CERITA ORANG BANDUNG #110: Hal-Hal Kecil Membesarkan Adin
Barista muda dari Aceh merantau ke Bandung. Kuliah sambil kerja barista. Menang kompetisi nasional setelah sempat gagal sebelumnya.
Penulis Awla Rajul18 April 2026
BandungBergerak - Adin tengah bersantai dengan gawainya saat saya tiba di Homage Makes, di tengah hujan deras yang turun mendadak, Sabtu sore, 11 April 2026. Kami sudah saling mengenal sekitar tiga tahun, dan ini pertemuan pertama setelah ia memenangkan Indonesia Youth Barista Championship (IYBC) 2026.
Kompetisi tersebut digelar 3–5 April 2026 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI–SCAI) bersama yummy.idn.
Adin menyajikan segelas latte untuk menemani obrolan sore yang syahdu. Ia tampak telaten mengoperasikan mesin espresso. Saat hendak mengambil susu dari kulkas, ia sempat meminta maaf—racikan susu khas yang ia gunakan saat kompetisi sedang habis.
“Lagi habis juga karena rebutan stok dengan dapur MBG,” ujarnya dengan aksen khas, sambil menuangkan susu.
Mhd. Al Fadin, 20 tahun, pemuda asal Aceh Barat, keluar sebagai juara kompetisi barista muda tingkat nasional. IYBC adalah kompetisi untuk barista maksimal berusia 24 tahun. Selain bekerja sebagai barista, ia juga mahasiswa Sastra Inggris di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Perjalanan menuju juara tidak singkat. Adin melewati tahap seleksi video (48 besar), uji teknikal (25 besar), hingga semifinal. Di semifinal, ia harus menyajikan empat espresso dan empat minuman berbasis susu dalam waktu 10 menit, sambil mempresentasikan konsep dalam bahasa Inggris.
Minuman tersebut dinilai oleh delapan juri, mencakup aspek rasa, teknik, konsistensi, hingga presentasi.
Babak final menyisakan enam orang. Adin di antaranya. Format kompetisinya serupa. Adin memilih mengulang presentasinya berjudul Small Things Matter—sebuah gagasan yang ia bangun dari dua tahun perjalanannya sebagai barista.
Di final kuncinya satu, jangan bikin kesalahan.
Hal-hal Kecil yang Menentukan
Bagi Adin, hal-hal kecil dalam keseharian sering luput diperhatikan, padahal justru menentukan. Mulai dari menyiapkan pakaian sehari sebelumnya, membaca ulang materi kuliah, hingga keputusan sederhana mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
“Tanpa kita sadari hal-hal kecil itu dampaknya gede. Di kopi, aku ceritain, awalnya keputusan kecil aku untuk cari kegiatan, cari kerja, biar enggak kupu-kupu (kuliah-pulang), salah satunya ya barista, yang niatnya bukan untuk cari uang, tapi cari pengalaman yang bisa dipakai di kemudian hari,” ceritanya.
Dalam presentasinya, ia merumuskan tiga aspek kecil yang memengaruhi secangkir kopi: pemilihan biji dan resep, rasio kopi, serta cara menikmati.
Menurutnya, perubahan kecil pada rasio dapat mengubah karakter rasa secara signifikan. Bahkan, cara minum pun berpengaruh. Misalnya, diaduk dahulu sebelum diminum sehingga rasa kopi lebih keluar.
Di kompetisi, Adin bahkan menggunakan magnet kecil di sekitar cangkir untuk memengaruhi kejernihan rasa. Rasa kopi menjadi lebih bersih, after taste-nya meninggalkan rasa manis.
“Hasilnya lebih clean, after taste-nya manis, dan rasa lain lebih jelas,” ujarnya.
Ia merangkum filosofinya dalam kalimat:
"Every small decision I made impact to the person what I will become tomorrow. And every small detail in coffee, impact to the final cup (setiap keputusan kecil yang saya buat berdampak terhadap akan menjadi orang seperti apa saya kemudian. Dan setiap detail kecil dalam kopi, berdampak untuk sajian pamungkas),” kata Adin.
