• Cerita
  • Ketika Pemerintah Merobohkan Sebuah Perpustakaan, Warga Membangun Puluhan

Ketika Pemerintah Merobohkan Sebuah Perpustakaan, Warga Membangun Puluhan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru saja merobohkan Perpustakaan Gasibu. Di sepanjang tahun 2024, tercatat 12.441 kunjungan di perpustakaan ini.

Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 2 Agustus 2026


BandungBergerak – Tidak semua hal turut hilang begitu saja setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat merobohkan bangunan Perpustakaan Gasibu dengan dalih penataan kawasan pada pertengahan Juli 2026 lalu. Lusi Yulianti, perempuan pekerja lepas berusia 26 tahun, masih menyimpan sekian banyak ingatan tentang bangunan tersebut. Sejak pertama kali perpustakaan dibuka untuk publik  pada 2016 lalu, dia menggelar berbagai aktivitas bersama kawan-kawan komunitas baca.

“Aku suka kumpul di situ sama beberapa temanku,” ujar Lusi, Rabu, 22 Juli 2026. “Perpustakaan buatku bukan hanya sekadar tempat baca aja, tapi buat berinteraksi sama orang lain juga, tempat bertukar pikiran.

Menurut Lusi, meski koleksi bukunya relatif tidak sebanyak perpustakaan-perpustakaan lain, Perpustakaan Gasibu sangat bisa diandalkan terutama karena lokasinya yang strategis. Warga dapat mengaksesnya secara leluasa sembari tetap menjalankan aktivitas keseharian di pusat kota. Itulah kenapa Lusi tetap melakukan banyak aktivitas di Perpustakaan Gasibu meskipun tidak ada acara komunitas baca.

Kabar pembongkaran perpustakaan yang pertama kali diketahui dari media sosial, membuat Lusi sedih. Dia berharap agar informasi yang juga dibicarakan di lingkaran pertemanannya itu sebatas rumor. Namun, semua kandas setelah dia dengan mata kepala sendiri mendapati bahwa bangunan dengan bentuk melengkung yang berada di sudut kompleks Lapangan Gasibu itu menyisakan puing-puing yang rata dengan tanah.

Kesedihan serupa dirasakan oleh Ditha, seorang mahasiswi Jurusan Perpustakaan dan Sains Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang juga sering berkunjung ke Perpustakaan Gasibu untuk melakukan observasi dan berbagai kegiatan lainnya. Perobohan bangunan fisik tanpa pengganti sepadan di lokasi-lokasi strategis merupakan kehilangan besar bagi warga kota.

“Harapannya, adalah itu bisa benar-benar didengar dan kemudian mereka merevitaslisasinya, bukan menghilangkannya,” katanya, Rabu, 22 Juli 2026.

Pembangunan Perpustakaan Gasibu merupakan bagian dari proyek “Pembangunan Kawasan Gasibu” yang digulirkan di era Gubernur Ahmad Heryawan pada 2015 lalu. Selain perpustakaan, dibangun juga sarana olahraga, musala, serta toilet umum yang disebut “sekelas hotel bintang 5”. Setelah mengalami dua kali gagal lelang, proyek akhirnya dikerjakan oleh PT Pinapan Gunung Mas, yang beralamat di Jalan Rawamangun Muka Barat, Jawa Timur, dengan harga perkiraan sendiri (HPS) 16,9 miliar rupiah. Proyek yang berlangsung dari Agustus hingga November 2015 ini ditopang dengan kerja pengawasan pekerjaan yang menyedot dana APBD 349,3 juta rupiah.

Merujuk data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Barat, tercatat sebanyak 12.441 kunjungan di Perpustakaan Gasibu di sepanjang tahun 2024, menempatkannya di urutan keempat dalam daftar perpustakaan dengan jumlah pengunjung paling banyak di Jawa Barat. Atas nama penataan kawasan yang mengintegrasikan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu di era Gubernur Dedi Mulyadi, akses perpustakaan ditutup ditutup mulai April 2026.

Merujuk data di laman Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP, diketahui proyek pekerjaan plaza area depan Gedung Sate-Gasibu dirancang dengan total anggaran bersumber APBD Jawa Barat senilai 15,03 miliar rupiah untuk jenis pengadaan pekerjaan kontruksi. Kelak, lokasi tempat semula Perpustakaan Gasibu berdiri akan beralih fungsi menjadi jalan raya dengan penambahan lajur pada infrastruktur yang saat ini sudah ada.

