Apa yang Hilang Ketika Mata Pelajaran Seni Tersisih di Sekolah?
Dari ruang kelas formal hingga sekolah alternatif, seni menawarkan proses belajar yang utuh. Namun, di sekolah mata pelajaran seni masih terpinggirkan.
Penulis Jawahir Alma'ani 18 Oktober 2026
BandungBergerak - Seni kerap dikaitkan dengan kegiatan menggambar, melukis, bermusik, dan menulis, dengan hasil akhir berupa karya yang dapat dipamerkan atau dinikmati banyak orang. Namun, dalam diskusi bertajuk “Susiawan: Seni dan Pendidikan Alternatif” di Orbital Dago, Bandung, Minggu, 11 Oktober 2026, seni dibicarakan bukan semata sebagai produk, melainkan sebagai proses pertumbuhan diri dan cara memahami dunia.
Diskusi ini menghadirkan Susan Allen secara daring. Susan merupakan praktisi pendidikan yang bersama Susiawan telah mengembangkan pendekatan seni sebagai sarana belajar selama 33 tahun. Narasumber lainnya, Claudine, salah satu penggagas SemAta Art School; dan Sulistyo, pengajar seni rupa yang telah berkecimpung di dunia pendidikan selama hampir 40 tahun. Pengalaman ketiganya memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi alat pendidikan, sekaligus mengungkap tantangan penerapannya di sekolah.
Diskusi diawali dengan pemaparan Susan Allen. Ia tidak dapat hadir langsung karena kesibukannya mengajar di Bali dan merawat Susiawan yang telah berusia tujuh puluhan. Susan menceritakan perjalanan panjangnya bersama Susiawan dalam mengembangkan pendidikan berbasis seni.
Salah satu pengalaman yang membentuk pandangannya adalah ketika mereka mementaskan wayang kulit di Bandung dan mencoba membangun sebuah cerita. Pengalaman itu membuka jalan bagi mereka untuk memperkenalkan wayang kepada khalayak yang lebih luas, termasuk di panggung internasional. Mereka kemudian berkelana ke berbagai negara, hingga Kanada, dan membawa pertunjukan wayang ke ruang-ruang kelas anak-anak.
Dari pengalaman tersebut, Susan melihat bahwa seni dapat digunakan sebagai alat untuk mengajar. Wayang, misalnya, tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga medium untuk menyampaikan pengetahuan dan membantu anak memahami sesuatu melalui pengalaman.
Gagasan itu kemudian ia bawa ke dunia pendidikan di Indonesia. Sejak 2007, Susan mulai mengajar di SD Pelangi, Bali, sekaligus mengembangkan pelatihan guru (teacher training) dan fasilitator (facilitator training). Dalam proses tersebut, ia mengintegrasikan seni rupa, kearifan lokal, dan kepekaan terhadap dimensi batin (subtle body) ke dalam pendidikan holistik.
Bagi Susan, seni dalam pendidikan merupakan modality, yakni alat untuk memperoleh pengetahuan, bukan sekadar pengetahuan itu sendiri. Melalui seni, anak didorong untuk mencari, mengamati, menggali informasi, dan belajar dari lingkungan sekitarnya. Seni juga menjadi way of knowing, atau cara manusia memahami dunia.
Pandangan ini menempatkan seni sebagai bagian dari kemampuan kognitif dasar yang perlu dimiliki pengajar seni. Namun, pemahaman terhadap seni saja tidak cukup. Seorang guru juga perlu memiliki kecintaan terhadap bidang yang diajarkannya.
“Kalau misalnya tidak mencintai apa yang dipilih itu itu sulit dan apalagi itu guru, ya,” jelasnya.
Claudine: Belajar melalui Pengalaman yang Utuh
Pandangan Susan tentang seni sebagai alat pendidikan beririsan dengan pendekatan yang diterapkan Claudine melalui SemAta Art School. Bagi Claudine, pendidikan seni anak berangkat dari “rasa”, yakni perasaan yang dapat diekspresikan melalui berbagai medium, termasuk kanvas, dan berkembang menjadi karya seni.
Di SemAta Art School, seni tidak dibatasi pada kegiatan khusus menggambar atau membuat karya. Prinsip kesenian diterapkan dalam pengalaman belajar sehari-hari melalui pendekatan holistik yang menggabungkan aspek fisik, emosional, dan intelektual.
Alih-alih memisahkan pelajaran berdasarkan mata pelajaran, SemAta merangkai berbagai pengetahuan dalam pengalaman tematik. Anak dapat belajar membaca, menulis, matematika, sains, dan ilmu sosial melalui satu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan.
