CERITA ORANG BANDUNG #107: Tine, Suara Ibu dari Bandung untuk Gaza
Melalui komunitas Mujahidah Pembela Palestina, Tine Kemala Dewi merawat semangat kemanusiaan melalui komunitas, seni, dan solidaritas publik.
Penulis Khoirunnisa Febriani Sofwan24 Maret 2026
BandungBergerak – Tine Kemala Dewi, seorang ibu rumah tangga yang juga seorang aktivis kemanusiaan. Melalui komunitas Mujahidah Pembela Palestina suaranya lantang menyuarakan matinya kemanusiaan di tanah Gaza.
Rasa kemanusiaan yang dimiliki Tine tidak datang begitu saja, benihnya mulai tumbuh sejak ia mengemban pendidikan di jenjang universitas. Berawal dari aksi-aksi kemanusiaan yang sering diadakan kampusnya, sampai berkeluarga dan memiliki 4 orang anak Tine masih aktif bersuara demi kemanusiaan, khususnya tentang nasib warga Palestina.
Di masa menjadi mahasiswi, ia sering kali ikut serta dalam diskusi bersama teman sepergurunnya. Membahas pelanggaran hak asasi manusia di tanah air sampai membahas penjajahan Palestina yang saat ini berubah menjadi genosida.
Dahulu, ketika media sosial masih belum secanggih sekarang, ketika penjajahan Palestina masih belum diketahui banyak orang, Tine menjadi salah satu yang aktif bersuara melalui forum diskusi yang digelar di kampusnya. Sampai dengan sekarang, di usianya yang hampir menginjak kepala lima, ia menjadi penggerak aksi bela Palestina di Bandung bersama para pegiat seni.
Momentum peristiwa 7 Oktober 2023 di Palestina kembali membangunkan semangat kemanusiaan Tine. Serangan Israel yang juga menyasar pada kelompok warga sipil bahkan perempuan dan anak-anak membuka mata Tine, bahwa penjajahan Palestina belum juga usai.
Pada awal tahun 2024 Tine kemudian membangun komunitas “Mujahidah Pembela Palestina” setelah melewati beberapa pertemuan dengan kawan-kawan aksinya. Tak hanya dari Kota Bandung, anggotanya tersebar sampai ke Kabupaten Bandung, juga Kota Cimahi.
Gerakan Kemanusiaan
Berbekal visi yang sama, gagasan Tine dan beberapa kawan pegiat seni kenalannya kemudian dirumuskan bersama lewat misi yang akan dijalankan. Walaupun dia melekat dengan identitas komunitas miliknya, Mujahidah Pembela Palestina, namun ketika aksi di jalan semua penggerak berdiri atas satu nama, kemanusiaan.
Ia biasanya berkolaborasi dengan komunitas-komunitas pembela Palestina lainnya dalam aksi akbar yang sering ia ikuti, di antaranya adalah Raws Syndicate yang dikoordinir Wahyu Dhian, pegiat seni, Wanggi Hoed, Bandung Student of Justice in Palestine, dan Smart171. Aksi dilakukan setiap dua kali dalam seminggu, hari Sabtu dan Minggu di sore hari, juga terkadang pada hari yang bertepatan dengan hari tertentu.
Tak hanya kawan-kawan yang terafiliasi dengan komunitas, warga biasa juga ikut serta berperan dalam aksi akbar. Tak jarang pedagang di pinggir jalan memberikan donasi yang digalang dalam aksi akbar.
Ia juga terlibat berkolaborasi dengan Forum Umat Islam Bersatu dalam membuat sebuah Art Performents dengan tajuk “Art for Palestine”. Penampilan seni ini mempertontonkan kekejian Israel berupa penembakan anak-anak yang dikemas dalam penampilan teater.
Selain aksi akbar dan performents art, ia juga sering menjadi inisiator dari aksi yang digelar komunitasnya. Bersama kawan Mujahidah Pembela Palestina, ia bersuara lewat ruang publik di pinggir jalan, car free day, atau bahkan di perlimaan jalan.
