Seharmal di Tangsijaya
PLTMH Gununghalu menerangi 95 keluarga sekaligus menggerakkan usaha pengolahan kopi. Di kaki Gunung Masigit, masyarakat membangun kemandirian energi.
Prima Mulia7 November 2026
BandungBergerak - Jalur curam berkelok membelah hutan, gunung, dan perkampungan, menghubungkan Ciwidey, Kabupaten Bandung, dengan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 25 Oktober 2026. Di perbatasan kedua wilayah itu, suasana mendadak gelap gulita. Gerimis dan kabut membatasi jarak pandang. Jalan hanya terlihat sejauh sorot lampu sepeda motor.
Perjalanan berlanjut beberapa kilometer membelah hutan di ketinggian 900–1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berikutnya, jalan terjal menyusuri tepian jurang dan tebing. Setelah itu, permukiman penduduk mulai terlihat, tetapi suasananya senyap karena aliran listrik padam.
Entah berapa desa telah dilalui. Perjalanan sejauh lebih dari 20 kilometer memakan waktu hampir 1,5 jam. Jalan gelap dan licin memperlambat perjalanan yang dalam kondisi normal bisa ditempuh sekitar satu jam. Jika dihitung dari Kota Bandung, jarak keseluruhan mencapai sekitar 58 kilometer dengan estimasi waktu tempuh 2,5–3 jam.
Rasa waswas berkendara seorang diri di tengah kegelapan seketika sirna ketika titik-titik cahaya terlihat dari kejauhan. Saat listrik di kampung-kampung lain masih padam, jalan dan rumah warga Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, tetap terang.
Kampung ini memiliki sumber energi listrik mandiri berbasis komunitas melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Gununghalu. Kehadirannya tidak hanya menerangi rumah warga, tetapi juga menggerakkan berbagai kegiatan ekonomi dan usaha skala rumahan.
Kesokan harinya, Senin pagi, 26 Oktober 2026, pipa-pipa pesat berwarna biru terang membelah hamparan sawah dan kebun kopi. Di bawahnya mengalir Sungai Ciputri dan Cidadap dengan debit air yang cukup melimpah, meskipun wilayah tersebut tengah menghadapi musim kemarau panjang dan cuaca panas ekstrem.
Pintu air mengatur aliran menuju bak penampung di kawasan hulu Sungai Ciputri, Hutan Blok Manglid, kaki Gunung Masigit. Dari bak penampung, air dialirkan melalui pipa pesat bertekanan tinggi untuk memutar turbin di rumah pembangkit yang berada di lembah.
Di sana, Opan Sopandi, 54 tahun, Ketua Koperasi Rimba Lestari, memeriksa turbin dan panel-panel listrik. Iden Permana, 23 tahun, petani kopi yang turut bertanggung jawab merawat PLTMH, memperhatikan cara Opan memeriksa mesin. Opan mendengarkan suara turbin dan menyentuh penutup bearing pemutar belt.
“Dari suara turbin dan getaran bearing, kita bisa merasakan jika ada bagian yang tak bekerja optimal, supaya upaya perbaikan atau penggantian suku cadang bisa segera dilakukan,” kata Opan.
Arus deras Sungai Ciputri menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik berkapasitas 32 kilowatt (kW). Energi tersebut disalurkan ke rumah-rumah warga untuk menerangi malam bagi 95 kepala keluarga (KK) di Tangsijaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi para pelaku usaha.
Energi Sungai Menggerakkan Industri Kopi
Di Koperasi Rimba Lestari, mesin-mesin produksi mengolah hasil panen kopi. Opan memasukkan buah kopi atau ceri ke mesin pengupas kulit (pulper) untuk memisahkan kulit dan daging buah dari bijinya. Biji kopi kemudian dijemur di area penjemuran tertutup bersuhu panas.
Di ruang lain, mesin menyeleksi biji kopi atau green bean kering berdasarkan ukuran. Biji tersebut selanjutnya masuk ke proses penyangraian (roasting) dan penggilingan menjadi bubuk kopi. Seluruh mesin produksi digerakkan oleh listrik dari PLTMH.
Aktivitas pengolahan kopi belum terlalu sibuk karena saat ini memasuki masa akhir panen. Ketika panen raya tiba, koperasi mempekerjakan puluhan perempuan untuk menangani pengolahan pascapanen.
