• Narasi
  • Kalender Tradisional dan Adaptasi Sistem Huma Orang Baduy Menghadapi Perubahan Iklim

Kalender Tradisional dan Adaptasi Sistem Huma Orang Baduy Menghadapi Perubahan Iklim

Kolényér, sistem pananggalan Baduy, masih kokoh dipertahankan untuk berladang (ngahuma) dengan menerapkan sistem agroforestri tradisional.

Johan Iskandar

Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)

Penduduk Baduy Luar sedang tanam padi di ladang (ngaseuk paré di huma), berdasarkan kalender tradisional Baduy tanam padi untuk huma masyarakat Baduy harus dilakukan pada bulan Kasalapan (September-Oktober). (Foto: Johan Iskandar)

24 Agustus 2026


BandungBergerak – Sejatinya masyarakat perdesaan di masa lalu memiliki kalender tradisional yang dinamakan pranata mangsa (Jawa) atau kalamangsa, perhétangan (Sunda) atau kolényér, serta pananggalan (Baduy). Pranata mangsa berasal dari kata pranata (aturan) dan mangsa (musim). Sistem ini digunakan oleh petani dan nelayan sebagai pedoman untuk menentukan waktu bercocok tanam, melaut, serta membaca tanda-tanda alam. Pranata mangsa pada dasarnya merupakan pembagian waktu satu tahun menjadi 12 masa atau mangsa. Masa yang dimaksud dalam pranata mangsa tidak sama dengan kalender Masehi. Jumlah hari pada pranata mangsa berbeda dengan jumlah hari dalam pada kalender Masehi.

Pranata mangsa pada dasarnya merupakan salah satu kearifan lokal atau kearifan ekologi para petani perdesaan di masa lalu dalam menyikapi cuaca terkait dengan kegiatan pertanian, berdasarkan ilmu titen dari fenologi alam yang terjadi selama ratusan tahun lebih. Kata titen berasal dari bahasa Jawa yang berarti teliti, hafal, atau peka dalam mengamati tanda-tanda atau pertanda di alam. Dewasa ini, pengetahuan lokal atau pengetahuan ekologi tradisional penduduk perdesaan tentang pranata mangsa dan kalamangsa telah mengalami erosi dan jarang sekali dimanfaatkan lagi oleh penduduk perdesaan, bahkan telah punah secara lokal di berbagai wilayah perdesaan Pulau Jawa. Sementara itu, dewasa ini perubahan cuaca dan iklim kian tak menentu pengaruh dari pemanasan global .

Hal yang menarik, walaupun pranata mangsa dan kalamangsa telah luntur bahkan punah di berbagai wilayah perdesaan. Tetapi, sistem kolényér atau pananggalan Baduy masih kokoh dipertahankan oleh masyarakat Baduy, yang bermukim di Desa Kanekes, Kecamatan Lewidamar, Banten Selatan.

Baca Juga: Mitigasi Bencana dengan Kearifan Ekologi Lokal Tatar Sunda
Memanfaatkan Ragam Pangan dan Kuliner Tradisional dari Umbi-umbian Menghadapi Krisis Iklim
Pelestarian Hutan Keramat oleh Komunitas Lokal Melindungi Keanekaragam Hayati Perdesaan

Kalender Baduy dan Kegiatan Ngahuma

Masyarakat Baduy atau biasa disebut juga sebagai masyarakat Kanekes, adalah masyarakat tradisional yang bermukim di desa hutan Gunung Kendeng, Banten Selatan. Mereka memiliki mata pencaharian utamanya bertani gilir balik atau berladang (ngahuma) dengan menerapkan sistem agroforestri tradisional dan sistem organik farming. Karena mereka dalam ngahuma, pantang menggunakan benih padi modern hasil rekayasa genetik, pantang menggunakan pupuk anorganik, dan tabu menggunakan racun hama atau pestisida sintesis hasil pabrikan. Praktik lokal atau praktik tradisional, namun menggunakan paradigma sistem pertanian modern pasca Revolusi Hujau, yang biasa dikenal dengan sebutan LEISA (Low-External Input-Input and Sustainable Agriculture) (Reijntjes et al, 1992). 

