Lompat ke konten utama
Bandung Bergerak

Mengembalikan Pestisida Alami pada Petani

Pestisida alami bisa dijadikan fondasi mendukung kedaulatan para petani dalam mengelola hama padi sawah. Pengetahuan yang diwariskan antargenerasi petani sejak dulu.

Johan Iskandar6 November 2026

Fermentasi tumbuhan bahan pestisida nabati untuk membasmi hama padi di sawah (Foto: Adhi Fadhillah)
Fermentasi tumbuhan bahan pestisida nabati untuk membasmi hama padi di sawah (Foto: Adhi Fadhillah) — Foto ilustrasi purwarupa BandungBergerak.id.

BandungBergerak – Pada masa lalu, sebelum ada program memodernkan usaha tani sawah lewat Revolusi Hijau, para petani di perdesaan di Tatar Sunda biasanya membasmi aneka ragam hama padi sawah dengan menerapkan konsep yang dikenal sekarang dengan sebutan sebagai Sistem Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management System (IPM System) (Reijntjes et al., 1992). Ditilik dari sistem PHT, para petani biasanya melakukan berbagai cara atau teknik yang dilandasi oleh pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowldege-TEK) dan berkelindang dengan kepercayaan. Misalnya, mengatur pola tanam, cara mekanis, dan menggunakan pestisida nabati atau pestisida botani. Pengetahuan ekologi tradisional tersebut hasil pewarisan dan satu generasi pada generasi lainnya dan disebarkan atau ditransmisikan dengan menggunakan bahasa ibu atau bahasa lokal. Pengetahuan tersebut sangat mendalam, tapi bersifat lokal dan rentan kepunahan karena tidak tertulis.

Pestisida nabati merupakan pestisida alami yang dibuat dari berbagai jenis tumbuhan, yang biasa digunakan para petani dalam penanggulangan berbagai hama padi di agroekosistem sawah ataupun ladang (huma). Penggunaan pestisida botani memberikan berbagai keuntungan. Misalnya, tidak bersifat racun berbahaya (non-toksik); mudah terurai di alam, sehingga tidak berbagahaya bagi binatang bukan hama dan kesehatan manusia; murah dan berbagai bahannya banyak tersedia di perdesaan; serta pengetahuan dan teknik pembuatan dan penggunaannya sudah dimiliki dan  dikuasai oleh para petani.  

Namun, imbas dari adanya Program Revolusi Hijau yang mewajibkan petani untuk menggunakan varietas padi unggul baru hasil rekayasa genetik, penggunaan pupuk anorganik hasil pabrikan, penggunaan pestisida sintesis, pembangunan dan perbaikan irigasi, dan perbaikan metodan tanam padi sawah pada awal 1970-an, penggunaan pestisida nabati oleh para petani terdesak oleh keharusan para petani menggunakan pestisida kimia sintesis (Iskandar, 2001). Karena itu, para petani sawah yang tadinya mempraktikan sistem usaha tani organik dan menggunakan asupan dari luar rendah dan berkelanjutan (Low External Inputs and Sustainable Agriculture-LEISA), serta dibalut pengetahuan lokal yang mendalam, diubah secara drastis harus mengadopsi sistem usaha tani dengan berbagai asupan dari luar tinggi (High-External-Input Agriculture-HEIA), seperti harus membeli pestisida sintesis pabrikan.

Program Revolusi Hijau selain memberkan dampak positif, seperti peningkatan produksi padi sawah, namun program tersebut memberikan berbagai dampak negatif pada aspek sosial ekonomi dan budaya petani, serta memberi dampak ekologis. Dampak sosial ekonomi dan budaya petani misalnya, program tersebut gagal mensejahterakan petani. Selain itu, usaha tani yang tadinya lebih mandiri, berubah drastis menjadi sangat terngantung dari berbagai asupan dari luar (pasar). Sementara itu,  berbagai dampak ekologis, di antaranya menyebabkan kepunahan ribuan varietas padi lokal karena terdesak oleh varietas padi baru. Padahal, sebelum ada program Revolusi Hijau, di Indonesia diperkirakan memiliki tidak kurang dari 10.000 varietas padi lokal yang biasa ditanam para petani (LIPI, 2014). Selain itu, program tersebut juga menyebabkan timbulnya pencemaran lingkungan oleh racun pestisida serta munculnya berbagai hama baru. Aspek lain yang tidak kalah penting yakni punahnya pengetahuan ekologi tradisional petani tentang penggunaan pestisida nabati untuk penanggulangan berbagai hama padi. Hal tersebur dikarekan adanya keterkaitan sangat kerat antara keberagaman praktik budaya dan lingustik lokal, serta keanekaragam biologi yang membentuk sistem biokultural (Iskandar dan Iskandar, 2023).

