CERITA ORANG BANDUNG #106: Panggung TikTok Ade Ariani di Belakang Teras Cihampelas
Ade Ariani mengubah cara mengamen di Bandung: bernyanyi dari pinggir jalan sambil siaran TikTok, menjangkau penonton dari layar ponsel hingga ribuan orang.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah7 Maret 2026
BandungBergerak - Di atas trotoar dengan latar belakang Teras Cihampelas, Ade Ariani bernyanyi sambil menyapa penonton melalui siaran langsung TikTok dari ponselnya. Di depannya berdiri tripod setinggi tubuhnya, menopang gawai yang merekam penampilannya. Sebuah mikrofon terhubung ke sound card kecil, sementara ring light menyala menerangi wajahnya. Dengan peralatan sederhana itu, Ade menghibur penonton yang menyaksikan dari layar mereka.
Sudah lima tahun perempuan asal Pekanbaru Riau ini memasuki dunia live streaming di Kota Kembang. Awalnya Ade hanya mengamen sambil menyalakan siaran langsung di TikTok di perempatan Jalan Samping Dago. Tak begitu banyak yang nonton, hanya satu dua orang mampir sebentar.
Ade meyakini performa bagus serta sering melakukan siaran langsung menyebabkan algoritma bisa bekerja hingga ditonton ratusan sampai ribuan ribu.
“Waktu itu pernah sampai menembus 11 ribu orang yang nonton. Kalau perform bagus dan algoritma kebaca, penonton bisa ratusan sampai ribuan,” kata Ade pada BandungBergerak, Rabu, 25 Februari 2026.
Zaman terus berubah. Semua serba digital. Mengamen tak lagi mengandalkan orang yang lewat di jalan, tetapi juga penonton dari layar ponsel yang tersebar di berbagai tempat.
Ade mengaku sudah tidak lagi mengamen seperti biasa. Ia lebih fokus live TikTok.
“Kalau kita bisa memanfaatkan teknologi, jangkauannya lebih luas. Sekarang lebih fokus live sendiri, tidak ngamen reguler lagi,” ujar Ade.
Selain di trotoar dekat Teras Cihampelas, ia sempat melakukan siaran berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain di Kota Bandung, dari perempatan Simpang Dago hingga Perempatan Cihampelas. Saat sedang siaran, kadang ada pengendara yang melambatkan laju motor, menyapa, atau sekadar memberikan uang sebelum melanjutkan perjalanan.
“Sekarang biasa live di Cihampelas, dekat kos. Jalur lalu lintasnya padat. Kadang pengendara yang lewat bisa menyapa atau memberi rezeki,” terangnya.
Jam siaran Ade tidak selalu sama. Sering kali menyesuaikan dengan suasana hati. Saat hari-hari biasa ia memulai siaran dari pagi hari hingga menjelang zuhur, dan biasanya dilanjutkan sampai sore.
Namun di bulan Ramadan ia biasa memulai siaran dari sore hari sampai magrib, kadang dilanjutkan setelah tarawih hingga dini hari. Ia sedang menabung agar bisa mudik ke kampung halaman.
Jika dulu mengamen di jalan, Ade biasanya pulang membawa sekitar 150 ribu rupiah hingga 200 ribu rupiah sehari. Pada hari yang ramai, jumlahnya bisa mencapai 300 ribu rupiah, bahkan sampai 500 ribu rupiah.
Saat siaran langsung di TikTok penghasilan datang dari berbagai arah. Mulai gift dari penonton, ada pula yang langsung mentransfer uang ke rekeningnya. Pernah pada satu kesempatan ia mendapatkan satu juta rupiah yang tidak perlu berbagi dengan siapa pun.
“Jadi kalau dibandingkan, lebih besar yang live sendiri,” tuturnya.
Bukan biaya murah juga untuk Ade bisa siaran dengan peralatan yang layak. Sound card, mikrofon, tripod, sampai power bank yang digunakan bernilai sekitar lima juta rupiah. Peralatan itu tidak ia beli sekaligus, melainkan menabung dari hasil mengamen selama beberapa tahun, menjadi investasi untuk memperluas panggungnya.
“Belinya tidak instan. Dicicil dari hasil tabungan beberapa tahun. Yang ini (sound card) baru beli akhir Desember 2025,” ungkapnya.

