Delapan Seniman Perempuan di Pameran Banda Indung #2
Pameran yang diselenggarakan komunitas Senimom ini berlangsung 24 Januari hingga 15 Februari 2026 di de Braga by ARTOTEL, Jalan Braga, Bandung.
Penulis Alysha Ramaniya Wardhana10 Februari 2026
BandungBergerak - Garis demi garis bertumpuk perlahan membentuk sosok anak kecil berkepang dua dengan mata besar. Jumlah bola matanya empat. Anak tersebut digambar hitam-putih, ditampilkan berdampingan di tiga bingkai dengan kisah berbeda. Sejumlah kelopak anggrek bertebaran di sekitarnya.
Karya-karya tersebut menghiasi lantai dua de Braga by ARTOTEL, Jalan Braga, Kota Bandung. Lantai tersebut dijadikan para ibu dan perempuan lainnya untuk memamerkan karya di pameran Banda Indung #2 yang berlangsung pada 24 Januari hingga 15 Februari 2026.
Pameran ini diselenggarakan oleh komunitas Senimom, beranggotakan tidak hanya seorang ibu, tetapi juga perempuan lainnya. Komunitas ini memiliki tujuan untuk mewadahi anggotanya agar tetap bisa bermain dalam dunianya sendiri. Salah satunya, melalui adanya Banda Indung #2 yang melibatkan delapan seniman perempuan.
Pengorbanan Seorang Ibu
Ima Suswanto, seorang ibu dari tiga anak sekaligus pendiri Senimom sudah berkecimpung dalam dunia seni sejak kecil. Kemudian, dilanjutkan dengan jurusan seni rupa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, setelah menikah dan memiliki anak, kegemaran Ima mengalami jeda.
“Kalau di dunia seni sebetulnya dari kecil tuh udah seneng ya, udah seneng. Cuma mulai serius ya karena sempat kuliah di UPI Seni Rupa, itu angkatan 2010. Lalu setelah menikah, punya anak adalah fase hiatus gitu ya,” ungkap Ima menjelaskan awal mula ketertarikannya dengan seni.
Serupa dengan Ima, Ratna Muliasari Dinangrit sudah menyelam dalam seni sejak kuliah di jurusan seni rupa pada tahun 2006. Ratna telah aktif berpameran dan berkarya sampai tahun 2016. Kemudian, dirinya mengalami fase hiatus selama tujuh tahun ketika dikaruniai anak laki-lakinya.
Sebagai full time mom, Ratna mengatakan bahwa ruang gerak seorang ibu akan semakin sempit ketika sudah memiliki anak sehingga permasalahan terkait mental seorang ibu pun ia bawakan dalam karyanya.
“Nah, karena kebetulan aku sudah menjadi seorang ibu, ada isu tersendiri yang aku angkat sekarang. Memang ternyata kita juga gak bisa menutup mata, menutup telinga bahwa isu tentang mental seorang ibu tuh kita juga harus perhatiin,” jelas Ratna mengenai karya yang dibawakan pada pameran kali ini.
Pengalaman menjadi seorang ibu juga memengaruhi proses Ratna dan Ima dalam berkarya. Warna monokrom serta media yang dipilih Ratna berperan dalam menyuarakan isi hatinya, warna tersebut membuat Ratna dapat mengolah rasa hingga mampu menyampaikan narasi ke banyak orang, dibandingkan menggunakan warna lain.
Bagi Ima, ketika menjadi ibu dan proses karyanya sempat terhenti, rasa untuk melanjutkan tetap ada. Tetapi, rasa bingung dan bersalah kerap ia rasakan di saat yang bersamaan. Pertanyaan-pertanyaan terlintas dalam pikirannya, apakah dilanjutkan atau dikubur saja mimpinya selama ini.
Baca Juga: Lima Dekade Perjalanan Melani Setiawan Merawat Ingatan Seni Rupa di Indonesia
Membaca Ulang Tan Malaka Lewat Buku Naar De Republiek Indonesia
Sebuah Wadah Milik Ibu
Kembalinya Ima dan Ratna dalam dunia seni merupakan hasil komunikasi yang baik antara mereka dengan pasangannya. Kegemaran Ima dan Ratna berhasil menemukan wadahnya di Senimom, dan kali ini kembali dituangkan dalam pameran Banda Indung #2.
Anton Susanto, kurator Banda Indung #2, mengatakan bahwa pameran ini merupakan pameran seni kolektif yang menampilkan karya-karya hasil dari pengolahan pengalaman, keresahan, dan perjalanan artistik, estetik, serta emosional masing-masing diri para seniman.
Ratna menghasilkan tiga karya berjudul Napas di Atas, akar di bawah, Satire, dan, Metamorfosa Rahim: Monolog dalam Hitam, ketiganya menggunakan campuran media di atas kertas yang dilengkapi bingkai dengan dekorasi menggunakan resin dan 3D print. Garis yang menjadi unsur utama dalam karya Ratna merupakan cerminan dalam meluapkan perasaannya.
“Jadi cara aku bercerita tuh tidak harus menulis kata-kata, tapi dengan garis sih itu. Ternyata memang dengan narik garis, aku bisa nangis. Nangis sesegukan tuh aku bisa banget cuma gara-gara garis gitu,” tutur Ratna.
Di pameran ini, Ima hadir dengan dua lukisannya berjudul Lindung / Shelter dan Semaian / Seedbed. Lukisan cat air miliknya, menggambarkan jalak bali dan kolibri, keduanya disertai anggrek sebagai bunga yang disukai oleh tokoh perempuan di Indonesia.
“Lebih ke apresiasi tentang perempuan dan ibu aja. Jadi ngambil objeknya tuh, flora sama fauna tuh. Ini kan yang satu, jalak bali sama anggrek putih, kesukaannya Ibu Kartini. Eh ya, kalau gak salah. Nah, kalau yang itu, burung kolibri sama anggrek Tien Suharto,” ungkap Ima menjelaskan karyanya.
Hasil lukis Ima memiliki dua warna yang berbeda dan berlawanan, warna biru ia gunakan untuk burung jalak bali. Sementara itu, perpaduan warna hijau dan coklat digunakan sebagai warna dominan di burung kolibri. Perbedaan warna dipilih Ima untuk merepresentasikan sifat ibu yang berbeda. Menurut Ima, seorang ibu memiliki cara dan sisinya masing-masing, seperti dirinya.
“Ibu tuh punya masing-masing cara dan punya banyak sisi gitu. Sisi aku yang seneng berpameran, sisi aku yang sebagai ibu, yang sebagai istri, sebagai teman. Itu beda-beda, aku tidak menyebutnya sebagai topeng ya tapi lebih ke adaptif gitu,” jelas Ima.
Karya-karya dalam Banda Indung #2 dibuat menggunakan media yang berbeda, seperti pena dengan kertas, kain belacu dan cat air, serta kanvas dengan akrilik. Meski berbeda, Banda Indung tetap tidak kehilangan makna sebagai wadah bagi para ibu dan perempuan untuk menyalurkan mimpinya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

