CERITA ORANG BANDUNG #115: Rumah Terakhir Neneng di Rusunawa Rancacili
Di Rusunawa Rancacili, Neneng Tresna Ningsih mengisi hari-harinya yang sunyi, menunggu ongkos berobat, kepastian tempat tinggal, dan uluran bantuan.
Penulis Retna Gemilang5 Agustus 2026
BandungBergerak – Tepat di belakang pos satpam Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Rancacili Twin Blok 1, Neneng Tresna Ningsih duduk termangu di pintu belakang huniannya. Siang itu, pandangannya mengarah ke jalan yang lengang, diselimuti debu akibat pengerukan tanah di Sungai Cipamokolan. Sudah lebih dari enam tahun ia tinggal seorang diri di hunian tipe 27 tersebut.
Di usia 68 tahun, Neneng—penyandang disabilitas daksa—tak lagi bekerja. Mobilitasnya terganggu akibat saraf kejepit di kaki kiri, diperparah berbagai penyakit penyerta seperti stroke, penyakit jantung, penyumbatan pembuluh darah di otak, hingga penyakit dalam. Hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan di dalam rumah.
Keluar rumah hanya ia lakukan ketika harus berobat ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJP) Paramarta. Untuk mencapainya, Neneng harus berjalan sekitar 500 meter dari rusun sebelum menaiki angkot cokelat trayek Cicaheum–Ciwastra. Jika tak sanggup berjalan, ia terpaksa menggunakan ojek online.
Namun, beberapa hari terakhir ia tak lagi pergi berobat karena tak memiliki ongkos yang cukup. Padahal, ia perlu segera memeriksakan tekanan darah dan kaki kirinya yang kembali membengkak.
"(Ojol) mahal, ibu pengin ke dokter ge da enggak ada ongkos. Ngadaweung weh jadi, kalau ditidurin teh asa beuki nyanyautan kitu," kata Neneng sambil menunjukkan tubuhnya yang dipenuhi plaster koyo dan tongkat yang selalu menemaninya saat ditemui BandungBergerak, Rabu, 29 Juli 2026.
Jauh sebelum sakit-sakitan, Neneng aktif di Bakti Nurani, komunitas penyandang disabilitas yang berdiri sejak era 1980-an dengan delapan anggota. Di antara kawan-kawannya, ia dikenal sebagai sosok yang gesit dan dapat diandalkan. Disabilitas pada tangan kirinya akibat kecelakaan tak pernah menghalangi aktivitasnya.
Saat masih aktif, Neneng menjalani berbagai pekerjaan sebagai caregiver. Ia mengantar pasien ke rumah sakit, membantu mengurus administrasi BPJS, menemani orang sakit, hingga bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Ia juga pernah menjadi atlet lari dan lempar lembing. Pada Pekan Olagraga Cacat Nasional di Jakarta tahun 1980 dan 1982 ia meraih medali emas.
Kini, perempuan yang dahulu paling sering mengantar orang berobat justru kesulitan membayar ongkos menuju rumah sakit.
"Ada yang setahun yang lalu ibu udah vakum (kerja) teh, (sekarang) enggak bisa nyari uang," ujarnya.
Bagi Neneng, Rusun Rancacili bukan sekadar tempat tinggal. Hunian itu menjadi titik balik kehidupannya di usia senja. Bertahun-tahun ia berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Kontrakan terakhirnya di Gegerkalong disewa seharga Rp600 ribu per bulan—biaya yang kian sulit ia tanggung.
Ketika mendengar ada kesempatan mengajukan rumah susun, ia hanya memiliki satu harapan.
"Saya mah pengin rumah, saya udah capek ngontrak, mahal. Saya mah biarin di rusun juga," kenangnya saat mengajukan permohonan pada 2020.
Semula ia mengira akan ditempatkan di Rusun Cingised. Namun, belakangan ia diarahkan ke Rusun Rancacili. Hari itu, di tengah bulan Ramadan, Neneng berjalan kaki dari Jalan Soekarno-Hatta menuju lokasi. Begitu bangunan itu terlihat di hadapannya, air matanya tak terbendung.
Ia memperoleh unit yang jauh lebih layak dibanding kontrakannya dulu: dua kamar, satu kamar mandi, berada di lantai satu dengan akses yang mudah dijangkau.
Rusunawa Rancacili merupakan hunian sewa yang dibangun pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat pada 2008. Sebagian besar unitnya diperuntukkan bagi warga yang terdampak relokasi pembangunan di Kota Bandung.
Saat pertama menempati unit itu, Neneng hanya membawa kasur tipis dan beberapa barang seadanya. Meski begitu, rasa lega memenuhi ruangan yang masih kosong. Perlahan, berbagai perabot berdatangan dari orang-orang yang pernah ia bantu. Ada yang menghadiahkan tempat tidur, kulkas, lemari, hingga gorden.
Hingga hari ini, Neneng masih menganggap kepindahannya ke rusun sebagai salah satu berkah terbesar dalam hidupnya. Ia tak lagi dibayangi kenaikan biaya kontrakan atau harus berbagi kamar mandi umum seperti ketika tinggal di Gegerkalong. Untuk pertama kalinya, ia memiliki ruang yang benar-benar dapat ia sebut sebagai miliknya.
