CERITA ORANG BANDUNG #119: Warkop, Mahasiswa, dan Masakan Babeh
Di sudut Gang Pelita, Cikutra, Yusuf Rahman Babeh mengelola Warkop Bang Zek. Setia menemani mahasiwa.
Penulis Ardhzohal Roman Ario Bono1 Oktober 2026
BandungBergerak - Fajar baru saja menyingsing di sudut Gang Pelita, Cikutra, ketika Yusuf Rahman “Babeh” sudah membuka kunci gembok pintu rolling door besi Warkop Bang Zek. Jarum jam dinding baru saja menunjukkan pukul 06.00 WIB. Suasana di pemukiman di belakang kampus Universitas Widyatama itu masih sepi dan diselimuti udara dingin Kota Bandung.
Namun bagi pria paruh baya asal Kota Kuningan, deru kompor gas dan kepulan uap air mendidih adalah pertanda bahwa roda kehidupan segera berputar. Dengan cekatan, tangan keriputnya mulai mengupas bawang, memotong cabai, meracik bumbu racikan orek tempe dan menata rapi rencengan kopi dan aneka minuman saset.
Tak sampai dua jam lagi, lorong-lorong kos di sekitar warkop akan mulai berdenyut, mengalirkan deretan mahasiswa yang berburu sarapan sebelum masuk kelas pagi. Bagi anak-anak muda yang saban hari meramaikan kedai sederhana tersebut, sosok pria itu mungkin asing jika dipanggil dengan nama aslinya. Mereka jauh lebih akrab menyapa pria berwajah ramah dan murah senyum itu dengan satu panggilan hangat, “Babeh”.
“Nama lengkap saya mah Yusuf Rahman. Cuman karena anak-anaklah biasa mungkin karena saya sudah sedikit berumur jadi anak-anak pada nyebutnya Babeh aja dari dulu dari pertama buka gitu,” tutur Yusuf Rahman, seraya tersenyum, kepada BandungBergerak, 20 September 2026.
Panggilan “Babeh” itu bukan sekadar lekat karena faktor usia, melainkan lahir dari gestur pengayoman dan kehangatan yang konsisten ia tunjukkan kepada siapa saja yang singgah di Warkop Bang Zek. Di sisi lain, kehadiran Babeh di Warkop Bang Zek Cikutra tidak terjadi dalam semalam. Perjalanan hidupnya melintasi jalan berliku, melintasi kota dan berbagai jenis pekerjaan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah di tanah kelahirannya, Kuningan, Babeh muda sebenarnya sempat bekerja di PLN selama dua tahun. Ia lantas keluar dan memutuskan merantau.
“Mungkin ya masih muda lah model kerja juga masih males-malesan,” kenang Babeh, sambil tertawa.
Darah perantau dan jiwa wirausahanya kemudian mendorong Babeh menjelajahi Jawa Tengah. Ia menjajal usaha dan merintis usaha kuliner bersama saudaranya di Semarang hingga Yogyakarta. Pengalaman panjang menembus pasar kuliner di berbagai kota itulah yang menjadi bekal berharga tatkala ia diajak adiknya untuk mengembangkan jaring Warkop Bang Zek di kawasan Bandung Raya.
“Akhirnya saya sempet ikut usaha sama saudara awalnya ikut-ikutan dulu. Cuman waktu itu masih daerah Jawa saya daerah Semarang sama Jogja. Nah, setelah itu baru adik saya pas mau buka usaha gerai itu saya ikut daerah Bandung,” ceritanya.
Dari mulai cabang pertama di Cimahi tahun 2021, usahanya terus berkembang hingga bikin cabang lagi di Cimahi, kemudian di Buah Batu, dan yang terbaru di belakang kampus Universitas Widyatama.
“Kalau usaha sudah dari muda sih udah puluhan tahun saya jalani,” tambah babeh.
Operasional warkop di lingkungan sekitar kampus menuntut ketahanan fisik yang tidak main-main. Kedai tempat Babeh bekerja beroperasi hampir 20 jam sehari, mulai jam 6 pagi hingga mentok jam 1 dini hari. Demi menjaga kebugaran tubuh tanpa mengorbankan kualitas pelayanan, Babeh dan saudaranya menerapkan pembagian jadwal (shift) yang disiplin.
Babeh mengambil kendali shift pertama hingga pukul jam 8 malam. Selanjutnya, giliran saudaranya yang meneruskan operasional hingga dini hari. Urusan belanja stok bahan baku seperti sayuran, telur, hingga daging ayam segar juga ditangani oleh saudaranya saat shift Babeh di siang dan usai kedai tutup di malam hari.
“Kalau misalnya fisik sih ya mungkin enggak ada ya. Saya paling ya paling ya kan ada istirahatnya, kan nanti seminggu sekali juga kita ada istirahatnya. Ada jatah istirahat seminggu sekali itu bagian masing-masing gitu,” kata Babeh menuturkan cara sederhananya mengelola stress dan kelelahan kerja.
Libur dilakukan setiap hari Minggu secara bergiliran. Hari tersebut dipilih karena aktivitas kampus juga libur.
“Jadi kita gantian libur kalau di sini gitu. Kalau pas ramai lalu capek, ya paling duduk sebentar saja sambil main HP dan sebat untuk nunggu pembeli yang lain,” katanya.