Meski demikian, stok biji kopi siap olah telah tersedia di gudang. Konsumen tetap datang silih berganti untuk membeli kopi bubuk dalam kemasan 250 gram atau satu kilogram. Sebagian lainnya mencari kopi sangrai maupun green bean.
Pada masa sisa panen, koperasi membeli ceri kopi petani dengan harga sekitar 15.000 rupiah per kilogram. Saat panen raya, harganya dapat meningkat hingga 23.000 rupiah per kilogram.
Sekretaris Koperasi Rimba Lestari, Toto Sutanto, 48 tahun, juga aktif mengampanyekan teknik budidaya kopi yang lebih optimal, dimulai dari pengolahan tanah sebelum bibit ditanam. Menurutnya, petani tidak bisa sekadar menggali lubang lalu langsung menanam bibit.
“Ini kita sedang menularkan cara ini ke petani-petani milenial kita. Jika ini diterapkan, hasil panen ceri dari 1 pohon bisa menghasilkan 5-8 Kg buah kopi merah selama panen raya,” kata Toto.
PLTMH serta kegiatan budidaya dan pengolahan kopi berada di bawah naungan Koperasi Rimba Lestari. Bagi Toto Sutanto, 48 tahun, Sekretaris Koperasi Rimba Lestari sekaligus salah seorang penggagas pembangunan PLTMH Gununghalu bersama Opan Sopandi, pertanian kopi memiliki prospek menjanjikan sebagai sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat.
Dengan kepemilikan 200 pohon kopi, seorang petani rata-rata dapat memanen sekitar 600 kilogram ceri merah dalam satu musim panen raya yang berlangsung selama tiga bulan. Produksi tetap berlanjut setelah musim panen raya, meskipun volumenya berkurang. Untuk menjaga keberlanjutan budidaya, koperasi juga membagikan ribuan bibit kopi kepada petani.
“Usaha pertanian berkelanjutan ini sangat menjanjikan,” kata Toto.
Pengembangan kopi juga melibatkan generasi muda. Iden dan Juan Mulyana, 33 tahun, misalnya, menggunakan sepeda motor bebek yang telah dimodifikasi agar mampu menjelajahi lereng-lereng terjal di kawasan hutan kaki gunung. Mereka membawa puluhan polybag bibit kopi melalui jalan setapak di tengah hutan.
Berkebun Tanpa Membuka Hutan
Petani kopi di Tangsijaya membudidayakan tanaman di bawah tegakan hutan. Mereka tidak diperbolehkan membuka lahan dengan menebang pohon. Tanaman kopi ditanam secara tumpang sari di antara pohon pinus, suren, dan berbagai jenis pohon besar lainnya.
Pola tersebut mengikuti ketentuan Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung Selatan. Melalui sistem tumpang sari, warga dapat mengembangkan kegiatan pertanian sekaligus turut menjaga aset negara berupa kawasan hutan seluas 7.639 hektare.
Juan, Iden, dan tiga petani lainnya membuat lubang-lubang tanam baru di bawah rindangnya hutan lindung di kaki Gunung Masigit. Toto turut memantau kegiatan para petani muda tersebut. Lubang tanam akan diolah dan dibiarkan selama beberapa waktu sebelum siap ditanami. Sementara itu, bibit kopi tersusun rapi di sebuah pondok khusus di tengah hutan.
Kawasan hutan yang masih terjaga juga menjadi habitat berbagai satwa liar. Menurut Juan, babi hutam, surili, lutung jawa, owa jawa, landak, dan trenggiling masih kerap ditemukan warga.
“Kalau macan belum pernah ketemu, tapi amit-amitlah jangan sampai ketemu,” kata Juan. “Ekosistem hutannya masih bagus dan tetap terjaga.”
Selain menjadi petani kopi, Juan pernah memenangkan kontes barista dalam Festival Kopi Bandung Barat pada 2022. Prestasi tersebut turut memperkenalkan merek kopi Tangsi Wangi Gununghalu ke pasar yang lebih luas, khususnya segmen kopi specialty.
Listrik Murah bagi Usaha Rumahan
Manfaat listrik PLTMH juga dirasakan pelaku usaha rumahan. Di lantai dua rumahnya yang sekaligus menjadi ruang produksi, Yuli, 31 tahun, menyalakan mesin pemanas sealer dan pengering cellophane wrap untuk mengemas produk jahe merah instan dan kunyit instan bermerek Hayusin.