Masyarakat Kanekes atau masyarakat Baduy dalam mengerjakan tiap tahapan ngahuma, seperti menebang habis semak belukar (nyacar), nebang pilih pepohonan (nuar), membakar pertama sisa tebang (ngahuru), membakar  ulang sisa-sisa tebangan (ngaduruk), tanam padi (ngaseuk), menyiangi pertama dan mengobati tanaman padi (ngoréd munggaran), menyingai padi ulangan atau kedua kalinya (ngoréd ngarambas), dan panen padi (dibuat) waktunya senantiasa berpedoman pada kalender/pananggalan Baduy.   Selain itu, sisem pananggalan tersebut biasa pula digunakan untuk pedoman menentukan waktu-waktu pelaksanaan berbagai upacara tradisional di masyarakat Baduy, seperti upacara sunatan anak, upacara kawinan, dan upacara seba, biasanya terintegrasi dengan kegiatan ngahuma (Iskandar, 2012).  

Pada sistem pananggalan atau kalender Baduy hampir sama dengan sistem pranata mangsa di masyarakat Jawa, yaitu waktu satu tahun dibagi dalam 12 bulan atau mangsa. Namun, nama-nama bulan atau mangsa tiap bulannya agak berbeda dengan nama-nama mangsa pada pranata mangsa. Selain itu, jumlah harinya tiap bulan/mangsa di pananggalan Baduy senantiasa tetap sama 30 hari. Pranata mangsa pada masyarakat Jawa, bulan pertama biasanya disebut Mangsa Kasa, yang biasa bertepatan dengan 22 Juni-1 Agustus. Sementara itu, pada pananggalan masyarakat Baduy awal tahun (tunggul tahun), biasa dinamakan sebagai bulan Sapar. Tunggul tahun tersebut biasanya bertepatan dengan April-Mei dalam bulan Masehi. Tetapi, tidak selalu karena dapat berubah-rubah disesuaikan dengan kondisi iklim dan cuaca pada tahun tersebut. Bulan 12 di pranata mangsa di masyarakat Jawa biasanya disebut Mangsa Sada, yang biasanya bertepatan dengan bulan 12 Mei-21 Juni. Namun, di pananggalan Baduy, bulan 12 biasa dinamakan sebagai Katiga, biasanya bertepatan dengan Maret-April, walau tidak selalu, karena dapat diubah-ubah dalam penetapan awal tahun barunya. Awal tahun baru pada pananggalan Baduy biasanya ditetapkan berdasarkan perhitungan para pemimpin adat, serta disesuaikan  dengan kondisi iklim dan cuaca pada saat itu.

Maka, secara lengkap nama-nama mangsa/bulan pada pananggalan Baduy dibandingkan dengan pranata mangsa masyarakat Jawa yakni: Safar (Kasa), Kalima (Karo), Kanem (Katelu), Kapitu (Kapat), Kadalapan (Kalima), Kasalapan (Kanem), Kasapuluh (Kapitu), Hapit Lemah (Kawolu), Hapit Kayu (Kasanga), Kasa (Kasapuluh), Karo (Dhesta), dan Katiga (Sada).

