CERITA ORANG BANDUNG #116: Muhammad Tavip dan Dunia Wayang Plastik Bekas
Di tangan Muhammad Tavip, benda-benda yang menurut orang-orang sudah menjadi sampah dihidupkan kembali menjadi karya bernama wayang tavip.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 12 Agustus 2026
BandungBergerak - Muhammad Tavip hampir tak pernah membiarkan tangannya menganggur. Ketika panggung tak memanggil dan jadwal mengajarnya di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sedang kosong, ia membuat wayang atau mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Di rumahnya di Baleendah, Bandung Selatan, lelaki 62 tahun itu akan kembali tenggelam di dalam studio—ruang tempat ia terus menghidupkan dunia wayangnya.
Studio tersebut berbagi ruang di lantai dua. Luasnya sekitar 2x6 meter, setiap dinding dilapisi bubble wrap hitam bekas belanja online. Baginya, benda-benda yang menurut orang-orang sudah selesai masa gunanya justru menunggu giliran untuk hidup kembali.
Botol-botol plastik dikumpulkan. Sebagiannya telah dipotong bagian atas dan bawah, dibelah, kemudian diratakan. Dua karung bubble wrap bekas tersimpan. Di bagian lain terdapat wayang, instalasi, lampu, kabel, power supply, dan berbagai perangkat yang dirakit sendiri.
Tidak semuanya sedang digunakan. Sebagian bahkan belum tahu akan menjadi apa. Namun Tavip tidak melihatnya sebagai masalah.
“Walaupun ada job ataupun enggak ada job, saya mah tetap aja berkarya, membikin sesuatu baru tiap hari,” kata Tavip, saat ditemui, Jumat, 7 Agustus 2026.

Ia bisa membuat tokoh wayang meski belum tahu kapan tokoh itu akan dimainkan. Plastik bisa disetrika meski belum tahu akan menjadi bagian dari karya apa. Lampu bisa dirakit meski belum ada pertunjukan yang menunggunya. Baginya, membuat sesuatu adalah semacam doa.
“Karena pasti suatu saat akan dipakai,” ujarnya.
Ketika pergi ke kampus atau menghadiri sebuah kegiatan, matanya sering menangkap botol-botol bekas. Jika ukurannya cukup besar, ia akan mengambilnya. Jika sebuah acara digelar di kampus ISBI, ia biasanya lebih dulu menitip pesan kepada petugas kebersihan agar botol-botol yang terkumpul tidak dibuang.
Sesudah itu botol dipilah. Ada yang berukuran satu liter, ada yang setengah liter. Semua material bekas itu disiapkan untuk kebutuhan karya.
“Karena apa, itu media saya,” ujarnya.
Menurutnya, botol plastik bukan pertama-tama persoalan sampah. Ia melihatnya sebagai medium. Cara pandang itu menjadi penting karena karya yang kemudian dikenal sebagai wayang tavip tidak sesederhana wayang yang kebetulan dibuat dari plastik.
Ia pernah menyebut karyanya sebagai wayang plastik. Namun almarhum Nano Riantiarno sang penggagas Teater Koma yang merupakan pembimbing skripsinya ketika menempuh pendidikan S2 di STSI Solo tahun 2009, mengingatkan bahwa karya itu terlalu terikat pada material jika disebut wayang plastik.
Wayang tersebut tidak hanya berbicara tentang plastik. Ia berbicara tentang bentuk, warna yang variatif, tata cahaya, teknik permainan, layar, dan bagaimana sebuah material dapat berinteraksi dengan cahaya. Dari situlah nama wayang tavip kemudian digunakan. Perjalanan dan proses wayang itu dimulai sejak sekitar 1993 dan terus dikembangkan hingga penelitian S2-nya selesai pada 2010.
Tavip bahkan membuat sendiri segala sistem pencahayaan dan teknisnya. Power supply, dimmer, kabel, dan lampu tidak selalu ia beli dalam bentuk siap pakai. Ia mempelajari kebutuhan daya, mencoba, lalu mengganti perangkat ketika tidak mampu menahan beban.
Dengan instalasi listrik tersebut wayang tavip yang tipis dengan desain kontemporer, akan tampak seperti gambar bergerak di atas layar yang tersorot cahaya lampu. Model pertunjukan wayang tavip mirip-mirip wayang kulit di mana cahaya lampu menjadi komponen dasarnya.