Penonton Menjadi Keluarga
Ia tak pernah membayangkan siarannya dijangkau hingga macanegara. Mereka aktif di kolom komentarnya. Ade sering melihat nama-nama akun dari Taiwan, Singapura, Malaysia, hingga negara-negara Timur Tengah.
“Penonton bukan hanya dari Indonesia. Ada dari Taiwan, Singapura, Malaysia, Arab. Ada TKW, ada juga warga asli sana,” jelas Ade.
Momen yang tak pernah ia lupakan saat seorang penonton dari Singapura datang langsung menemuinya di Bandung. Ia dibawakan hadiah dan diberikan uang satu juta rupiah. Pada kesempatan lain, seseorang mengirim satu kardus besar berisi barang untuk ibunya Ade di Pekanbaru.
Penonton bukan sekadar menjadi fans yang tergila-gila pada artis idola. Hubungannya dengan para penonton terasa akrab. “(Ada) Pak Endang, Mama Risma, dan Mama Santi,” Ade menyebutkan beberapa nama penontonnya.
Mereka kerap kali mengirim uang sekitar 100 ribu rupiah setiap hari.
“Rasanya seperti punya orang tua online,” ucapnya.
Live streaming juga sering menghadirkan kejadian yang tak disangka. Suatu kali, saat lalu lintas padat bersamaan dengan jadwal Persib Bandung di Stadion GBLA, seorang tokoh menyapanya dari mobil. Ia pejabat teras Pemprov Jabar. Sang pejabat memberi Ade uang 100 ribu rupiah sebelum melanjutkan perjalanan untuk menonton pertandingan Persib Bandung.
Ade juga pernah mencoba menyapa pejabat lainnya saat rombongan mobil mereka melintas. Meski kaca mobil tidak sempat terbuka, penonton di siaran langsung justru ramai berkomentar dan membuat suasana live mendadak heboh.
“Jadi momen lucu dan heboh sendiri di live,” jelas Ade kembali tersenyum.
Selama ia melakukan live streaming mengaku belum pernah diusir dari lokasi ia biasa siaran. Ade juga tak banyak ambil hati mengenai komentar negatif yang ada di kolom chat saat ia sedang siaran langsung.
“Kalau ada komentar negatif, tidak diambil pusing. Yang penting tidak mengganggu pejalan kaki,” ujarnya.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #105: Mang Oleh di Bawah Teras Cihampelas
CERITA ORANG BANDUNG #104: Yani Merawat Rasa Kopi
Merantau ke Bandung
Hidup memang tak semerdu tangga lagu. Kedatangannya ke Bandung sekitar awal 2020, sebelum pagebluk Covid-19, ia sempat memiliki kegiatan di Kendari. Dari sana, ia memutuskan sekalian merantau ke Bandung.
“Tapi karena pandemi, sempat menganggur di Cibinong tahun 2020–2021,” ujar Ade.
Baru pada 2021 ia benar-benar memulai hidupnya sebagai musisi jalanan. Perempuan usia tiga puluhan ini memulai kawasan Cihampelas bawah sebagai titik awal. Di sana ia berdiri di tepi jalan, menyanyikan lagu-lagu sambil berharap ada pengendara yang berhenti sejenak atau sekadar melemparkan uang ke kotak kecil yang dibawanya.
“Alhamdulillah bertahan tiga tahun,” katanya.
Setelah itu ia sempat berpindah ke kawasan Dago sampai akhirnya memutuskan live streaming. Jauh sebelum bermusik, Ade yang sempat mengenyam pendidikan Komunikasi Penyiaran Islam ini sempat menjadi penyiar radio di kampung halamannya. Pilihan menjadi musisi jalanan bukan pilihan romantis, tetapi hanya itu jalan yang tersedia.
Tanpa sanak saudara bahkan jaringan pertemanan Ade merantau sendirian ke kota ini. Suara menjadi modal satu-satunya yang ia yakini, Ade merasa memiliki bakat bernyanyi, dan Bandung dikenal sebagai kota yang relatif terbuka bagi musisi jalanan.
Meski begitu, pengalaman bermusik di kampung halaman turut menjadi modal. Ia kerap membawakan lagu-lagu religi. Latar belakang itu pula yang membuatnya relatif mudah diterima ketika mulai bernyanyi di Cihampelas.