“Selain buka toko produk herbal di rumah, saya juga menyimpan produk di koperasi, pesanan dari pelanggan di online juga lumayan jalan. Banyak juga wisatawan yang melintas di rute Gununghalu, yang mau ke Ciwidey melalui jalur Cililin dan Sindangkerta,” katanya.
Witri menggunakan MCB 2 ampere di rumahnya. Rata-rata rumah tangga di kampung ini menggunakan MCB tersebut.
“Kecuali yang punya usaha di rumahnya mungkin perlu daya lebih besar. Dengan PLTMH saya bisa menghemat uang listrik dengan selisih 100 persen jika mau dibandingkan. Saya juga pakai meteran listrik PLN yang token, buat jaga-jaga saja kalau PLTMH sedang ada perbaikan,” jelas Witri.
Di sudut kampung lainnya, Rusman, 37 tahun, memanfaatkan listrik PLTMH untuk mengoperasikan bengkel sepeda motor miliknya.
“Las, kompresor, bor, dan gerinda, semunya pakai listrik dari PLTMH,” kata pemilik bengkel Om Rusman tersebut.
Ia juga memiliki satu unit pompa bensin Pertamini, tetapi perangkat tersebut menggunakan listrik PLN.
Terang hingga Malam
Senja mulai turun di kaki Gunung Masigit, Kampung Tangsijaya, pada 26 Oktober 2026. Lampu jalan dan teras rumah warga mulai menyala. Seusai kumandang azan magrib dari masjid di tepi jalan desa, warga berjalan menuruni kampung. Warung-warung pun mulai terang oleh cahaya lampu LED berwarna kuning.
Di teras rumah, Andika (18) membolak-balik halaman materi pembelajaran. Meja dan bangku belajarnya menghadap kolam ikan dan kebun cabai. Siswa kelas XII SMAN 1 Gununghalu itu akan menghadapi ujian Tes Kemampuan Akademik keesokan paginya. Di bawah cahaya lampu teras, ia tekun mempelajari materi ujian.
Yuli merasakan langsung penghematan biaya operasional berkat listrik PLTMH. Ia menunjukkan miniature circuit breaker (MCB) dari pembangkit mikrohidro dan meteran listrik PLN di dinding rumahnya.
“Sepanjang waktu saya pakai yang MCB dari PLTMH, listrik PLN token hanya untuk kondisi tertentu saja misalnya saat sedang ada perawatan atau perbaikan PLTMH,” kata Yuli.
Hal serupa dirasakan Witri, 32 tahun. Di halaman rumahnya, ia memetik sisa buah kopi merah yang masih bisa dipanen dari kebun di kawasan hutan.
“Suami saya lagi ke kebun kopi, lumayan masih ada yang bisa dipanen, kebunnya ada di hutan,” katanya.
Untuk kebutuhan rumah tangga, Witri membayar iuran listrik PLTMH sebesar 25.000 rupiah per bulan. Listrik digunakan untuk menyalakan mesin cuci, televisi, penanak nasi, dan lampu penerangan, meskipun mesin cuci tidak digunakan setiap hari.
“Di teras enak, suasananya tenang dan dingin,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Sinan, 10 tahun, sibuk mengerjakan tugas sekolah dengan pensil dan buku pelajaran.
“Lagi buat PR, besok dikumpulin,” kata siswa kelas III SDN Tangsijaya tersebut.
Lampu meja menerangi kegiatan belajarnya malam itu. Sesekali ia berusaha membujuk adik laki-lakinya yang masih balita agar tidak mengganggu.
Bagi anak-anak dan keluarga di Tangsijaya, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan penerangan. Energi yang tersedia sepanjang waktu memungkinkan mereka belajar, menjalankan usaha, dan melakukan berbagai aktivitas rumah tangga tanpa terlalu bergantung pada pasokan listrik dari luar kampung.
Berawal dari Kincir Air
Kemandirian energi warga Tangsijaya bermula jauh sebelum PLTMH Gununghalu dibangun pada 2007. Toto Sutanto, salah seorang penggagas pembangkit tersebut, bercerita bahwa orang tua mereka dahulu menggunakan kincir air untuk menghasilkan listrik.