“Jadi tidak mengkotak-kotakkan menjadi mata pelajaran-mata pelajaran. Jadi, itu saling berkaitan. Jadi memang belajar emang akhirnya belajar membaca, belajar menulis, belajar tentang matematika, tentang sains, sosial dan lain-lain itu dalam bentuk tematik,” pungkasnya.
Salah satu praktiknya adalah mengajak anak-anak dan orang tua mengunjungi museum atau galeri seni. Claudine tidak mendatangkan pemandu untuk menjelaskan setiap karya. Sebaliknya, anak-anak diajak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat, baik selama kunjungan, setelah berkeliling, maupun ketika sudah kembali ke rumah.
Pendekatan ini memberi ruang bagi anak untuk mengamati, mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan membangun pemahaman sendiri. Orang tua juga perlu mendapat pengarahan agar proses belajar dapat berlanjut setelah kegiatan selesai.
Namun, Claudine menyadari bahwa ruang belajar alternatif seperti SemAta memiliki keterbatasan dibandingkan sekolah formal dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak. Sekolah memiliki waktu yang lebih panjang dan pengaruh yang lebih besar dalam keseharian mereka, sementara pendidikan alternatif harus berbagi ruang dengan berbagai tuntutan lain.
“Cuma balik lagi kita satu jadwal kita kalah sama hal-hal akademik yang dirasa bisa dinilai,” tegasnya.
Bagi Claudine, persoalan tersebut berkaitan dengan sistem pendidikan yang lebih mengutamakan capaian akademik yang mudah diukur. Keresahan terhadap sistem inilah yang turut melatarbelakangi lahirnya SemAta Art School. Ia menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi dengan mengurangi ketergantungan pada standar penilaian, memberi anak kebebasan berekspresi, dan menyatukan berbagai bidang pengetahuan dalam pengalaman belajar.
Prinsip tersebut juga memengaruhi cara Claudine memandang pendidikan anak usia dini. Ia menilai penekanan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) di tingkat taman kanak-kanak (TK) dapat mengabaikan proses perkembangan anak yang lebih mendasar.
Menurutnya, menggambar bebas lebih sesuai untuk melatih motorik halus anak. Menggambar bebas berarti anak dapat menggambar tanpa aturan yang membatasi proses kreatifnya. Sebaliknya, kegiatan mewarnai gambar hasil cetak atau print-out yang sudah memiliki pola justru menghilangkan sebagian proses penciptaan.
Anak hanya mengisi bagian yang telah disediakan, tanpa melalui keseluruhan proses membentuk gagasan dan mewujudkannya menjadi karya. Padahal, proses itulah yang memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan pemahamannya.
“Itu sebenarnya jadi ngebentuk si anak-anak; mereka tidak tahu proses. Tidak tahu proses. Enggak tahu proses, padahal kan proses untuk membuat satu karya itu tidak semudah itu,” tutur Claudine dalam wawancara BandungBergerak, 11 Oktober 2026.
Penerapan prinsip seni dalam pendidikan, dengan demikian, tidak berhenti pada kegiatan menghasilkan gambar atau karya. Yang penting adalah bagaimana kegiatan tersebut memberi ruang bagi anak untuk menjalani proses, mengembangkan kepekaan, dan belajar dari pengalaman.
Baca Juga: PAMERAN SATUKATA: Merawat Diri Lewat Goresan
Delapan Seniman Perempuan di Pameran Banda Indung #2

Sulistyo: Seni Masih Terpinggirkan di Sekolah
Sementara Susan dan Claudine melihat seni sebagai bagian dari proses belajar yang utuh, Sulistyo menyoroti hambatan struktural yang membuat pendekatan tersebut sulit diterapkan secara luas. Selama hampir 40 tahun mengajar seni rupa di tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, ia melihat mata pelajaran seni kerap diperlakukan sebagai pelajaran pelengkap.
Di sekolah formal, pelajaran seni umumnya hanya mendapat alokasi waktu dua kali 30–40 menit dalam seminggu. Durasi ini relatif singkat dibandingkan sejumlah mata pelajaran lain yang memperoleh waktu lebih panjang dan intensitas pengajaran lebih tinggi.
Keterbatasan waktu tersebut juga diperparah oleh rendahnya dukungan dari lingkungan sekolah. Sulistyo kerap mendapati jam pelajaran seni dipotong untuk memberi ruang bagi mata pelajaran lain yang dianggap lebih penting.
