CERITA ORANG BANDUNG #109: Ato dan Lapak Jahit di Pinggir Jalan Kopo Sayati
“Alhamdulillah jalan. Lebih berkah juga, enggak terlalu banyak pikiran.”
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah13 April 2026
BandungBergerak – Benang dari gulungan hitam ditarik, lalu secara lihai dimasukkan ke dalam lubang jarum. Sejurus kemudian pedal diinjak dengan salah satu telapak kaki, dan seketika muncul suara mesin yang beradu nyaring dengan deru lalu lintas kendaraan di Jalan Kopo Sayati, Margahayu, Kabupaten Bandung.
Sudah sejak 10 tahun lalu, Manto Rusmanto, akrab disapa Ato, 52 tahun, melakoni rutinitas ini. Mengandalkan mesin jahit dan gulungan-gulungan benang di kantong kecil semacam laci yang ditelakkan di atas roda berukukuran kecil, ia membuka usaha jasa permak berbagai jenis pakaian.
Jumat siang, 10 April 2026, Ato sedang menjahit kantong kecil sembari mengobrol dengan salah seorang perempuan pelanggan yang bersabar menunggu sang penjahit menuaikan salat Jumat-nya. Baru setelah ibu itu pergi, saya menghampiri Ato dan berbincang mengenai Kopo, kampung halaman tempat ia lahir, tumbuh besar, dan beranak cucu.
“Kalau saya dari awal memang penduduk asli. Dulu Kopo itu masih perdesaan, sawah semua,” kata lelaki yang mengenakan peci hitam di kepala itu sambil tersenyum lebar.
Ato menatap jalan, memperhatikan mobil dan motor yang berseliweran seraya mengenang masa ketika Kopo Sayati masih berupa hamparan desa. Dulu, wilayah ini merupakan bagian dari Desa Sukamenak sebelum dimekarkan menjadi Desa Sayati. Sementara nama Kopo, sepanjang ia tahu, berasal dari nama buah jambu Kopo.
“Yang lebih tahu sejarahnya mah tadi itu, yang baru pergi: mantan kades. Dari leluhurnya juga kepala desa,” katanya, menunjuk ke arah temannya yang baru berpamitan.
Lapak Ato terletak tepat di depan Mi Gacoan. Posisinya berdekatan dengan supermarket dan Pasar Kopo Sayati. Dulunya, gedung restoran tersebut merupakan pusat perbelanjaan Kopo Shopping Center (KSC) yang kemudian hari, lantaran sepi, dijadikan tempat acara musik underground dari genre musik punk hingga reggae.
Lingkungan tempat Ato bekerja memberi gambaran perubahan wajah kawasan Kopo, terutama akibat perputaran ekonomi yang kian cepat. Pasar, supermarket, dan pusat perbelanjaan bermunculan, menawarkan peluang-peluang baru bagi banyak orang untuk bertahan hidup, tetapi sekaligus membawa konsekuensi: kemacetan. Pada jam sibuk masuk sekolah dan kerja, pagi dan sore, Kopo identik dengan antrean kendaraan di jalanan. Orang-orang sedang membicarakan itu dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Ato, Kopo memang masih macet di jam-jam tertentu. Namun ia merasa keadaan sudah sedikit membaik. Terutama sejak dibangun tol Soreang–Pasirkoja dan jalur-jalur alternatif, seperti lewat Kopo TKI atau dari arah Cigondewah.
“Biasanya (macet) pagi sampai sekitar jam sepuluh, setelah itu sudah lancar lagi,” ujarnya.

Baca Juga: Kopo (Mungkin) Adalah Wajah Bandung yang Sebenar-benarnya
Saya Bersaksi Tidak Ada Macet dan Banjir di Jalan Kopo!
Hidup Lebih Tenang
Ato menguasai keterampilan menjahit dengan belajar secara otodidak. Sejak kecil, ia senang mengamati bagaimana sang ayah menjahit, dan segera diminta untuk belajar sungguh-sungguh. Ketika itu orangtua Ato memang menjalankan sebuah usaha konveksi.
Ato kecil belajar banyak keterampilan jahit, mulai dari membuat pola hingga melakukan permak. Ia fasih melakukannya pada beragam kain dan produk fesyen, mulai dari tas, gamis, hingga jaket. Tak hanya memotong sesuai keinginan pelanggan, tetapi juga memperbaiki dan membuat pola.