Pedoman utama yang digunakan untuk penyusunan pananggalan Baduy, selain  berdasarkan hasil perhitungan para pemimpin adat, juga berdasarkan hasil pengamatan (niténan) penampakan posisi binatang di langit di waktu fajar. Salah satu bintang (béntang) yang utama dijadikan pedoman dalam penyusunan pananggalan Baduy adalah bintang (béntang) kidang. Rasi binatang tersebut secara ilmiah disebut the belt of Orion. Oleh karena itu, tidaklah heran bahwa berbagai posisi penampakan béntang kidang di langit telah menjadi ungkapan populer di masyarakat Baduy. Misalnya, dikenal berbagai ungkapan sebagai berikut:

Tanggal kidang turun kujang

Dapat diartikan secara bebas bahwa apabila bintang kidang sudah mulai kelihatan  di ufuk timur waktu fajar, maka untuk persiapan ngahuma saat itu waktunya yang cocok menebas semak-semak belukar (nyacar), dengan kujang (parang khusus) di Baduy Dalam. Biasanya sedang musim kemarau.

Kidang ngarangsang kudu ngahuru

Kalau posisi bintang kidang terlihat di waktu fajar di upuk timur, seperti matahari ngarangsang di pagi hari (kira-kira 10.30), maka harus membakar pertama (ngahuru) sisa-sisa tebangan semak-semak belukar yang telah kering oleh terik panas matahari.

Kidang nyuhun ka hulu atawa condong ka barat kudu ngaseuk

Apabila bintang kidang terlihat di waktu fajar pada posisi di atas kepala (nyuhun ka hulu) atau sudah miring  ke barat (condong ka barat), maka saatnya untuk tanam padi di ladang (ngaseuk).  Pada saat itu, biasanya akhir musim kemarau.

Kidang marem turun kungkang

Apabila bintang kidang sudah tidak menampakan  lagi di langit di wakatu fajar, karena sudah hilang (marem) di upuk barat. Maka, penduduk tidak diperkenankan lagi untuk tanam padi (ngaseuk), karena saat itu dianggap bakal banyak hama serangga walang sangit (kungkang).

Di masyarakat Baduy dikenal ada 3 jenis ladang (huma) yakni pertama, huma sakral (huma sérang) di Kampung Cibeo, Cikartawarna, dan Cikeusik di Baduy Dalam. Kedua, huma puuun (pimpinan tertinggi adat Baduy) di Cibeo, Cikartawarna, dan Cikeusik. Ketiga, huma tiap keluarga masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar. Waktu pengerjaan tiap tahapan ngahuma senantiasa berurutan yakni di awali dengan pengerjaan huma sérang, dilanjutkan dengan huma puun, dan terakhir pengerjaan huma masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar.  

Penetapan tahun baru pada sistem panggalan Baduy senantiasa berdasarkan pada waktu panen padi huma serang. Konsekuensinya, kalau panen huma serang mundur, misalnya karena ada bencana kekeringan, maka awal tahun baru (tunggul taun) pada sistem panganggalan ditetapkan menjadi mundur waktunya. Namun, dalam perjalanan waktu, pada setiap bulannya, awal bulannya dalam sistem pananggalan biasanya dilakukan penyesuaian lagi, sesuai dengan kondisi iklim dan cuaca. Jumlah hari pada setiap bulannya pada sistem pananggalan Baduy, harus tetap 30 hari. Konsekuensinya, pada penetapan tahun baru ada penyelarasan waktu (ngawagékeun). Misalnya, penetapan tahun baru, ada jumlah hari tertentu yang tidak dihitung pada jumlah hari pada tahun sebelumnya atau tahun berikutnya. Biasanya waktu ngawagékeun ditentukan menjelang akhir tahun. Pada dasarnya waktu ngawagékeun berpedoman utamanya pada jumlah total hari dalam setahun yakni hanya 360 hari, serta tiap bulannya jumlah harinya harus sama terdiri dari 30 hari. Jumlah hari tersebut sungguh berebeda dengan jumlah hari pada kalender masehi yakni  365 hari pada tahun biasa dan 366 hari pada tahun kabisat. Bulan Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember terdiri dari 31 hari. Sementara itu, April, Juni, September dan November terdiri dari 30 hari.

