• Opini
  • Surat untuk Balita di Palaran yang Meninggal Gegara Asap Pembakaran Hutan

Surat untuk Balita di Palaran yang Meninggal Gegara Asap Pembakaran Hutan

Apa arti "Generasi Emas" jika anak-anak terus dibiarkan menghirup abu dan asap kebakaran, bahkan sebelum ia bisa mengeja namanya sendiri?

Sastra Wijaya

Penulis Lepas. Mencintai kucing dan demokrasi.

Seringkali bukan kebakaran hutan, tapi pembakaran hutan. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah)

21 Oktober 2026


BandungBergerak – Untukmu, malaikat kecil yang singgah begitu singkat di bumi.

Aku tulis surat ini dengan dada sesak. Asap kebakaran lahan memang belum sampai ke wilayah kami, tapi kenyataan bahwa dunia ini bisa sekejam itu kepadamu sudah lebih dari cukup untuk membuat kami tercekik. Usiamu baru satu tahun. Duniamu seharusnya hanya berisi tawa, pelukan hangat, aroma susu, dan langkah-langkah tertatih saat kau belajar mengenal lantai rumah di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda.

Sayang, dunia di tahun-tahun awal kehidupanmu bukanlah dunia yang ramah. Langit pertama yang mungkin kau ingat bukanlah biru cerah dengan awan putih berarak seperti kapas di buku-buku cerita. Yang ada adalah langit kelabu, buram, dan membawa petaka. Udara, kebutuhan paling dasar dan gratis yang diberikan alam secara cuma-cuma untuk manusia, justru menjadi racun mematikan yang merampas paksa masa depanmu, hidupmu.

Aku membaca rentetan berita tentang kepergianmu. Kakekmu, Sarno, dengan suara yang bisa kubayangkan bergetar menahan luka, bercerita tentang Rabu pagi, 14 Oktober 2026. Hari itu, tiba-tiba saja kau kesulitan bernapas. Paru-parumu yang mungil—yang ukurannya mungkin cuma sebesar kepalan tangan orang dewasa—harus berjuang mati-matian menyaring udara kotor yang mengepung seisi kota.

Aku bisa merasakan kepanikan di rumahmu pagi itu. Asap tebal sisa pembakaran lahan, yang kata kakekmu datang dari arah Balik Buaya dan Betowas, merangsek masuk melalui celah-celah jendela. Asap itu menyumbat jalan napasmu. Saat orang tuamu melarikanmu ke puskesmas, napasmu sudah tersengal. Dan ketika kau akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Mulya Medika, kondisimu tambah buruk belaka.

Kamis, 15 Oktober 2026, kau akhirnya dipaksa menyerah. Udara beracun itu menang. Kematian datang padamu akibat keserakahan dan kelalaian orang-orang yang membakar paru-paru bumi tempat kita berpijak.

Namun, malaikat kecil, tahukah kau apa yang paling membikin marah dari tragedimu? Cara negara merespons kematianmu.

Hanya selang beberapa jam setelah kau menutup mata, Dinas Kesehatan Samarinda buru-buru mengklaim bahwa kematianmu bukan disebabkan oleh paparan asap kebakaran hutan dan lahan. Alasan yang dipakai klise: diagnosis dari dokter tidak secara eksplisit menuliskan bahwa kau mati karena kabut asap, tidak juga menyebutkan apa penyebab yang mereka temukan.

Begitulah cara sistem ini bekerja. Nyawa warga direduksi menjadi sekadar perdebatan istilah medis dan angka-angka. Negara berlindung di balik kertas administrasi agar lepas tangan dari dosa kelalaian mereka melindungi warganya.

Padahal, fakta di lapangan bisa berkata lebih jauh. Sampai pertengahan Oktober 2026, luasan lahan terbakar di Kalimantan Timur sudah tembus di angka 8.713 hektare. Khusus di Samarinda, data mencatat ada 281 kejadian kebakaran yang menghanguskan lebih dari 670 hektare lahan. Samarinda bahkan harus memperpanjang status Tanggap Darurat Karhutla. Kotamu dikepung kabut pekat. Lalu, di tengah kualitas udara yang seperti itu, ketika seorang balita mendadak sesak napas di dalam rumahnya yang disusupi asap, apakah masuk akal otoritas bergegas menyangkal korelasinya?

