Ketika Kemudahan Izin, Konversi Hutan, dan Kelalaian Pemerintah Mengubah Hujan Jadi Bencana Sumatra

PENULIS
Herlin Septiani
Kerusakan lingkungan di Sumatra adalah hasil relasi kuasa antara negara dan oligarki ekstraktif, di mana sawit menjadi simbol paling nyata.
Berhenti Merundung Bumi

Penulis
Mugi Muryadi
Pendidikan ekologis memegang peran yang sangat penting. Kesadaran lingkungan tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui proses pendidikan jangka panjang.
MAHASISWA BERSUARA: Auguste Comte dan Mimpi Sejarah Ilmiah

Penulis
Jaja Jaenudin dan Hilal Ramadhan
Pemikiran Auguste Comte tentang positivisme mewakili mimpi sejarah ilmiah: umat manusia akan mencapai peradaban yang lebih tinggi melalui pengetahuan saintifik.
Misteri Orang Utan

Penulis
Johan Arif
Penyelidikan tentang temuan-temuan fosil orang utan di berbagai tempat, termasuk di Indonesia, terus berlanjut untuk menemukan jawaban dari misteri ini.
MAHASISWA BERSUARA: Menulis Jurnal, Refleksi, dan Kejujuran Personal

Penulis
Razwalia Ryandini Lesmana
Dengan mencatat emosi, kita sebenarnya sedang mengelolanya. Journaling menjadi media untuk melepaskan dan menghubungkan emosi.
MAHASISWA BERSUARA: Menyoal Keadilan Pembangunan Tol Cisumdawu
Pembangunan yang tidak menghadirkan keadilan bukanlah kemajuan, melainkan sebuah pengabaian.
Waduk sebagai Spatio-Temporal Fix: Problema Lima Dekade Pembangunan Jatigede

Penulis
Pandu Sujiwo
Proyek pembangunan infrastruktur pemerintah selalu berdiri di atas ketimpangan relasi kuasa dan ketegangan antara negara, modal, dan warga kelas pekerja kebanyakan.
Genealogi Kementerian Agama: Sebuah Kesadaran bagi Perjuangan Kebinekaan Kita

Penulis
Arfi Pandu Dinata
Indonesia yang inklusif adalah hasil dari negosiasi historis yang rumit dan negosiasi itu tampaknya tidak pernah benar-benar selesai.
Menyoal Praktik Fotografi Jalanan: Apakah Wajah Kita Milik Publik?

Penulis
Sandewa Jopanda
Praktik fotografi jalanan disorot karena dua hal utama, yakni penyalahgunaan dan komersialisasi.
MAHASISWA BERSUARA: Banjir Bukan Datang dari Hujan, tapi dari Kebijakan yang Rapuh

Penulis
Lusiana Eka Banuwati
Banjir bukan sekadar air yang meluap, tetapi tanda bahwa kota dibangun tanpa menghormati batas alam dan hak warga.







