• Berita
  • Aksi Turun ke Jalan Yogyakarta: Di Masa Ini, Kita Hanya Punya Satu Sama Lain

Aksi Turun ke Jalan Yogyakarta: Di Masa Ini, Kita Hanya Punya Satu Sama Lain

Warga Yogyakarta datang dengan cara sederhana: memborong cilok, menyumbangkan makanan, dan memastikan aksi mahasiswa tidak berjuang sendirian.

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Penulis Virliya Putricantika21 Oktober 2026


BandungBergerak - “Temen-temen! Ini ciloknya boleh diambil ya, sudah dibayar, ayo-ayo!” seru perempuan yang mengenakan bucket hijau pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang sedang berteduh, Selasa sore, 20 Oktober 2026.

Ratusan mahasiswa itu masih bertahan sekuat tenaga di bawah terik matahari sejak pukul 12 siang. Kedatangan mahasiswa UMY di Titik 0 KM Yogyakarta sudah diperkirakan oleh ratusan polisi yang sudah berjaga sejak pukul 9 pagi itu. Namun, kedatangan mereka yang mengenakan almamater merah marun membuat polisi kewalahan mengatur lalu lintas. Situasi itu terjadi saat para mahasiswa hendak memarkirkan sepeda motor di samping gedung Kantor Pos, yang berada di persimpangan pusat aksi.

Setelah menyimpan motor, ratusan mahasiswa itu melakukan longmars menuju DPRD DIY untuk bergabung bersama mahasiswa UII. Perjalanan mereka diikuti sekitar enam tim medis. Hal itu menjadi masuk akal karena mereka memilih berjalan saat matahari sedang tepat berada di atas kepala.

“Kita akan longmars dulu, mungkin akan bergabung di DPRD, tapi titik kumpulnya tetap akan di sini (Titik 0 KM),” imbuh seorang mahasiswa laki-laki saat dimintai keterangan.

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Mobil Komando Pembawa Orator

Di perjalan beberapa mahasiswa bergantian memimpin massa aksi. Ada yang membahas terkait bencana yang tengah dialami masyarakat Indonesia dan ada pula yang memimpin yel-yel.

“Prabowo-Gibran boneka Amerika!” seru orator yang berdiri di mobil komando yang dilengkapi sound system memadai meskipun tidak selengkap sound horeg.

Mereka berbaris di dalam tali rafia berwarna hitam. Dua mahasiswa paling belakang bertanggung jawab mengurus tali yang tercecer. Tapi tentu ada juga mahasiswa yang berada di luar area itu, mereka adalah pemburu pengganjal perut agar aksi bisa berjalan sampai sore hari.

Di Jalan Malioboro, selepas mahasiswa UMY bergabung dengan mahasiswa UII, mereka berjalan di belakang mobil komando. Sementara itu, ada pula beberapa mahasiswa yang berjalan di depan mobil untuk memegang bendera organisasi kampus. Mereka yang tidak membawa payung untuk melindungi kepala dari sengat matahari memanfaatkan jas merah marun sebagai gantinya.

“Dua tahun ini yang terlihat hanya mata yang semakin lelah,” teriak satu orator perempuan dari mobil komando.

Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran: Mahasiswa Bandung Soroti Ekonomi, Pendidikan, dan Karhutla

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Dari Warga untuk Mahasiswa

Cilok yang diumumkan bisa diambil secara cuma-cuma itu perlahan mulai diserbu mahasiswa yang sudah menempati titik kumpul. Tapi ternyata tidak hanya satu gerobak yang disumbang untuk mereka, melainkan tiga gerobak makanan dan satu gerobak minuman. Sana, perempuan berkerudung kuning, terlihat sibuk menuntaskan pembayaran. Ia adalah salah satu anggota dari Aliansi Petani Lima Gunung (Sumbing, Merbabu, Merapi, Andong dan Sindoro).

“Itu kita kalau setiap ada kegiatan, misalnya seperti demonstrasi yang kita memang tarik untuk ikut berkontribusi, kita biasanya open donasi dan itu jadi dari masyarakat sih nanti,” cerita Iyus, 35 tahun, perwakilan dari Aliansi Petani Lima Gunung saat duduk bersama mahasiswa yang sedang berteduh.

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Aliansi ini baru terbentuk tahun lalu, ketika gelombang aksi Agustus - September 2025. Hari ini mereka membawa 20 karton logistik, di antaranya air mineral dan roti. Lewat aksi hari ini, ada sedikit harapan yang dibawa oleh kawan-kawan aliansi, salah satunya penanganan bencana alam yang terjadi di Kalimantan, NTT dan Aceh yang tidak kunjung teratasi dengan baik.