Namun, kincir memiliki kelemahan. Energi yang dihasilkan tidak dapat dikendalikan. Ketika arus air deras, listrik yang dihasilkan terlalu besar. Sebaliknya, saat debit sungai mengecil, pasokan listrik menjadi tidak stabil.
Sejak 1990-an, warga telah berupaya memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri dengan kincir air dan dinamo sederhana. Selama sekitar sepuluh tahun, kampung ini mengandalkan teknologi tersebut. Saat itu, jaringan listrik belum masuk desa sehingga warga masih menggunakan cempor dan petromak untuk penerangan malam hari.
Berdasarkan informasi pada laman esdm.go.id, debit air Sungai Ciputri yang dimanfaatkan untuk memutar turbin PLTMH Gununghalu tergolong stabil. Hal tersebut didukung hasil pengukuran Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat.
Dengan bantuan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat, pembangunan PLTMH Gununghalu akhirnya rampung dan mulai beroperasi pada 2007.
Pemanfaatan energi kemudian berkembang. Listrik tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung pusat pengolahan kopi. Pengembangan tersebut diprakarsai Universitas Darma Persada melalui program desa mandiri energi dan ekonomi. Kelebihan daya sebesar 3 KW dimanfaatkan untuk mengoperasikan kegiatan koperasi.
Baca Juga: Dari Layar ke Aksi, Mengkampanyekan Pemilahan Sampah Bersama BandungBergerak
Percik-percik Inisiatif Memilah Sampah dalam Gemerlap Kota Wisata
Pada 2017, pengembangan pengolahan kopi memperoleh dukungan donor dari Jepang senilai Rp1,98 miliar. Program ini menerapkan konsep ekonomi sirkular yang diharapkan memberikan kontribusi bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Warga di kaki Gunung Masigit pun dapat menikmati sumber energi bersih dan relatif murah secara berkelanjutan. Seiring pertambahan penduduk dan meningkatnya kebutuhan listrik, kapasitas pembangkit kembali ditingkatkan. Pada 2019, Kementerian ESDM memberikan bantuan untuk meningkatkan kapasitas PLTMH menjadi 32 kW.
Kini, aliran Sungai Ciputri bukan hanya menghasilkan listrik bagi rumah-rumah warga. Energi tersebut turut menopang pertanian kopi, industri pengolahan, dan berbagai usaha kecil yang tumbuh di Tangsijaya.
Kampung ini menunjukkan bahwa kemandirian energi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan. Generasi muda Tangsijaya pun mulai mengambil peran dalam menjaga ekosistem sungai dan hutan, sekaligus mengembangkan budidaya kopi tanpa mengorbankan tegakan pohon yang selama ini melindungi kawasan mereka.
Dari derasnya aliran sungai, warga Tangsijaya membangun sumber energi sekaligus fondasi ekonomi berkelanjutan. Cahaya yang menyala setiap malam menjadi penanda bahwa kemandirian energi dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat dan kepedulian menjaga alam.
***
*Foto dan Teks: Prima Mulia
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB
Tanggapanmu
0Ruang berdialog yang santun, bebas dari ujaran kebencian dan fitnah. Komentar dimoderasi redaksi sebelum ditayangkan.
Tuliskan Tanggapan Anda
Belum ada tanggapan pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Baca juga
Kelirumologi Jaya Suprana: Mengajak Publik Menguji Kembali Kebenaran
Dalam bedah buku Jaya Suprana Sang Penggagas, Acep W. M. Saidi dan Aendra Medita mengulas pentingnya sikap kritis terhadap informasi.
Asma Aqilah Mahfuzhoh7 November 2026
Merajut Kembali Ikatan Manusia dan Pohon di Sesar Lembang Kalcer
Warga diajak mengenali keanekaragaman hayati, menyelami pengalaman bersama pohon, dan memahami pentingnya menjaga kawasan alam.
Retna Gemilang6 November 2026
Mahasiswa UIN SGD Bandung Mendesak Penanganan Karhutla dan Pembebasan Rekan yang Ditangkap
Mahasiswa menyoroti lambannya penanganan karhutla dan menuntut pembebasan rekan mereka yang ditetapkan sebagai tersangka setelah demonstrasi 20 Oktober 2026.
Yopi Muharam6 November 2026


