CERITA ORANG BANDUNG #118: Jatuh Bangun Rendi di Bawah Tol Buah Batu
Said Rendika Nur Arifianto menggarap lahan tidur di Bandung. Menanam ubi dan singkong untuk menyambung hidup.
Penulis Abimanyu Ismoyo Santoso23 September 2026
BandungBergerak - Bising deru kendaraan yang melintas di Jalan Tol Buah Batu berkelindan dengan bau tanah basah dan aroma khas pupuk organik cair. Di balik pagar pembatas tol yang memisahkan permukiman padat dengan jalur bebas hambatan tersebut, Said Rendika Nur Arifianto, menyapu keringat di dahinya.
Dengan kaus yang melekat di tubuhnya, lelaki kelahiran 1993 itu bergegas merawat bedengan ubi manis, menyiram sayuran, serta memberi makan 3 ekor ayam dan ikan lele. Gerakan tangan kirinya tak lagi sebebas dulu. Di dalam tulangnya, pen besi bekas operasi kecelakaan dua tahun lalu masih tertanam dan belum dicabut.
Kecelakaan itu meremukan tulang lengan kirinya, sekaligus memutus mata pencahariannya setelah pihak perusahaan memutus kontrak secara sepihak. Tanpa jaminan pesangon dan kondisi fisik yang terbatas, Rendi terserap masuk ke dalam 54,95 persen tenaga kerja Jawa
Barat yang menggantungkan hidup di sektor informal.
Aktivitas fisik di kebun ia jalani pada sela-sela waktu istirahatnya yang minim. Baru beberapa jam berselang, tepat pukul 03.00 WIB, ia baru saja berganti shift kerja dari toko kelontong tempatnya bekerja harian.
“Kalau dibilang kerja sampingan iya, kerja utama juga iya. Soalnya petani ini kalau dijadikan pokok penghasilan itu berat kalau enggak punya lahan besar. Alasan saya tetap bertani itu karena saya senang dan hasilnya bisa dinikmati keluarga,” cerita Rendi saat ditemui di kebunnya, Rabu 16 September 2026.
Sebelum bekerja dan bertani, perjalanan hidup Rendi jauh dari alur yang lurus. Selepas tamat SMA pada 2012, keterbatasan ekonomi keluarga sempat menutup jalannya untuk melanjutkan kuliah. Ia lantas merantau ke Kalimantan Timur untuk mengambil program kuliah gratis jurusan Agroteknologi di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Sangatta.
Di tanah perantauan itu, karier Rendi sempat menanjak. Berawal dari Office Boy (OB) di kantor DPRD Kutai timur, ketekunannya membawa Rendi menjadi Tenaga Kontrak Daerah (TK2D) hingga dipercaya menjadi ajudan Sekretaris Daerah. 10 tahun ia menikmati stabilitas hidup di birokrasi, lengkap dengan fasilitas dinas ke berbagai kota.
Di Kalimantan pula ia bertemu dengan perempuan asal Bandung yang kini menjadi istrinya. Pascapandemi Covid-19 pada 2022, Rendi memutuskan memboyong keluarganya pindah ke Kota Bandung. Namun, ujian berat langsung menghantam tak lama setelah kepindahannya.
Saat mengadu nasib bekerja di pabrik plastik kawasan Jakarta Barat, Rendi mengalami kecelakaan sepeda motor saat dalam perjalanan menuju tempat ia bekerja. Tangan kirinya patah hebat.
“Waktu itu baru masuk dua atau tiga bulan. Setelah kecelakaan dan tangan patah, saya pelan-pelan disingkirkan, lalu di putus kontrak,” kenang Rendi.
Tanpa pekerjaan tetap dan kondisi fisik yang terbatas, Rendi kembali ke Bandung. Di tengah kebingungan itu, ia melihat sepetak lahan tidur yang tertutup ilalang. Berbekal ilmu pertanian dan ilmu tanah yang dipelajarinya Rendi menyulap lahan tidur itu menjadi lahan produktif.
