Lompat ke konten utama
Bandung Bergerak

Kelirumologi Jaya Suprana: Mengajak Publik Menguji Kembali Kebenaran

Dalam bedah buku Jaya Suprana Sang Penggagas, Acep W. M. Saidi dan Aendra Medita mengulas pentingnya sikap kritis terhadap informasi.

Asma Aqilah Mahfuzhoh7 November 2026

Bedah buku dan diskusi panel Jaya Suprana Sang Penggagas di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran, Kamis, 5 November 2026. (Foto: Asma Aaqilah Mahfuzhoh/BandungBergerak)
Bedah buku dan diskusi panel Jaya Suprana Sang Penggagas di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran, Kamis, 5 November 2026. (Foto: Asma Aaqilah Mahfuzhoh/BandungBergerak) — Foto ilustrasi purwarupa BandungBergerak.id.

BandungBergerak - Keliruan tidak selalu hadir dalam bentuk kesalahan yang mudah dikenali. Dalam banyak hal, sesuatu yang keliru justru dapat diterima sebagai kebenaran karena terus dipercaya dan diwariskan tanpa dipertanyakan. Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian Jaya Suprana melalui gagasan kelirumologi.

Pemikiran tersebut menjadi salah satu bahasan dalam bedah buku dan diskusi panel Jaya Suprana Sang Penggagas di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran, Kamis, 5 November 2026. Diskusi menghadirkan Pakar Semiotika Institut Teknologi Bandung (ITB), Acep W. M. Saidi, serta penulis buku, Aendra Medita.

Jaya Suprana dikenal sebagai sosok dengan beragam aktivitas dan gagasan. Kepiawaiannya bermain piano, pemikirannya yang dituangkan dalam buku, hingga berbagai istilah yang diciptakannya memperlihatkan keluasan minat dan kreativitasnya. Ia juga dikenal memiliki kepribadian humoris yang mewarnai cara menyampaikan gagasan. Bagi Acep, keberagaman tersebut menjadikan Jaya Suprana sebagai sosok yang tidak terpaku pada satu bidang kebudayaan.

“Itulah (Jaya Suprana) menurut saya sosok yang telah menjadi pelaku budaya keseharian, sehingga saya menyebutnya postmodernis sejati,” ujar Acep.

Salah satu gagasan Jaya Suprana yang menjadi perhatian dalam diskusi ialah kelirumologi. Istilah ini digunakan untuk mengungkap berbagai kekeliruan yang telanjur dianggap sebagai kebenaran. Contohnya, di keseharian sering kali kata “absen” digunakan untuk mengartikan kata hadir. Padahal arti sebenarnya adalah tidak hadir. Gagasan tersebut menjadi ajakan bagi masyarakat untuk tidak menerima suatu informasi begitu saja, melainkan menelusuri dan mempertanyakan kembali kebenaran di baliknya.

Menurut Acep, seseorang berisiko menghasilkan pemahaman yang tidak tepat ketika hanya mengandalkan sumber kedua tanpa menelusuri sumber awal. Misalnya, dalam keilmuan Islam, ia menyoroti penafsiran terhadap suatu pengetahuan yang terkadang tidak sesuai dengan sumber utamanya, yakni Al-Qur’an.

Persoalan tersebut menunjukkan pentingnya ketelitian dalam memahami informasi. Pengetahuan tidak cukup diterima berdasarkan apa yang telah disampaikan orang lain, tetapi perlu ditelusuri kembali asal-usul dan konteksnya.

Selain melalui pemikiran, kontribusi Jaya Suprana terhadap kebudayaan juga tercermin dalam pendirian Museum Rekor Indonesia (MURI). Museum ini menjadi ruang apresiasi bagi berbagai pencapaian dan kreativitas masyarakat Indonesia.

Keberadaan MURI memperlihatkan bahwa kreativitas tidak selalu harus hadir dalam bentuk karya seni atau penemuan besar. Berbagai pencapaian masyarakat juga memiliki nilai untuk dicatat, diapresiasi, dan diperkenalkan kepada publik.

Pentingnya ruang apresiasi tersebut tidak terlepas dari kekayaan kebudayaan Indonesia. Kementerian Kebudayaan melalui Data Pokok Kebudayaan (DAPOBUD) 2025 mencatat sebanyak 189.023 objek pemajuan kebudayaan dan 3.488 sumber daya manusia (SDM) kebudayaan.

