BALAI SANTAI VOLUME 1: Bernyanyi Sembari Tetap Membersamai Sukahaji
“Ai jeung barudak mah, solidna kuat. Bade angkat nyalira oge pami aya nanaon barudak pasti nulung."
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 3 September 2026
BandungBergerak – Yayu Renowati berdiri lalu mulai membagikan ceritanya di hadapan kawan-kawan yang berkumpul di Balai Warga Sukahaji, Bandung, Senin malam, 31 Agustus 2026. Dia adalah salah satu warga yang ikut memperjuangkan hak atas tanah dan dalam perjalanan perjuangannya ditahan di jeruji besi di Polda Jabar dan Kebonwaru selama enam bulan.
“Kalau dibilang sakit, sakit sih sakit,” tuturnya. “Kita sakit, saya sakit sekali!”
Namun malam itu Yayu tidak seorang diri menceritakan pengalaman penahanannya. Ada kawan-kawan jaringan solidaritas yang datang dari berbagai tempat, membawa cerita tentang persoalan ruang hidup di wilayah masing-masing. Ketika Yayu mengakhiri ceritanya, seorang kawan dari belakang menyahut: “Kami di belakang Teteh!”
Dan tentang konflik tanah di Sukahaji, Yayu mengajak semua yang datang untuk berkomitmen mengawalnya.
“Sampai beres ya?!” teriaknya, disambut semua yang datang. “Sampai menang ya?!”
Percakapan malam itu merupakan bagian dari Balai Santai Volume 1 yang digelar di Sukahaji. Di tanah sengketa, warga berkumpul bersama jaringan solidaritas serta perwakilan dari beberapa wilayah berkonflik yang hadir dengan membawa kabar tentang persoalan mereka masing-masing.
Kawan dari Sukajaya, Bogor, menceritakan kondisi warga yang telah terbelah dalam perlawanan menghadapi upaya penyerobotan lahan. Ada iming-iming uang Rp150 ribu yang memecah forum perjuangan.
Kawan yang mewakili Tenjolaya, Cicalengka, Kabupaten Bandung, menceritakan seorang warga yang ditahan akibat gesekan dengan aparat di tengah iring-iringan perayaan 17 Agustus. Sampai detik ini, warga tersebut kesulitan mendapatkan pendampingan hukum.
Felix, salah satu orang muda Sukahaji, mengajak semua yang hadir untuk mengingat kembali perjalanan warga. Secara khusus ia menyebut pengalaman mereka yang dikriminalisasi. Salah satunya adalah Yayu. Kasus ini ia sebut sebagai bukti arogansi negara yang perlu diingat agar tidak terulang menimpa warga lain.
Balai Santai, menurut Felix, diniatkan sebagai salah satu cara mengigat perjalanan perlawanan tanpa harus menjadi serba formal dan serba besar. Kegiatan ini bermula dari obrolan yang benar-benar santai antarkawan. Tidak ada gagasan untuk membuat festival besar. Mereka hanya ingin bertemu, bernyanyi, dan menghidupkan kembali ruang berkumpul warga.
“Balai Santai ini kita jadikan lagi ini ruang aman, ruang buat teman-teman kumpul,” ujarnya.
Di tengah konflik yang belum selesai, kegiatan sederhana ini kian bermakna karena menjadi wadah bagi warga untuk bertemu tanpa harus selalu berada dalam suasana tegang. Felix lantas mengajak warga membayangkan lebih banyak ruang serupa. Pertemuan tidak harus selalu formal dan menekan. Mereka bisa memasak, bermain, menggambar, menonton film, membedah buku, atau sekadar bernyanyi bersama.
“Urang kudu nyieun ruang-ruang balai-balai santai di tempat nu lain oge,” katanya.

Musik Hip-Hop dan Keyakinan pada Solidaritas
Di Sukahaji, panggung dibuat tidak tinggi, hanya semata kaki. Penampil berdiri hampir sejajar dengan pengunjung yang memenuhi halaman Balai Warga. Ketika musik dimainkan, batas antara panggung dan penonton segera menjadi kabur.
Orang-orang berlompat dan bernyanyi bersama. Seorang pengunjung bahkan diangkat oleh beberapa tangan dari tengah kerumunan dan didorong naik ke panggung. Gelak tawa bersandingan dengan irama hip-hop.
Sebagian pengunjung lainnya memilih berada di belakang. Mereka berbincang dengan teman, kekasih, atau orang yang baru ditemui. Sesekali kepala mereka bergerak mengikuti irama di bawah rembulan yang cahayanya jatuh di Sukahaji.
Kolektif hip-hop Defbloc ikut meramaikan acara dengan mendatangkan sejumlah rapper, seperti Ken Amok, Randslam, Flyzad, dan Kid Vicious. Musisi noise seperti TWKL, Ibnu Tsabit, dan music DJ Experimental seperti Batavia Dancer juga turut tampil.
