Pameran Photos Speak: Memotret Luka, Memaknai Fana
Melalui karya Sore dalam pameran Fana: Lahir, Hidup, dan Mati, kita bisa menyelami pengalaman perundungan, pergulatan kesehatan mental, dan perubahan diri.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 29 Oktober 2026
BandungBergerak - Saat memasuki ruang pameran Fana: Lahir, Hidup, dan Mati, saya menjumpai foto dengan nuansa pengalaman perundungan, persoalan kesehatan mental, dan berakhirnya kehidupan. Foto berjudul Lepas itu memperlihatkan seseorang Bernama Sore yang berjalan di atas tangga gedung. Ia seakan bergerak menuju ujung perjalanan hidupnya.
Teknik foto motion blur yang digunakan membuat sosok tersebut tampak samar tapi tetap memberi kesan berjalan menaiki tangga kehidupan yang lain. Alya Khairunisa, salah seorang fotografer di pameran Fana, melalui karya hitam putih ini tidak semata-mata membicarakan kematian sebagai akhir kehidupan, tetapi juga perubahan yang membuat seseorang harus meninggalkan sebagian dari dirinya.
Bagi Alya, lahir, hidup, dan mati tidak selalu harus dimaknai sebagai tiga tahapan yang berlangsung secara berurutan. Ketiganya dapat hadir dalam perubahan sehari-hari: sesuatu yang tumbuh, sesuatu yang dijalani, dan sesuatu yang pada akhirnya tidak lagi dapat dipertahankan.
“Manusia itu fana, bukan hanya karena suatu hari akan mati, tetapi karena kita terus berubah,” kata Alya, di pameran yang diselenggarakan komunitas fotografi Photo’s Speak di Dot Hub, Summarecon Bandung, 18–19 September 2026.
Perjalanan Sore, lanjut Alyam berangkat dari pengalaman hidup yang tidak sederhana, termasuk perundungan yang pernah dialami. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari narasi yang kemudian bergerak menuju persoalan kesehatan mental dan pemaknaan atas akhir kehidupan.
Alya tidak menjadikan kisah Sore sekadar cerita tentang apa yang pernah dialaminya. Ia berusaha membawa pengalaman tersebut pada persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana seseorang menghadapi ketakutan, pengalaman masa lalu, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, serta upaya berdamai dengan keadaan.
Menurut Alya, proses melepaskan bukan berarti menghapus seluruh pengalaman yang pernah terjadi. Ada hal-hal yang tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang, meskipun cara memandang dan menghadapinya dapat berubah. Pengalaman masa lalu tidak selalu bisa dihilangkan, tetapi seseorang dapat belajar untuk tidak terus-menerus terikat dengannya.
“Proses untuk melepaskan itu tidak selalu berarti melupakan atau meninggalkan semuanya, tetapi belajar berdamai dan memberi ruang untuk diri sendiri,” ujarnya.
Seseorang dapat meninggalkan kebiasaan lama, mengubah cara berpikir, mengakhiri hubungan, atau melepaskan gambaran tentang dirinya yang selama ini dipercaya. Berakhirnya sesuatu tidak selalu berarti seluruh perjalanan ikut berhenti. Ada kemungkinan untuk memulai kembali dengan pemahaman yang berbeda.

Fana dan Personal
Pameran Fana diikuti 13 pameris yang terpilih dari 28 orang peserta seleksi. Mereka menerjemahkan tema Fana melalui pengalaman dan sudut pandang yang beragam dalam membaca kefanaan melalui pengalaman personal.
Selain foto Sore, saya menemukan foto seorang anak kecil yang sedang bermain di perumahan. Tatapannya tertuju pada seorang bapak yang bekerja menjadi petugas pemadam kebakaran. Dalam foto itu, pertemuan sederhana tercipta antara seorang anak polos dan dunia orang dewasa.
Di sudut ruang pameran lain, foto seorang perempuan sedang menuliskan daftar keinginannya. Ia menyimpan catatan-catatan itu dalam buku harian, termasuk cita-cita untuk berkuliah di universitas impian. Namun sialnya, hidup tidak berhenti pada keinginan yang tak tercapai. Hari hari tetap berjalan sekalipun keinginan kita tertunda dan tak terlaksana.
Pengalaman yang dibawa pameris muncul oleh di tengah persoalan kesehatan mental yang semakin mendapat perhatian di Kota Bandung. Data Dinas Kesehatan Kota Bandung yang dihimpun dari 80 puskesmas menunjukkan jumlah orang dengan gangguan jiwa berat meningkat dari 4.261 kasus pada 2022 menjadi 5.272 kasus pada 2025. Dinas Kesehatan juga menyebut persoalan seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan gangguan bipolar menunjukkan tren peningkatan.