Tukang Jahit yang Masuk Teater
Tavip lahir di Lampung pada 1964. Ayahnya berasal dari Banten, ibunya dari Jawa Timur, tetapi keduanya kemudian hidup di Lampung. Tavip bersekolah di STM jurusan bangunan. Setelah lulus dari STM, ia sempat bekerja sebagai mandor bangunan di kawasan perumahan ITB di Jalan Sangkuriang.
Pertemuannya dengan dunia seni terjadi saat ia menonton pertunjukan teater di Gedung Rumentang Siang, Kosambi dekat kantornya dulu. Pertunjukan hari itu memainkan lakon Karnadi Bandar Bangkong, membuatnya ingin mengetahui lebih jauh mengenai dunia panggung. “Hayang dikeprok batur,” dan disoraki adalah titik yang menariknya ke dunia seni.
Ia kemudian masuk ASTI—yang berkembang menjadi STSI, lalu ISBI Bandung—pada 1995, mengambil jurusan teater. Di kampus, ia mendapat julukan yang terdengar seperti dua dunia yang tidak berhubungan: lulusan STM, mahasiswa teater, sekaligus tukang jahit.
Menjahit memang sudah menjadi keahliannya sejak sebelum kuliah. Ia pernah mengikuti kursus menjahit dan menerima pesanan pakaian dari rumah ke rumah. Namun dunia teater memperkenalkannya kepada material-material yang tidak biasa.
Ia menjahit karung goni yang masih menyisakan tepung. Ia menggunakan spanduk bekas pertunjukan. Material yang bagi penjahit pakaian sehari-hari mungkin dianggap tidak lazim justru menjadi bahan kostum panggung.
Karena belum ada masker seperti sekarang, ia menutup wajah dengan kain ketika menjahit karung goni yang berdebu.
Selama tiga tahun kuliah D3 di ASTI, ia bekerja di bengkel teater. Dari sanalah ia semakin memahami bahwa seni pertunjukan tidak hanya membutuhkan aktor dan sutradara. Di belakang panggung ada orang-orang yang mengolah kain, bentuk, benda, cahaya, dan berbagai material menjadi bagian dari cerita. Kebiasaan mengolah benda itu kemudian terbawa ke perjalanan keseniannya.
Ada masa ketika Tavip harus menjalani kuliah dengan cara yang tidak biasa. Orang tuanya di Lampung tidak mengetahui bahwa ia kuliah D3 dan S1 di ASTI Bandung. Mereka mengira Tavip bekerja.
Ia memang bekerja. Ia menjahit untuk membiayai hidupnya. Ia sering tidur di kampus. Di tempat lain ia menyewa kamar untuk menerima jahitan yaitu di Jalan Gemuruh.
Uang kuliah ketika itu 45.000 rupiah per semester. Dari hasil bekerja, sebagian uang ia kirimkan kepada orang tua. Ketika mulai kuliah, kiriman itu berkurang. Orang tuanya mulai curiga. Kecurigaan semakin besar ketika nilai semester kuliah Tavip sampai ke rumah orang tua.
Ia kemudian berterus terang bahwa dirinya kuliah. Bagi tetangga di lampung keputusan Tavip menimbulkan tanya, dari mana seorang anak sopir truk bisa membiayai kuliah sekaligus hidup di Bandung? Bahkan seorang teman dari Lampung sengaja datang untuk memastikan Tavip benar-benar kuliah.
Kabar itu kemudian sampai kepada bos pemilik truk tempat ayahnya bekerja. Karena tidak mengetahui kondisi sebenarnya, sang bos menduga ada masalah dengan setoran, ia mencurigai sang ayah bisa membiayai kuliah dari potongan setoran hari harinya. Truk yang biasa dikendarai ayah Tavip akhirnya diambil kembali.
Ayahnya kehilangan pekerjaan. Tavip tetap melanjutkan kuliah. Keterbatasan harus ia hadapi setiap hari.
Pernah suatu ketika ia kehabisan uang untuk makan. Warung tempat biasa berutang pun sudah tidak enak untuk didatangi lagi. Ia salat dua rakaat dan berdoa agar ada pekerjaan. Ketika hampir tertidur di saat-saat sujud, terdengar ketukan di pintu, dan ia segera menyelesaikan salam pada solatnya.
