• Berita
  • Banjir Berulang Bandung Selatan tak Bisa Dianggap Sekadar Bencana Musiman: Dua Orang Meninggal Dunia, Ratusan Jiwa Mengungsi

Banjir Berulang Bandung Selatan tak Bisa Dianggap Sekadar Bencana Musiman: Dua Orang Meninggal Dunia, Ratusan Jiwa Mengungsi

Dua korban jiwa, ribuan rumah terendam, dan kerusakan hulu Sungai Citarum menegaskan banjir terjadi karena akumulasi masalah tata ruang dan lingkungan.

Warga menembus banjir di Jalan Raya Dayeuhkolot, Minggu, 12 April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah18 April 2026


BandungBergerak - Banjir berulang di Bandung Selatan tak bisa lagi dipahami sebagai fenomena musiman. Dalam sepekan terakhir, banjir tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menelan dua korban jiwa.

Pada Rabu, 15 April 2026 sore, seorang pelajar, Ginasya, 18 tahun, terseret arus Sungai Ciherang di Kampung Girang, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Lima orang berupaya menolong, yakni Indra, 34 tahun, Geri Muhammad alias Ja A, 34 tahun, Wildan, 20 tahun, Ersih, 50 tahun, dan Agus, 44 tahun, satpam SMAN 1 Banjaran.

Namun derasnya arus membuat Agus turut terseret dan tenggelam. Ginasya ditemukan meninggal dunia. Agus ditemukan sehari kemudian, Kamis, 16 April 2026, sejauh 3,1 kilometer dari lokasi kejadian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung Ade Dian Permana, dalam siaran pers, Jumat, 17 April 2026, mengatakan pencarian korban melibatkan tim SAR gabungan. Korban meninggal dunia  dibawa ke RSUD Bedas Nambo.

“Seluruh korban telah ditemukan sehingga operasi SAR diusulkan ditutup,” kata Ade.

Warga berjalan di jalan yang tergenang banjir, Kabupaten Bandung,  Jumat, 17 April 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)
Warga berjalan di jalan yang tergenang banjir, Kabupaten Bandung, Jumat, 17 April 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Hampir Sepekan Banjir

Peristiwa tersebut terjadi di tengah meluasnya banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung, antara lain Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Ciparay, Solokanjeruk, hingga Banjaran. Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 140 sentimeter.

BPBD Jawa Barat mencatat banjir mulai terjadi sejak Jumat, 10 April 2026. Curah hujan tinggi dengan durasi panjang menyebabkan Sungai Citarum dan anak sungainya meluap, diperparah buruknya sistem drainase. Hingga Rabu, 15 April 2026, ribuan rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 150 sentimeter.

Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat Hardjasasmita menyebut, wilayah terparah berada di Desa Dayeuhkolot dengan 4.390 kepala keluarga atau 14.981 jiwa terdampak.

Di Desa Citeureup, 1.069 rumah terendam dengan 2.419 kepala keluarga terdampak. Sementara di Desa Sukamanah, 947 rumah terendam dan sekitar 360 hektare sawah terdampak.

Banjir juga merendam fasilitas umum dan memaksa warga mengungsi. Di Desa Citeureup, 104 kepala keluarga atau 327 jiwa mengungsi di sejumlah titik. Di Desa Dayeuhkolot, tercatat 30 kepala keluarga mengungsi.

Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di pengungsian. BPBD terus melakukan evakuasi, pendataan, serta mendirikan dapur umum. Warga diimbau waspada terhadap potensi banjir susulan.

Banjir limbah B3 di IPAL industri terpadu Cisirung, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin, 13 April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Banjir limbah B3 di IPAL industri terpadu Cisirung, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin, 13 April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Cerita dari Pengungsian

Pantauan BandungBergerak di Kampung Bojong Asih, Desa Dayeuhkolot, menunjukkan sebagian warga masih beraktivitas di tengah genangan. Warga yang memiliki rumah bertingkat memilih bertahan, sementara lainnya mengungsi.

Mobilitas warga terbatas. Aktivitas hanya dapat dilakukan dengan perahu. Di belakang kantor desa, sejumlah warga menempati shelter pengungsian karena air tak kunjung surut.

Akid, 75 tahun, salah satu pengungsi, menceritakan perubahan kondisi kampungnya. Dahulu, wilayah itu masih berupa ruang terbuka dengan permukiman jarang. Banjir hanya lewat dan cepat surut.

“Sekarang banjir bisa sampai seminggu. Dulu hanya lewat,” kata Akid, Jumat, 17 April 2026.

Menurut dia, perubahan mulai terasa sejak 1986. Sejak itu, banjir bisa bertahan berhari-hari, bahkan hingga sepekan, dengan ketinggian mencapai tempat tidur.

“Di sini seperti wajan, lebih rendah. Air dari kota masuk ke sungai kecil lalu ke sini,” ujarnya.

