Lebih dari Sepak Bola: Persib sebagai Ikon Budaya

PENULIS
Kiki Esa Perdana
Persib bukan sekadar tim bola, melainkan simbol budaya yang hidup di persimpangan antara tradisi, kreativitas, dan politik identitas.
Lampu Merah Republik
Penulis
Suko Wahyudi
Republik menjadi semacam jembatan yang aneh, menghubungkan kemewahan yang melaju cepat dengan kemiskinan yang berjalan tertatih.
MAHASISWA BERSUARA: Board of Peace, Dasasila Bandung, dan Alinea Pertama Pembukaan UUD 1945 yang Luput

Penulis
El Syad Maulana
Segala harapan pendahulu kita tertuang dalam Dasasila Bandung maupun Pembukaan UUD 1945 agar dunia bisa bebas dari segala bentuk penjajahan.
Tentang Sunda, Bobotoh, dan Klub yang Melampaui Batas

Penulis
Dea Rahmat S
Persib tidak membutuhkan KTP Sunda untuk dicintai, tetapi tetap membawa jejak Sunda ke mana-mana.
MAHASISWA BERSUARA: Beasiswa LPDP dan Budaya Baris-berbaris

Penulis
Adzin Aris Aniq Adani
Fenomena sekuritisasi mengindikasikan perubahan paradigma di mana pemerintah memandang segala sesuatu–termasuk pendidikan–melalui lensa keamanan nasional.
Peradaban Sumeria & Kisah Nabi Nuh AS

Penulis
Johan Arif
Teluk Persia, yang terhubung melalui Selat Hormuz, dulunya merupakan wilayah daratan bernama Gulf Oasis di kawasan Mesopotamia.
Gaung Raungan Sekolah Maung di Ruang Publik Bandung

Penulis
Mang Sawal
Narasi Sekolah Maung dibangun di atas framing bahwa zonasi adalah sumber degradasi mutu sekolah favorit. Berisiko menjadi solusi simbolik.
Endgame Sampah Bandung: Mengakhiri Mimpi Insinerator, Mengawal Transisi Zero Waste

Penulis
Yobel Novian Putra
Krisis sampah Bandung bukan soal kekurangan teknologi canggih. Ini adalah soal kegagalan tata kelola dalam mengatasi akar masalah.
MAHASISWA BERSUARA: Bagaimana Generasi Z Mengubah Pakaian Bekas Menjadi Pernyataan Identitas

Penulis
Tetra Geneatas Simorangkir
Thrifting telah mengalami pergeseran makna yang fundamental. Generasi Z melihat thrifting sebagai pernyataan identitas.
Membantah Buruh Bukan Alat politik: Kritik Terhadap Romantisisme

Penulis
Fandu Pratomo
Ketika buruh kehilangan akses terhadap politik, yang terjadi bukanlah netralitas, melainkan dominasi sepihak oleh modal dan oligarki.