Berdasarkan sistem pananggalan Baduy, pada saat posisi bintang kidang mulai terlihat penapakannya di ufuk timur di waktu fajar, biasanya bertepatan dengan bulan Safar yaitu April-Mei, walaupun bisa berubah. Hal tersebut  terutama kalau ada kejadian masa panen padi di huma serang mengalami perubahan. Pasalnya, awal taun baru pada sistem pananggalan Baduy utamanya waktunya  ditetapkan oleh usainya dan keberhasilan panen padi huma serang. Karena padi ladang  (paré huma) hasil panen huma serang, senantasia digunakan untuk upacara kawalu pertama di Baduy Dalam. Maka, apabila belum ada hasil padi huma serang, belum/tidak bisa dilakukan upacara kawalu pertama, bulan Kasa (Januari-Fenruari). Sementara itu, pada bulan berikutnya, bulan Karo (Februari-Maret) dilakukan upacara kawalu kedua, setelah panen huma puun. Lantas, pada bulan berikutnya lagi, bulan Katiga (Maret-April) dilakukan upacara kawalu ketiga/kawalu tutug, setelah panen padi semua huma masyarakat Baduy.

Berdasarkan pananggalan Baduy, apabila béntang kidang sudah kelihatan di ufuk timur waktu fajar, biasanya bertepatan dengan bulan Sapar, kegiatan berladang waktunya untuk memulai menebang semak-semak belukar (nyacar) di hutan sekunder tua (reuma kolot). Pada bulan Sapar tersebut, biasanya usai panen padi seluruh ladang masyarakat Baduy. Upacara yang biasa dilakukan pada bulan Sapar adalah upacara séba ke kabupaten di Rangkasbitung dan Provinsi Banten di Serang. Pada bulan kapitu (Juli-Agustus), biasanya béntang kidang nyuhun di hulu atawa condong ka barat, waktunya tanam padi (ngaseuk) di huma sakral Baduy Dalam (huma sérang), membakar pertama semak-semak belukar (ngaduruk) di huma puun, dan di huma masyarakat umum baru nyacar, urutan pengerjaannya paling belakang, setelah waktu pengerjaan huma serang dan huma puun.

Sementara itu, panen padi huma sérang biasanya pada bulan Kasa (Januari-Februari), pada saat itu huma puun dan huma masyarakat musim padi, tapi belum siap panen. Pada bulan tersebut, biasa dilakukan upacara kawalu kahiji (puasa orang Baduy). Pada bulan berikutnya, Karo (Februari-Maret) panen huma puun, namun pada huma masyarakat masih belum panen. Upacara pada bulan tersebut, biasa dilakukan upacara kawalu tengah (puasa ke dua kali orang Baduy). Sementara itu, akhir tahun kalender Baduy, bulan Karo (Februari-Maret), panen huma di seluruh masyarakat Baduy. Pada bulan tersebut biasa dilakukan upacara kawalu ketiga atau kawalu terakhir (kawalu tutug) di Baduy Dalam, serta dilakukan upacara ngalaksa di Baduy Luar. Lantas, pada bulan berikutnya menetapkan tahun baru  (tunggul tahun), yaitu bulan Sapar. Pada umumnya, awal tahun pada setiap tahunnya dapat bergeser disesuaikan dengan masa panen huma serang, misalnya akibat ada bencana kekeringan dan lainnya, serta selalu berpedoman pada penampakan posisi bentang kidang di langir. Selain itu, penentuan tahun baru pada sistem pananggalan Baduy tersebut dikombinasikan pula dari hasil perhitungan-perhitungan tradisional oleh para pimpinan adat masyarakat Baduy.

