• Berita
  • Lima Dekade Perjalanan Melani Setiawan Merawat Ingatan Seni Rupa di Indonesia

Lima Dekade Perjalanan Melani Setiawan Merawat Ingatan Seni Rupa di Indonesia

Di kalangan seniman, Melani Setiawan dikenal sebagai Ibunya Para Perupa. Ia mendokumentasikan pameran seni rupa di Indonesia sejak 1977.

Potret Melani Setiawan dengan para perupa Indonesia di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi10 Februari 2026


BandungBergerak - Selama hampir lima dekade, Melani Setiawan secara konsisten mengabdikan dirinya pada dunia seni rupa Indonesia—bukan sebagai seniman, bukan pula sebagai kurator atau kolektor dalam pengertian pasar, melainkan sebagai perawat ingatan. Kiprah panjang itu kini terhimpun dalam buku “Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022)”, sebuah kompilasi arsip fotografi dan dokumentasi yang merekam dinamika seni rupa Indonesia dari sudut pandang relasi personal.

Melani Setiawan dikenal luas di kalangan perupa Indonesia dengan julukan “Ibunya Para Perupa”. Selama 45 tahun, dokter spesialis Ultrasonografi (USG) asal Jakarta ini mendokumentasikan pameran, diskusi, kunjungan studio, hingga momen-momen personal bersama seniman, kurator, kritikus, pemilik galeri, penikmat seni, dan para pekerja di balik layar dunia seni rupa. Dedikasinya bukan sekadar mengumpulkan foto, melainkan merawat ingatan kolektif tentang bagaimana seni rupa Indonesia dibangun, diperdebatkan, dan dijalani.

Buku “Indonesia Art World” memuat 4.031 foto pilihan dari lebih dari 100.000 arsip yang dikumpulkan Melani sejak 1977. Buku ini resmi terbit pada 21 Juni 2025 di Institut Seni Indonesia (ISI) Pascasarjana Yogyakarta, sekaligus menjadi penanda perjalanan panjang praktik pengarsipan personal yang jarang dilakukan secara konsisten di Indonesia.

Selasar Sunaryo Art Space, Bandung menjadi tempat peluncuran buku Melani Setiawan melalui acara bertajuk “Live Taping Podcast dr. Melani Setiawan dan Bapak Sunaryo”, disusul penayangan film pendek bertajuk “The Art of Life: The Mother of Indonesian Artist, A Story about Ibu Melani Setiawan”, dan diakhiri dengan sesi “Diskusi Buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977-2022)”, Kamis, 22 Januari 2025.

Melani Setiawan bersama para pegiat seni Indonesia dan karyanya Indonesia Art World di Selasar Sunaryo Art Space, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)
Melani Setiawan bersama para pegiat seni Indonesia dan karyanya Indonesia Art World di Selasar Sunaryo Art Space, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Dari Dunia Medis ke Dunia Seni

Karier Melani Setiawan bermula di dunia medis. Ia mulai bekerja sebagai dokter USG pada tahun 1971 di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta, bersama pamannya, Kentjono Sulindro, seorang dokter anak terkemuka pada masanya. Ketertarikannya pada seni rupa muncul beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1977, ketika ia pertama kali mengunjungi Pasar Seni Ancol.

Di ruang alternatif di luar Taman Ismail Marzuki (TIM) itu, Melani membeli sebuah lukisan—tanpa mengenal siapa senimannya, semata karena tertarik secara visual. Saat itu, pameran seni dan galeri masih sangat terbatas, bahkan di ibu kota. Pasar Seni Ancol dan bazar seni di hotel berbintang menjadi ruang utama untuk menikmati karya seni.

Sejak kecil, Melani mengaku tidak gemar tampil di depan kamera, namun ia memiliki kebiasaan mendokumentasikan perjalanan hidupnya. Kebiasaan inilah yang kemudian berkembang menjadi praktik pendokumentasian kegiatan seni. Kamera menjadi alatnya untuk mengingat peristiwa, wajah, dan relasi.