“Alhamdulillah respons pengendara bagus,” kenang Ade. “Background saya di Pekanbaru dulu penyanyi nasyid.”
Musik, kata Ade, bukan sekadar hiburan. Melalui musik ia bertahan hidup selama merantau. Uang yang didapat dari bernyanyi digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sekaligus membantu keluarga di kampung halaman. Hampir setiap minggu ia mengirim uang kepada orang tuanya, kadang sekitar 300 ribu rupiah.
Ade merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Sebagian besar saudara-saudaranya sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Oleh karena itu, ia merasa tanggung jawab membantu orang tua masih sering jatuh kepadanya. Sang ibu, yang dia panggil umi, kadang masih meminta kiriman uang darinya.
Bukan hal ringan menaiki anak tangga kehidupan, lelah menjadi bagian dari perjalanan. Berdiri berjam-jam di jalan, menghadapi panas dan hujan, bukan pekerjaan ringan. Ade mencoba meneguhkan diri dengan satu keyakinan perjuangan itu demi orang tua.
“Doa ibu itu luar biasa,” ucapnya.
Ade menceritakan juga keinginan untuk kembali melanjutkan kuliah yang tertunda. Ia sebenarnya hampir menyelesaikan pendidikan. Saat itu ia sudah berada di semester delapan. Namun ketika ayahnya meninggal dunia, semangatnya runtuh. Ia memilih mengundurkan diri dari kampus—bukan drop out—agar suatu hari masih bisa kembali melanjutkan.
Keinginan untuk melanjutkan studi itu masih ia simpan hingga sekarang. Ia juga telah memikirkan kemungkinan melanjutkan studi melalui Universitas Terbuka. Sebagian besar mata kuliah sudah selesai; yang tersisa hanya proposal dan skripsi. Nilai-nilai sebelumnya pun masih bisa dikonversi. Menurutnya, akan sangat sayang jika perjuangan kuliah itu berhenti begitu saja.
Di tahun ini, harapan Ade sederhana, menjadi pribadi yang lebih baik, bisa menghibur lebih banyak orang lewat musik. Hidup, bagi Ade, sudah memberi satu pelajaran penting selama seseorang mau berusaha, jalan selalu ada.
“Allah pasti kasih jalan. Rezeki itu selalu ada,” ujarnya.
Stigma masih Melekat
Di era digital seiring majunya pemanfaatan teknologi dan media sosial, pengamen jalanan ikut bertransformasi ke ranah digital melalui siaran langsung di aplikasi seperti Tiktok. Dimas Yoki Alfianto, Sangga Arta Witama, dan Muhammad Iqbal Naufal dari Universitas Budi Luhur pada artikel berjudul “Pendekatan Naratif Dokumenter ‘Pengamen Digital’ Sebagai Bentuk Transformasi Seni Musik Jalanan” menuturkan, jika dulu pengamen bernyanyi di trotoar, terminal, atau stasiun, kini panggung itu berpindah ke ruang virtual. Dengan perangkat gawai, tripod, dan sound card.
“Mereka bisa menyuguhkan penampilan musik secara langsung kepada ribuan penonton sekaligus, tanpa harus berpindah tempat atau terbatas oleh lokasi fisik. Merka tidak lagi terikat oleh waktu dan tempat, karena bisa bermain musik kapan saja dan di mana saja selama ada koneksi internet,” tulisnya pada jurnal KARTALA Visual Studies Volume 5, Nomor 1 tahun 2026 diakses, Jumat, 5 Maret 2026.
Para peneliti ini juga menyoroti cara memperoleh penghasilan berubah dari uang receh menjadi saweran digital melalui gift yang dikirim penonton. Mereka juga menyebut, meski membuka peluang ekonomi baru, pengamen digital masih menghadapi stigma sosial. Sebagian masyarakat menganggap aktivitas mereka sekadar hiburan informal, bukan karya seni.
Selain itu, para pengamen digital ini harus juga beradaptasi dengan teknologi dan algoritma platform seperti TikTok, sambil menghadapi keterbatasan ruang berkarya serta upaya memperoleh pengakuan sebagai pekerja seni.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

