CERITA ORANG BANDUNG #113: Iwonk, Mencetak Keabadian Persib di Pinggiran Ciganitri
Siasat seni Iwonk merawat memori, mengukir simbol kehormatan untuk sosok-sosok di balik sejarah Persib Bandung.
Penulis Prima Mulia29 Mei 2026
BandungBergerak - Ridwan Solehudin menggosok beberapa bagian patung resin di Studio Perahu Terbang di kawasan Ciganitri, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, 18 Mei 2026. Sesekali ia mematut-matut posisi patung, dilihatnya lagi sambil duduk, lalu dari kejauhan.
Proses pembuatan patung kini telah memasuki tahap akhir. Sang seniman tengah fokus menghaluskan beberapa bagian demi menonjolkan detail-detail krusial, seperti tekstur kasar pada wajah dan lengan yang sengaja diciptakan untuk merepresentasikan etos kerja keras figur yang dibentuknya. Dedikasi ini menuntut waktu pengerjaan yang tidak sebentar, yakni hingga lima bulan lamanya, di tengah berbagai keterbatasan material.
Meski idealnya sang pematung mendambakan material perunggu (bronze) demi menghadirkan kesan yang lebih elegan dan monumental, kendala biaya memaksanya memutar otak. Sebagai solusinya, ia menerapkan teknik pewarnaan khusus agar hasil akhirnya menyerupai perunggu, sebuah material yang ia maknai sebagai simbol kehormatan. Kehadiran karya ini pun sebenarnya tak lepas dari dinamika luar biasa di kalangan pendukung fanatik, yang awalnya sempat mengusulkan ide berbeda sebelum akhirnya dialihkan pada konsep saat ini.
Perupa jebolan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang akrab disapa Iwonk mengisahkan latar belakang tersebut:
“Agustus tahun 2025 lalu banyak bobotoh menyarankan agar dibuatkan patung untuk Bojan Hodak (pelatih Persib Bandung) sebagai bentuk apresiasi karena berhasil membawa Persib Bandung meraih gelar juara liga dua kali beruntun, mudah-mudahan sekarang yang ke tiga, namun Bojan justru menolak gagasan tersebut, ia mengatakan lebih penting memperbaiki fasilitas klub.”
Perkataan Bojan tersebut cukup mengganggu pikiran Iwonk. Ingatan masa kecilnya tentang sepak bola membayang sampai ke masa-masa remaja saat karier sepak bola Iwonk di klub Saint Prima semakin moncer, sebelum akhirnya kandas karena cedera parah di kakinya.
Padahal ia punya cita-cita di usia 18 tahun bisa menembus seleksi pemain Persib Bandung. Pascacedera kaki, Iwonk banting stir dengan mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi dan diterima di ISBI Bandung. Dia sebenarnya tidak menenekuni seni rupa kriya, tapi kawan-kawannya bilang Iwonk punya potensi di patung.
“Di masa pandemi saya mulai mencoba bidang seni rupa, dan mulai fokus di patung setahun lalu,” katanya.
Walau bagaimanapun, Iwonk berpikir sepak bola dan Persib Bandung adalah bagian dari sejarah kota, karena itu ia tancap gas membuat empat patung yang dirasanya mewakili perjalanan sejarah Persib Bandung dari era pra profesional sampai jadi klab profesional.
Ia kemudian membikin patung pelatih Indra Tohir, Djajang Nurjaman, dan Bojan Hodak, lalu sosok Umuh Muhtar, manajer yang terus mendampingi Persib dari masa sulit sampai jadi klab elite seperti saat ini. “Saya beri judul karya ini History Makers of Persib,” kata Iwonk.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #111: Hari Kartini di Meja Sibuk Guru Honorer
CERITA ORANG BANDUNG #112: Laju Sela di Balik Kemudi Angkot Panyileukan
Iwonk adalah warga asli Ciganitri, ia menyewa ruangan yang berfungsi jadi studio pembuatan karya di ujung desa di pinggir saluran irigasi. Irigasi ini seolah jadi pembatas antara komplek permukiman dan sawah-sawah yang menghampar luas ke arah timur.
“Dulu Ciganitri masih banyak sekali sawah, kolam, dan lahan peternakan itik, belum banyak perumahan,: katanya.
Sekarang, hampir seluruh wilayah di Ciganitri sudah jadi perumahan. Studio ini kebetulan berada di batas terluar perumahan. Suasananya masih adem, tenang, dan memiliki pemandangan ke area pertanian yang tersisa.
Iwonk bercerita sambil terus mematut-matut penampilan patung-patungnya. Patung-patung ini selanjutnya diarak dalam bentuk konvoi karya dari Studio Perahu Terbang ke Grey Art Gallery di Jalan Braga pada 26 Mei 2026 dengan tema Cultura Persib Exhibition.
Iwonk punya angan-angan ingin membuat patung pemain Persib. Ia berharap bisa mendapat akses untuk meriset orang-orangnya secara langsung, ada interaksi. Pendekatan secara pribadi menurutnya sangat penting dalam proses penciptaan agar semuanya presisi dan detail. Dalam pembuatan empat patung pertama ini Iwonk hanya memperkirakannya berdasarkan insting dan foto, tapi hasilnya cukup luar biasa.
Saat meninggalkan studio saya melihat sekilas sebuah patung kepala yang masih dalam proses pembuatan, wajahnya mirip dengan pemain naturalisasi asal Belanda yang kini bermain di Persib Bandung. Ada selembar foto di dekat kepala patung tersebut, itu foto Thom Haye. Lalu ada juga patung kepala Beckham Putra dengan ukuran kecil. Di atas anak tangga juga ada patung kepala legenda Liverpool Mo Salah (Mohamed Salah).
“Saya belum bisa bicara banyak tentang patung Haye atau Beckham, itu nanti, proyek berikutnya,” kata Iwonk sambil tertawa.
Kekaguman seniman terhadap sosok Mohamed Salah tidak hanya lahir dari statusnya sebagai pendukung setia klub sepak bola Liverpool, melainkan juga karena adanya ikatan emosional yang personal dengan Mesir, negeri asal sang istri.
Kedekatan ini kian mendalam setelah ia berkesempatan mengeksplorasi langsung berbagai situs peradaban kuno Mesir pada tahun 2024. Menyaksikan relief dan patung-patung bersejarah yang megah di Mesir memberikan perspektif baru baginya tentang esensi sejati dari seni rupa tiga dimensi. Pengalaman batin itulah yang kemudian menginspirasi pandangannya mengenai daya hidup sebuah karya seni.
“Saya merasakan bahwa patung dan relief bukan sekedar karya visual tapi juga jadi bentuk keabadian baik melalui material maupun tekniknya yang mampu bertahan melintasi waktu dan peradaban," ujarnya.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