Berdasarkan sistem biokutural, maka bila ada gangguan terhadap keanekaragam hayati, dapat menyebabkan gangguan pula pada keberagaman praktik budaya dan lingustik lokal. Serta sebaliknya, pengaruh lunturnya pengetahuan ekologi tradisional dan praktik budaya petani serta berubahnya linguistik lokal, dapat menyebabkan perubahan keanekaragam biologi di ekosistem. 

Pengetahuan Petani tentang Hama Padi dan Pestisida Nabati

Sejatinya para petani di masa lalu memiliki pengetahuan tentang aneka ragam hama berdasarkan pengetahuan lokal mereka. Ditilik dari hasil studi etnobotani tumbuhan pestisida–studi tentang pengetahuan (corpus) dan pratik (praxis) penduduk tentang jenis-jenis tumbuhan bahan pestisida–di masyarakat Rancakalong, Sumedang, misalnya, telah dapat didokumentasikan tidak kurang dari 12 jenis hama padi sawah. Berbagai hama padi tersebut, yakni gaang/anjing tanah (Gryllotalpa africana), hama beureum (Tryporiza incerulans), hama bodas (Nymphula depunctalis), hileud paré (Scirphoga innonata), keuyeup/kepiting air tawar (Parathelpusas sp), lembing (Nezara viridula), macam-macam simeut/belalang (Locusta spp), kungkang/walangsangit (Leptocorisa acuta),  (wereng coklat (Nilarparvata lugens), burung pipit (Lonchura leucogastroides), burung peking (Lonchura punctulata), dan tikus (Rattus argentiventer)  (Gambar 1).

Gambar 1. Aneka ragam hama padi sawah: gaang/anjing tanah, kungkang/walangsangit, belalang, hileud paré, keuyeup/kepitin (atas dari kiri kekanan), serta wereng coklat, lembing, burung peking, pipit dan tikus (bawah dari kiri ke kanan) (Foto: Dokumentasi Johan Iskandar).
Gambar 1. Aneka ragam hama padi sawah: gaang/anjing tanah, kungkang/walangsangit, belalang, hileud paré, keuyeup/kepitin (atas dari kiri kekanan), serta wereng coklat, lembing, burung peking, pipit dan tikus (bawah dari kiri ke kanan) (Foto: Dokumentasi Johan Iskandar).

Berbagai binatang hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT) biasanya  merusak macam-macam bagian tanaman padi sawah. Misalnya, burung peking dan burung pipit biasanya memakan biji-biji padi yang mulai  menguning. Hama bodas, hileud pare, lembing, simeut dan wereng coklat utamanya menyerang bagian daun padi. Gaang/anjing tanah biasa merusak akar dan batang padi. Sementara itu, tikus sawah biasa merusak batang, daun, dan bulir padi. Berbagai gangguan hama dapat menyebabkan kerusakan tanaman padi, sehingga gagal dipanen petani.

Meskipun hampir semua petani sawah di Tatar Sunda mengadopsi program Revolusi Hijau, namun terdapat sejumlah petani sawah di Desa Rancakalong, Sumedang, misalnya, pada tahun 2007-an masih bertahan memanfaatkan pestisida nabati untuk mengendalikan hama padi di sawahnya. Tetapi, jumlahnya tidak banyak.

Dari wawancara tehadap 86 responden petani sawah mendapati 9 responden (10,47 persen) masih bertahan menggunakan pestisida nabati. Sejumlah petani lainnya, 34  responden (39,57 persen) telah menggunakan campuran pestisida nabati dan pestisida kimia sintesis. Bahkan, sebagian dari petani, 43 responden (50 persen), telah beralih sepenuhnya menggunakan pestisida kimia sintesis (Tiani, 2007).

Beragam alasan petani beralih dari penggunaan pestisida botani ke pestisida kimia sintesis hasil pabrikan. Misalnya, karena pestisida pabrikan dianggap lebih ampuh dalam membasmi hama walaupun harus dibeli dengan harga mahal. Sementara, alasan petani yang masih bertahan menggunakan pestisida botani, di antaranya karena penggunaan pestisida botani dianggap sebagai tradisi yang ingin tetap dipertahankan (68,60 persen), selain juga biayanya lebih murah dibandingkan pestisida kimia sintesis (29,07 persen), serta ramah terhadap lingkungan dan tidak menyebabkan pencemaran  lingkungan (2,33 persen).