Suasana semakin pecah dan tak keruan ketika Pangalo mengambil alih panggung. Rapper asal Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, itu kebetulan sedang berada di Bandung.
“Kalau aku (acara) lebih ke ini sih: skena dan hip-hop enggak lupa sama akar rumput, permasalahan ruang hidup,” ujar Queenzy, 27 tahun. “(Keduanya) Saling mengisi.”
Queenzy, 27 tahun, merupakan warga Dago Elos, kampung di Bandung yang sudah lama bersengketa. Dia datang ke Balai Santai Vol. 1 bersama empat orang kawannya. Mereka membawa sejumlah buku, makanan ringan, dan minuman untuk dijual di acara tersebut.
Bagi Queenzy, yang mengenal ruang-ruang perjuangan warga dari kampungnya sendiri, Balai Santai terbukti bisa mempertemukan orang-orang yang memiliki persoalan serupa meski berasal dari wilayah yang berbeda. Dan musik mampu menjadi pengikatnya.
Salah satu penampil yang ditunggu Queenzy adalah Pangalo. Menurutnya, karya-karya Pangalo kerap membawa persoalan agraria dan ruang hidup, sesuatu yang dekat dengan keresahan warga Dago Elos dan jaringan solidaritas lainnya.
Gagasan mengenai solidaritas juga dirasakan Willy, 24 tahun, yang datang sendirian ke Sukahaji menggunakan angkot. Ia mengikuti perkembangan Sukahaji melalui Instagram dan kabar dari kawan-kawan solidaritas. Sebelumnya, ia pernah mengikuti kegiatan di Dago Elos dan Tamansari. Rumahnya yang tidak terlalu jauh memungkinkannya menempuh perjalanan menuju lokasi acara hanya dalam 10 menit.
Willy terbiasa datang sendirian tanpa selalu menunggu teman. Baginya, jaringan solidaritas membuat perjalanan seorang diri tidak berarti harus menghadapi segala sesuatunya sendirian.
“Ai jeung barudak mah, solidna kuat. Bade angkat nyalira oge pami aya nanaon barudak pasti nulung. Emang instingna kuat, matak perlawanan panjang teh kan, warga jaga warga,” katanya.
Dan terbukti, lewat tengah malam, setelah acara tuntas, Willy pulang diantar oleh salah seorang kawan yang baru saja ia kenal.

Baca Juga: Warga Sukahaji Bebas, Kembali Berkumpul dengan Keluarga untuk Mempertahankan Ruang Hidup
Trauma Perempuan dan Anak-anak di Sukahaji Setelah Pecah Konflik Tanah
Kolaborasi Warga dengan Musisi
Pada malam Balai Santai Volume 1, musisi folk Senartogok merilis sebuah extended play (EP) atau album mini hasil kolaborasi dengan warga Sukahaji. Jumlahnya hanya 50 keping, dan dijual seharga Rp60 ribu per kepingnya.
Empat lagu dalam EP tersebut berupa beat tape instrumental yang diolah bersama arsip suara perjuangan Sukahaji, seperti orasi, demonstrasi, dan rekaman aksi. Dua lagu lainnya merupakan remix dari lagu lama berjudul “Bertahan” dan musikalisasi puisi Wiji Thukul. Senartogok mengerjakan sebagian besar proses produksi secara mandiri, dengan Artwork dibantu oleh Kinan.
Bagi Senartogok, EP tersebut merupakan cara untuk memindahkan arsip perjuangan ke medium lain. Jika biasanya cerita perjuangan hadir melalui artikel, siaran pers, dokumentasi, atau unggahan media sosial, kali ini ia memilih musik.
“Aku bikin EP. Sebenarnya sama aja (tentang perjuangan), tapi mediumnya aja berbentuk musik,” katanya.
Hasil penjualan EP dialokasikan untuk kebutuhan ruang warga Sukahaji, untuk membersihkan lahan, membuat panggung, serta memperbaiki apapun untuk kegiatan aktivasi ruang selanjutnya.
Senartogok tidak ingin keterlibatannya berhenti pada malam peluncuran EP. Ia membayangkan kegiatan lain yang dapat dilakukan bersama warga, mulai dari memasak bersama ibu-ibu, menggambar, hingga bermain gim di tanah yang sedang menjadi pusat konflik. Kerja solidaritas, baginya, tidak harus selalu hadir dalam bentuk lama yang diulang. Perlu juga ada ide-ide gila yang baru bermunculan.
Balai Santai bukanlah ajang untuk menyerah atau melupakan konflik; ia adalah cara untuk sejenak rileks, berpikir jernih, sembari terus bersolidaritas tanpa batas geografis maupun kelas. Sebab selama ruang untuk berkumpul masih ada, selama suara masih bisa digaungkan, dan selama satu sama lain masih saling menjaga, solidaritas akan selalu punya alasan untuk bernapas.
Malam itu di Sukahaji, Yayu tidak berdiri sendirian. Di belakangnya, ada kawan-kawan yang akan terus membersamai perjuangan warga.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


