Dari Layar ke Aksi, Mengkampanyekan Pemilahan Sampah Bersama BandungBergerak
Lewat iklan layanan masyarakat dan edukasi komunitas, BandungBergerak mendorong solusi mengatasi sampah berbasis pemilahan di lingkup komunitas.
Penulis Salma Nur Fauziyah28 Februari 2026
BandungBergerak - BandungBergerak menayangkan Public Service Announcement (PSA) atau iklan layanan masyarakat bertema “Pengelolaan Sampah Sejak dari Rumah” dalam acara “Ngabuburit, Buka Bersama, dan Kolaborasi Kampanye Persoalan Sampah” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 27 Februari 2026. Dua video berdurasi kurang dari dua menit diputar dalam kegiatan ini. Keduanya diproduksi sebagai bagian dari kampanye pengelolaan sampah rumah tangga.
Selain pemutaran video, BandungBergerak membuka ruang diskusi dan meminta masukan atas PSA yang diproduksi dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Rangkaian acara ditutup dengan buka puasa bersama.
Fadhil Reyhan, 22 tahun, perwakilan komunitas Jaringan Antar Umat Beragama (Jakatarub), menilai pesan dalam video PSA cukup kuat karena disertai data dan tidak sekadar opini. Menurut Fadhil, penggunaan AI dalam produksi video masih menuai pro dan kontra. Ia menilai AI sebaiknya digunakan sebagai pendukung, bukan sumber utama konten.
“Aku sih enggak masalah AI, selama AI-nya tuh menjadi apa ya, menjadi pendukung gitu. Tidak menjadi sumber. Kayak seperti yang dibuat BB yang PSA tadi. AI-nya tuh kan sebagai pendukung ya, kayak visualisasi. It's oke menurut aku,” ujar Fadhil.
Ia juga menyarankan agar isu pengelolaan sampah dikaitkan dengan kegiatan keagamaan dalam kampanye berikutnya.
Berbeda dengan Fadhil, Nabila Dea Putri dari komunitas sepeda perempuan Pedal Puff Girls menyatakan kurang setuju dengan penggunaan AI dalam produksi konten kampanye. Ia menilai penggunaan gambar nyata akan lebih menyentuh publik.
“Mungkin bisa diganti kayak shoot-shoot yang real aja gitu kayak gimana kita ngelolah sampah,” ujarnya.
Nabila berpendapat visual yang autentik, dipadukan dengan konsep dan efek yang menarik, akan lebih mudah diterima masyarakat. Ia juga mengusulkan kampanye bertema bersepeda untuk mengurangi polusi atau kegiatan sosial seperti memberi makan kucing jalanan tanpa meninggalkan sampah.
Diketahui, Kota Bandung menghadapi darurat sampah berkepanjangan akibat kapasitas Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti yang sudah penuh. Para aktivis lingkungan tidak setuju pengeloaan sampah di Bandung mengambil jalan pintas, yakni dengan memakai insinerator maupun teknik pembakaran karena berbahaya bagi lingkungan hidup.
Alternatif yang ditawarkan adalah memperkuat pemilahan di tingkat rumah tangga dan komunitas melalui program seperti Kang Pisman, kurangi pisahkan manfaatkan, serta dukungan regulasi, edukasi, dan infrastruktur pengolahan sampah yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Di Balik Asap Insinerator, Memahami Mengapa Mesti Memilih Jalan Panjang Memilah Sampah di Kota Bandung
Jalan Mengimani Ayat-ayat Lingkungan Melalui Pengolahan Sampah
View this post on Instagram
Iklan Layanan Masyarakat dan Jurnalisme Konstruktif
Program PSA merupakan bagian dari upaya BandungBergerak menerapkan jurnalisme konstruktif. Serial video ini diharapkan menjadi panduan informatif bagi warga Bandung dalam mengelola sampah rumah tangga.
Pengelola Bisnis dan Kemitraan Bandung Bergerak Deni Yudiawan mengatakan, inisiatif ini merupakan langkah menuju konsep “beyond journalism”.
“Karena memberitakan saja tidak cukup, tapi juga harus berbuat dan bergerak,” ujarnya.
Isu pengelolaan sampah dipilih sebagai tema pembuka. Menurut Deni, persoalan limbah rumah tangga masih menjadi tantangan serius di Kota Bandung. Ke depan, Bandung Bergerak berencana memproduksi enam video dalam serial ini.
Acara peluncuran juga dirancang sebagai ruang diskusi untuk menentukan tema kampanye berikutnya, termasuk kemungkinan mengangkat isu lingkungan lain, agama, hingga hak asasi manusia dalam format yang lebih santai.
Edukasi Lewat Permainan Kartu
Kegiatan ngabuburit juga diisi dengan permainan edukatif bertajuk “Kartu Minim Sampah” yang dipandu pegiat nol sampah, Sisca Nirmala. Lebih dari sepuluh peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk mengikuti permainan tersebut.
Sisca menjelaskan aturan permainan yang menyerupai UNO. Peserta harus mengeluarkan kartu dengan warna yang sama sesuai kartu milik pemandu. Jika tidak memiliki kartu yang sesuai, mereka akan mendapatkan kartu “zonk” berwarna merah atau abu-abu yang melambangkan sampah.
Permainan ini terdiri dari tiga skenario: strategi mewujudkan rumah minim sampah, simulasi kondisi darurat sampah, serta pembacaan pesan edukatif di setiap kartu.
Suasana diskusi berlangsung interaktif. Peserta menyusun strategi untuk mengurangi “sampah” dan mengumpulkan poin tertinggi.
“Edukasi terkait sampah itu penting karena masih banyak orang membuang sampah tanpa mengelolanya dengan baik,” kata Sisca.
Menurutnya, edukasi sekecil apa pun dapat mendorong perubahan perilaku. Melalui permainan ini, peserta diajak memahami pentingnya pemilahan dan pengurangan sampah dari lingkup rumah tangga hingga lingkungan rukun warga.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