"Ketika mata pelajaran matematika atau yang lebih penting itu belum selesai, itu selalu 'maaf ya Pak, jamnya saya pakai', itu selalu begitu," tutur Sulistyo.
Dalam situasi seperti itu, guru dituntut memaksimalkan waktu belajar yang tersedia. Namun, kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh durasi, melainkan juga oleh kompetensi pengajarnya.
Menurut Sulistyo, sekolah formal masih kekurangan guru seni yang kompeten. Salah satu penyebabnya adalah terbatasnya lulusan bidang seni yang tertarik menekuni profesi pengajar. Banyak mahasiswa seni memilih menjadi seniman atau bekerja mengikuti kebutuhan pasar, sementara pendidikan seni belum menjadi perhatian utama mereka.
Persoalan kompetensi juga berkaitan dengan pembekalan sebelum guru mulai mengajar. Tanpa persiapan yang memadai, guru berisiko kesulitan menerjemahkan pengetahuan seni menjadi pengalaman belajar yang sesuai bagi anak.
Sulistyo juga menyoroti minimnya penelitian mengenai pendidikan seni. Menurut pengamatannya, mahasiswa seni masih jarang meneliti persoalan pengajaran seni di Indonesia, bahkan di lingkungan fakultas yang secara khusus mempelajari pendidikan seni.
“Dan saya pernah juga membongkar salah satu perpustakaan Fakultas Seni. Saya enggak perlu sebut universitasnya: Fakultas Pendidikan Seni, bukan Fakultas Seni. Tidak ada satu pun skripsi yang membahas tentang pendidikan seni,” tegasnya.
Minimnya perhatian terhadap penelitian pendidikan seni beriringan dengan terbatasnya akses terhadap bahan ajar. Sulistyo menilai logika pasar turut memengaruhi ketersediaan buku pendidikan seni di toko buku. Ketika permintaan dianggap rendah, buku-buku tersebut semakin sulit ditemukan, sehingga sumber belajar bagi guru dan mahasiswa pun terbatas.
Ia juga menyayangkan keputusan sejumlah sekolah formal, termasuk sekolah internasional, yang meniadakan pelajaran seni demi memberi lebih banyak ruang bagi mata pelajaran lain. Menurutnya, keputusan semacam itu berkaitan dengan anggapan bahwa seni tidak cukup praktis dan tidak berkontribusi langsung terhadap peningkatan kecerdasan siswa.
Berbagai persoalan tersebut saling berkaitan: waktu belajar yang terbatas, kompetensi guru yang belum merata, minimnya penelitian, dan sulitnya akses terhadap bahan ajar. Sulistyo menggambarkan situasi ini sebagai persoalan struktural yang tidak mudah diputus.
“Jadi ini sebenarnya lingkarannya mau dibilang lingkaran setan ya ya udah terjadi gitu. Bukan lingkaran setan, (tapi) setan yang melingkar-lingkar. Wah ini kita mau mutusnya dari mana nih?” jelasnya mengkhawatirkan kesalahan struktural dalam sistem pendidikan Indonesia.
Di tengah persoalan tersebut, Sulistyo mengapresiasi keberadaan pendidikan alternatif seperti SemAta Art School. Menurutnya, pendidikan alternatif dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem yang belum menyediakan ruang belajar sesuai kebutuhan anak.
Selain SemAta, ia melihat perkembangan berbagai lembaga yang menawarkan pendekatan serupa, baik melalui jalur formal maupun nonformal. Beberapa di antaranya adalah Semipalar, TK Kuntum Mekar, dan Arumnika di jalur formal, serta Sekolah Pirate dan SemAta di jalur nonformal. Ruang belajar alternatif juga tersedia di sejumlah institusi, seperti Widyatama untuk anak berkebutuhan khusus dan Type Space bagi masyarakat umum.
Kehadiran lembaga-lembaga tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tidak harus membatasi proses belajar pada pencapaian akademik yang dapat diukur dengan angka. Seni dapat menjadi cara untuk menghubungkan berbagai pengetahuan, melatih kepekaan, dan memberi ruang bagi anak untuk memahami dunia melalui pengalaman.
Namun, agar prinsip tersebut tidak hanya hidup di ruang-ruang alternatif, seni perlu memperoleh tempat yang lebih kuat dalam sistem pendidikan. Pengakuan terhadap seni sebagai alat belajar harus disertai dukungan terhadap kompetensi guru, ketersediaan bahan ajar, penelitian pendidikan seni, dan kebijakan sekolah yang memberi waktu memadai bagi proses kreatif anak.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