Untuk proyek pekerjaan penataan jalan kawasan Gasibu ini, Pemprov Jabar menyiapkan anggaran yang bersumber dari APBD senilai 30 miliar rupiah untuk jenis pengadaan pekerjaan konstruksi. Nilai alokasi dana ini, setara dengan 21 miliar rupiah sesuai inflasi hari ini, jauh lebih tinggi dibandingkan total anggaran revitalisasi Kawasan Gasibu termasuk pembangunan perpustakaan 10 tahun lalu.

Perpustakaan Gasibu tinggal puing. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Perpustakaan Gasibu tinggal puing. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Transformasi Digital yang Tidak Sepadan

Dalam pernyataan sebelumnya, Sekretaris Daerah Jawa Barat Hermat Suryatman mengklaim bahwa kelak Perpustakaan Gasibu akan ditransformasikan menjadi perpustakaan digital. Ia juga menjanjikan adanya layanan perpustakaan keliling yang tetap bisa diakses warga di sekitar Lapangan Gasibu.

"Insya Allah, Lapangan Gasibu terintegrasi dengan halaman Gedung Sate dan masyarakat tetap mendapatkan layanan literasi," ucap Herman, Senin, 13 Juli 2026.

Namun, tranformasi perpustakaan fisik menjadi perpustakaan digital dan perpustakaan keliling bukannya tanpa tantangan. Nabila Eva, salah satu pengurus Aliansi Perpustakaan Independen (API) Bandung, menilai pengubahan itu tidak sebanding untuk menggantikan keseluruhan fungsi dan layanan sebuah perpustakaan fisik. Dengan akses yang mudah dan gratis, bangunan perpustakaan mampu menunjang kebutuhan warga yang beragam dan tidak terbatas pada aktivitas membaca buku. Komunitas dapat menyelenggarakan kegiatan luring, sementara para pelajar dan mahasiswa memanfaatkannya untuk belajar dan mengerjakan tugas.

“Perpustakaan fisik itu penting karena orang bisa mmemanfaatkan fasilitas lebih dari sekadar cari buku,” ucap Nabila, Minggu, 26 Juli 2026. 

Jejaring Perpustakaan Independen

Ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup akses dan merobohkan bangunan Perpustakaan Gasibu, geliat literasi di kawasan Bandung Raya justru tumbuh dari inisiatif warga. Perpustakaan independen dan toko buku bermunculan. Bukan hanya di pusat kota, tapi juga di pinggiran dan bahkan gang permukiman padat. Komunitas pembaca dan penulis juga dibentuk. Mereka saling terhubung satu dengan yang lain dalam berbagai kegiatan bersama.

“Di Bandung, perpustakaan tumbuh dengan pesat. Dari era pascapandemi sampai sekarang, perpustakaan independen sudah (berdiri) sekitar 20 lebih di sekitar Bandung Raya, belum lagi dengan TBM (Taman Bacaan Masyarakat) dan Perpusjal (Perpustakaan Jalanan),” ujar Reiza Harits, salah satu pengurus API Bandung, Minggu, 26 Juli 2026.

API Bandung merupakan kolektif perpustakaan-perpustakaan independen di kawasan Bandung Raya. Ia dibentuk untuk membantu menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh tiap perpustakaan, yang tentu unik dan berbeda. API Bandung telah menggelar beragam program, kampanye, dan kegiatan bersama. Terkini, mereka memproduksi Paspor Perpustakaan untuk mendorong tingkat kunjungan warga ke perpustakaan-perpustakaan independen.  

Menurut Reiza, tumbuhnya perpustakaan dan toko buku di Bandung menegaskan pentingnya keberadaan ruang-ruang publik yang bisa dihadiri atau didatangi secara fisik. Warga tetap menghargai aktivitas dan pertemuan tatap muka. Karena pemerintah tidak sungguh-sungguh menyediakan wadahnya, dan bahkan malahan merobohkan salah satu bangunan perpustakaan, warga yang lalu memulai inisiatif.

“Pada akhirnya inisiatif-inisitif seperti ini muncul secara independen, bukan lewat dorongan atau insentif pemerintah,” tutur Reiza. “Pada akhirnya ceruk-ceruk itu yang diisi oleh kami, oleh teman-teman independen.”

Ketidakseriusan pemerintah merawat literasi juga tercermin dari data. Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Barat berada di angka 18,7. Jauh lebih rendah dibandingkan IPLM nasional di 40,06, atau dibandingkan provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa yang telah melampaui angka 38,86. Indeks dihitung berdasarkan beberapa unsur, mulai dari pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi pustaka, ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat, hingga jumlah perpustakaan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

 

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//