• Cerita
  • Cerita Lantai-lantai Rumah yang Menyentuh Langit-langit di Bandung Selatan

Cerita Lantai-lantai Rumah yang Menyentuh Langit-langit di Bandung Selatan

Puluhan tahun warga Desa Citeureup, Dayeuhkolot, bertahan dari banjir tahunan. Sementara kerusakan lingkungan Bandung Raya membuat ancaman banjir kian sulit diputus.

Tampak dalam rumah Siti, sebagian lantai 2 belum selesai dinaikan. Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Penulis Alya Chaerani9 September 2026


BandungBergerak - Sudah empat kali Siti menaikkan lantai rumahnya di Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Dayeuhkolot. Meski begitu, ketinggian air banjir selalu menyusul. Tinggi salah satu lantai di bagian rumahnya bahkan kini semakin mendekati langit-langit. Orang harus membungkuk saat masuk ke rumah ini.

Siti lahir dan besar di Leuwi Bandung. Kini usianya 61 tahun. Nama Leuwi sendiri secara harfiah berarti danau. Setiap musim banjir, daerah Leuwi Bandung seperti Dayeuhkolot umumnya selalu terendam luapan Sungai Citarum.

“Wah, dari dulu, neng, di sini mah banjir terus,” jawab Siti, kepada BandungBergerak, Kamis, 27 Agustus 2026.

Aliran sungai dan pemukiman di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Aliran sungai dan pemukiman di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Banjir yang merendam ribuan rumah di daerah ini lamanya kadang bisa berlangsung tiga hari, seminggu, bahkan pernah hingga tiga minggu.

Menurut Siti, banjir di kawasan Dayeuhkolot tidak selalu datang pas hujan turun. Jika Dayeuhkolot kering dan wilayah lain di Bandung Raya hujan lebat, banjir juga datang.

“Kadang di sini tidak hujan, tapi di Bandung hujan. Jadi airnya ke sini. Panas-panas, ini banjir,” ungkap Siti.

Saat banjir, aktivitas ekonomi suami Siti juga ikut lumpuh. Suaminya adalah pedagang di pasar yang juga selalu terendam di kala banjir. Aktivitas Siti dan warga lainnya, seperti kegiatan posyandu, juga ikut diliburkan.

Dinding rumah Siti yang sudah diganti menjadi Wallpaper.  Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Dinding rumah Siti yang sudah diganti menjadi Wallpaper. Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Ketika banjir surut, persoalan belum selesai. Lumpur dan sampah yang mengendap di lantai rumah tidak mudah dibersihkan. Ada juga barang yang tidak dapat kembali dipakai setelah terendam banjir.

Jejak banjir terlihat dari noda warna cokelat di tembok rumah Siti atau rumah-rumah milik warga Leuwi Bandung. Rata-rata dinding mereka lembap dan berjamur setelah terus-terusan menghadapi bencana banjir berulang selama puluhan tahun.

Siti menyiasatinya dengan mengecat atau memasang wallpaper di rumahnya. Dengan begitu noda banjir lebih mudah. Namun tak semua ia cat ulang ataupun dipasangi wallpaper, hanya bagian depan saja.

Tampak depan teras rumah siti yang sudah ditinggikan.  Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Tampak depan teras rumah siti yang sudah ditinggikan. Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Jumat, 27 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Ada cara lain yang dinilai cukup efektif dalam mengantisipasi banjir, yaitu menaikkan lantai rumah. Namun biayanya tidak sedikit. Siti yang sudah empat kali menaikkan lantai rumah, paling tidak mesti mengeluarkan biaya 20 juta rupiah per sekali renovasi.

“Kan sampai rumah, sampai di sana. Ini pun ditaikin, kan, di dapur. Di rumah kan semua ditaikin, jadi ini perlu biaya, neng,” jawab Siti.

Menghadapi persoalan yang sama, Maria, warga Leuwi Bandung lainnya, memilih keramik untuk melindungi dinding rumahnya. Hampir seluruh dinding rumahnya di lantai satu dilapisi keramik.

“Untuk melindungi supaya tidak ada noda-noda di dinding, supaya gak gampang lumutan juga, kak,” ucap Maria.

Dinding keramik dan jamur yang tumbuh di rumah Maria.  Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Jumat, 20 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Dinding keramik dan jamur yang tumbuh di rumah Maria. Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Jumat, 20 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Pemandangan tersebut tidak asing pula di wilayah Sukabirus, masih di Desa Citeureup. Puluhan tahun pula daerah ini mengalami bencana banjir. Rekaman banjir terlihat jelas di dinding bangunan berupa jamur dan lumut.

Nia, 48 tahun, salah satunya. Kini lantai rumah yang ia tinggali lebih rendah dari selasar dan jalan di depannya. Tidak terhitung sudah berapa banyak perabotan rumahnya yang hancur karena banjir.

“Dari dulu juga lemari alancur semua,” ucap Nia.

Tak semua barang dibuang. Nia memilih memperbaiki barang yang sekiranya masih dapat digunakan.

Dinding berjamur disalah satu bangunan di sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Dinding berjamur disalah satu bangunan di sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Enjun, 78 tahun, dan Oom, 67 tahun, orang tua Nia juga tinggal di daerah ini. Jaraknya beberapa meter dari rumah Nia. Menurut Enjun, saat banjir, air tidak hanya datang dari pintu yang sudah disekat atau dibendung. “Dari lantai juga kan rembes,” ucap Enjun.

