• Opini
  • Karnaval, Citra Kota, dan Pesta di Atas Amnesia

Karnaval, Citra Kota, dan Pesta di Atas Amnesia

alan tidak lagi menjadi sarana mobilitas; ia menjelma panggung. Warga menjadi audiens dan kota menjadi objek pertunjukan.

Jejen Jaelani

Dosen di Institut Teknologi Sumatera, penulis buku Semiotika Kota: Pertarungan Ideologis di Ruang Urban

Suasana Festival Asia Afrika 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

6 November 2026


Selling all the soil that we gave

Driven by the thirst to enslave (Time and time again)

Fair trade (fair trade) was never for the masses (masses)

Was blinded by the dances (dances), blinded by romances (romances)

The SIGIT “Bread and Circus”

BandungBergerak – Hampir setiap tahun warga Kota Bandung dijamu dengan berbagai macam karnaval. Ada Karnaval Asia-Afrika, Karnaval Hari Milangkala Tatar Sunda, Karnaval Upacara HUT RI, Karnaval Hari Jadi Kota Bandung, dan sebagainya. Sebagian besar karnaval diselenggarakan oleh pemerintah kota dan atau pemerintah provinsi dengan menggunakan anggaran dan fasilitas publik.

Pada bulan Mei 2026, peringatan Milangkala Tatar Sunda diisi dengan rangkaian panjang kegiatan budaya bertajuk Kirab Budaya Tatar Sunda "Napak Tilas Padjadjaran”. Menempuh rute sepanjang 3,5 kilometer, rombongan peserta akan bergerak dari Kiara Artha Park, melintasi Jalan Jakarta dan Jalan Supratman, sebelum berakhir di kawasan Gedung Sate, Jalan Diponegoro.

Pada bulan Agustus, pelaksanaan kirab bendera dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berlangsung dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate di Kota Bandung, Jawa Barat. Kirab ini menempuh rute Jalan Otto Iskandar Dinata (Bale Pakuan) - Jalan Kebon Jukut - Jalan Perintis Kemerdekaan (Viaduct) - Jalan Wastukencana - Jalan LLRE Martadinata (Riau) - Jalar Ir. H. Juanda - Jalan Diponegoro.

Yang paling baru adalah Karnaval Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216. Menghadirkan Karnaval Jampana (Kirab Jampana) yang mengangkat tradisi dan budaya lokal Sunda, hajatan ini berlangsung dari simpang Jalan Diponegoro - Jalan Ir. H. Juanda (Dago) menuju Balai Kota Bandung. Panjang rute yang ditempuh 1,3 kilometer.

Setiap karnaval diselenggarakan dengan meriah dan mengundang banyak orang untuk hadir di kerumunan. Ruas-ruas jalan di pusat kota, seperti Jalan Diponegoro, Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Jalan Merdeka, dan Jalan Asia Afrika menjadi tempat favorit penyelenggaraan untuk memberikan gambaran daya tarik Kota Bandung atau Jawa Barat.

Karnaval menjadi magnet bagi kerumunan bukan hanya karena ada tontonan, tetapi karena ia memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial yang jarang terpenuhi dalam rutinitas sehari-hari. Di dalam keriuhan karnaval, tepuk tangan, sorak-sorai, musik, dan interaksi spontan menciptakan energi sosial yang membuat perhatian orang-orang sejenak beralih dari masalah keseharian mereka. Selain itu, mereka juga merasa menjadi bagian dari sebuah identitas bersama, yaitu menjadi bagian dari keriaan kota.

Perayaan kota sering menghadirkan narasi positif: keberhasilan, kebudayaan, kemajuan, kebersamaan, keberagaman, dan masa depan yang lebih baik. Pada hari karnaval, jalan-jalan dibersihkan, ruang publik ditata, peserta dipilih, narasi dibangun, dan media berfokus pada kemeriahan. Akibatnya, yang muncul adalah Bandung sebagai pertunjukan (spectacle), bukan Bandung sebagai pengalaman hidup sehari-hari.

Padahal, di balik panggung-pangung karnaval yang meriah ini itu terdapat realitas keseharian yang lain: sumber penghidupan yang terancam dan dirampas penggusuran penataan ulang kota, permasalahan banjir yang tak kunjung diselesaikan, persoalan sampah yang berulang, kemacetan kronis, ketimpangan fasilitas antara pusat kota dan pinggiran, tekanan ekonomi kelompok kelas bawah, jalanan kota yang gelap di malam hari, kondisi dan kualitas jalan yang buruk dampak dari proyek penataan kota, kriminalitas yang terus terjadi, serta akses hunian yang timpang.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa karnaval yang digelar dengan memobilisasi sumber daya besar lewat penggunaan anggaran dan fasilitas publik itu lebih mudah diwujudkan dibandingkan penyelesaian persoalan kota yang nyata dihadapi warga di dalam keseharian? Jangan-jangan, karnaval memang diniatkan sebagai upaya struktural pemerintah untuk mengalihkan perhatian warga dari kompleksitas kehidupan warga. Seperti konsep roti dan hiburan (bread and circuses) yang dikenal sejak zaman Romawi, ia menjadi strategi menjaga stabilitas sosial melalui penyediaan hiburan publik.