“Every small decision I make impacts who I become, and every small detail in coffee impacts the final cup.”
Dari Nol
Adin baru mengenal kopi pada usia 18 tahun, saat diterima bekerja di Homage Makes pada Mei 2024. Sebelumnya, ia melamar ke lebih dari 30 kafe di Bandung—semuanya menolak karena menilainya minim pengalaman.
Padahal, ia berasal dari Aceh, daerah dengan budaya kopi kuat. Ayahnya punya kebiasaan minum kopi setiap hari. Dan di Homage Makes-lah perjalanan Adin menjadi seorang barista dan menaruh makna pada kopi dimulai.
“Di Homage belajar dari nol. Yang awalnya enggak suka sama sekali sama kopi, minum kopi juga jarang walaupun orang Aceh. Sampai sekarang hidupnya di kopi,” katanya.
IYBC bukan target kompetisi utamanya. Ia sebenarnya membidik Indonesia Barista Championship (IBC), ajang nasional untuk menuju kompetisi internasional. Untuk sampai di tingkat ini, barista perlu memenangkan kompetisi di tingkat regional.
Ia pernah mencoba IYBC pada 2024, namun gagal di tahap awal. Kemenangan tahun ini justru memberinya tiket langsung ke IBC 2027.
Di balik capaian tersebut, ada kerja tim dan dukungan keluarga. Beberapa pekan sebelum kompetisi, Adin bahkan mengalami musibah, motornya dicuri.
Namun hal itu tak menghentikan persiapannya. Ia tetap berlatih, menempuh perjalanan ke kafe menggunakan kereta.
Selain berkat usaha dan kegigihan, Adin juga yakin kemenangannya tidak lepas dari doa ibu.
“Sebelum kompetisi aku minta doa ibu. Malam (sebelum kompetisi) telepon, ‘mak, doain ya’. Sebelum kompetisi, setelah main, waktu nuggu pengumuman juga telepon,” kata Adin yang merantau ke Bandung pertama kali Agustus 2023 lalu.
Baginya, kemenangan bukan hanya soal diri sendiri.
“Senang dan ikut senang juga melihat orang lain senang. Selain aku kan ada orang-orang di belakang aku juga. Melihat orang-orang lain senang tuh kayak, wah, aku bisa bikin orang lain bahagia dengan aku memenangkan kompetisi,” begitu kesan Adin.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #108: Iin dan Komunitas Cika-Cika, di Antara Arus dan Sampah Sungai Cikapundung
CERITA ORANG BANDUNG #109: Ato dan Lapak Jahit di Pinggir Jalan Kopo Sayati
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Ada pelajaran berharga yang kini tertanam bagi Adin tentang kompetisi. Sejatinya, kompetisi mendidik barista agar menjadi lebih disiplin ketika kembali ke bar. Ketika berkompetisi, barista berada di bawah tekanan dan dituntut melakukan setiap detail dengan minim kesalahan. Kompetisi juga mengajarkan problem solving serta menuntut adanya rencana yang matang.
“Ketika balik kek bar enggak ada pressure, tapi udah biasa dengan itu. Itu tujuan utamanya, balik ke bar jadi lebih baik,” katanya, bijak.
Kompetisi juga mengajarkannya menerima kekalahan dan mengenali batas diri.
“Kita harus belajar jadi kalah juga sebenarnya biar kita tau diri kita udah siap atau belum. Kompetisi bukan cuma tentang lomba, tapi hal-hal yang ber-impact ke diri kita.”
Ia juga menyinggung dampak krisis iklim terhadap kopi—produksi menurun, harga meningkat, sementara pelaku usaha harus menjaga kualitas.
“Itu jadi memberatkan kita sebenarnya. Mau juga naikin harga, tapi ya gimana,” katanya.
Hujan masih turun saat obrolan berakhir. Adin kembali ke balik bar, melanjutkan aktivitasnya—berdiskusi dengan pemilik kafe sekaligus membimbing barista baru.
Ada yang terasa berbeda dari pertemuan kali ini. Bukan hanya soal gelar juara, tetapi cara ia memaknai proses dan kesadaran pada hal-hal kecil yang kerap dipandang remeh.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

