun

PENULIS
Taufik Hidayat
Bila negara mengatakan kemiskinan turun, lalu rakyat mengatakan daya beli turun, siapa yang dipercaya?
Taman Kota yang Membunuhmu Sambil Tersenyum: Catatan dari Kota Bandung yang Sedang Difoto Sampai Mati

Penulis
JIM
Apa yang sedang terjadi pada taman-taman kota kita adalah semacam détournement yang dibalik arahnya.
CERITA GURU: Kasih Sayang Juga Perlu Batas

Penulis
Marlina
Kasih sayang yang sehat juga mengajarkan anak mengenai tanggung jawab. Anak perlu memahami bahwa setiap hak selalu diikuti oleh kewajiban.
Pertaruhan Rule of Law di Tangan Para ‘Bajingan’

Penulis
Mugi Muryadi
Ketika hukum berubah menjadi komoditas kekuasaan, republik ini tak lagi dipimpin oleh supremasi hukum, tetapi oleh gerombolan bajingan yang saling berebut pengaruh.
MAHASISWA BERSUARA: Pembatasan Media Sosial bagi Remaja, Sekadar Jalan Pintas

Penulis
Naila Ramadhani Raharja Putri
Persoalan penggunaan media sosial tidak sesederhana membatasi siapa yang boleh mengaksesnya.
Bolehkah Tenaga Medis Rapuh?

Penulis
Kevin Septian
Kasus intimidasi yang berujung nasib tragis yang dialami dr. Icha di Timor Tengah Utara menjadi wajah betapa rapuhnya manusia dalam ruang kesehatan.
Pemimpin dan Keaksaraan

Penulis
Wildan Nugraha
Sekarang, hal-hal hakiki tergerus terus, disadari atau tidak, oleh pragmatisme dan materialisme. Pemimpin “gagasan” pun terpinggirkan.
MAHASISWA BERSUARA: Penerapan Doktrin FPIC Sebagai Syarat Perjanjian Pemanfaatan Tanah Ulayat oleh Korporasi

Penulis
Fahmi Fuad Ferdiansyah
Pemanfaatan lahan ulayat oleh korporasi di Indonesia melibatkan ketegangan antara kepentingan pembangunan ekonomi dan hak adat.
Mengenali Wajah Kapitalisme Mulai dari Seteguk Air di Pagi Hari

Penulis
Asri Widayati
Demikianlah kapitalisme tidak membayar “kerja-kerja perawatan”, jauh sebelum buruh dieksploitasi di tempat kerja.
Jatinangor 25 Tahun Pertama di Abad ke-21

Penulis
Anton Solihin
Bila tahun 1918/1919 Kerkhoff memuji Jatinagor sebagai “surga” lalu pada 1983 penyair Itjang menyebutnya “neraka”, Jatinangor sekarang harus kita sebut apa?