Di kawasan Gang Pelita, persaingan usaha kuliner terbilang sangat ketat. Berderet-deret pedagang kaki lima dan warkop/warmindo berdiri saling berhadapan. Kendati demikian, Warkop Bang Zek tetap memiliki basis pelanggan setia yang tak pernah surut.
Fasilitas seperti akses wifi gratis dan terminal colokan memang menjadi daya tarik penting bagi mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas atau sekedar bermain game bersama teman-teman. Selain itu, variasi menu juga terus dipelihara. Jika dahulu menu paling laris adalah nasi telor kornet, kini racikan menu baru seperti Ayam Balap dan Ayam Bali menjadi idola baru para pengunjung.
Namun, bagi Babeh, rahasia bertahan usaha kecil bukan semata-mata terletak pada gurihnya masakan atau cepatnya koneksi internet, melainkan pada kemampuannya membangun hubungan emosional dengan para pelanggan.
“Kuncinya kita mengutamakan konsumen. Kita jaga keasyikan, keakraban, dan kedekatan sama anak-anak mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sudah lulus dan mahasiswa yang dulu langganan di cabang Cimahi atau Buah Batu pas melihat ada Bang Zek buka di Cikutra ya pada mampir lagi kesini, karena sudah tahu dan akrab,” jelasnya.
Menjadi Saksi Keluh Kesah dan Dinamika Mahasiswa
Bagi Babeh, posisi di balik kompor warkop memberinya sudut pandang istimewa untuk mengamati dinamika kehidupan anak muda dari berbagai latar belakang. Warkop tempatnya bekerja bukan sekedar tempat mengisi perut yang lapar, melainkan panggung sosial tempat mahasiswa melepaskan pening.
Ia menyaksikan bagaimana bangku dan meja warkop menjadi saksi riuhnya gelak tawa mahasiswa baru, tempat rapat dadakan pengurus organisasi, hingga ruang lelah bagi mahasiswa yang sedang berjuang menuntaskan skripsi.
“Anak-anak mahasiswa disini mah cepat akrab. Mau anak Ekonomi, mau anak Elektro, atau dari fakultas manapun sama saja. bahkan alumni-alumni yang sudah lulus tahun kemarin pun kalau malam pada sering nongkrong disini. Mungkin karena saking sudah akrabnya sama kita-kita,” tutur Babeh dengan mata berbinar.
Dinamika pengunjung warkop pun berganti seiringnya waktu. Saat pagi hari, kedai didominasi oleh mahasiswa yang hendak sarapan dulu sebelum kelas atau didominasi oleh mahasiswa yang baru saja beres kelas. Saat siang hari, kedai didominasi oleh mahasiswa yang melahap makan siang di sela jadwal istirahat mata kuliah. Namun ketika malam tiba, suasana bergeser menjadi lebih santai dan rileks, dihiasi obrolan para alumni atau mahasiswa tingkat akhir yang mengobrol hingga larut malam.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #118: Jatuh Bangun Rendi di Bawah Tol Buah Batu
CERITA ORANG BANDUNG 117#: Di Antara Barisan Nisan, Ganjar Suhendar Menemukan Arti Pulang

Tumpuan Hidup Keluarga dan Resah Perkuliahan Online
Di balik perawakan yang selalu ceria dan ramah di depan pembeli, Babeh adalah seorang ayah yang memikul tanggung jawab besar. Setelah tidak lagi bersama dengan pasangannya, penghasilannya dari mengelola Warkop Bang Zek menjadi tumpuan utama untuk membiayai kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anaknya.
“Alhamdulilah ya, kalau masalah cukup mah cukuplah buat membiayai anak-anak sekolah,” ucapnya penuh rasa syukur.
Menjelang akhir perbincangan, Babeh merenungi perjalanan hidupnya di Bandung. Di usianya yang tak lagi muda, membuka dan mengelola warkop bukan lagi sekadar pilihan pekerjaan, melainkan jalan hidup yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Kehadiran mahasiswa secara fisik di sekitar kampus Universitas Widyatama adalah napas utama bagi keberlangsungan usahanya.
Kenangan pahit masa-masa pandemi, ketika aktivitas kampus diliburkan dan perkuliahan dialihkan ke perkuliahan online masih menyisakan kekhawatiran tersendiri baginya dan para pemilik usaha kuliner di Gang Pelita.
“Ya kalau harapan saya sih ya supaya mudah-mudahan Warkop Bang Zek ini memang tetap berjalan gitu loh buat menyediakan menu-menu terbaik buat anak-anak mahasiswa anak-anak kampus gitu,” tutup Babeh dengan nada penuh harap.
Ia berdoa agar para mahasiswa maupun alumni yang menjadi langganannya sukses menjalani kehidupan mereka. Ia juga berharap para pelanggannya tidak melupakan warkop Bang Zek.
“Terus kalau bisa kampus tuh jangan kebanyakan mata kuliah online lah modelnya, soalnya suasana nya jadi sepi,” harapnya.
Babeh melanjutkan kerjanya. Di balik aroma gurih sambal dan dentang sendok meracik mie instan, Yusuf Rahman “Babeh” mengikat kehangatan bersama para mahasiswa. Bagi Babeh, warkop bukan sekadar ruang mengais rezeki, melainkan tempat merawat ingatan dan merajut persaudaraan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


