Mengenang Aksi Agustus-September 2025 dan Post Factum yang Gagal

PENULIS
Ardhes Blandhivay Leuanan
Gagalnya Tuntutan 17+8 Rakyat, secara post factum bisa dibaca sebagai indikator yang valid dan terukur dari proses kemunduran demokrasi.
Pohon-pohon di Ruang Publik

Penulis
Frans Ari Prasetyo
Tidak adanya sanksi tegas pada pelaku penebangan pohon di ruang publik akan berdampak pada psikologi publik dan pemerintahan.
MAHASISWA BERSUARA: Sama-sama Merasa Benar di Jalan Raya

Penulis
Reynald Hermanto
Pelanggaran lalu lintas di jalan raya bukan dilakukan segelintir orang nekat. Ia terjadi setiap hari, di hampir setiap ruas jalan, melibatkan banyak orang sekaligus.
Ketika Suara Korban Dipertanyakan Dua Kali: Catatan dari Pendampingan Kasus Dugaan Kekerasan di Sumedang

Penulis
Ismi Rinjani
Urutan peristiwa dalam kasus ini mengikuti pola yang sayangnya sudah sangat familiar dalam kasus-kasus kekerasan yang melibatkan relasi kuasa timpang.
Di Luar 90 Menit: Ketika Rivalitas Menemukan Batasnya

Penulis
Dodi Rokhdian
Mungkin suatu hari Viking dan The Jakmania bisa membawa satu spanduk yang sama: SEPAK BOLA TIDAK BOLEH MEMBUNUH.
Di Balik Hutan yang Hilang, Apakah Negara Benar-benar Belajar dari Bencana?

Penulis
Herlin Septiani
Negara tidak cukup hanya hadir setelah bencana, negara juga harus hadir sebelum bencana itu terjadi.
MAHASISWA BERSUARA: Merdeka di Mulut Saja

Penulis
Erza Heksa Arifin
Kemerdekaan bukan milik oligarki dan pejabat culas. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, hak segala manusia.
Ketika Kepemimpinan Berubah Menjadi Pertunjukan

Penulis
Fandu Pratomo
Ada kecenderungan bahwa kepemimpinan lebih banyak dipahami sebagai sesuatu yang harus terlihat daripada sesuatu yang harus dikerjakan
Jika Negara Dikuasai Para Gerombolan

Penulis
Mugi Muryadi
Fenomena main hakim sendiri di Indonesia menunjukkan pola yang mengkhawatirkan.
MAHASISWA BERSUARA: Meme Jomok, Pornografisasi, dan Rezim Informasi

Penulis
Muhammad al-Askary
Meme jomok menyasar orang-orang yang sudah terstigma dan membuat bias permisif tindakan diskriminatif. Upaya mendemonisasi suara oposisi?







