• Cerita
  • KABAR DARI REDAKSI: Mengapa Masyarakat Kelas Menengah Bawah di Bandung Semakin Sulit Kuliah?

KABAR DARI REDAKSI: Mengapa Masyarakat Kelas Menengah Bawah di Bandung Semakin Sulit Kuliah?

Bandung dikenal sebagai kota pendidikan. Di balik sebutan itu, ada ironi bahwa pendidikan tinggi tidak bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ilustrasi pendidikan di Perguruan Tinggi. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi2 September 2026


BandungBergerak - Bandung dikenal sebagai kota pendidikan karena memiliki puluhan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Menurut survei yang dilakukan Quacquarelli Symonds (QS) lewat skema QS Best Student Cities 2023 yang dirilis pada 29 Juni 2022, Kota Bandung menduduki peringkat 120 dari 140 kota di seluruh dunia sebagai kota pendidikan terbaik.

Di balik itu, biaya pendidikan terus naik. Pendidikan tinggi di Bandung dikhawatirkan hanya bisa diakses oleh kalangan atas. Sementara kelompok masyarakat menengah ke bawah megap-megap.

Di sisi lain, kuota beasiswa yang disediakan pemerintah lewat Kartu Indonesia Pintar (KIP) diduga tidak selalu tepat sasaran. Banyak mahasiswa miskin mengeluhkan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Jawa Barat menempati peringkat keenam nasional dalam persentase pemuda usia 15-24 tahun yang tidak sedang sekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan (NEET) dengan angka 24,84 persen. Di tengah ekonomi yang lesu, seharusnya biaya kuliah dapat disesuaikan.

Persoalan tidak berhenti di situ. Setelah bisa masuk ke perguruan tinggi, tantangan berikutnya ialah biaya hidup sebagai mahasiswa di Bandung, seperti; indekos, makan, transportasi hingga kebutuhan akademik. Situai ini membuat banyak mahasiswa bertahan hidup sambil bekerja, tak banyak juga yang menunggak UKT, cuti kuliah, atau meminjam dana pendidikan. Yang paling mengenaskan ialah; putus kuliah karena tidak mampu membayar UKT.

Di tengah persoalan tersebut, BandungBergerak menghadirkan liputan khusus tentang akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang terbit pada 27 Agustus 2026 di Teras.id, situs berita jurnalisme lokal independen yang menjadi mitra BandungBergerak. Liputan ini berangkat dari pertanyaan Mengapa Biaya Kuliah di Bandung Raya Mahal, Kuota KIP Kuliah Terbatas, dan Masyarakat Menengah ke Bawah Makin Sulit Mengakses Pendidikan Tinggi?

Baca Juga: KABAR DARI REDAKSI: Di Tahun Keempat, Menjelang Tahun-tahun yang Kian Berat
KABAR DARI REDAKSI: Dari Gambir ke Chiang Mai

Selama proses peliputan, kami menemui sejumlah mahasiswa yang kesulitan membayar UKT, perjuangan mahasiswa untuk bisa mendapatkan KIP kuliah, polemik wajib mondok pesantren agar bisa mencairkan beasiswa. Kami juga mewawancarai orang tua mahasiswa yang terpaksa berutang, hingga mahasiswa yang menyambi sebagai kurir paket.

Liputan tersebut terdiri dari 10 serial, meliputi:

  1. Ironi PTN-BH: Keringanan Biaya baru Ada Setelah Diterima
  2. Cerita Survival Mode Para Penerima KIP Kuliah
  3. Di Balik Jurang Kuota KIP Kuliah Kampus Swasta Bandung
  4. Di Balik Jaket Kurir, Perjuangan Mahasiswa Unpad Membayar UKT
  5. KIP Kuliah dan Polemik Wajib Mondok di UIN Bandung
  6. Kawasan Tamansari Tak Lagi Ramah di Kantong Mahasiswa
  7. KIP Kuliah Ditolak, Orang Tua Mahasiswa di Bandung Terpaksa Berutang
  8. Dilema Uang Kuliah Tunggal, Skema Cicilana atau Putus Kuliah
  9. Bandung Punya Kampus Terbanyak, tapi Belum Menjangkau Separuh Warganya
  10. Dosen UPI: Bandung Membutuhkan Ruang Ramah Kantong Mahasiswa

Melalui liputan ini, BandungBergerak mengajak pembaca melihat permasalahan pendidikan di Bandung Raya secara lebih utuh: bukan hanya melihat mahalnya biaya kuliah semata, tetapi bagaimana para mahasiswa berjuang agar bisa lulus dan mendapatkan gelar sarjana.

Kami juga perlu menginformasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Teras.id adalah konten berbayar. Ini merupakan bagian dari inisiatif kolaborasi antara media daring lokal di seluruh Indonesia, yang bekerja sama dengan Teras.id untuk menyajikan liputan berkualitas. Melalui inisiatif ini, kami mengundang publik untuk berpartisipasi dengan berlangganan konten eksklusif yang disediakan oleh media-media daring lokal.

Selamat membaca, KawanBergerak!

 

Salam,

 

Redaksi BandungBergerak

 

*Laporan ini ditulis Reporter BandungBergerak Yopi Muharam

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//