Surat ini mungkin tidak akan pernah kau baca, tapi aku merasa tetap harus menuliskannya. Kami, orang-orang dewasa yang saat ini masih bisa bernapas, berutang maaf yang tak terhingga karena gagal menciptakan ruang hidup yang layak untuk kau tinggali.

Kematianmu membongkar ilusi pembangunan yang dibanggakan penguasa. Di ruang-ruang rapat ber-AC, para elite sibuk cuap-cuap soal "Generasi Emas", megaproyek Ibu Kota Nusantara, dan pertumbuhan investasi. Namun, apa arti "Generasi Emas" jika anak-anak terus dibiarkan menghirup abu dan asap kebakaran, bahkan sebelum ia bisa mengeja namanya sendiri?

Ketimpangan itu nyata. Mereka yang duduk di kursi kekuasaan atau para pemodal yang sengaja membakar lahan demi menekan ongkos operasional kebun, tidak akan pernah ikut merasakan penderitaanmu. Mereka hidup di balik tembok rapat rumah mewah, tidur dengan air purifier berharga jutaan rupiah. Mereka tak akan pernah mencium bau sangit gambut yang menyusup masuk ke rumah-rumah warga kebanyakan.

Ketika asap mengepung permukiman, ketika orang dewasa saja merasa tersiksa dan kesulitan beraktivitas dengan masker di tengah kepungan asap, bagaimana denganmu? Masker apa yang muat untuk wajah mungilmu? Pertahanan apa yang kau miliki selain menangis saat dadamu terasa sesak?

Betapa mundurnya nurani kita. Tiap tahun, menjelang kemarau, berita tentang kabut asap dianggap sekadar rutinitas. "Memang sudah musimnya," kata orang-orang. Pertanyaannya: sejak kapan kita sepakat bahwa kemarau adalah musim kematian bagi seorang balita? Sejak kapan ongkos buka lahan segelintir oknum jauh lebih berharga dari nyawa?

Keluargamu pasti akan diminta untuk lekas ikhlas oleh banyak pihak. Diingatkan bahwa ini musibah. Tapi, bagaimana mungkin orang tuamu bisa ikhlas? Tidak ada keikhlasan yang sungguh-sungguh di hadapan ketidakadilan. Tiap kali langit Samarinda berubah mendung, mereka bukan lagi menunggu hujan, melainkan teringat pada asap tebal yang membunuhmu. Tiap mendengar anak tetangga tertawa, dada mereka akan koyak mengingat kau seharusnya masih ada di sana, tumbuh, dan berlarian.

Banyak pihak juga akan bersembunyi di balik dalih takdir. Bahwa Tuhan lebih menyayangimu sehingga memanggilmu lebih lekas. Aku setuju bahwa tempatmu di sisi-Nya pasti jauh lebih indah, penuh dengan udara segar, taman yang rimbun tanpa asap. Tapi aku menolak penyakit yang kau derita, asap pembakaran ini, adalah sepenuhnya "takdir Tuhan". Ini ulah manusia! Kematianmu adalah kelalaian negara dan keserakahan segelintir pihak!

Ekosistem kita dihancurkan, dan yang disuruh membayar harga paling mahal dengan nyawanya selalu kelompok yang terpinggirkan: bayi, lansia, dan warga miskin yang sekadar pindah rumah dari kepungan asap saja tidak mampu.

Aku membayangkan mimpimu yang belum sempat dirajut. Apakah kau akan tumbuh menjadi seorang pencinta alam yang marah dan gemetar setiap kali melihat hutan-hutan dibakar? Menjadi dokter yang kelak menyelamatkan nyawa anak-anak lain di Samarinda dari gempuran asap? Atau menjadi seorang guru?

***

Tidurlah yang lelap, malaikat kecil. Maafkan karena tanah ini justru menjadi ruang kedap yang mencekikmu.

Kini, kau tak perlu sesak lagi. Kau tak usah menghirup bau sangit itu lagi. Berlarilah sebebasnya di surga yang tak akan pernah terjangkau oleh api serakah manusia.

Biarkan kami yang masih hidup ini merawat sakit dan kemarahanmu. Kami akan berjanji, kami tak akan pernah berhenti bersuara, akan terus berisik. Tidak cukup lagi cuma mengomel di media sosial tanpa menunjuk hidung siapa yang menanggung dosa ini. Kami akan menjaga ingatan ini, melawan penormalan bencana, agar tidak ada lagi anak yang mati tercekik udara kotor di ruang tidurnya sendiri.

Beristirahatlah dengan tenang. Kami akan menolak lupa.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//