DATA TINGKAT PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN DI KOTA BANDUNG 2019-2025: Angkanya Turun, tapi Mengapa Ekonomi Masih Terasa Sulit?
Dalam kondisi itu, garis kemiskinan Kota Bandung malah naik dari 515.396 rupiah per kapita/bulan pada 2021 menjadi 664.417 rupiah per kapita/bulan pada 2025.
Penulis Reza Khoerul Iman28 September 2026
BandungBergerak – Ungkapan "in this economy" yang hampir pasti dipungkas oleh kalimat-kalimat yang menggambarkan kondisi ekonomi sulit, kerap terdengar dan berseliweran di media sosial. Dari harga segelas kopi, biaya kos-kosan, hingga belanja harian, semuanya terasa kian mencekik.
Namun, kalau kita intip lembaran data Badan Pusat Statistik (BPS) atau rilis-rilis pemerintah, gambaran yang tersaji seolah bertolak belakang: angka kemiskinan dan pengangguran dilaporkan terus menunjukkan tren positif.
Sama halnya dengan Kota Bandung, pada awal tahun 2026 pemerintah mengeluarkan siaran pers yang menyebut angka kemiskinan menurun dengan indikator berkurangnya penerima bansos. Begitu juga dengan angka pengangguran atau kondisi kerja di Bandung yang selalu dibalut dengan narasi positif.
Apakah laporan-laporan ini sudah menggambarkan realitas di lapangan, atau penurunan angka statistik tersebut hanya fatamorgana semu demi mengejar janji 19 juta lapangan pekerjaan?
Jika merunut dinamika beberapa tahun terakhir, berdasarkan dokumen Kota Bandung dalam Angka tren pengangguran dan angka kemiskinan di Kota Bandung tampak saling berkaitan. Ketika pandemi Covid-19 menghantam pada 2021, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sempat melonjak ke 11,46 persen atau sebanyak 153.505 jiwa menganggur, sekaligus menyeret 112,50 ribu jiwa (4,37 persen dari total penduduk) warga Bandung ke bawah garis kemiskinan.
Seiring pemulihan ekonomi pascapandemi, data mencatat perbaikan bertahap. Pada 2024 TPT melandai ke angka 7,40 persen atau sebanyak 100.310 jiwa yang menganggur, dan jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 101,10 ribu jiwa.
Memasuki tahun 2025, dari total 1.375.036 jiwa angkatan kerja di Kota Bandung, tercatat 99.306 jiwa masih menjadi pengangguran yang membuat TPT turun ke angka 7,22 persen. Sejalan dengan penurunan pengangguran tersebut, angka kemiskinan secara statistik ikut menyusut menjadi 99,12 ribu jiwa.
Namun perlu kita cermati, pada saat yang sama, garis kemiskinan Kota Bandung malah naik dari 515.396 rupiah per kapita/bulan pada 2021 menjadi 664.417 rupiah per kapita/bulan pada 2025. Meningkatnya garis kemiskinan itulah yang membuat standar dasar biaya hidup di Kota Bandung menjadi tinggi. Hal ini membuat warga yang secara statistik dikategorikan "tidak miskin" atau "sudah bekerja" sebetulnya berada di posisi rentan.
Data lain yang menguatkan mengapa tren penurunan angka pengangguran dan kemiskinan terasa semu adalah data penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan utama. Data tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa warga Bandung harus membanting tulang lebih keras untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Data 10 Tender dengan Nilai Teratas di Kota Bandung Tahun 2025: Pembangunan Fisik Masih Mendominasi
DATA INFLASI DI KOTA BANDUNG: Mei 2026 Bandung Jadi Kota dengan Inflasi Tertinggi di Jawa Barat, Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama
Dalam kurun 2024 sampai 2025 saja, jumlah pekerja yang masuk ke dalam kategori “Berusaha Dibantu Buruh Tetap” anjlok drastis sebesar 39,35 persen (hilang 28.126 orang). Pelemahan skala bisnis ini memaksa pasar kerja beradaptasi, ditandai dengan melejitnya kategori Pekerja Bebas/Freelance dari 35.566 menjadi 52.020 jiwa dan pekerja yang Berusaha Sendiri yang naik dari 293.655 menjadi 323.129 jiwa pada 2025.
Di saat yang sama, penurunan signifikan sebesar 25,52 persen (hilang 31.736 orang) pada Pekerja Keluarga/Tak Dibayar menandakan bahwa anggota keluarga tak lagi bisa sekadar membantu usaha rumah tangga, melainkan terdesak mencari pekerjaan berbayar demi menambah pemasukan.
Sementara kelompok Buruh/Karyawan/Pegawai masih menjadi penopang utama dengan porsi 51,96 persen dari total pekerja dan tumbuh tipis 3,92 persen pada 2025. Namun jika ditarik lebih mundur dari tahun 2015, jumlah pekerja formal saat ini sebetulnya masih menyusut. Artinya, daya serap sektor formal belum sepenuhnya pulih, dan selisihnya ditutup oleh maraknya usaha mandiri serta pekerjaan sampingan (side job) untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup Kota Bandung.
Data-data ini menunjukkan penurunan angka pengangguran ternyata tidak hanya didorong oleh ekspansi lapangan kerja, melainkan pergeseran warga ke arah pekerjaan yang lebih fleksibel dan mandiri.
Pada akhirnya, selama biaya hidup terus melambung dan lapangan kerja makin langka, ungkapan “in this economy” akan tetap menjadi kenyataan pahit yang harus ditanggung sendiri oleh warga Kota Bandung.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