Ditilik dari sistem kalender (panangalan) Baduy, dapat disimak bahwa kalender tersebut disusun dengan mengadaptasikan pada dinamika kondisi iklim dan cuaca pada setiap tahunnya. Dengan kata lain, bahwa terdapat keterikatan sangat kuat antara kondisi dinamika iklim dan cuaca, dengan waktu tiap tahapan kegiatan  berladang (ngahuma), serta waktu pelaksanaan berbagai upacara adat. Imbasnya positifnya, dengan adanya kalender tradisional tersebut membuat kuatnya ikatan modal sosial masyarakat Baduy. Misalnya, dengan adanya kalender tradisional, mereka tanaman padi dan panen padi dengan waktu serempak bersamaan, dan biasa bergotong royong bertukar tenaga kerja di antara keluarga. Sementara itu, pada setiap upacara, penduduk dapat berkumpul bersama, dapat memperkuat ikatan sosial mereka. Selain itu, dengan adanya kalender tradisional, bisa  menciptakan panen padi huma serempak, serta dapat membuat masa jeda cukup lama, sebelum tanam padi lagi pada musim berikutnya. Hal tersebut dapat berperan penting untuk dapat  memotong daur hidup hama padi, seperti serangga hama, termasuk kungkang dan wereng, yang kehilangan makannya usai panen padi penduduk secara serempak. Dengan kata lain, bahwa sistem kalender tradisional dapat berperan bagi masyarakat Baduy untuk  melakukan pengelolaan tani ladang (ngahuma) yang adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca, serta dapat menanggulangi hama secara alami. Pengetahuan ekologi tradisional (kognitif atau corpus) dan praktik (praxis) ngahuma, yang berkelindan dengan tradisi, seperti kepercayaan (kosmos/belief), merupakan kearifan ekologi masyarakat Baduy dalam berinteraksi secara timbal balik dengan lingkungannya secara berkelanjutan.

Aneka ragam tanaman padi dan  non-padi ditanam di huma, menciptakan sistem ketahan terhadap gangguan/perubahan lingkungan, seperti kekeringan dan serangan hama (kiri),  padi hasil panen padi biasa disimpan di lumbung padi (leuit) (kanan) dengan tahan bertahun-tahun, sehingga dapat menjaga ketahanan pangan penduduk. (Foto: Johan Iskandar)
Aneka ragam tanaman padi dan non-padi ditanam di huma, menciptakan sistem ketahan terhadap gangguan/perubahan lingkungan, seperti kekeringan dan serangan hama (kiri), padi hasil panen padi biasa disimpan di lumbung padi (leuit) (kanan) dengan tahan bertahun-tahun, sehingga dapat menjaga ketahanan pangan penduduk. (Foto: Johan Iskandar)

Lumut di Hutan Tua dan Indikator Kekeringan    

Tumbuhan lumut bagi sebagian penduduk  perdesaan mungkin sudah tidak asing lagi. Lumut dalam bahasa Sunda biasa dikenal dengan sebutan lukut. Sementara itu, dalam bahasa Inggris, lumut biasa disebut moss. Lumut termasuk pada golongan tumbuhan tingkat rendah. Tumbuhan tersebut secara umum memiliki warna hijau. Pasalnya, lumut memiliki sel-sel dengan plastida yang mengkhasilkan klorofil.

Lumut biasa hidupnya menyenangi daerah lembap berair karena tumbuhan tersebut belum mempunyai jaringan pengangkut. Konsekuensinya, air masuk ke tubuh lumut secara imbibisi yakni proses penyerapan atau penyusupan air ke dalam zat padat atau pori-pori suatu benda, seperti dinding sel.  Setelah itu kemudian air didistribusikan ke bagian-bagian tumbuhan, baik secara difusi, dengan daya kapilaris, maupun aliran sitoplasma. Oleh karena itu, tidaklah heran lumut sering ditemukan di alam atau di ekosistem di berbagai tempat pada daerah-daerah lembap, seperti di batu-batu, tembok, kayu, dan lain-lain.