Akid kini tinggal sendiri di rumah sewaan. Selama di pengungsian, kebutuhan makan tercukupi dari bantuan. Sebelumnya, ia bekerja membuat sangkar burung dengan penghasilan tidak menentu.

“Alhamdulillah masih kuat,” katanya lirih.

Bagi Akid, banjir telah menjadi siklus tahunan.

Kondisi serupa dialami Mayang Sari, 42 tahun. Ia mengungsi bersama keluarganya dan tetap beraktivitas di shelter.

Banjir membuat rutinitas dan penghasilan keluarganya terganggu. Suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga kondisi ekonomi semakin tertekan.

“Kalau air Citarum naik, kami langsung bersiap. Barang diangkat ke tempat tinggi,” ujarnya.

Menurut Mayang, banjir bukan lagi soal kejutan, melainkan seberapa tinggi dan lama air bertahan.

“Pernah sampai satu bulan mengungsi,” katanya.

Meski bantuan makanan tersedia, kerugian ekonomi dan kerusakan barang menjadi beban yang terus berulang.

“Yang paling terasa kalau tidak punya uang,” ucapnya.

Ibu empat anak ini merasa jalan hidupnya semakin berat karena suaminya sedang tidak memiliki pekerjaan tetap. Baginya, banjir bukan hanya bencana alam, namun juga tekanan ekonomi yang berlapis.

Baca Juga: Hujan Ekstrem dan Kerusakan Hutan Mempercepat Terjadinya Banjir di Cililin dan Bandung Selatan
Menunggu Wali Kota Bandung Punya Terobosan Mengatasi Kemacetan, Banjir, dan Sampah

Transportasi di jalan kampung Cijagra - Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Minggu, 12 april 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Transportasi di jalan kampung Cijagra - Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Minggu, 12 april 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Kerusakan Hulu dan Sistem Sungai

Banjir dipicu kombinasi hujan ekstrem, sedimentasi sungai, dan gangguan sistem pengendali air. Kondisi ini meningkatkan debit Sungai Citarum.

Pelaksana Teknik OP II BBWS Citarum, Asep Rochiman, mengatakan puncak debit terjadi Sabtu malam dengan ketinggian mencapai sekitar 660 mdpl.

Selain hujan, kebocoran pintu air di Baleendah, khususnya Cikarees, memperparah kondisi. Aliran air menjadi tidak terkendali dan meluap ke permukiman Bojongsoang.

Ia menjelaskan, sistem aliran yang semula terbagi dua tidak lagi berjalan normal. Salah satu saluran telah diubah menjadi kolam retensi.

Fenomena backwater juga terjadi di kawasan oxbow Bojongsoang akibat aliran irigasi Ciateul. Karena kapasitas penuh, air kembali meluap hingga Cijagra.

Dari sisi hulu, sedimentasi memperburuk kondisi sungai. Air Citarum yang berwarna cokelat saat debit tinggi menunjukkan tingginya material sedimen.

Asep menilai, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian memperparah erosi. Akibatnya, kapasitas sungai menurun.

“(Hulu Citarum) perlu direboisasi,” ujarnya.

Perubahan tata guna lahan di hulu, termasuk alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, memperparah erosi. Akibatnya, penampang sungai tidak lagi mampu menampung debit air secara optimal.

“Hulu Citarum ada di Kertasari, wilayah Ciburial. Dari sana banjir sudah membawa lumpur. Penanganan tidak bisa parsial, harus menyeluruh,” ujarnya.

Ia juga menyoroti hilangnya bantaran sungai yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga aliran air. 

Pemeriksaan kesehatan di posko pengungsi Dayeuhkolot, Minggu, 12 April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pemeriksaan kesehatan di posko pengungsi Dayeuhkolot, Minggu, 12 April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Tata Kelola Disorot

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan perlunya pembenahan menyeluruh, terutama dalam tata ruang dan pengelolaan lingkungan.

Menurut dia, sungai perlu dinormalisasi dan kawasan hulu harus direvitalisasi menjadi lahan hijau.

“Faktor penyebab banjir di Kabupaten Bandung adalah tata ruang. Sungai-sungainya harus dinormalisasi, hulu sungai harus direvitalisasi menjadi lahan hijau,” kata Dedi dalam keterangan resmi, Jumat, 17 April 2026. 

Sementara itu, WALHI Jawa Barat menilai banjir sebagai bukti kegagalan tata kelola lingkungan.

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin, menyebut kerusakan ekosistem di hulu menjadi faktor utama. Alih fungsi lahan di Kertasari, Pacet, dan Pangalengan dinilai masif.

“Ini bukan sekadar faktor alam, tetapi akibat rusaknya ekosistem,” ujarnya.

WALHI menilai lemahnya pengawasan tata ruang dan perizinan memperparah kondisi. Mereka mendesak audit tata ruang serta pemulihan ekosistem DAS Citarum secara menyeluruh, bukan sekadar program seremonial.

 

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//