CERITA ORANG BANDUNG #105: Mang Oleh di Bawah Teras Cihampelas
Mang Oleh sudah malang-melintang hidup di jalanan Kota Bandung. Pembangunan Teras Cihampelas berdampak pada sepinya pembeli dagangannya.
Penulis Muhammad Akmal Firmansyah4 Maret 2026
BandungBergerak – Semenjak tata ruang Jalan Cihampelas berubah dengan keberadaan teras, jualan Mang Oleh berupa kantong lipat bertuliskan Bandung selalu lesu. Menginjak bulan Ramadan, penjualan tidak jauh berbeda. Padahal ia berharap Ramadan ini penuh berkah.
Pria 56 tahun ini sudah kenyang dengan asam garam kehidupan. Pria asal Garut ini pernah bekerja di Bogor tahun 80-an. Jenuh dengan pekerjaannya, tahun 1989 ia mulai jualan keliling kantong lipat di Bandung.
Saban pukul sembilan pagi, Oleh berjalan dan menyusuri trotoar Jalan Cihampelas. Setiap hari ia membawa 120 tas lipat. Hampir tiga dekade ia membawa barang dagangannya dan menaruh nasib di Jalan Cihampelas.
Mang Oleh menyebut dulu saat masih banyak patung-patung superhero berjejeran di Cihampelas, jualannya cukup ramai. Menurutnya, Cihampelas masa itu bukan sekadar ruang berjalan kaki dan ruang belanja. Turis asing dan domestik datang tanpa tergesa-gesa melihat-lihat, lalu menawar dengan santai. Tidak membeli pun para turis itu tetap bertukar senyum.
“Dulu turis ramah. Ditawarin biasa saja. Sekarang kadang kayak marah kalau ditawarin,” ungkap Mang Oleh, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia masih ingat pembeli dari Malaysia, Singapura, sampai Jepang. Dari hasil jualan tas lipat, ia bisa membesarkan lima anaknya. Dalam sehari jika sedang ramai, Mang Oleh bisa menjual dagangannya hingga 50 tas.
Setiap tas dijual 10 ribu rupiah. Dari satu tas ia mendapatkan keuntungan 3 ribu rupiah. Pernah ia membawa pulang omzet hingga 1,5 juta rupiah dalam sehari. Angka itu kini terdengar seperti cerita lama.
“(Sepuluh tahun ke belakang) masih ada omzet 150 ribu rupiah sampai 200 ribu rupiah per hari. Sekarang mah saperak-perak acan oge hese,” ujarnya.
Di tengah kesulitan itu, Mang Oleh tetap berkeliling dari pagi hingga pukul sepuluh malam. Kontrakannya tak jauh dari Cihampelas. Ia tetap datang setiap hari, membuka kemungkinan kecil bahwa seseorang akan berhenti dan membeli.
Mang Oleh mulai merasakan perubahan sejak kawasan Cihampelas dibangun ulang dengan hadirnya Teras Cihampelas. Ia tidak membicarakan soal salah benarnya pembangunan. Namun ia telah merasakan dampaknya langsung.
“Sejak itu tamunya berkurang. Mau di atas, mau di bawah, sama saja sepi,” katanya.
Dulu Cihampelas menjadi tujuan banyak orang. Mang Oleh menyebut saat ini banyak pengemudi dan wisatawan lewat tanpa benar-benar berhenti. Jumlah para pedagang tas pun kini tinggal sekitar sepuluh orang. Dulu jumlah mereka bisa mencapai dua puluh orang. Sebagian pulang kampung, sebagian berhenti berdagang.
Saat pembangunan Teras Cihampelas, Mang Oleh sempat menyerah dan memilih pulang ke Garut untuk bertani. Namun, akhirnya ia kembali ke Cihampelas.
“Enggak. Bertahan saja jualan tas ini. Khas Bandung,” jelasnya.
Kini, di bawah Teras Cihampelas yang ditopang tiang-tiang, Mang Oleh tetap sabar menawarkan dagangan pada pembeli. Sebagian pengunjung hanya menoleh sesaat, lalu pergi.
Mang Oleh belum pernah mencoba jualan online. Baginya, jualan selalu berarti bertemu orang.
Waktu tak pernah jalan ditempat, kota terus berubah. Pria berumur kepala lima itu terus berjalan membawa tas-tas itu, menjaga kemungkinan kecil bahwa suatu hari Cihampelas akan kembali ramai.
“Mudah-mudahan rame deui,” harapnya.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #103: Balada Gorengan Mang Aom
CERITA ORANG BANDUNG #104: Yani Merawat Rasa Kopi

Teras Cihampelas Akan Dibongkar
Di saat Mang Oleh kesulitan menjual barang dagangan, Teras Cihampelas sejak awal pembangunan sampai berdiri terus menuai pro dan kontra.
Teras Cihampelas dibangun dan diresmikan oleh Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil, pada 2017. Jalan bagi pejalan kaki setinggi 4,6 meter ini digadang-gadang sebagai solusi kemacetan dan penataan pedagang kaki lima (PKL).
Namun, skywalk berbahan baja tersebut dinilai menghapus identitas visual Jalan Cihampelas sebagai kampung denim yang tumbuh sejak akhir 1980-an. Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies menyebut kawasan itu bermula dari satu toko jins pada 1987, lalu berkembang karena kedekatannya dengan pusat kota dan kampus. Cihampelas dikenal melalui fasad-fasad ikonik bertema tokoh populer seperti Rambo dan Hulk.
Menurut Elisa, proyek Teras Cihampelas gagal inklusif dan berkelanjutan karena mengorbankan produksi rakyat serta karakter lokal. Ia mendorong solusi yang lebih kontekstual, seperti penerapan zona bebas kendaraan dan penataan PKL tanpa menghilangkan daya tarik visual kawasan.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan akan membongkar Teras Cihampelas. Ia menegaskan proses penataan akan dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun potensi kerugian negara.
Farhan mengatakan Pemerintah Kota Bandung telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kejaksaan Negeri Bandung untuk pendampingan hukum perdata dan tata usaha negara. Selain itu, Pemkot juga meminta analisis paralel dari Komisi Pemberantasan Korupsi melalui fungsi Koordinasi dan Supervisi Pencegahan (Korsupgah).
“Kami ingin memastikan proses pembongkaran tidak menimbulkan potensi kerugian negara. Semua harus jelas secara hukum,” kata Farhan, Kamis, 12 Februari 2026.
Saat ini, kajian teknis struktur bangunan dan aspek kewenangan lintas perangkat daerah masih berlangsung. Proses tersebut melibatkan Dinas Perhubungan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta unsur kewilayahan. Koordinasi administrasi dipimpin Asisten Daerah III untuk memastikan tata kelola berjalan rapi dan akuntabel.
Farhan menambahkan, setelah kajian dan administrasi rampung, Pemkot akan menghadap Gubernur Jawa Barat untuk menyerahkan perizinan. “Kalau semuanya sudah rapi, baru kita mulai,” ujarnya.
Rencana pembongkaran ini menjadi babak baru bagi Teras Cihampelas, yang sejak awal pembangunan dan penataannya telah menuai pro dan kontra. Di sisi lain, Mang Oleh tetap bertahan hidup di kota yang semakin membuatnya terasing.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