Namun, rasa syukur itu kini berdampingan dengan kecemasan baru. Di atas meja rumahnya tergeletak surat tunggakan sewa rusun yang telah mencapai lebih dari enam juta rupiah, setara tunggakan selama lebih dari dua tahun. Surat itu ia terima pada Rabu, 22 Juli 2026.
Neneng khawatir, jika tunggakan itu tak segera dilunasi, unit yang ditempatinya akan disegel atau hak sewanya dicabut. Itu berarti ia harus kembali mencari tempat tinggal baru. Kecemasan itulah yang, menurutnya, membuat penyakitnya mudah kambuh dalam beberapa waktu terakhir.
"Tiap bangun pagi teh teu bisa tidur deui, dada langsung ngegebeg, stres," ujarnya lirih.

Beban yang Tak Terlihat
Tak banyak hiburan yang menemani hari-harinya. Di rumah itu tak ada televisi. Hubungannya dengan tetangga pun tak begitu dekat, kecuali dengan penghuni di sebelah rumah. Kesepian menjadi teman sehari-hari. Ibadah dan mengaji menjadi pelipur lara yang paling setia.
Suaminya meninggal pada 2013 akibat penyakit jantung. Putra semata wayangnya, Vano, kini telah berkeluarga dan bekerja sebagai kurir paket di Cimahi. Sekitar seminggu sekali, Vano menyempatkan diri datang menjenguk ibunya. Meski hidup serba kekurangan, Neneng tak ingin membebani anaknya. Ia memahami Vano kini harus menghidupi keluarga sekaligus membiayai dua anak yang duduk di bangku SD dan SMP.
"Kasihan anak juga, penghasilannya enggak gede. Sekarang nyekolahin anak dua masukin ke SD dan SMP," ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, solidaritas justru datang dari lingkaran pertemanan dan komunitas. Neneng kerap menerima kiriman sembako atau makanan. Vano membantu sebisanya, mengirim uang untuk membeli obat atau sekadar mengisi token listrik. Jika ada kegiatan komunitas, teman-temannya sesama lansia dan penyandang disabilitas akan menjemputnya.
"Alhamdulillah punya teman balageur," ungkapnya.
Meski menyandang status sebagai lansia sekaligus penyandang disabilitas, Neneng merasa belum tersentuh layanan sosial maupun kesehatan dari pemerintah. Selama ini, ia menanggung sendiri kebutuhan kesehatannya tanpa pernah menerima layanan program lansia di puskesmas ataupun bantuan dari Dinas Sosial.
"Enggak ada di sini mah, enggak tahu," ucap Neneng ketika ditanya apakah petugas puskesmas pernah mendatanginya.
Ia bahkan tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI). Hingga kini, Neneng masih menggunakan BPJS berbayar kelas satu yang iurannya ditanggung saudaranya.
Baca Juga:CERITA ORANG BANDUNG #112: Laju Sela di Balik Kemudi Angkot Panyileukan
CERITA ORANG BANDUNG #113: Iwonk, Mencetak Keabadian Persib di Pinggiran Ciganitri

Kelompok Rentan di Kota Bandung
Neneng hanyalah satu dari sekian banyak kelompok rentan yang menanggung beban berlapis. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung tahun 2024, jumlah penduduk lanjut usia di atas 60 tahun mencapai 266.552 jiwa. Dari jumlah itu, sekitar 94.478 lansia menerima bantuan sosial seperti PBI, BLT, atau PKH. Di sisi lain, masih terdapat sekitar 9.000 lansia yang belum tercakup dalam perlindungan sosial.
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Sosial pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 12 Juni 2025, mengklaim jumlah lansia terlantar mengalami penurunan. Berdasarkan capaian Standar Pelayanan Minimal rehabilitasi sosial dasar, jumlah kasus menurun dari 1.559 pada 2022 menjadi 761 pada 2023, lalu 455 kasus pada 2024.
Namun, kisah Neneng menunjukkan kenyataan yang berbeda. Bertahun-tahun ia hidup dalam keterbatasan tanpa tersentuh bantuan pemerintah, baik dari Dinas Sosial maupun Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Dalam praktiknya, hak kelompok rentan kerap luput dari perhatian. Tak sedikit yang masih menghadapi perlakuan diskriminatif sekaligus kehilangan sumber penghidupan, terutama karena sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor informal.
Kini Neneng tak lagi mampu bekerja. Hari-harinya dihabiskan di dalam rumah, ditemani kecemasan yang tak kunjung reda: token listrik yang cepat habis, persediaan pangan yang menipis, tunggakan sewa lebih dari enam juta rupiah, serta penyakit-penyakit yang terus membutuhkan penanganan.
"Mudah-mudahan bisa nyambungin ke siapa yang bisa bantuin ibu, buat bantu bayar cicil, takut disegel," tuturnya sembari menahan tangis.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


