• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG #111: Hari Kartini di Meja Sibuk Guru Honorer

CERITA ORANG BANDUNG #111: Hari Kartini di Meja Sibuk Guru Honorer

Hari-hari panjang seorang guru honorer di Bandung timur. Jul memanggul banyak peran: mengajar, mengurus administrasi, dan membagikan MBG sambil menunggu upah kecil.

Juliyah, guru honorer di SD Cinunuk 07, Kabupaten Bandung, di ruang kelasnya, Jumat, 17 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang21 April 2026


BandungBergerakDi layar laptop, materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) untuk kelas lima mesti disusun ulang dan dirapikan. Buku kurikulum memang ada, tetapi bagi Juliyah, guru yang akrab disapa Jul, penjelasannya terasa belum cukup. Ia menambal kekosongan itu dengan mencari referensi, merangkai ulang, lalu menyederhanakan agar mudah dicerna oleh sekitar 30 muridnya di SD Cinunuk 07, Kabupaten Bandung.

Di meja yang sama, daftar pekerjaan lain menunggu. Jul bukan hanya mengajar. Ia wali kelas, sekaligus operator sekolah yang posisinya baru ia isi. Satu hari kerja berarti berpindah dari papan tulis ke administrasi, dari mendampingi murid ke mengurus data sekolah.

Belum selesai di situ, ada tanggung jawab lain yang tak kalah menyita waktu: memastikan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan lancar. Di sela jam belajar, ia ikut mengatur pembagian makanan, mencatat, hingga memastikan semuanya beres.

Sesekali, ritme kelas terputus ketika orang tua murid datang meminta surat atau ada urusan mendesak. Begitulah waktu Jul berjalan cepat setiap harinya. Satu tubuh memanggul banyak peran tanpa kepastian upah layak.

"Jadi waktu kelas teh, aku sering ninggalin (anak-anak)," keluh Jul, saat saya temui di ruang guru, Jumat, 17 April 2026. "Karena harus (mengerjakan dengan) dua tangan."

Hari itu, Jul sedang berbincang dengan beberapa muridnya. Sesekali mata perempuan berkerudung itu menatap ke luar jendela. Beberapa hari lagi Indonesia bertemu Hari Kartini, momen resmi sebagai pengakuan terhadap kesetaraan perempuan. Di saat yang sama, Jul tenggelam dengan pekerjaan rutinnya.

Jul terus menyiasati pembagian waktu pembelajaran. Pada minggu pertama, murid diminta menyalin materi. Minggu berikutnya, barulah ia menjelaskan secara aplikatif. Cara itu bukan pilihan ideal, melainkan jalan tercepat agar kurikulum tetap selesai.

Pembelajaran berjalan tetapi dengan napas tersengal. Kenyataannya, Jul tak hanya mengajar, ia juga mengejar ketertinggalan.

"Jadi ngejar-ngejar, ini gimana ya? (karena) materi harus beres, belum lagi minggu depan UTS (Ujian Tengah Semester)," ungkapnya.

Situasi semakin rumit ketika distribusi MBG memakan waktu belajar. Setiap hari, sekitar satu hingga satu setengah jam pelajaran terpangkas. Saat mendapat giliran piket, Jul harus meninggalkan kelas lebih lama: mengantar makanan, mengawasi murid makan, hingga membereskan wadah.

"Belum kalau kita yang piket, kita juga motong ninggalin kelas 'kan buat ngeberesin semua satu sekolah," tuturnya.

Di tengah upaya negara memastikan anak-anak mendapat asupan bergizi, ada kerja sunyi guru honorer seperti Jul yang memastikan program itu berjalan. Namun, kerja tambahan itu nyaris tanpa apresiasi.

Pada bulan pertama mengajar, Februari 2026, Jul menerima honor 600 ribu rupiah. Setelah itu, pembayaran disebut akan dirapel setiap dua hingga tiga bulan. Hingga kini, upah berikutnya belum juga ia terima.

"Gaji guru honorer di sini itu 600 (ribu rupiah) per bulan," ujarnya. "Tapi sekarang belum gajian sama sekali."

Waktu terus bergerak, Hari Kartini yang biasa diseremonialkan di banyak tempat, semakin terasa. Anak-anak perempuan biasanya diminta memakai kebaya, seakan-akan pakaian tradisional itu mewakili rekomendasi dari Kartini.

Namun bagi Jul, perjuangan perempuan belum selesai. Di lingkungan kerjanya, ia masih melihat posisi kepemimpinan lebih sering diberikan kepada laki-laki. Kemampuan perempuan, termasuk dirinya, kerap dipandang sebelah mata.

"Karena Kartini yang memperjuangkan, aku berarti yang menjalankan," tuturnya.

Di sekolah itu, Jul adalah satu-satunya guru honorer perempuan muda di antara dominasi guru senior. Ia tak hanya menghadapi beban kerja, tetapi juga cara pandang tentang peran perempuan.