Peranan dan fungsi lumut di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat perdesaan seperti kurang tampak nyata. Namun, suatu hal unik menarik bahwa lumut pada masyarakat tradisional Baduy, di antaranya dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya musim kekeringan, serta dapat menjadi pencegahan risiko bencana kekeringan, untuk melakukan mitigasi dan adaptasi, serta peringatan dini kemungkinan bakal terjadi bencana kekeringan dan imbasnya terhadap sistem huma penduduk. Lumut yang biasa dijadikan indikator tersebut adalah lumut yang tumbuh di hutan tua atau hutan primer, berupa hutan larangan, yang dikeramatkan dan dikonservasi oleh penduduk Baduy. Misalnya,  hutan larangan atau hutan keramat Sasaka Pusaka Domas atau Pada Ageung. Lokasinya berada di kawasan hulu Sungai Ciujung, di kawasan selatan Kampung Cikeusik, Baduy Dalam.

Berdasarkan persepsi Orang Kandekes, Sasaka Pusaka Domas atau Pada Ageung, dianggap lokasi sebagai pertama kali dunia diciptakan atau pusat dunia (pancer dunia). Lokasinya terletak di Bukit Pamuntuan pada kawasan hutan lebat di kawasan hulu sungai utama di Desa Kanekes, hulu Sungai Ciujung, di Pegunungan Kendeng. Air sungai tersebut mengalir melintasi kawasan kampung-kampung Baduy Dalam dan Baduy Luar, serta terus ke hilirnya melintasi wilayah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang, selanjutnya bemuara di perairan Laut Jawa, Banten Utara.

Sasaka Pusaka Domas merupakan kawasan hutan sakral tempat ziarah pimpinan adat Baduy (puun) Cikeusik dan rombongannya setiap tahun usai panen padi huma, pada bulan Kalima (Mei-Juni). Sasaka Pusaka Domas memiliki 7 buah undakan (teras) seperti petakan-petakan sawah. Dinding tiap undakan diberi benteng dari batu sungai. Daerah hutan sakral tersebut tidak sembarangan dapat dikunjungi oleh setiap orang, termasuk oleh pimpinan tertinggi masyarakat Baduy (puun). Terutama kalau bukan waktunya untuk ziarah berdasarkan kalender tradisional Baduy. Oleh karena itu, kawasan hutan sakal tersebut hanya dapat dikunjungi setahun sekali oleh Puun Cikeusik dan rombongannya.

Pada setiap tahun, pada bulan Kalima (Mei-Juni), Puun Cikeusik bisa melaksanakan ziarah ke Sasaka Pusaka Domas. Rombongan peserta ziarah biasanya sekitar 80-90 oang, terdiri dari penduduk Cikeusik Baduy Dalam dan penduduk Baduy Luar yang telah mendapat izin dari puun untuk turut serta ziarah. Berdasarkan aturan adat (pikukuh) Baduy, selain orang Baduy tidak diperkenalkan ikut serta. Ziarah tersebut dilakukan selama 3 hari yakni tanggal 16, 17, dan 18 pada bulan Kalima,  seusai panen padi ladang (huma). Selama dua hari bisanya digunakan rombongan untuk melakukan perjalanan yaitu untuk pergi dan pulang dari tempat ziarah. Sebelum pergi ziarah, setiap orang yang ingin turut serta harus mandi dahulu untuk membersihkan badan (beberesih awak), mengenakan pakaian bersih dan berpuasa. Selama tinggal di hutan sakral, setiap orang dilarang untuk mencemari lingkungan atau ekosistem hutan. Misalnya, mereka tidak diperkenankan meludah, buang air kecil dan air besar.

Para peserta ziarah, ketika mereka tiba di daerah sakral Sasaka Pusaka Domas. Mereka biasa menginap sementara di talahab yang disiapkan oleh pembantu puun (palawari) dibantu oleh peserta lainnya. Talahab adalah sebangsa dangau. Atapnya dibuat dari belahan-belahan bambu yang disusun disatukan satu sama lainnya (Gambar 1).