Awalnya ia berbudidaya maggot dan lele, hingga akhirnya memfokuskan lahan pada tanaman ubi dan singkong yang aman dari risiko gagal panen. Namun, jalan bertani mandiri tak langsung mulus. Rendi sempat berhadapan langsung dengan kerasnya permainan harga di pasar.
Ia menuturkan bahwa dirinya pernah membawa 10 kilogram ubi ke pasar, dengan harga yang biasanya berkisar Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Namun, ketika hendak menjualnya, harga tiba-tiba diturunkan menjadi Rp5.000 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya permainan tengkulak dan diskriminasi yang membuat petani berpotensi mengalami kerugian, mengingat proses menanam ubi membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan. Ia pun menegaskan.
“Kalau dijual segitu ya saya rugi, karena nanem ubi itu prosesnya panjang, 4 sampe 6 bulan,” tuturnya.
Nasibnya membaik setelah terhubung dengan Perkumpulan Seni Tani dan masuk dalam konsorsium program Urban Futures. Melalui skema Community Supported Agriculture (CSA), hasil kebun Rendi diserap dengan harga adil yang disepakati bersama, termasuk untuk produk-produk imperfect atau cacat visual.
“Kemarin ubi saya kecil-kecil dan warnanya item karena di dalem tanah, tetap dibeli sama Seni Tani. Langsung dibayar,” kata Rendi.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG 117#: Di Antara Barisan Nisan, Ganjar Suhendar Menemukan Arti Pulang
CERITA ORANG BANDUNG #116: Muhammad Tavip dan Dunia Wayang Plastik Bekas

Bekerja untuk Yang Punya Bumi
Saban hari, alur hidup Rendi berputar tanpa jeda. Pukul 06.00 pagi ia sudah berada di kebun hingga siang, dilanjutkan merawat bedengan dan menyiram tanaman pada sore hari. Pukul 18.00 WIB hingga 03.00 WIB subuh, ia berganti peran menjaga toko kelontong dan menjual pulsa. Tak jarang, di sela waktu luangnya, ia menjadi ojek online.
Penghasilan bersih dari kebun yang berkisar 500.000 rupiah hingga 800.000 rupiah per bulan ia putar kembali dengan perhitungan 30 persen untuk jatah pribadi, 20 persen pakan hewan, dan 50 persen disimpan sebagai cadangan.
Di tengah rekan-rekan sebayanya yang kini menduduki posisi strategis di perbankan atau konsultan corporate, Rendi kerap mendapat pertanyaan mengapa ia sudi kotor-kotoran menggarap tanah di pinggir tol. Namun, Rendi memegang teguh nasehat ibunya.
“Ibu saya bilang: ‘Ketika kamu jadi petani, kamu itu bekerja dengan yang punya bumi dan langit. Kamu enggak bisa suruh tanaman tumbuh hari ini atau jangan mati. Kalau kata Yang Punya enggak bisa, ya enggak bisa. Jadi bosmu cuma Tuhan. Berharap sama Tuhan aja’,'” ucapnya menirukan sang ibu.
Bagi Rendi, bertahan menjadi petani kota bukan sekadar hitung-hitungan nominal di atas kertas, melainkan kepuasan batin saat melihat lahan mati kembali menghasilkan pangan, serta apresiasi tulus dari warga kota yang mengonsumsi hasil panennya.
“Saya paling senang pas konsumen Seni Tani ngomong gini, 'Terima kasih telah menanam.' Ini kadang-kadang yang bikin saya masih mau bertahan. Bahkan pas pertemuan produsen dan konsumen, mereka nyamperin terus pegang tangan saya sambil bilang ‘Makasih banyak ya Kang sudah mau nanam. Saya beli di pasar beda rasanya.' Itu bentuk apresiasi murni yang enggak bisa dibeli,” pungkas Rendi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