Berdasarkan sejarah ekologi dimasa lalu sebelum diperkenalkan Program Revolusi Hijau, masyarakat Sunda di Jawa Barat dan Banten umumnya menggunakan pestisida nabati untuk mengusir hama padi. Hingga kini penggunaan pestisida nabati masih dominan dipraktikan masyarakat Kanekes atau masyarakat Baduy di Banten Selatan. Pada musim tanam padi di ladang (huma), setiap keluarga Baduy secara tradisi biasanya guyub membakar aneka ragam tumbuhan beraroma bau atau biasa disebut rawun. Misalnya, daun walang (Amomum walang), ranting-ranting dan daun kanyere (Cleistanthus monoicus), ranting-ranting dan daun bungur (Lagerstroemia speciosa) di sekitar dangau ladang (saung huma), guna mengusir serangga hama padi huma, seperti hama kungkang (Leptocorisa acuta) (Iskandar dan Iskandar 2023).

Sementara itu, berbagai jenis tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan pestisida nabati oleh masyarakat Rancakalong, tercatat 8 jenis dari 14 famili. Tumbuhan-tumbuhan tersebut yakni Bratawali (Tinospora crispa, Fam, Menispermaceae), beungbeureuman (Cissus discolor, Fam.Vitaceae), cabe rawe/cengek (Capsicum frutescens, Fam. Solanaceae), comrang (Etlingera elatior, Fam. Zingiberaceae), gadung (Dioscorea hispida, Famili Dioscoreae), hanjuang beureum (Cordyline fruticosa, Fam. Agavaceae), jengkol (Archidendron jiringa, Fam. Mimosaceae), kacang babi (Tephrosia vogelii, Fam. Papilionaceae), kahitutan (Paederia foetida, Fam. Rubiaceae), konéng gedé (Curcuma xanthorrhiza, Fam.  Zingiberaceae), laja/lengkuas (Alpnia galanga, Fam. Zingiberaceae), pandan (Pandanus amarylifolius, Fam. Pandanaceae), panglay (Zingiber purpureum, Fam. Zingiberacea), picung (Pangium edule, Fam. Flacourtiaceae ), sereh wangi (Cymbopogon nardus, Fam. Poaceae), suren (Toona sureni, Fam. Meliaceae), tembakau (Nicotiana tabacum, Fam.Solnaceae), dan teureup (Artocarpus elasticus, Famili Moraceae).      

Ditilik dari 18 jenis tumbuhan pestisida botani tersebut, beberapa jenis di antaranya telah umum pula digunakan oleh berbagai komunitas lainnya secara lintas budaya di Indonesia ataupun di bebagai negara, termasuk brotowali (Tinospora tuberculata Beumee), jengkol (Pithecelobium jeringa Pers), dan gadung (Diocorea hispida Bl) (Reijntjes et al, 1992). Menurut Utami dan Hameda (210), batang brotowali dan buah jengkol memiliki potensi sebagai pengusir tikus, sedangkan umbi gadung dikenal sebagai racun binatang. Tidak hanya itu, tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) juga biasa digunakan di beberapa negara sebagai bahan pestisida alami, seperti di Melawi Utara, Afrika (Nyierendra et al. 2011). Demikian pula jenis tumbuhan lainnya, seperti cengek (Capsicum frutescens L) sangat umum dimanfaatkan sebagai bahan pestisida botani oleh para petani di Luzon, Philippines (Nicolas dan Cabagorias 2015).

Bagian tumbuhan yang umum digunakan sebagai pestisida botani utamanya bagian daun, batang, dan rimpang. Jenis-jenis tumbuhan Famili Zingiberaceae biasa digunakan bagian rimpangnya sebagai bahan pestisida botani. Cara pengolahan bahan pestisida di antaanya dengan ditumbuk. Sementara cara penggunaannya beraneka ragam, seperti  dicipratkan (diképrétkeun) dengan sapu jerami kering, disemprotkan, serta ditebarkan disawah yang sedang berpadi.

Berbeda dengan pestisida kimia sintesis, penggunaan pestisida nabati umumnya tidak untuk membunuh, tetapi hanya bersifat mengusir hama (repellant) (Reijntjes et al.1992).  Karena itu, penggunaan pestisida botani tidak membunuh aneka ragam binatang yang menjadi musuh alami hama sehingga tidak  mengganggu keseimbangan alam. Keunggulan lain dari penggunaan pestisida botani, antara lain mudah terurai di alam, aman bagi kesehatan manusia dan organisme lainnya di alam, murah, serta banyak tersedia di lingkungan lokal petani (Majunder et al. 2013). Bahan-bahan pestisida alami tersebut misalnya dapat dipungut dari kebun, pekarangan, kebun, dan pekarangan, hanya sedikit saja bahan yang khusus dibeli dari luar  (Gambar 2). 