Tok. Tok. Tok. Seorang anak datang membawa empat celana jeans.
“Assalamualaikum om, kata mama potongin celana levis,” kata anak itu.
Tavip menerima pekerjaan itu. Ia menyelesaikannya sekitar setengah jam. Upahnya 20.000 rupiah. Uang itu cukup untuk membeli beras.
Pengalaman semacam itu mungkin ikut menjelaskan mengapa sampai sekarang Tavip tidak terlalu suka menunggu pekerjaan datang. Lebih baik membuat sesuatu terlebih dahulu, memiliki keahlian terlebih dahulu.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #114: Tiga Dekade Menanam Harapan di Arcamanik, Kini Yanti Kehilangan Mata Pencaharian
CERITA ORANG BANDUNG #115: Rumah Terakhir Neneng di Rusunawa Rancacili

Hari Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin
Kini usia Tavip tidak muda lagi. Ia tetap mengajar, meneliti, menjalankan pengabdian kepada masyarakat, menerima kunjungan media, serta mendampingi siswa SMK 10 Bandung jurusan teater yang sedang melakukan magang/PKL di studionya.
Ia juga masih mengambil botol plastik. Masih membuat wayang. Masih menyetrika material. Masih mengutak-atik lampu. Ketika tidak ada pekerjaan, ia tidak merasa harus berhenti.
“Yang dipikir bahwa hari ini aku harus lebih baik dari hari kemarin,” katanya.
Prinsip itu diterapkan bahkan pada pekerjaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Jika hari ini ia berhasil memasang satu kotak bubble wrap, besok ia ingin memasang dua. Jika hari ini ia membuat satu bentuk, besok ia mencoba sesuatu yang berbeda. Ia tidak terlalu memikirkan apakah karya itu akan segera digunakan. Benda itu bisa saja berbulan-bulan tersimpan dalam kotak.
Nasib benda, menurut Tavip, mirip dengan nasib manusia. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Sebuah karya hari ini mungkin belum memiliki tempat. Tetapi suatu hari, ketika sebuah pertunjukan datang, benda itu bisa saja menjadi bagian yang dibutuhkan. Karena itu membuang karya yang sudah dibuat terasa seperti membunuh usaha yang telah dilakukan.
Ia tidak ingin Wayang Tavip berhenti sebagai kumpulan benda. Ketika ditanya apa yang ingin ia tinggalkan kepada keluarga, tetangga, dan orang-orang di sekitarnya, jawabannya bukan sekadar karya.
“Ilmunyalah. Ilmunya yang bermanfaat,” ucapnya.
Wayang, baginya, hanyalah salah satu cara. Ia mengajarkan anak-anak menggambar dan mewarnai. Ia mendorong mereka untuk tidak terpaku pada bentuk yang sudah tersedia. Pernah anaknya bertanya apakah rambut tokoh wayang boleh diberi warna pink. Tavip tidak langsung mengatakan boleh atau tidak. Ia bertanya: mengapa?
Jawabannya kemudian menjadi bagian dari proses belajar. Anak itu melihat ibu-ibu dengan rambut berwarna-warni dan membawanya ke dalam imajinasinya sendiri.
Bagi Tavip, di situlah kreativitas bekerja: bukan sekadar meniru bentuk yang sudah ada, tetapi berani mengubahnya berdasarkan apa yang dilihat dan dipikirkan.
Kini wayang tavip terus menemukan bentuk baru. Salah satunya hadir dalam “Semesta Wayang Tavip: A Monologue Fragment Mauk: di Ujung Laut di Ujung Maut”, karya intermedial yang mempertemukan wayang tavip dengan gambar bergerak, suara, dan fragmen sejarah tentang pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata.
Karya yang diproduksi Siediekdjarie berkolaborasi dengan BandungBergerak itu menjadi cara lain untuk membawa wayang tavip ke ruang seni kontemporer, sekaligus merawat ingatan tentang perjuangan. Karya ini bisa kawan-kawan tonton di youtube bandungbergerak dan siediekdjarie tanggal 17 Agustus 2026.
Tavip tidak benar-benar selesai dan akan terus membuat, mengolah, dan mewariskan pengetahuan. Ia ingin meninggalkan bukan semata-mata wayang dari botol bekas, melainkan cara memandang sesuatu yang dianggap selesai oleh orang lain sebagai kemungkinan untuk hidup kembali.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