Konsumsi Neokapitalis di Ruang Kota

Henri Lefebvre di dalam The Urban Revolutian (2003) menulis bahwa jalan bukan lagi sekadar ruang lalu lintas atau perjumpaan sosial. Dalam kapitalisme lanjut, jalan menjadi tempat pajangan (display). Orang tidak hanya bergerak di dalamnya, tetapi juga diposisikan sebagai penonton. Karnaval mengubah ruang kota menjadi apa yang Lefebvre sebut sebagai rangkaian pameran. Jalan tidak lagi menjadi sarana mobilitas; ia menjelma panggung. Warga menjadi audiens dan kota menjadi objek pertunjukan.

Ruang publik yang seharusnya menjadi ruang politik berubah menjadi ruang tontonan. Kehidupan sosial semakin dimediasi oleh representasi dan citra. Warga tidak terutama mengalami kota melalui partisipasi politik, melainkan melalui konsumsi simbol dan pertunjukan. Karnaval mendorong warga untuk menikmati kota sebagai penonton daripada mempertanyakan kota sebagai orang yang meninggalinya.

Dari sudut pandang Lefebvre, karnaval-karnaval bukan sekadar perayaan budaya; ia merupakan arena tempat estetika, konsumsi simbolik, kekuasaan, dan produksi ruang perkotaan saling bertemu untuk menciptakan citra kota yang lebih mudah dikonsumsi daripada realitas kota yang sesungguhnya.

Penjajahan kota terjadi ketika ada dominasi cara tertentu dalam menggunakan, memahami, dan mengalami ruang kota. Dan itulah yang dilakukan karnaval; ia membuat warga berhubungan dengan kota melalui pengalaman visual dan emosional yang serba menyenangkan. Yang mendominasi ruang kota bukan lagi interaksi sosial spontan, melainkan citra yang telah dirancang, dikurasi, dan dikonstruksi secara positif.  

Jika kita kaji lebih jauh, karnaval-karnaval ini bukan hanya perayaan budaya, melainkan juga mekanisme produksi makna. Ia mengubah ruang kota menjadi ruang tontonan, menempatkan warga sebagai konsumen simbol, dan mendorong identitas kota untuk dialami melalui gambar serta spektakel. Akibatnya, kontradiksi dan persoalan struktural kota tidak lenyap, tetapi terdorong ke belakang layar oleh dominasi citra yang memenuhi ruang publik. Dalam pengertian inilah Lefebvre melihat bahwa yang dijajah bukan hanya jalanan, melainkan juga cara masyarakat memandang dan membayangkan kotanya sendiri.

Sebuah ruang diambil alih oleh yang berlangsung sebentar (the ephemeral) sehingga, menurut Lefebvre, setiap tempat menjadi multifungsi, polivalen, transfungsional, dengan perputaran fungsi yang tak henti-hentinya di mana kelompok mengendalikan ruang untuk tindakan ekspresif dan konstruksi, yang segera dihancurkan. Objek-objek di dalam karnaval bukan sekadar dekorasi. Mereka menyampaikan pesan tertentu: Bandung adalah kota kreatif, harmonis, inovatif, dan penuh kolaborasi.

Melalui karnaval, citra kota diproduksi. Lalu, melalui berbagai saluran dan media komunikasi, citra itu terus-menerus direproduksi sehingga menjadi lebih dominan dibandingkan kondisi kota itu sendiri.

Melalui karnaval-karnaval, penguasa berharap semakin banyak kunjungan wisatawan yang masuk, semakin besar investasi yang datang, dan semakin bertambah keuntungan ekonomi. Citra kota yang kreatif dan maju dibutuhkan untuk menopang cita-cita tersebut. Dan begitulah caranya kota ini terus ditawarkan dan dijual kepada para pemodal dan wisatawan.

Guyuran hujan menjelang pembukaan Festival Asia Afrika 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Guyuran hujan menjelang pembukaan Festival Asia Afrika 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Baca Juga: Kota dan Akal-akalan Penggusuran
Kota untuk Siapa?

Legitimasi Kekuasaan

Karnaval dapat menjadi alat legitimasi kekuasaan. Ia dibuat untuk menutupi masalah kompleks yang dihadapi warga di dalam kehidupan keseharian mereka. Persoalannya bukan bahwa keindahan itu palsu. Persoalannya adalah bahwa estetika dapat membuat realitas sosial yang kontradiktif sama sekali menjadi tampak harmonis.

Melalui karnaval yang ria, ruang kota diisi oleh hal-hal yang berlangsung sebentar. Sebuah ruas jalan menjadi wadah bagi keriaan. Penguasa berperan menjadi raja yang dielu-elukan kerumunan. Mereka berperan menjadi bintang yang diidolai oleh para penggemarnya. Karnaval menjadi versi realitas yang dengannya penguasa bisa menaikkan citra kota, mengangkat reputasi pemerintahan, dan berbicara tentang berbagai capaian statistik keberhasilan.

Melalui karnaval yang meriah, citra kota ini terlihat megah, berbudaya, bahagia, dan baik-baik saja dilihat dari luar. Padahal di dalam keseharian warga, kota ini sekarat, dibiarkan menderita, dan diabaikan nasibnya.

Melalui karnaval yang gempita, warga kota dibuat amnesia atas rumitnya realitas kehidupan yang mereka hadapi: dari banjir, kemacetan lalu lintas, buruknya infrastruktur, tingginya angka kriminalitas, hingga banyaknya penggusuran. Dan penguasa berpesta pora di atasnya.

 

 

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//