Gambar 1. Gambaran umum lingkungan di kawasan  Sasaka Pusaka Domas, talahab dibuat dari bambu (x) dan hutan bambu (xx). (Foto Sumber: Van Trich, 1928)
Gambar 1. Gambaran umum lingkungan di kawasan Sasaka Pusaka Domas, talahab dibuat dari bambu (x) dan hutan bambu (xx). (Foto Sumber: Van Trich, 1928)

Sementara itu, alasnya menggunakan daun ngéngé. Daun tersebut menyerupai daun pinang réndé, daunnya halus dan dingin. Kegiatan utama para peziarah selama berada di hutan tempat ziarah melakukan doa-doa. Selain itu, sebagian peserta lainnya  membersihkan sekitar 20 tumpukan batu. Mereka tidak diperkenankan bicara satu sama lainnya. Upacara ziarah dimulai ketika mereka tiba pada tingkat satu dan tingkat tujuh teras tempat utama untuk ziarah. Petak-petak tersebut menyerupai petak-petak sawah. Namun, beberapa teraseringnya telah rusak akibat longsor dan ditumbuhi oleh tumbuhan patat dan pacar hutan, termasuk tumbuhan lumut. Batu-batu di puncak Sasaka Pusaka Domas umumnya dipenuhi oleh tumbuhan lumut atau biasa disebut komala (permata). Menurut penduduk Kanekes, dikenal ada macam-macam komala, seperti komala kotok, komala kucing, dan komala jelema.

Makanan yang disediakan selama ziarah hanya luluy dan garam. Luluy dibuat dari beras ladang (béas huma) dibungkus oleh daun patat (Phyrinium pubinerve Blume). Lalu dimasukkan pada ruas bambu dan diisi oleh air. Ruas bambu selanjutnya dibakar (dileumeung) di atas bara api hingga gosong (tutung). Isinya dikeluarkan dan siap disajikan. Satu liter beras huma biasanya dapat dibuat 20 bungkus luluy. Maka, selama 3 hari setiap orang yang ikut ziarah hanya mengonsumsi luluy. Selain itu, luluy juga dibuat sebanyak mungkin guna dibagikan bagi para penduduk Baduy yang tidak ikut ziarah, yang pada menunggu di Kampung Cikeusik. Mengingat telah menjadi kebiasaan bahwa sekembalinya rombongan ziarah tiba di Kampung Cikeusik, banyak penduduk yang menanti untuk mendapatkan luluy. Mereka dengan mendapatkan luluy mengharapkan akan dapat berkah dari kekuatan spiritual puun serta dari para leluhur Baduy. Bukan hanya itu, oleh-oleh lainnya adalah macam-macam lumut yang juga sama dianggap memiliki kekuatan spiritual.

Pada setiap tingkatan terasering Sasaka Pusaka Domas ditemukan tumpukan-tumpukan batu menyerupai kuburan. Di tingkat 7 terdapat batu berisi air yang disebut Sanghyang Pangumbahan (pangubahan = air tempat mencuci). Upacara ziarah berakhir ketika rombongan sampai pada tingkat ke 7. Di tempat tersebut, setiap peserta ziarah mencuci muka, kaki, dan tangan dari air pangumbahan. Mereka percaya bahwa air di tempat tersebut senantiasa tidak akan kering. Oleh karena itu, apabila di tempat tersebut dapat disaksikan airnya berlimpah/penuh dan jernih. Hal tersebut dapat dijadikan indikator atau pertanda bahwa pada musim tersebut akan baik dan panen padi huma akan berhasil. Sebaliknya, jika air di Sanghyang Pangumbahan diamati berkurang atau surut (saat) dan keruh (kiruh), dapat diindikasikan bahwa tahun tersebut musim keringnya akan sangat  kering, curah hujannya bakal kurang, dan diprediksi bakal ada bencana kekeringan, serta panen padi akan terganggu. Selain itu, faktor lingkungan lainnya yang biasa dijadikan indikator tentang kondisi musim adalah kondisi tumbuhan lumut. Misalnya, apa bila dapat disaksikan kondisi tumbuhan lumut atau komala yang tumbuh di batu-batu tujuh tingkatan terasering kondisinya baik, terlihat menghijau. Hal tersebut dapat diprakirakan bahwa tahun tersebut musim kemaraunya, tidak akan mengalami musim kemarau sangat kering, seta hasil panen padi diprakirakan akan baik. Namun, sebaliknya bila batu-batu dari ke tujuh tingkatan tidak/kurang banyak ditutupi oleh lumut-lumut segar menghijau, atau biasa disebut sebagai batara sataranjang (bertelanjang). Hal tersebut dapat dijadikan indikator atau pertanda bahwa tahun tersebut musim kemaraunya akan sangat kering, dan hasil panen padi huma diprediksi bakal kurang baik.