“Dari umur 15 tahun (saya) sudah bantu jahit. Dulu juga dikasih upah sama orangtua, jadi ada (uang saku) tambahan,” tuturnya.
Jauh sebelum membuka jasa jahit di pinggir Jalan Kopo Sayati, Ato pernah membuka usaha konveksinya sendiri dan berkembang pesat. Namun sebagaimana umumnya usaha dagang, ia mengalami juga pasang surut. Jumlah kompetitor semakin banyak dari tahun ke tahun, ditambah kondisi ekonomi Indonesia yang menuju ke krisis. Konveksi Ato ikut terpukul.
“Jadi, home industry semua kena imbas. Yang kecil-kecilan itu kena semua,” ucapnya.
Meninggalkan dunia jahit-menjahit, Ato menyelami pengobatan alternatif. Ia juga sempat bekerja di pabrik berbekal keterampilan dan pengalaman membuat pola pakaian. Namun, perjalanan hidup membawanya kembali menekuni dunia jahit. Bukan lagi di usaha konveksi yang memiliki pegawai, tapi seorang diri di lapak di pinggir Jalan Kopo. Ato mengandalkan dua modal utama yang ia sudah punya: keterampilan dan mesin jahit.
“Alhamdulillah jalan. Lebih berkah juga, enggak terlalu banyak pikiran,” tuturnya.
Ato menggelar lapaknya sejak pukul delapan pagi hingga menjelang sore. Jarak dari rumah ke tempat lapaknya tak begitu jauh, bisa ditempuh dalam lima menit. Setiap hari, ia mendorong roda peralatan jahitnya dari rumah ke pinggir jalan, lalu membawanya pulang kembali saat hari mulai gelap. Tidak lupa, saat waktu salat tiba, ia menghentikan sejenak pekerjaannya dan pergi ke masjid terdekat.
Anto bercerita, jumlah pendapatannya tak pernah benar-benar pasti. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang uang 50 ribu rupiah. Tapi tidak jarang juga, ia memperoleh 200 ribu rupiah atau bahkan 300 ribu rupiah. Jika dirata-rata, pendapatan harian Ato ada di angka 100 ribu sampai 200 ribu rupiah.
Suasana berbeda terjadi menjelang Lebaran. Sekitar sepekan sebelum hari raya, pesanan jahit meningkat tajam. Penghasilannya bisa menembus 500 ribu per hari, bahkan lebih dari satu juta di hari-hari puncak. Walaupun begitu, lonjakan itu datang dengan konsekuensi: waktu kerja yang dipaksa lebih panjang dan tenaga yang harus terus dipacu.
Menurut Ato, salah satu tantangan membuka usaha jahit di pinggir jalan adalah cuaca yang tak menentu. Saat hujan turun, jumlah pelanggan berkurang drastis. Selain itu, ada pula tantangan berupa tekanan dari pelanggan yang datang dengan tergesa dan meminta pekerjaan dibereskan dalam waktu singkat.
“Ya dukanya mah kalau sudah di ada konsumen yang harus segera pengin cepat-cepat, yang rewel, bawel, wah. Tapi senang saya menghadapi ini karena kita bisa menyelesaikannya dengan seni komunikasi yang baik,” tuturnya.
Usaha lapak jahit menganugerahi Ato lebih dari sekadar kesanggupan bertahan hidup. Saat ini, tiga dari empat anaknya sudah bersekolah sampai perguruan tinggi, bekerja, dan memiliki keluarga masing-masing. Sementara, si bungsu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan masih menjadi tanggungannya.
Ato memilih mensyukuri apa yang dia punya dan terima. Harapannya, keluarganya tetap sehat dan bahagia. Ato merasa hidupnya lebih tenang. Tidak ada lagi ambisi seperti di masa muda untuk memiliki segalanya.
“Kalau sekarang, udah cukuplah: rumah udah punya pribadi, punya motor, kendaraan sudah,” ucapnya. ”Sederhana saja.”
Selama mengobrol dengan saya, Ato tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas menjahitnya. Ia menuntaskan pesanan juru parkir di dekat lapaknya. Di penghujung percakapan, dua orang perempuan muda memakai seragam putih abu-abu datang menggunakan sepeda motor untuk memotongkan pakaian.
Segera setelah saya berpamitan pulang sebelum hujan mengguyur Kopo, Ato mengambil benang, merapikan posisi mesin, mengambil pengukur, dan melakukan kerja keseharian yang ia tekuni dalam 10 tahun terakhir dan yang membuat hidupnya tenang: menjahit.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

