• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG #108: Iin dan Komunitas Cika-Cika, di Antara Arus dan Sampah Sungai Cikapundung

CERITA ORANG BANDUNG #108: Iin dan Komunitas Cika-Cika, di Antara Arus dan Sampah Sungai Cikapundung

Setiap hari Iin menempuh jalan terjal demi merawat Sungai Cikapundung. Perempuan 60 tahun ini menunjukkan bahwa menjaga sungai adalah menjaga kehidupan.

Iin Ina Marsina, humas Komunitas Cika Cika, Bandung, Selasa, 17 Maret 2026. (Foto: Danish Wafi Fazila/BandungBergerak)

Penulis Reza Khoerul Iman26 Maret 2026


BandungBergerak – Seorang lelaki tua berusia 68 tahun, Mamat Rasidi, turun ke aliran sungai di Cika-Cika, Sungai Cikapundung, Bandung. Ia berdiri di tengah aliran, menahan arus yang tak terlalu deras, sementara tangan dan linggisnya cekatan menarik plastik dan sampah yang tersangkut di antara bebatuan.

Di sebuah saung di atasnya, Iin Ina Marsina, 60 tahun, mengawasi Abah Mamat, yang bekerja secara sukarela membersihkan sampah. Senyum Iin merekah saat saya dan kawan saya tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Padahal itu adalah pertemuan pertama kami, namun tak sedikit pun ia membuat kami merasa asing.

Hari itu, Selasa, 17 Maret 2026, kami datang menemuinya untuk melihat lebih dekat bagaimana praktik pengelolaan sampah di Cika-Cika. Namun Iin tak buru-buru, ia mempersilakan kami untuk melihat dan meresapi alam di Cika-Cika.

Di hadapan kami, persoalan sampah yang selalu menghantui setiap kawasan di Kota Bandung tidak tampak. Tidak ada sampah yang berserakan. Tidak ada yang dibiarkan menumpuk. Semuanya dirawat dan dikelola sebaik-baiknya.

Bagi Iin, semua ini tidak datang begitu saja. Keresahan tentang sampah sudah lama ia keluhkan. Puncaknya pada 2009, ketika ia memutuskan untuk tidak lagi hanya mengeluh. Bersama beberapa kawannya, ia mulai turun ke sungai, membersihkan sampah yang terus datang tanpa henti.

Pada 2012, Iin bersama kawan-kawannya mulai membentuk sebuah komunitas yang kemudian dikenal sebagai Cika-Cika. Iin sendiri kini sebagai humas komunitas. Sementara Abah Mamat adalah ketua komunitas.

Dari sana, upaya menjaga Sungai Cikapundung yang sebelumnya dilakukan secara terbatas mulai rutin dilakukan setiap pekan.

“Karena untuk menjadi bersih lagi itu perlu waktu, lah. Perlu kolaborasi bersama-sama. Perlu inovasi ini itulah segala macam,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Keyakinan dan komitmen tersebut bukan sebatas cerita manis yang terus Iin sampaikan setiap bertemu orang, tapi ia jalani setiap hari.

Untuk sampai ke Cika-Cika, Iin harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari rumahnya. Medannya tentu tidak mudah: ada yang menurun dan menanjak. Cukup menguras tenaga, terlebih di usianya sekarang.

Cika-Cika sendiri terletak di bantaran Sungai Cikapundung, tepatnya di belakang bangunan tua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Dago. Dari permukiman warga di atas, tempat itu tidak langsung terlihat. Orang harus menuruni jalan setapak beberapa puluh meter lagi sehingga gemuruh suara air dari PLTA Dago terdengar jelas yang mengantar langkah menuju tempat kegiatan Cika-Cika berlangsung.

Perjalanan ini Iin tempuh hampir tanpa jeda. Dari pukul sembilan pagi sampai lima sore. “Kalau tidak ke sini, rasanya ada yang kurang," tuturnya.

Setibanya di Cika-Cika, pekerjaannya dimulai. Ia memilah sampah satu per satu; memisahkan sampah organik, anorganik, dan jenis lainnya. Rutin tiap dua hari sekali. Adapun ketika tidak disibukkan dengan aktivitas pemilahan, Iin biasanya membersihkan area Cika-Cika, bantaran sungai, dan memberi pakan magot.

Di luar kegiatannya di Cika-Cika, Iin sebenarnya menjalani kehidupan yang tak jauh berbeda dari ibu-ibu lainnya di kampung itu. Ia memiliki dua anak dan rutin membantu berbagai kegiatan di tingkat kelurahan atau kecamatan.

Sampah yang dipilah Iin tidak datang begitu saja. Sebagian berasal dari Pasar Pasiwa (Pasar Sisi Walungan) yang rutin digelar setiap pekan di Cika-Cika. Sebagian lainnya datang dari rumah makan, warga sekitar, atau siapa pun yang mulai terbiasa membawa sampah mereka ke tempat ini.

Dalam sehari, tempat ini rata-rata bisa memproses sekitar 30 hingga 50 kilogram sampah. Jika dihitung dalam sebulan, jumlahnya bisa melampaui satu ton.