Sudah tiga kali Enjun menaikkan ketinggian lantai rumahnya dan membangun lantai dua dengan cara mencicil. Upaya ini masih dikerjakan sampai sekarang.

Saat banjir datang, Enjun yang sehari-hari membuka warung, memilih bertahan. Barang dagangan sering dipakai untuk kebutuhan harian daripada dijual.

Perbandingan tinggi lantai rumah nia dan jalanan gang Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Perbandingan tinggi lantai rumah nia dan jalanan gang Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Ketika banjir, air di wilayah Sukabirus naik cukup cepat. Daerah ini menjadi tempat pertemuan dua anak Sungai Citarum. Keduanya selalu meluap di musim banjir.

Warga lainnya, Mariani, 46 tahun, dan Ina, 50 tahun, menjadi dua dari kebanyakan warga yang bertahan dari banjir langganan. Keduanya kelahiran Sukabirus. Mereka bertahan karena harga sewa kontrakan di tempat ini relatif murah dan pemiliknya tidak rewel.

Baca Juga: Menata Bandung, Mengucilkan Pedagang Kecil
PKL Bandung Ditertibkan, ke Mana Mereka Berjualan?

Dinding salah satu ruangan di rumah yang ditinggali Nia di Sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Dinding salah satu ruangan di rumah yang ditinggali Nia di Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Ketinggian lantai di kontrakan Mariani dan Ina juga sudah dinaikkan. Di depan pintu juga dibuat sekat tambahan untuk mencegah air dan sampah masuk.

Tetapi banjir tetap saja masuk rumah. Apalagi jika bencana tersebut datang pada malam hari.

“Kadang itu air datangnya malam, pas kita lagi tidur,” ucap Mariani.

Tampak depan rumah Enjun dan Oom yang sudah ditinggikan. Sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Tampak depan rumah Enjun dan Oom yang sudah ditinggikan. Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Untuk memudahkan evakuasi saat banjir, TV dan elektronik juga ditempatkan di tempat yang tinggi. Kontrakan ini memiliki tempat penyimpanan barang yang posisinya di dekat atap. Namanya karanggung. Mereka bisa meninggalkan barang selama mengungsi.

“Jadi kalau misalkan ada karanggung kayak gitu, ya, lumayanlah. Ada buat ngamanin. Jadi kita emang pada nungsi aja,” jelas Mariani.

Pemukiman sekitar sungai di Sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Pemukiman sekitar sungai di Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Kamis, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Kerusakan Lingkungan

Cerita Siti dan lain-lain merupakan potret bagaimana warga bertahan menghadapi banjir berulang di Bandung Selatan. Bukan hanya permukiman yang terdampak, fasilitas umum, tempat usaha hingga akses jalan di kecamatan Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah pun kerap lumpuh.

Di saat yang sama, jumlah penduduk di kawasan banjir Bandung Selatan tidak sedikit. Sebagai gambaran, Desa Citeureup memiliki penduduk sebanyak 2.419 kepala keluarga yang menghuni 1.069 rumah pada April 2026.

Tampak depan kontrakan di sekitar sungai. Sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Selasa, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Tampak depan kontrakan di sekitar sungai. Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Selasa, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Warga berharap penanganan banjir ditingkatkan, misalnya dengan membangun begitu infrasturuktur yang tangguh. Ada juga warga yang berharap tempatnya dibeli oleh pemerintah.

Namun, banjir di kawasan Dayeuhkolot dan sekitarnya tidak lepas dari kondisi lingkungan yang rusak. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mengingatkan, kerusakan lingkungan di Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Bandung Selatan (KBS) memperbesar ancaman banjir di Bandung Raya.

Karanggung untuk menyimpan barang dan TV yang diletakan tinggi di kamar kontrakan Ina. Sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Selasa, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Karanggung untuk menyimpan barang dan TV yang diletakan tinggi di kamar kontrakan Ina. Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Selasa, 26 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Menurut Walhi, alih fungsi hutan dan kawasan resapan menjadi permukiman, properti, pariwisata, serta infrastruktur mengurangi kemampuan lahan menyerap air hujan.

Di KBU, perubahan bentang alam dan degradasi kawasan hutan selama dua dekade disebut berkontribusi terhadap banjir, banjir bandang, dan longsor saat musim hujan.

Karanggung untuk menyimpan barang dan TV yang diletakan tinggi di kamar kontrakan Mariani. Sukabirus,  Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot.  Selasa, 17 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)
Karanggung untuk menyimpan barang dan TV yang diletakan tinggi di kamar kontrakan Mariani. Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Selasa, 17 Agustus 2026. (Foto: Alya Chaerani/BandungBergerak)

Sementara itu, KBS yang seharusnya menjadi benteng ekologis juga terancam oleh rencana pengembangan kawasan strategis, sehingga fungsi perlindungannya berpotensi semakin melemah.

Walhi Jabar menilai jika kebijakan pembangunan tidak segera mengutamakan keberlanjutan dan perlindungan ekosistem, kerusakan kawasan utara dan selatan akan semakin meningkatkan risiko bencana ekologis, termasuk banjir, di Bandung Raya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//