• Cerita
  • Dimas Budiman dan Keberanian Membuka Arsip Personal untuk Publik

Dimas Budiman dan Keberanian Membuka Arsip Personal untuk Publik

“Arsip melatih aku untuk lebih kritis dan lebih peka terhadap dunia sekitar.”

Dimas Budiman dan salah satu karya dalam pameran Forgetting as a Method. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam31 Oktober 2026


BandungBergerak – Tujuh lukisan potret dalam pigura kotak dipasang berderet menampilkan pertumbuhan seorang perempuan. Latarnya bergerak dari warna putih, putih-biru, ke sepenuhnya biru, selaras dengan perubahan dari bayi hingga usia senja. Sebuah pesan tertulis di bawahnya dengan awalan: “Aku takut lupa, makanya aku catat dari gambar terus sebisa aku.”

Dan memang “lupa” menjadi kata penting dalam pameran tunggal Dimas Budiman bertajuk “Forgetting as a Method” di Fragment Project, Bandung, yang berlangsung 24-30 Oktober 2026. Ruangan-ruangan yang penuh arsip mengisyaratkan kerumitan seorang Dimas yang kepayahan melawan kebiasaanya yang pelupa. Tapi sekaligus ini menunjukkan bahwa usaha melawan lupa sekecil apapun dapat diwujudkan lewat ketekunan mencatat lalu keberanian menampilkannya dalam karya.

Sosok perempuan yang diabadikan dalam lukisan tujuh tingkat fase kehidupan perempuan itu adalah ibu Dimas. Karya ini lahir dari kebiasaannya menggambar sang ibu setiap tahun sebagai hadiah ulang tahun.

“Paling utamanya gambar itu aku buat biar aku ingat, karena aku selalu ngegambar ibu tiap tahun,” ucap alumnus Desain Interior ITB itu di penutupan pamerannya, Jumat, 30 Oktober 2026.

Di karya yang lain, Dimas mengabadikan salah satu momen paling membekas dan emosional: suasana takziah saat ibunya meninggal dunia sekitar 100 hari yang lalu. Di sana, orang-orang berkumpul dan menceritakan segala kebaikan serta memori mereka bersama sang ibu. Lukisan ini segera mengingatkannya bahwa tahun depan kebiasaan menggambar sang ibu tidak bisa dilakukan lagi karena dia telah tiada.

Kebiasaan Dimas menggambar dan ketekunannya membuat catatan menjadi napas utama pameran ini. Di tepat di depan pintu masuk ruang pamer di lantai dua, meja berukuran 2x1 meter diisi dengan coretan buku dan kertas membentuk sesuatu yang abstrak. Tidak tersusun rapi, tapi menarik untuk disimak. Di sana terdapat jadwal harian, sketsa rupa, bahkan rumus matematika. Catatan-catatan itu ditulis Dimas sejak 10 tahun yang lalu.

Di pojok pintu sebelah kanan, meja kerja Dimas turut dipamerkan. Ada tumpukan kertas dan lukisan dari pulpen, cat air, dan cat minyak. Sementara seisi dinding dipenuhi karya Dimas tentang arsip.

Pameran dengan segera menjadi ruang bagi Dimas untuk membagikan metode personalnya dalam merawat ingatan. Mengarsipkan, baginya, berarti memaknai pandangannya terhadap dunia.

“Menurutku arsip tuh penting banget bukan cuma sebagai hal yang praktis yang bisa diingat ya, tapi kayak untuk melatih dan mengevaluasi sekitarmu,” ujar laki-laki 27 tahun tersebut.

Lukisan-lukisan dengan tinta biru yang dipajang dalam pameran ini merupakan pengaplikasian karya dari catatan-catatan harian Dimas. Dari monolog pribadi di dalam buku, catatan-catatan itu menjadi sebuah obrolan atau dialog bersama orang banyak. Beberapa lukisan menampilkan visualisasi momen-momen yang terekam, dari pembuatan ram di depan rumah neneknya, suasana perpustakaan, kehangatan warung-warung di Gelap Nyawang sebelum digusur, hingga momen sederhana merokok di depan kantor.

“Jadi arsip ini melatih aku untuk lebih kritis dan lebih peka terhadap dunia sekitar,” beber Dimas.

Pengunjung menikmati karya dalam pameran Forgetting as a Method. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Pengunjung menikmati karya dalam pameran Forgetting as a Method. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Baca Juga: Pameran Photos Speak: Memotret Luka, Memaknai Fana
Pameran ACT MOVE di Orbital Dago: Dari Jalanan Kota ke Dinding Pameran

Berbuah Menjadi Karya

Sebagai pengantar pameran, Clarissa Tiffany, orang terdekat Dimas sekaligus kurator pameran, menulis dalam format surat yang ditujukan kepada mendiang ibu Dimas. Surat dipilih karena ia merupakan bentuk komunikasi yang dapat diarsipkan. Sementara sosok ibu dipilih karena dia merupakan sumber utama bagi Dimas meriset kembali asal-usul keluarganya.

Sebagai orang yang paling dekat dengan Dimas, Clarissa tahu betul kebiasaan Dimas. Mulai dari lupa menyimpan barang hingga menggambarkan suasana padahal momennya sangat berdekatan. Maka dia paham betul bagaimana pameran ini lahir dari keresahan pribadi sang seniman.

“Pada semua catatan Dimas, ibu dan adiknya adalah orang yang paling sering dia gambar. Paling sering muncul di halaman catatannya. Mingkin, itu cara Dimas untuk selalu mengingat orang-orang terpenting di sekitarnya. Meskipun beberapa bulan terakhir ini sudah tidak ada gambar terbaru tentang tante lagi,” tulis Clarissa yang menyebut ibu Dimas sebagai “tante”.

Secara khusus, Clarissa menaruh perhatian pada peran penting lembaran-lembaran proses dan catatan-catatan arsip milik Dimas yang menjadi dasar dari seluruh karya. Dia mengapresiasi bagaimana sang seniman berani menunjukkan semua arsipnya ini.  

“Jadi seakan-akan catatan ini jika dilihat sepuluh tahun lalu enggak akan terbayang bakal berbuah menjadi karya,” tuturnya kepada BandungBergerak.

Kimi, seorang peneliti bidang desain, sudah dua kali datang ke pameran “Forgetting As a Method” ini. Pertama saat pembukaan minggu lalu. Kedua saat penutupan pameran. Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia desain, Kimi melihat pentingnya arsip sebagai landasan dalam proses pembuatan karya seni. Baginya, arsip membuat hasil akhir sebuah karya memiliki dasar yang kuat dan tidak muncul begitu saja dari ruang hampa.

"Dia (Dimas) berani membuka pikiran dan otaknya untuk dibaca orang umum yang dia bahkan enggak kenal," ungkapnya.

Bercermin dari pameran ini, Kimi mengaku termotivasi untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilkukan Dimas, yakni berani mengarsipkan pengalaman hidup. Terlebih dalam momen penting yang sering terlewatkan begitu saja.

“Agar kelak di masa depan saya dapat membaca tulisan di masa lampau tentang isi pikiran saya dan momen yang terlewati,” katanya.

 

 

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//