Media sosial yang semakin canggih dan digunakan banyak orang dimanfaatkan Tine sebagai wadah bersuara. Bukan orasi, melainkan membuka ruang untuk berdiskusi, menyebarluaskan berita-berita Palestina, dan tetap terhubung dengan aktivis Palestina lainnya untuk menjaga semangat perjuangan.
Sampai sekarang Tine terus menggalang donasi untuk Palestina. Semua uang donasi tanpa terkecuali langsung ia salurkan kwpada warga Palestina melalui Komite Nasional untuk Rakyat Palestina. Ia bercerita, respons dari warga Palestina sangat positif, bantuan yang ia usahakan dirasakan langsung oleh warga Palestina.
“Mereka jadi merasa kami merasa tidak sendiri katanya gitu. Kami merasa ada yang memperhatikan. Kami merasa ada yang men-support walaupun mungkin kita enggak bisa ikut mengangkat senjata buat mereka. Kita cuma bisa bersuara di media,” ungkapnya.
Untuk Palestina dan Nusantara
Selain aktif dalam menyuarakan Palestina, komunitasnya berperan dalam membantu korban-korban bencana alam nusantara. Salah satu yang paling baru adalah melalui program ‘Kurma Gratis untuk Aceh’ selama Ramadan.
Tine melaksanakan program tersebut agar masyarakat Aceh turut merasakan hangatnya Ramadan. Tine bercerita, ia tidak bisa merasa bahagia dengan leluasa jika ia mengetahui ada orang yang masih menderita di luar sana.
Selain Aceh, ia juga membantu warga Cisarua yang terdampak bencana longsor. Per dua hari sejak bencana, Tine rutin pulang pergi ke Cisarua untuk menyalurkan hasil donasi baik itu berupa uang, pakaian, ataupun sembako yang ia kumpulkan melalui media sosial.
Ia memiliki prinsip, ia sama sekali tidak ingin uang donasi terpakai sepeser pun, bahkan untuk keperluan akomodasi saat menyalurkan donasinya.
“Donasi kan itu kan amanah yang benar-benar riskan gitu, satu perak pun kita enggak berani pakai. Pokoknya enggak boleh ada sedikit pun yang kepakai buat ongkos atau jajan atau enggak boleh. Mendingan kita nambahin istilahnya gitu daripada kita kepakai,” ungkapnya.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #105: Mang Oleh di Bawah Teras Cihampelas
CERITA ORANG BANDUNG #106: Panggung TikTok Ade Ariani di Belakang Teras Cihampelas
Membangun Semangat Kemanusiaan dari Rumah
Aksi-aksi yang dilakukannya tidak lantas menjadikan Tine meninggalkan kewajibannya di rumah sebagai seorang ibu. Ia justru menanamkan jiwa kemanusiaan pada kelima anaknya. Rumah, menurutnya merupakan madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya mengenal dunia.
Melalui video-video yang beredar di media sosial, ia mencoba menjelaskan situasi genosida yang sedang terjadi pada anaknya. Tanpa perlu dilarang, anaknya paham alasan produk boikot sebaiknya tidak dikonsumsi.
Hal tersebut bisa terjadi karena Tine memberikan pemahaman terlebih dulu pada anaknya., Menurutnya melarang tanpa alasan hanya akan menyisakan tanda tanya. Oleh karenanya, Tine selalu berusaha membuat anak-anaknya familiar bahkan menyukai hal-hal yang berbau Palestina.
Tine juga mengaku anak-anaknya tidak merasa ditinggalkan oleh ibunya. Kemandirian Tine ajarkan sejak dini dengan harapan anaknya bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Buah dari proses panjang kemandirian membuat Tine lebih leluasa saat melakukan aksinya di jalan.
Lewat apa yang ia lakukan, ia berharap bisa menjadi contoh bagi orang rumah maupun bagi orang-orang di luar rumah. Ia berharap langkah dan usahanya selama ini bisa membantu warga Palestina maupun masyarakat Indonesia.
“Kalau saya prinsipnya sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain. Belum bisa sampai ke Palestina, belum. Belum bisa menghentikan perang, belum. Cuma ya segini semampunya segini saya rasa,” pungkasnya.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