Saat hendak diangkat menjadi operator sekolah, ia sempat mendengar anggapan bahwa posisi tersebut seharusnya diisi laki-laki. Jul memilih diam, bukan karena setuju, melainkan karena lelah menjelaskan bahwa perempuan juga mampu. Ia memilih membuktikan lewat kerja keras.

Di tingkat gugus, jumlah operator perempuan pun hanya segelintir. Selebihnya diisi laki-laki. Realitas itu menjadi cermin bahwa ruang kerja, bahkan di dunia pendidikan, belum sepenuhnya setara.

Meski begitu, setiap pagi Jul tetap datang ke sekolah. Ia tetap membuka laptop, menyusun materi, dan berdiri di depan kelas. 

“Enggak apa-apa, enjoy aja,” katanya singkat, dengan senyum yang menyisakan getir.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #109: Ato dan Lapak Jahit di Pinggir Jalan Kopo Sayati
CERITA ORANG BANDUNG #110: Hal-Hal Kecil Membesarkan Adin

Juli, guru honorer di SD Cinunuk 07, Kabupaten Bandung, di ruang kelasnya, Jumat, 17 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Juliyah, guru honorer di SD Cinunuk 07, Kabupaten Bandung, di ruang kelasnya, Jumat, 17 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Melepas Kerja Sampingan

Sekolah di Bandung timur itu tak berdiri sendiri. Ia berbagi ruang dengan tiga sekolah dasar lain—SD Cinunuk 01, 02, dan 07. Konsekuensinya, waktu belajar dibagi dua. Sesi pagi dimulai pukul 07.00 hingga 12.00, lalu disambung sesi siang dari pukul 12.00 sampai 16.30.

Pembagian waktu itu lebih dari sekadar jadwal, tapi menunjukkan batas yang makin menyempit. Untuk bisa bertahan, Jul sempat mengandalkan pekerjaan sampingan seperti memberikan les. Namun satu per satu pekerjaan itu terpaksa dilepas.

Waktunya habis di sekolah, di kelas, di ruang administrasi, atau di sela-sela tugas tambahan yang tak pernah benar-benar selesai.

Jul sempat mendapatkan pertanyaan dari orang tua murid, kapan ia bisa mengajar les lagi. “Sudah tidak kepegang,” ujarnya, menghela napas, lalu melirik ke luar jendela.

Persoalan guru honorer bukan semata soal kecilnya gaji. Ada ketimpangan lama yang lebih besar, tentang apa yang mesti diprioritaskan.

Kesejahteraan guru jauh tertinggal. Di saat program lain berjalan masif, nasib guru honorer kerap luput dari sorotan. Jul paham, pendidikan tak akan berjalan tanpa peran guru. Namun dalam praktiknya, justru guru yang sering berada di posisi paling rentan. 

“Karunya pisan guru teh,” ucapnya pelan.  

Tulang Punggung Rentan

Data guru honorer di Kota Bandung dalam tiga tahun terakhir menunjukkan pola yang konsisten: profesi ini masih didominasi perempuan, terutama pada jenjang pendidikan dasar. 

Pada 2021, jumlah guru honorer perempuan jauh melampaui laki-laki di semua jenjang. Di tingkat PAUD, tercatat 3.261 perempuan berbanding 111 laki-laki. Di SD, 2.206 perempuan dan 922 laki-laki. Sementara di SMP, terdapat 1.294 perempuan dan 882 laki-laki.

Dominasi itu berlanjut pada 2022. Jumlah guru honorer perempuan di PAUD sedikit meningkat menjadi 3.273 orang, sementara laki-laki 107 orang. Di SD, perempuan mencapai 2.622 orang, dibanding 1.078 laki-laki. Adapun di SMP, terdapat 1.419 perempuan dan 936 laki-laki.

Memasuki 2023, pola yang sama tetap terlihat. Di PAUD, perempuan tercatat 3.237 orang, jauh di atas laki-laki yang berjumlah 107 orang. Di tingkat SD, jumlah perempuan meningkat menjadi 2.858 orang, sementara laki-laki 1.142 orang. Di SMP, perempuan mencapai 1.505 orang, dibanding 970 laki-laki.

Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah guru honorer perempuan tidak hanya dominan, tetapi juga relatif stabil dan cenderung meningkat di beberapa jenjang, khususnya SD dan SMP. Sementara itu, jumlah laki-laki juga meningkat, namun tetap berada jauh di bawah perempuan.

Kesenjangan paling mencolok terlihat di PAUD, di mana jumlah guru perempuan mencapai lebih dari 30 kali lipat dibanding laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan usia dini masih sangat lekat dengan peran perempuan. 

Temuan ini memperlihatkan bahwa perempuan menjadi tulang punggung dalam praktik pendidikan sehari-hari, terutama pada level dasar. Namun, dominasi jumlah tersebut belum tentu sejalan dengan distribusi peran, beban kerja, maupun tingkat kesejahteraan yang diterima. 

Ucapan Jul terkait honor dirinya mencerminkan nasib guru perempuan lainnya. “Karunya pisan guru teh.”

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//