Di Kota yang Makin Menyebalkan Ini, Kita Terus Menua Sementara Nyawa Pesepeda Berjatuhan di Jalan Raya

PENULIS
Muhammad Akmal Firmansyah
Dua kematian dalam waktu kurang dari dua bulan tidak semestinya dibaca sebagai dua peristiwa yang berdiri sendiri-sendiri.
Sum Kuning dan Kekerasan pada Perempuan yang Terus Berulang

Penulis
Fudla Sahila
Hari ini kita bertanggung jawab untuk memastikan tidak ada lagi Sum Kuning baru yang dibungkam.
Tetap Setia Mendengarkan Musik Progresif Metal

Penulis
Farouq Syahrul Huda
Kita ini sudah intoleran dalam hal ideologi politik, apakah masih ingin intoleran dalam hal selera musik?
Pancasila Tak Perlu Diajarkan Tentara

Penulis
Moch. Rasyid Gumilar
Demokrasi membutuhkan batas kelembagaan. Tidak semua institusi negara harus menjadi otoritas dalam semua ruang.
MAHASISWA BERSUARA: G30S dan Generasi yang Menolak Nonton Sendirian

Penulis
Bimo Cahyo Ramadhan
Apa yang berubah dalam cara anak muda memahami peristiwa G30S?
Pengotaan dan Krisis Lingkungan di Kota Bandung serta Wilayah Sekitarnya

Penulis
Johan Iskandar
Perubahan tataguna lahan dan penampungan air di “pasisian” Kota Bandung tak lepas dari dampak "pengotaan" (urbanism). Mengubah ekosistem dan sistem sosial budaya.
Ketika Kota Hujan Kehabisan Air

Penulis
Muhamad Fikri Asy'ari
Tinggi muka air Bendung Katulampa di Sungai Ciliwung tercatat 0 centimeter selama berbulan-bulan pada musim kemarau tahun ini. Simbol krisis air di Bogor.
MAHASISWA BERSUARA: Jakarta, Kota yang Dipaksa Menanggung Terlalu Banyak Beban

Penulis
Nur Yusril Muhammad Isnain
Jakarta hari ini merupakan hasil dari lapisan sejarah yang saling menumpuk. Dibentuk untuk mengakomodasi arus komoditas, mengatur populasi, dan memusatkan kendali.
Relativitas Kebahagiaan dalam Lagu Oncom Gondrong di Negeri yang Ruwet

Penulis
M. Romyan Fauzan
Kritik dalam lagu yang diamini massa akan menjadikan sebuah pergerakan yang tidak bisa diterka.
MAHASISWA BERSUARA: Menagih Mandat Konstitusi Reforma Agraria

Penulis
Akmal Maulana
Birokrasi pertanahan kita memperlakukan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) dengan cara yang memprihatinkan, yakni diletakkan sebagai "residual land" atau tanah sisa.











