DATA INFLASI DI KOTA BANDUNG: Mei 2026 Bandung Jadi Kota dengan Inflasi Tertinggi di Jawa Barat, Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama
Kenaikan harga barang dan jasa yang dirasakan warga Bandung berlangsung sedikit lebih cepat dibandingkan rata-rata daerah lain di Jawa Barat maupun Indonesia.
Penulis Reza Khoerul Iman24 Juni 2026
BandungBergerak – Kalau belakangan kamu merasa resah karena uang belanja lebih cepat habis, harga bahan pokok makin mahal, atau seporsi makanan terasa semakin menguras dompet, bisa jadi bukan kamu saja yang merasakan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa keresahan tersebut bukan sekadar perasaan.
Pada Mei 2026, inflasi tahunan (year on year) Kota Bandung mencapai 3,32 persen, tertinggi di antara 10 kabupaten/kota yang menjadi sampel inflasi di Jawa Barat dan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 (2,27 persen) dan 2025 (1,16 persen).
Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Jawa Barat yang berada di level 3,07 persen dan nasional sebesar 3,08 persen. Dengan kata lain, kenaikan harga barang dan jasa yang dirasakan warga Bandung berlangsung sedikit lebih cepat dibandingkan rata-rata daerah lain di Jawa Barat maupun Indonesia.
Inflasi sendiri merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu tertentu. Bisa tahunan atau bulanan. Ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat berpotensi menurun karena uang yang sama hanya mampu membeli barang atau jasa dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding sebelumnya.
Namun, apa sebenarnya yang membuat biaya hidup di Bandung semakin mahal?
Jika ditelusuri lebih jauh, penyumbang utama inflasi di Kota Bandung masih berasal dari kebutuhan yang paling dekat dengan kehidupan warga: makanan.
Data BPS pada Mei 2026 menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kota Bandung. Secara month to month andilnya mencapai 0,18 persen, sementara secara year on year mencapai 1,81 persen. Sejumlah komoditas yang akrab dengan kehidupan sehari-hari warga seperti cabai rawit, daging ayam ras, beras, minyak goreng, cabai merah, jeruk, dan bawang merah menjadi pendorong utama kenaikan harga sepanjang tahun terakhir.
Sementara yang lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,68 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil 0,55 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah bahan bakar rumah tangga.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa inflasi tidak didorong oleh barang-barang mewah, melainkan oleh kebutuhan yang hampir setiap hari dibeli masyarakat. Selama kebutuhan-kebutuhan dasar itu terus mengalami kenaikan harga, inflasi akan tetap menjadi persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketika harga cabai naik, biaya memasak ikut bertambah. Saat harga ayam dan beras meningkat, pengeluaran rumah tangga ikut membengkak. Kenaikan harga minyak goreng juga berdampak pada biaya produksi pedagang makanan, yang pada akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen.
Bagi pemilik UMKM, kenaikan ini seperti pukulan yang nyata. Akibatnya, sebagian pelaku usaha terpaksa harus memilih untuk menaikkan harga jual atau mengurangi keuntungan mereka.
Data ini telah memberikan gambaran bahwa inflasi di Kota Bandung masih sangat dipengaruhi oleh kebutuhan dasar masyarakat, terutama pangan. Dan ketika harga kebutuhan pokok terus naik, dampaknya akan paling terasa bagi kelompok masyarakat yang pendapatannya tidak ikut bertambah.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