Gambar 2. Tidak kurang dari 89 macam (landraces) padi lokal huma, seperti (A) paré bentik, (B) paré kembang kalapa, (C) paré nangsi, (D) paré rumbay, (E) paré seungkeu, (F) paré tunggul, (G) paré ketan limar, (H) paré  ketan bodas yang masih bisa dikonservasi secara in-situ oleh penduduk Baduy. (Foto: Sandi Ruswanda)
Gambar 2. Tidak kurang dari 89 macam (landraces) padi lokal huma, seperti (A) paré bentik, (B) paré kembang kalapa, (C) paré nangsi, (D) paré rumbay, (E) paré seungkeu, (F) paré tunggul, (G) paré ketan limar, (H) paré ketan bodas yang masih bisa dikonservasi secara in-situ oleh penduduk Baduy. (Foto: Sandi Ruswanda)

Ditilik dari kisah di atas dapat diinterpretasikan bahwa secara ekologi, adanya kondisi kelembapan hutan primer (hutan tua-leuweung klot) dan kondisi lumut yang ada di hutan keramat dapat dijadikan indikator bakal terjadi risiko bencana musim kekeringan. Hal tersebut secara rasional dapat dimengerti, mengingat pertumbuhan lumut sangat sensitif terhadap kondisi musim yang sangat kering. Selain itu, kondisi hutan keramat di Sasaka Pusaka Domas di hulu S. Ciujung di kawasan Gunung Kendeng yang masih relatif asli jarang mendapat pengaruh aktivitas manusia. Oleh karena itu, kondisi hutan asli yang lebat biasanya sangat sensitif terhadap perubahan musim, terutama terhadap bencana kekeringan. Tidak diragukan lagi, bahwa dengan tindakan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, seperti perubahan musim, penduduk tradisional Baduy dapat melindungi aneka ragam hayati dan lingkungannya. Misalnya, berdasarkan hasil studi etnobotani, telah dapat didokumentasikan tak kurang dari 89 varietas (landarces)  padi lokal huma di kawasan Baduy (Iskandar dan Ellen, 1999). Semua ragam padi huma tersebut memiliki nama-nama khas, sesuai dengan karakterisik setiap ragam padi tersebut (Gambar 2). Selain itu, dengan adanya tradisi praktik ngahuma dengan sistem agroforestri, yakni memelihara aneka ragam tanaman semusim dan tanaman keras secara bercampur baur, dapat berperan penting untuk adaptasi terhadap kegagalan panen padi akibat berbagai gangguan, seperti hama dan bencana kekeringan (Gambar 3). Tidak hanya itu,  adanya kebiasaan  penduduk Baduy menyimpan padi di lumbung padi (leuit paré), serta padi huma pantang (teu wasa) diperdagangkan, namun memperbolehkan memperjualbelikan berbagai produksi non-padi, seperti pisang, petai, rinu, durian dan lainnya, menyebabkan penduduk Baduy memiliki ketahanan pangan yang sangat luar biasa, dalam kondisi perubahan lingkungan, seperti perubahan iklim yang kian tak menentu.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//