CERITA ORANG BANDUNG #104: Yani Merawat Rasa Kopi
Dari lereng Mekarjaya, Yani menekuni kopi dengan sabar sejak 2006. Ia menunggu panen bertahun-tahun, menghadapi cuaca tak menentu, dan mengolah biji demi cita rasa.
Penulis Yopi Muharam21 Februari 2026
BandungBergerak - Di hamparan kebun kopi Bandung Selatan, Yani menanam harapan yang tumbuh perlahan bersama waktu. Sejak 2006, lebih dari 500 pohon kopi ia rawat bersama suaminya, sebuah ikhtiar panjang yang dimulai saat usia pernikahan dengan Alex masih seumur jagung.
Tiga tahun setelah bibit-bibit itu ditanam, panen pertama datang berbarengan dengan kelahiran anak pertamanya pada 2009. Dari hasil kopi itulah kebutuhan awal sang bayi terpenuhi. Kini, Sabtu, 7 Februari 2026, hampir dua dekade berlalu, pohon-pohon kopi itu tetap berdiri, dan anak yang dulu lahir di musim panen telah duduk di bangku kelas XI SMA.
Pohon-pohon kopi di ketinggian 1.000 MDPL itu tampak ranum. Lokasi kebun kopi Yani dan Alex bernama Kebon Akrim, tak jauh dari Gunung Sangar Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Bersama tiga rekannya, Imas, Eneng, dan Jubaedah, perempuan berumur 48 tahun itu memetik sebagian buah kopi yang sudah matang. Meski jarak panen raya masih terhitung panjang yaitu empat bulan lagi atau pada bulan Juni, menurutnya jika tidak dipetik akan terlalu matang dan hasilnya tak maksimal.
“Sayang kalau misalnya didiemin, ntar jatuh ke tanah atau dimakan sama bajing,” ujar Yani.
Yani biasa datang ke kebun dari pukul 06.30 pagi hingga 12.00 siang. Meski tak tiap hari ke kebun, dirinya kerap memantau sesekali untuk melihat jika ada buah kopi yang matang.
Yani dan suami mengelola kebun kopi seluas dua hektare. Tanah tersebut merupakan milik negara di bawah naungan perhutanan sosial sesuai SK Nomor: SK. 3922/MENLHK-PSKL/PKPS/PAL.0/6/2018 tentang pemberian izin pemanfaatan hutan kepada koperasi produsen Amanah Sejahtera seluas kurang lebih 140 hektare. Ada 107 anggota koperasi pemegang persetujuan pengelolaan hutan masyarakat di desa Mekarjaya.
Suami Yani merupakan ketua koperasi produsen yang biasa menampung hasil kopi petani di Mekrjaya. Saat BandungBergerak mengunjungi rumahnya, ada seorang petani yang menjual hasil kopinya yang masih berbentuk buah seberat 27 kilogram. Satu kilonys seharga 14.000 rupiah.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #102: Lily, Seorang Lansia Perawat Kucing
CERITA ORANG BANDUNG #103: Balada Gorengan Mang Aom
Rasa Kopi
Yani lahir dan besar di Mekarjaya dari keluarga buruh tani. Sejak 2006, ia beralih dari ibu rumah tangga menjadi petani kopi bersama suaminya.
Ia memilih menggunakan pupuk organik dan menghindari pestisida agar kualitas dan cita rasa kopi tetap terjaga. Selama hampir dua dekade menekuni kopi, ia mengaku tidak memiliki keluhan berarti.
“Enggak, dinikmati saja. Kan harusnya lakukan hal kecil dengan tulus,” katanya.
Menurut Yani, tantangan utama bertani kopi adalah kesabaran. Sejak penyemaian hingga panen pertama, dibutuhkan waktu dua sampai tiga tahun. Bibit ditanam setelah berusia sekitar satu tahun dengan tinggi kurang lebih 40 sentimeter. Selama masa itu, lahan harus rutin dibersihkan dua hingga tiga kali setahun. Berbeda dengan sayuran yang cepat dipanen, kopi menuntut waktu tunggu panjang sebelum menghasilkan.
Faktor cuaca juga sangat menentukan. Musim hujan yang terlalu panjang membuat buah kopi berair, sedangkan kemarau berkepanjangan bisa membuat buah mengering sebelum matang. Hasil terbaik diperoleh ketika musim hujan dan kemarau berlangsung seimbang. Dalam satu musim panen raya, kopi bisa dipetik hingga tiga kali, dengan hasil rata-rata sekitar satu ton buah.
Buah yang matang ditandai warna merah tua dan dipetik secara selektif. Setelah itu, kopi melalui proses pengupasan kulit luar dengan mesin dan pengupasan kulit dalam secara manual. Penjemuran berlangsung sekitar dua minggu dalam cuaca panas, namun bisa lebih lama jika hujan terus turun. Penjemuran yang tidak maksimal akan memengaruhi kualitas rasa.
Yani mengenal empat metode pengolahan: full wash, honey, natural, dan wine. Masing-masing memberi karakter rasa berbeda. Metode full wash melalui proses kupas, cuci, dan jemur. Honey mempertahankan lendir gula alami agar rasa lebih manis. Natural menjemur buah utuh tanpa dikupas selama sekitar tiga minggu. Sementara metode wine melalui fermentasi tertutup hingga satu bulan sebelum dijemur kembali.
Seluruh proses ini memakan waktu panjang karena, menurut Yani, “ini urusannya rasa.”
Harga kopi bersifat fluktuatif, dipengaruhi cuaca dan jumlah pasokan di pasar. Arabika roasted bean bisa mencapai 250 ribu rupiah per kilogram. Yani kini mengolah dan menjual sendiri kopinya dengan merek Cikawaloe Kopi.
Ia menjual roasted bean seharga 25 ribu rupiah per 100 gram dan green bean 150 ribu rupiah per kilogram. Harga kopi ceri pernah mencapai 15 ribu rupiah per kilogram, dan terendah 9 ribu rupiah saat awal panen.
Dalam satu musim terbaik, Yani pernah menghasilkan hingga 1,5 ton kopi, meski pendapatan tersebut masih dipotong biaya operasional seperti upah pemetik dan pengangkut. Sejak 2017, ia dan suaminya mendapat bantuan alat roasting dari Perhutani Sosial.
“Jadi, misalkan kalau siapapun mau ngeroasting, ikut ngeroasting disilakan, gratis,” kata Yani.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