Gambar 2. Seorang peneliti etnobotani sedang mengamati seorang petani yang sedang mengambil jenis tanaman konéng gedé di kebun untuk bahan pestisida nabati (Foto: Ferli Tiani)
Gambar 2. Seorang peneliti etnobotani sedang mengamati seorang petani yang sedang mengambil jenis tanaman konéng gedé di kebun untuk bahan pestisida nabati (Foto: Ferli Tiani)

Pandangan Penduduk dan Pandangan Ilmiah

Berdasarkan pandangan penduduk perdesaan (pandangan emik) dari 18 jenis tumbuhan bahan pestisida botani memiliki berbagai karkteristik khusus. Misalnya, memiliki rasa bau atau bau menyengat (pahang), rasa pahit, rasa pedas, dan rasa asam pedas. Contohnya jengkol, kahitutan, konéng gedé, laja/lengkuas, dan panglay (Zingiber spp) dikategorikan oleh penduduk sebagai tumbuhan beraroma bau ataupun bau menyengat. Tumbuhan lainnya, seperti batrawali dianggap memiliki rasa pahit, cabe rawit memiliki rasa pedas, serta comrang memiliki rasa asam dan pedas. Mengingat sifat-sifat tumbuhan bahan pestisida tersebut memiliki aroma bau atau bau menyengat, rasa pedas, asam pedas, dan pahit, sehingga memiliki pengaruh penting untuk mengusir (repellant) anekaragam hama padi sawah.

Pandangan masyarakat (emic view) perdesaan cukup sejalan dengan pandangan ilmiah Barat (etic view). Pasalnya, meskipun aneka ragam jenis tumbuhan memiliki berbagai metabolit primer (karbohidrat, protein, lemak dan asam nuklet) strukturnya relatif seragam dan terdapat hampir pada semua tumbuhan. Namun, untuk berbagai metabolit sekunder yang dapat menimbulkan karakteristik khusus berupa bau, warna, dan rasa, dan kandungan bahan obat, hanya dimiliki oleh jenis-jenis tumbuhan tertentu saja. Berbagai kandungan metaboloit sekunder tumbuhan, seperti berbagai alkaloid dengan memiliki rasa pahit, kerap mengandung racun dan dapat berperan penting untuk bahan obat ataupun untuk mengusir hama pertanian (Martin, 1995).

Pada umumnya beberapa pestisida botani yang memiliki rasa pahit yang umum dimanfaatkan penduduk perdesaan ternyata memang terbukti berdasarkan kajian ilmiah. Tumbuhan tersebut mengandung bioaktif seperti alkaloid dan flavonoid yang bersifat antibakteri, antifungal (jamur), dan antiprotozoa. Selain itu, berbagai tumbuhan bahan pestisida botani lainnya, seperti gadung, picung, dan tembakau, yang menurut penduduk perdesaan mengandung racun dan dapat membasmi hama padi sawah, ternyata secara ilmiah terbukti juga mengandung metabolit sekunder bersifat racun, seperti alkaloid, nocardine, racun asam hydrocyanic, asam hydrocyanic, dan racun nikotin.

Mengingat pengetahuan ekologi tradisional penduduk biasanya berkelindan dengan tradisi seperti kepercayaan, tak heran ada berbagai jenis tumbuhan pestisida memiliki fungsi simbolik. Misalnya, hanjuang yang memiliki dua warna yakni hijau dan merah, telah dikenal luas di masyarakat Sunda untuk digunakan dalam upacara adat dan bahan obat tradisional. Simbolik dua warna hijau dan merah pada hanjuang, berfungsi untuk menjaga keseimbangan lahir dan batin untuk keselamatan kehidupan manusia (Soeganda, 1982).

Mengingat Indonesia memiliki keberagaman praktik budaya, linguistik, dan biodiversitas yang membentuk sistem biokultural, maka studi etnobotani–mengkaji interaksi penduduk lokal dalam pemanfaatan tumbuhan, seperti untuk pestisida alami–bisa dijadikan fondasi mendukung kedaulatan para petani dalam mengelola hama padi sawah mereka. Dengan studi etnobotani, di antaranya kita bisa memahami kegunaan berbagai tumbuhan untuk biopestisida atau pestisida botani yang secara empiris telah teruji lama sekali dan diwariskan antara generasi oleh para petani. Seyogianya berbagai pengetahuan ekologi tradisional penduduk tersebut, daripada diabaikan atau bahkan dimusnahkan, sesungguhnya dapat dimanfaatkan guna dipadukan dengan pengetahuan ilmiah Barat untuk digunakan bagi program pembangunan pertanian yang berkelanjutan yang pro-lingkungan, menguntungkan penduduk, dan adaptif terhadap berbagai perubahan lingkungan, sosial ekonomi, dan budaya masyarakat.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Tanggapanmu

0

Ruang berdialog yang santun, bebas dari ujaran kebencian dan fitnah. Komentar dimoderasi redaksi sebelum ditayangkan.

Tuliskan Tanggapan Anda

Belum ada tanggapan pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Baca juga

Nawala

Satu surel untukmu setiap pekan, merangkum cerita-cerita dari pinggir.