Namun tidak semua sampah yang sampai di Cika-Cika datang dengan sengaja diantar orang. Sebagian lainnya justru tiba tanpa diundang: terbawa arus Sungai Cikapundung dari hulu, terutama setiap kali hujan turun.

Iin bercerita, meski rutin mengadakan kegiatan kolaborasi bebersih sungai tidak lantas membuat sungai menjadi bersih. Keesokan harinya, sampah kembali datang.

“Karena gini, selama ibu di sini udah mau menjelang 16 tahun. Ketika hujan, air (sungai) teh volumenya tinggi terus. Arusnya deras. Itu sampah enggak habis-habisnya. Nah, padahal mah ketika hujan besar teh kan kegerus si sampah teh ya. Habis. Ini mah enggak. Jadi tiap hujan besar gitu. Ngangkleung (terapung). Enggak habis-habis tuh (sampah),” cerita Iin.

Karena itu, Iin sadar betul aktivitas yang ia lakukan bukanlah menghentikan sampah sepenuhnya. Paling tidak, kata dia, upayanya bersama Komunitas Cika-Cika bisa mengurangi volume sampah yang terus mengalir di sungai.

Merawat Sungai dengan Kolaborasi

Upaya menjaga alam tidak hanya dilakukan oleh Iin dan komunitasnya. Seiring waktu, tempat ini juga menjadi ruang pertemuan bagi banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap sungai dan lingkungan.

Sesekali, kegiatan bersih-bersih sungai digelar ramai-ramai bersama berbagai komunitas lingkungan seperti River Clean Up. Dalam kegiatan itu, para relawan turun langsung ke sungai, memungut sampah yang tersangkut di bebatuan atau terbawa arus.

Selain komunitas lingkungan, Cika-Cika juga sering didatangi pelajar dan mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung. Ada juga yang melakukan penelitian, ada pula yang menjalani praktik kerja lapangan selama beberapa minggu. Tempat ini perlahan menjadi semacam ruang belajar lapangan.

Bagi Iin, kehadiran mereka membawa harapan bahwa banyak orang mulai melihat sungai sebagai sesuatu yang harus dirawat, bukan lagi sebagai tempat pembuangan. Merawat sungai artinya menjaga kehidupan.

“Kita sudah menunjukkan kepada mereka bahwa sungai itu adalah tempat mengalir air dan air adalah sumber kehidupan. Maka sungai itu harus dijaga dan dirawat,” ucap Iin.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #106: Panggung TikTok Ade Ariani di Belakang Teras Cihampelas
CERITA ORANG BANDUNG #107: Tine, Suara Ibu dari Bandung untuk Gaza

Lingkungan di sekitar Komunitas Cika Cika, Sungai Cikapundung, Bandung, Selasa, 17 Maret 2026. (Foto: Danish Wafi Fazila/BandungBergerak)
Lingkungan di sekitar Komunitas Cika Cika, Sungai Cikapundung, Bandung, Selasa, 17 Maret 2026. (Foto: Danish Wafi Fazila/BandungBergerak)

Tantangan Terbesar

“Ibu mah di sini bersihin sampah bisa sebentar. Paling 15 menit juga bisa beres. Tapi (yang rumit) itu merubah pola pikir. Perlu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun,” ungkap.

Selama 16 tahun mengelola lingkungan dan merawat sungai, Iin menyadari betul bahwa tantangan terbesarnya justru bukan pada pekerjaan membersihkan sampah. Tantangan yang lebih rumit adalah mengedukasi dan mengajak orang untuk peduli dan terlibat sehingga aksi ini menjadi sebuah kolektif.

Minimnya tingkat kepedulian ini menurut Iin karena mereka tidak merasa terdampak langsung oleh kondisi sungai yang kotor. Orang-orang yang rumahnya berada di dataran lebih tinggi atau jauh dari sungai dan sampah, tidak akan sedikit pun dihantui perasaan takut akan bencana dan penyakit.

Karena itulah, kata Iin, kesadaran untuk terlibat menjaga sungai tidak tumbuh dengan cepat.

Bersama Komunitas Cika-Cika, Iin baru merasakan perubahan sekitar 2015 atau setelah tiga tahun rutin berkegiatan. Warga akhirnya semakin terbuka dan ikut terlibat dalam kegiatan di Cika-Cika, meskipun masih bertahap.

Salah satu cara yang dilakukan Iin adalah mengajak warga melalui berbagai kegiatan bersama. Pasar Pasiwa yang rutin digelar di Cika-Cika, misalnya, sengaja dibuat agar warga sekitar merasa memiliki ruang tersebut.

“Ya intinya mah mengajak biar mereka teh mau bebersih gitu. Tapi emang tantangannya berat,” katanya.

Iin tak tahu sampai kapan proses ini benar-benar selesai. Sebab sampai saat ini di Kota Bandung dan di wilayah lainnya, mengajak orang peduli pada sungai dan lingkungan adalah aksi yang harus dilakukan setiap saat.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//