Pada 2004, ide untuk membukukan arsip-arsip tersebut muncul dari rekan dekatnya, Hendro Wiyanto dan almarhum Made Wianta. Sejak saat itu, Melani mulai secara serius memilih foto, melengkapi data, dan menyusun arsip. Rasa cintanya pada seni rupa menjadi dorongan utama lahirnya buku “Indonesia Art World”.

“Seni itu memberi keseimbangan kesibukan bekerja di bidang medis yang sangat berat dan sangat formal, penuh etika, dan semua harus berjalan sesuai jalurnya, jadi tidak bisa melenceng ke kiri ataupun ke kanan. Sedangkan di seni rupa, saya bisa santai, happy-happy, tidak ada beban, dan juga tidak ada target,” ungkap Melani di Selasar Sunaryo Art Space, Kamis 22 Januari 2026.

Melani Setiawan dan Artati Sirman di Bale Paragon, Selasar Sunaryo Art Space, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)
Melani Setiawan dan Artati Sirman di Bale Paragon, Selasar Sunaryo Art Space, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Arsip yang Bergerak Bersama Zaman

Buku “Indonesia Art World” disusun dalam tiga volume berdasarkan medium kamera yang digunakan. Volume pertama mencakup periode 1977–2005 dengan kamera analog, volume kedua periode 2006–2010 dengan kamera digital, dan volume ketiga periode 2011–2022 menggunakan kamera ponsel. Pembagian ini tidak hanya menunjukkan perkembangan teknologi, tetapi juga perubahan cara Melani berinteraksi dengan dunia seni yang terus bergerak.

Foto-foto yang dikumpulkan menampilkan kesederhanaan: Melani bersama seniman, potongan karya seni, suasana pameran, hingga momen informal di balik layar. Beberapa foto diberi penanda angka untuk membantu Melani mengingat siapa saja yang hadir dalam bingkai tersebut. Buku ini dilengkapi caption, komentar seniman, catatan personal, serta indeks yang memudahkan penelusuran nama dan peristiwa.

Lebih dari sekadar arsip visual, buku ini menjadi bentuk apresiasi bagi aktor-aktor dunia seni yang kerap terabaikan—mulai dari penikmat seni, staf galeri, hingga pekerja teknis. Hubungan personal yang terjalin selama puluhan tahun justru menjadi kekuatan utama arsip ini.

Menurut Artati Sirman, subjektivitas yang hadir dalam buku Melani tidak melemahkan maknanya. Sebaliknya, relasi personal tersebut menambahkan dimensi emosional dan manusiawi dalam membaca sejarah seni rupa Indonesia.

Kedekatan Personal dan Etika Relasi

Julukan “Ibunya Para Perupa” lahir dari kedekatan Melani dengan para seniman selama lebih dari empat dekade. Ia sering menjadi tempat berkeluh kesah, berbagi cerita, bahkan memberi dukungan material dan emosional. Kedekatan ini dibangun melalui percakapan panjang, surat-menyurat, dan perhatian sehari-hari—bukan relasi transaksional.

Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Heru Hikayat, menilai Melani lebih tertarik pada manusia di balik karya dibandingkan karya itu sendiri. Ia memberi perhatian pada mereka yang bekerja di balik layar pameran—orang-orang yang memastikan ruang seni terasa rapi, nyaman, dan hidup.

“Jadi kalau misalnya kita datang ke sebuah pameran terus kita merasa genah, nyaman  karena pameran itu rapi, bersih di baliknya tuh ada sejumlah orang yang berkeringat gitu lho. Itu juga dianggap penting oleh Bu Melani,” ungkapnya saat ditemui di Selasar Suanryo Art Space.

Hendro Wiyanto menambahkan bahwa buku ini secara tidak langsung membalik paradigma dunia seni. Jika sebelumnya seniman ditempatkan sebagai pusat, "Indonesia Art World" justru menyoroti penonton, pengunjung, dan relasi sosial sebagai bagian penting ekosistem seni.