“Ternyata negara itu bukan enggak punya uang. Kalau cuma mau bikin kayak MBG, bikin KDMP, bisa tuh punya uang banyak,” ujarnya.

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Selain itu menurut Iyus, kita sebagai masyarakat sipil tidak ada salahnya melihat dengan kritis terhadap pengambilan keputusan untuk program prioritas Prabowo-Gibran. Penyelenggara negara dapat memberikan informasi bahwa seporsi makan bergizi gratis (MBG) hanya memakan biaya 10 ribu rupiah. Namun mereka abai terhadap lonjakan nilai sembako yang harus dihadapi masyarakat di pasar. Artinya penyelenggara negara harus memperbaiki kondisi ekonomi negara Indonesia.

Hal yang sama turut dirasakan Ahmad, 40 tahun, pedagang cilok yang isi gerobaknya diborong habis saat berdiam di sekitar titik kumpul. Di hari-hari biasanya meski ia sudah berjualan dari pagi hingga malam tidak sebanding dengan penjualan hari ini.

Warga memborong makanan di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Warga memborong makanan di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

“Kemarin saya keliling dari pagi dapat 70 ribu, tapi memang ekonomi lagi turun juga ya,” jelas pria kelahiran Purworejo itu.

Jadi, jika satu bungkus cilok seharga lima ribu rupiah, artinya hanya ada 14 pembeli di hari itu. Bagi Ahmad, berjualan di dekat aksi seperti ini bukan yang pertama kalinya. Ia pernah beberapa kali sengaja hadir di dekat lokasi aksi. Melihat aksi mahasiswa di jalan mampu mengingatkannya pada memori saat ia tinggal di Jakarta.

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

“Saya mendukung (aksi ini). Kebetulan juga dulu waktu saya sekolah dulu di Jakarta juga sering,” ungkapnya.

Ahmad tidak perlu berkeliling sampai malam untuk hari ini. Pulang lebih cepat menjadi rencananya setelah menemani mahasiswa UMY yang menyuarakan suara rakyat. Adapun tuntutan yang dibawa oleh mereka yakni:

1. Evaluasi total penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta percepatan pemulihan masyarakat terdampak.
2. Moratorium, evaluasi, dan transparansi program strategis nasional, terutama MBG dan KDMP.
3. Regulasi pengadaan, tata kelola, dan transparansi BBM subsidi di setiap daerah.
4. Perbaikan pola komunikasi pemerintah, terutama komunikasi Presiden yang menurut mahasiswa kerap merendahkan rakyat.
5. Restrukturisasi dan perampingan kabinet demi efisiensi birokrasi dan anggaran negara.
6. Penghentian militerisme dalam berbagai bentuk, terutama pelibatan militer di ranah sipil.
7. Penegakan proses peradilan HAM bagi 13 peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu.

Tukang cilok di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Tukang cilok di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Dua Tahun yang Penuh Keluh

Kritik terhadap dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran terhitung semenjak hari pelantikannya terus bergulir. Hari ini, 20 Oktober 2026 yang jatuh di hari Selasa menjadi titik balik dari heningnya jalan semenjak penangkapan yang tak berujung pascaaksi Agustus-September 2025. Letupan aksi terjadi di beberapa kota, mulai dari Bandung, Jakarta, Pontianak, tak ketinggalan Yogyakarta.

Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)
Aksi massa di Yogyakarta dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Selasa sore, 20 Oktober 2026. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Ada banyak poster yang dibagikan di media sosial terkait seruan aksi hari ini. Mahasiswa UII turun gunung dari kampusnya yang berada di Jalan Kaliurang, menggeruduk langsung Gedung DPRD DIY yang berada di Jalan Malioboro. Beberapa sumber menyebutkan ada kurang lebih seribu mahasiswa yang hadir di sana. Bukan sekadar omon-omon, tapi mereka menyampaikan tuntutan langsung dihadapan ketua DPRD DIY, Nuryadi.

Sayangnya, di pukul 10 malam represifitas terjadi pada mahasiswa oleh sekelompok orang yang belum terkonfirmasi dari organisasi mana. Namun, dari video yang tersebar, aparat kepolisian yang ada di lokasi kejadian tidak melakukan upaya untuk melindungi masyarakat sipil.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//