Besarnya potensi tersebut menghadirkan tantangan tentang bagaimana kebudayaan Indonesia dapat terus dikembangkan dan diperkenalkan ke tingkat global. Bagi Acep, kebudayaan merupakan salah satu kekuatan yang dapat diandalkan Indonesia dalam menunjukkan keunggulannya di tengah persaingan dunia.

“Di tingkat global, Indonesia nggak bisa bersaing lewat sains dan teknologi, satu-satunya yang menurut saya bisa jadi cara Indonesia bersaing adalah budaya,” ucap Acep.

Jaya Suprana merupakan seorang budayawan yang lahir pada 27 Januari 1949. Memasuki usia 77 tahun, ia dikenal sebagai sosok multitalenta yang menekuni berbagai bidang, mulai dari pianis, komponis, penulis, kartunis, hingga pengusaha. Namanya juga dikenal sebagai pendiri Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang didirikan pada 1990.

Membaca Kritis

Pandangan serupa disampaikan Aendra Medita. Ia menyoroti kebiasaan membaca yang belum selalu diikuti dengan sikap kritis. Menurutnya, membaca kerap berhenti pada kegiatan mengumpulkan informasi, bukan menguji dan memperdalam pemahaman.

“Bacaan itu seringkali menjadi sesuatu yang dianggap kebenaran, bukan sesuatu yang dikritisi. Jadi, membaca hanya untuk mengumpulkan informasi, bukan mempertajam informasi. Ini yang bahaya, tapi itulah yang terjadi,” ucap Aendra Medita.

Gagasan kelirumologi dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan upaya menemukan kesalahan, tetapi juga membangun kebiasaan berpikir kritis. Masyarakat didorong untuk mempertanyakan informasi, memeriksa sumber, dan tidak terburu-buru menerima sesuatu sebagai kebenaran.

Pemikiran tersebut menjadi bagian dari perjalanan Jaya Suprana yang diabadikan dalam buku Jaya Suprana Sang Penggagas. Buku karya Aendra Medita ini tidak sekadar menyajikan biografi, tetapi juga merekam pemikiran, karya, dan sisi personal Jaya Suprana.

Bagi Aendra, penulisan buku tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang selama 26 tahun mengenal Jaya Suprana. Kedekatan yang terjalin dalam hubungan profesional maupun personal memberinya sudut pandang tersendiri untuk menggambarkan sosok Jaya Suprana secara lebih utuh. 

Melalui buku ini, pembaca diajak mengenal Jaya Suprana tidak hanya dari karya yang dikenal publik, tetapi juga dari pemikiran dan pengalaman personal yang membentuk perjalanan hidupnya.

Baca Juga:Api di Ruang Publik, Diskusi Buku Karya Ucok Homicide
Menolak Lupa Pemberangusan Buku di Bandung Melalui Pameran Arsip, Diskusi, dan Musik

Kontribusi terhadap Kebudayaan

Pengembangan kebudayaan juga membutuhkan keterlibatan generasi muda. Dalam sesi tanya jawab, Mariska, salah satu audiens, memandang buku Jaya Suprana Sang Penggagas sebagai bacaan yang relevan bagi anak muda.

Menurutnya, buku tersebut mengingatkan bahwa proses belajar tidak semata-mata bertujuan memperoleh pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga memperluas wawasan serta pengetahuan.

Perjalanan Jaya Suprana memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap kebudayaan dapat hadir melalui berbagai bidang. Kelirumologi mengajak masyarakat menguji kembali hal-hal yang dianggap benar, sementara MURI menyediakan ruang untuk mengapresiasi kreativitas dan pencapaian masyarakat.

Keduanya menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya tumbuh melalui pelestarian tradisi, tetapi juga melalui keberanian berpikir, mempertanyakan pengetahuan, dan menciptakan gagasan baru. Dalam konteks tersebut, warisan pemikiran Jaya Suprana menjadi pengingat bahwa belajar bukan sekadar menerima informasi, melainkan juga mengolahnya secara kritis.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Tanggapanmu

0

Ruang berdialog yang santun, bebas dari ujaran kebencian dan fitnah. Komentar dimoderasi redaksi sebelum ditayangkan.

Tuliskan Tanggapan Anda

Belum ada tanggapan pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Baca juga

Seharmal di Tangsijaya

PLTMH Gununghalu menerangi 95 keluarga sekaligus menggerakkan usaha pengolahan kopi. Di kaki Gunung Masigit, masyarakat membangun kemandirian energi.

Prima Mulia7 November 2026

Nawala

Satu surel untukmu setiap pekan, merangkum cerita-cerita dari pinggir.