Pameran ACT MOVE di Orbital Dago: Dari Jalanan Kota ke Dinding Pameran
ACT MOVE setia menghadirkan seni visual jalanan Bandung, tidak sungkan memprotes situasi sosial-politik.
Penulis Niken Donamor22 September 2026
BandungBergerak - Ada jarak yang biasanya tidak pernah benar-benar ditempuh: jarak antara dinding kota yang penuh coretan protes dan ruang galeri yang tenang, berjarak, dan tertata rapi. Di Galeri Orbital Dago, jarak itu justru sedang dirayakan.
Lewat pameran "Act Move (In Collaboration)", Arman Jamparing — kelahiran Garut tahun 1975, kini tinggal dan berkarya di Bandung — membawa bahasa jalanan yang ia bangun sejak awal 2000-an ke dalam ruang pamer, tanpa membiarkannya kehilangan nyalinya.
“Bandung itu—kota besarlah—gemerlapnya kan itu menggoda banget. Saya sampai mabal gitu,” kata Arman, di pameran yang ditutup pada Senin, 23 Agustus 2026.

“Balik sekolah (hari) Sabtu begadang. Misalnya ke Bandung, nongkrong-nongkrong di alun-alun,” timpalnya ketika berbicara tentang awal eksplorasi Arman di waktu muda saat masih bersekolah di Garut.
ACT MOVE berangkat dari kerja Arman bersama Dadan Januar pada awal 2000-an, kala itu masih bernama "Act and Move". Keduanya menghadirkan aksi bertema sosial di jalanan dan ruang publik lewat teks protes yang provokatif — bukan diklaim sebagai grafiti, melainkan sebagai tindakan artistik yang langsung berhadapan dengan situasi sosial-politik.
Teknik yang menjadi ciri khasnya, whitepaste, adalah teknik menempelkan kolase kertas fotokopi atau reproduksi dengan lem putih di atas permukaan seperti kanvas, kayu, dinding, keramik, atau kertas tebal — teknik yang populer dalam praktik seni jalanan sebagai alternatif cat semprot aerosol.
Kini teknik itu berpindah dari dinding kota ke kanvas, dan benda-benda sehari-hari yang dipajang di galeri, tanpa kehilangan sifat benturan visualnya: potongan gambar dari media massa, ilustrasi, tipografi, dan stiker yang disusun bukan sebagai narasi linier, melainkan sebagai fragmen yang mengajak penonton membaca ulang persoalan kekuasaan, kekerasan, konsumsi, identitas, dan kehidupan kota.
Yang membedakan pameran ini adalah penekanannya pada sisi kolaboratif: karya-karya di Orbital Dago sebagian besar lahir dari dialog Arman dengan sembilan seniman dan kolaborator lintas disiplin — Agung Jenong, Aryo Saloko, Toni Antonius, Iyay AIMER, Evie Satijadi, Dadan Januar, Iwonk, dan Flowercans.
Bersama Aryo Saloko, lahir "Beyond" (mixed media on canvas, 90,5 x 100 cm, 2026), sebuah lanskap kota yang dibangun dari potongan gambar ditempeli penggaris, busur, dan segitiga ukur, menandai ketegangan antara keteraturan perencanaan dan pengalaman warga yang jauh lebih rumit.
Sementara itu, kolaborasi dengan pelukis Toni Antonius menghasilkan "Party Club Anjing" (mix media on canvas, 150 x 110 cm, 2026): sosok anjing menggeram dengan mahkota duri dan latar emas direspons Act Move lewat tekstur whitepaste, sementara troli belanja penuh produk menggeser pembacaan dari simbol keganasan menjadi cermin hasrat konsumsi.
Dengan pematung Iwonk, ACT MOVE menghadirkan "Paradoksal" (recycle plastics mixed media, 2026) — tubuh manusia melayang yang dibentuk dari plastik daur ulang, jejak pecahan dan teksturnya sengaja dibiarkan terlihat, lalu ditempeli teks dan citra reproduksi ala urban. Kolaborasi dengan Flowercans, toko material grafiti milik seniman Bujangan Urban, menghasilkan instalasi zine (installation zine mixed media, dimensi variabel) yang hadir sebagai terbitan yang bisa digandakan, dijual, dan dibawa pulang.
Di luar karya kolaboratif, ACT MOVE juga menghadirkan karya individual berupa seri kolase digital (digital collage print on materica paper, 85 x 75 cm, 2026) — di antaranya Pesta Para Pencuri, Estetika Kekerasan, Doktrin, Menunggu Sang Mesias, Indonesia Hari Ini, Troubles, Kepala Api, dan Target.
Pada karya-karya ini, wajah manusia kerap digantikan oleh bibir, sidik jari, api, masker, atau mesin, sebuah pergeseran yang membuat identitas tampil sebagai sesuatu yang terus dibentuk, diawasi, disensor, dan diperebutkan. Sosok berpakaian formal, target tembak, jarum suntik, kawat berduri, kamera, dan fragmen slogan menghadirkan pembacaan tentang kuasa: siapa yang melihat, siapa yang dikendalikan, dan siapa yang suaranya dibungkam.

Karya lain mempertemukan lanskap alam dengan alat berat konstruksi dan cerobong industri, mempertanyakan penguasaan ruang dan kerusakan ekologis. Sementara burung, bunga, dan figur rapuh muncul sebagai kontras: tanda kehidupan yang tetap bertahan di tengah situasi yang mengancam.
Baca Juga: Bahana Sunyi Tembok Kota
Menghapus Cerita Mural dan Grafiti dari Tembok ke Tembok
Seni Terus Jadi Penggema Keresahan
ACT MOVE (In Collaboration) menegaskan dua hal sekaligus. Pertama, karya seni bisa menjadi medium untuk menyuarakan keresahan sosial — lewat kerucut lalu lintas, patung dari plastik daur ulang, hingga kolase digital yang penuh simbol kuasa dan kontrol, ACT MOVE dan para kolaboratornya membawa persoalan kekuasaan, konsumsi, dan kehidupan kota keluar dari ruang privat menuju ruang yang bisa dilihat dan dirasakan bersama.
Kedua, karya-karya ini juga sengaja tidak menawarkan jawaban tunggal. Fragmen visual yang padat dan retak, tanpa narasi yang linier, justru membuka ruang bagi audiens untuk merangkai sendiri maknanya. Mempertanyakan hubungan antara tubuh, kota, kekuasaan, dan masa depan menurut pengalaman masing-masing.
Arman mengatakan bahwa momen seperti ini diharapkan menjadi tempat untuk bisa beristirahat sejenak. “Apalagi kebanyakan teman saya dari working class, mereka mungkin ga paham, tapi setidaknya mereka bisa menikmati,” ucapnya.
Orbital Dago pun menjadi bukti bahwa seni bukan sekadar hasil akhir yang dipajang dan selesai, melainkan ruang perjumpaan yang terus terbuka untuk ditafsir ulang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