Baca Juga: Pameran Seniman Muda di ArtSociates dan Hybridium, Mengekspresikan Keberagaman Imajinasi
CERITA ORANG BANDUNG #90: Perjalanan Seni Tono

Selasar Sunaryo Art Space memamerkan sebagian kecil dari buku Indonesia Art World yang merupakan dokumentasi Melani Setiawan bersama karya seni dan senimannya, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)
Selasar Sunaryo Art Space memamerkan sebagian kecil dari buku Indonesia Art World yang merupakan dokumentasi Melani Setiawan bersama karya seni dan senimannya, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Membaca Arsip dalam Konteks Sejarah dan Politik Ingatan

Diskusi buku “Indonesia Art World” menjadi ruang refleksi tentang bagaimana sejarah seni rupa Indonesia direkam dan dimaknai melalui praktik filantropis personal. Tiga pembicara utama—Jim Supangkat, Artati Sirman, dan Iwan Meulia Pirous—membaca buku ini dari sudut pandang sejarah, metodologi arsip, serta dimensi sosial-politik.

Jim Supangkat mengungkapkan bahwa Melani telah mengarsip sejak 1970-an, jauh sebelum ada niat penerbitan. Ketertarikannya pada seni tumbuh di tengah dinamika pasca- ‘Desember Hitam 1974’ dan lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), sebuah periode penting dalam sejarah seni rupa modern Indonesia yang sarat dengan kritik sosial dan politik.

Dalam konteks tersebut, Jim menilai Melani tidak pernah memposisikan diri sebagai kolektor pasar. Ia tidak mengejar prestise atau investasi, melainkan “spirit seniman”. Hal ini tercermin dari lebih dari 100.000 arsip korespondensi dan dokumentasi kehidupan sehari-hari para pelaku seni.

“Dia bukan mengejar karyanya, tapi manusianya,” ujar Jim.

Artati Sirman menekankan pentingnya literasi arsip dalam membaca buku ini. Arsip Melani bersifat subjektif dan tidak sepenuhnya komprehensif, namun justru di situlah nilainya. Arsip ini harus dibaca secara kritis, dengan memahami posisi pengarsip, konteks sosial, dan relasi yang terlibat.

Artati juga menyoroti pentingnya posisi Melani sebagai pengumpul arsip. Melani tidak selalu hadir di semua peristiwa seni, sehingga buku ini tidak dapat dianggap sebagai catatan sejarah yang sepenuhnya komprehensif. Namun, pendekatan personal yang digunakan Melani justru membuat arsip ini lebih manusiawi dan terasa emosional, karena sejauh yang kita pahami kesenian rupa itu selalu dianggap suatu yang berlabelkan formal dan kaku.

Sementara itu, Iwan Meulia Pirous melihat buku ini sebagai praktik pengarsipan berbasis relasi sosial dan “kekerabatan imajiner”. Ia menilai arsip Melani membentuk jaringan komunitas seni lintas waktu dan ruang—sebuah narasi bersama tentang seni rupa Indonesia yang tumbuh selama lima dekade.

Menurut Iwan, arsip selalu berkaitan dengan kekuasaan: menentukan siapa yang diingat dan siapa yang dilupakan. Berbeda dengan arsip negara yang cenderung formal dan selektif, arsip Melani justru menyelamatkan individu-individu dari kemungkinan terhapus dalam sejarah.

“Kalau arsipnya dibikin sama pemerintah, mungkin isinya hanya karya seni saja, tidak ada foto orang orangnya,” ujar Iwan.

Melani Setiawan tidak mencari keuntungan materi dari perjalanan panjangnya di dunia seni. Ia menjauhi monetisasi dan lebih memilih hadir sebagai sistem pendukung—baik secara personal maupun material. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan minimnya peran negara dalam pengarsipan seni rupa, “Indonesia Art World” menjadi kontribusi penting yang “menambal” kekosongan tersebut.

Buku ini dapat dibaca sebagai arsip subjektif yang menuntut pembacaan kritis, sekaligus sebagai catatan tentang etika, empati, dan relasi dalam dunia seni rupa Indonesia. Melalui praktik sederhana namun konsisten, Melani Setiawan menunjukkan bahwa merawat seni bukan hanya soal karya, tetapi tentang manusia, ingatan, dan perhatian yang terus dijaga lintas generasi.

*Liputan ini dikerjakan reporter BandungBergerak Khoirunnisa Febriani Sofwan dan Insan Radhiyan Nurrahim

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//