• Publik
  • DATA PENURUNAN TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG 1980-2024: Semakin Meluas dan Dalam

DATA PENURUNAN TANAH DI CEKUNGAN BANDUNG 1980-2024: Semakin Meluas dan Dalam

Krisis air bersih di depan mata seiring meningkatnya penurunan muka air tanah. Penyabnya bukan semata-mata kemarau.

Penulis Reza Khoerul Iman29 Juli 2026


BandungBergerak - Kekhawatiran akan krisis air di Kota Cimahi semakin mengemuka dalam beberapa waktu terakhir. Pemicunya bukan semata musim kemarau yang berkepanjangan, melainkan juga temuan yang menunjukkan terus menurunnya muka air tanah akibat eksploitasi yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Isu ini kian menjadi perhatian publik setelah akun Instagram @hey.cimahi mengunggah konten pada 20 Juni 2026 mengenai penurunan muka air tanah di Cimahi hingga mencapai 100 meter, mengacu pada kajian Badan Geologi. Unggahan tersebut segera memantik gelombang respons warganet. Kolom komentar dipenuhi kekhawatiran warga yang mengaku mulai merasakan dampaknya secara langsung, mulai dari sumur yang mengering, pasokan air yang kerap terhenti, hingga dugaan bahwa aktivitas industri menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kondisi tersebut.

“Sering banget mati air,” keluh salah satu warganet di kolom komentar. 

Kekhawatiran itu diperkuat dengan hasil penelitian Heri Andreas dan tim dari Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO). Kajian mereka menunjukkan bahwa penurunan muka air tanah di sejumlah wilayah Cekungan Bandung telah melampaui 60 meter, bahkan beberapa kawasan di Cimahi masuk kategori akuifer sangat rusak akibat eksploitasi air tanah yang berlangsung selama puluhan tahun.

“Ya, jadi eksploitasi tanah itu betul akan berdampak ke penurunan tanah dan ke penurunan muka air tanah,” ucap Heri Andreas saat ditemui di kantornya, 27 Juni 2026.

Temuan tersebut divisualisasikan oleh Heri Andreas dalam bentuk peta heatmap yang menunjukkan penurunan muka air tanah di Cekungan Bandung. Melalui gradasi tiga warna, peta memperlihatkan tingkat kerusakan lapisan penyimpan air tanah (akuifer) berdasarkan kedalaman penurunan muka air tanah. Semakin gelap warna yang ditampilkan, semakin dalam penurunan yang terjadi. Kawasan Kota Cimahi tampak didominasi warna kuning tua dan merah, menandakan penurunan muka air tanah telah melebihi kedalaman 0.8 meter.

Berdasarkan paparan Heri Andreas kepada BandungBergerak, ia menjelaskan gejala penurunan muka tanah di Cekungan Bandung mulai terlihat pada periode 1980-1990 di beberapa wilayah seperti Cimahi, Dayeuhkolot, dan Gedebage. Menurut Heri, pada periode tersebut lokasi-lokasi terjadinya penurunan tanah terkorelasi dengan pusat industri sehingga eksploitasi air tanah meningkat tajam. 

Memasuki awal 2000-an, laju penurunan muka tanah lebih signifikan di lokasi-lokasi sebelumnya, ditambah daerah Katapang dan Majalaya yang sama-sama menjadi kawasan industri.

Perubahan semakin terlihat meluas ketika memasuki periode 2010. Heri menyebut suplai kebutuhan air permukaan oleh Perumda Tirtawening tidak optimal, sehingga eksploitasi air tanah tidak lagi berasal dari industri tetapi juga dari meningkatnya kebutuhan air di kawasan permukiman.

Laju penurunan muka tanah tidak berhenti memasuki periode 2024. Sebaliknya, penurunan tanah di Cekungan Bandung terlihat sangat luas dan massif. Heri menyebut lajunya mencapai lebih dari 10 cm per tahun, dan di banyak tempat magnitudenya sudah lebih dari 3 meter. Saking luasnya, penurunan tanah dapat dilihat secara kasat mata dari pengolahan data regional InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar).

“Berdasarkan hasil penelaahan model matematis, satu meter penurunan tanah berkorelasi dengan 20 meter water table decline. Tadi kan ada yang tanahnya sudah turun tiga meter, berarti air tanahnya itu sudah di bawah 60 meter. Kalau sudah ada yang 4 meter ya berarti sudah ada minus 80. Dan itu sudah divalidasi oleh beberapa data MP di sumur bor yang dimiliki Dinas ESDM,” ujar Heri.

Baca Juga: Data 10 Tender dengan Nilai Teratas di Kota Bandung Tahun 2025: Pembangunan Fisik Masih Mendominasi
DATA INFLASI DI KOTA BANDUNG: Mei 2026 Bandung Jadi Kota dengan Inflasi Tertinggi di Jawa Barat, Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama

Bagi masyarakat, dampaknya terlihat sederhana lewat fenomena penggalian sumur bor yang semakin dalam atau pasokan air semakin sulit diperoleh ketika musim kemarau tiba. Namun di balik itu, ada persoalan yang dahsyat. Ketika muka air tanah terus menurun, lapisan penyimpan air tanah dapat mengalami pemadatan (kompaksi). Akibatnya, kemampuan tanah untuk menyimpan air bersih ikut berkurang dan dalam kondisi tertentu sulit dipulihkan seperti semula.

Fenomena ini pula yang menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan permukaan tanah (land subsidence) di Cekungan Bandung. Semakin besar eksploitasi terhadap air tanah, semakin tinggi pula risiko amblesan tanah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kerusakan pada bangunan atau jalan mudah retak.

Dengan demikian, kekeringan yang kini melanda Cimahi maupun kawasan Bandung Raya tidak dapat dipahami semata sebagai dampak musim kemarau. Fenomena ini merupakan akumulasi dari eksploitasi air tanah yang berlangsung secara masif dan terus-menerus selama puluhan tahun.

Pemerintah tidak cukup hanya berfokus pada penanganan dampaknya, tetapi juga wajib menghentikan praktik-praktik yang mempercepat degradasi cadangan air tanah. Di saat yang sama, negara harus tetap menjamin hak masyarakat atas air bersih melalui kebijakan yang berkelanjutan, tanpa semakin membebani sumber daya air tanah yang kian menipis.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//