Di sisi layanan, dari 80 puskesmas di Kota Bandung, baru 12 yang memiliki layanan psikolog klinis. Kedua belas puskesmas tersebut dipetakan untuk mewakili wilayah tertentu dan dapat menjadi rujukan bagi masyarakat dari wilayah lain yang belum memiliki layanan serupa.
Pemerintah Kota Bandung juga meluncurkan layanan konseling psikologis Bandung Utama Bagja Sararea (Bangbara) di Kecamatan Ujungberung pada 25 Juni 2026. Layanan ini ditujukan bagi warga yang mengalami stres, kesedihan berkepanjangan, maupun persoalan lain yang membutuhkan pendampingan psikologis.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut tingginya kasus percobaan bunuh diri sebagai salah satu indikator perlunya penguatan layanan kesehatan mental. Namun, dalam keterangan yang tersedia, tidak dicantumkan angka spesifik mengenai jumlah kasus tersebut. Karena itu, persoalan ini perlu ditempatkan sesuai dengan informasi yang disampaikan pemerintah, tanpa menarik kesimpulan lebih jauh mengenai pengalaman Sore.
Data tersebut memberikan konteks bahwa kesehatan mental bukan hanya persoalan individual, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap akses pendampingan. Meski demikian, angka gangguan jiwa berat tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh persoalan kesehatan mental yang dialami warga.
Dalam konteks ini, karya Lepas menawarkan pendekatan berbeda. Karya Alya tidak menyajikan data atau penjelasan klinis, melainkan membawa pengunjung berhadapan dengan sebuah pengalaman personal. Cerita Sore menjadi pijakan untuk memahami bahwa pengalaman manusia tidak selalu sederhana dan tidak seluruhnya dapat diterangkan melalui angka.
Persoalan kesehatan mental juga tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat memperlakukan orang yang mengalaminya. Perundungan, misalnya, merupakan pengalaman yang dapat meninggalkan dampak bagi seseorang. Namun, hubungan antara pengalaman tersebut dan kondisi psikologis seseorang perlu dipahami berdasarkan cerita serta konteks masing-masing, bukan melalui generalisasi.
Tahun lalu misalnya, sebuah tragedi perundungan bahkan dikalangan hidup bertetangga di Banjaran, Bandung Selatan. Seorang ibu yang melawan stigma gangguan mental dan berujung mengakhiri hidupnya karena tekanan lingkungan, minimnya fasilitas psikolog gratis, dan kesulitan ekonomi yang ditutup-tutupi.
Karena itu, karya foto cerita foto Alya membuka ruang bagi kita untuk melihat pengalaman seseorang dan berusaha ikut peduli dan merasakan.
Baca Juga: Pameran Fotografi CitiesFiction: Membaca Wajah Bandung yang Tak Pernah Benar-benar Utuh
Pameran Bandung Photography Month 2025: Merenungkan Karya-karya Fotografi di Pinggir Jalan
Memotret Manusia, Menjaga Batas
Muhammad Tommy Lou, salah satu kurator Fana, mengatakan proses kurasi menjadi ruang bagi para pameris untuk mempertanggungjawabkan hubungan antara foto dan cerita. Menurutnya, visual yang menarik belum tentu cukup apabila tidak memiliki alasan yang jelas mengenai keberadaan dan pesan yang hendak disampaikan.
Para kurator tidak menentukan isu yang harus diangkat setiap pameris. Gagasan berasal dari anggota baru, kemudian didiskusikan bersama untuk membantu mengarahkan karya. Proses tersebut juga mencakup pertimbangan etika, terutama ketika karya melibatkan manusia dengan kehidupan dan pengalaman personal.
“Gagasan datang dari masing-masing anggota baru, kemudian didiskusikan dan diverifikasi bersama,” ujar Tommy.
Dalam karya Lepas, pengalaman Sore menjadi bagian penting yang perlu dipertimbangkan selama proses tersebut. Kurator berusaha mempertahankan perspektif personal Alya sembari memperhatikan batas-batas yang berkaitan dengan narasumber. Dengan demikian, cerita yang dibawa ke ruang pameran tidak hanya dinilai dari kekuatan visual dan narasinya, tetapi juga dari cara pengalaman seseorang dihadirkan kepada publik.
Andika Putra, kurator lainnya, mengatakan tema Fana sejak awal dimaksudkan untuk melihat kehidupan dalam berbagai bentuk. Kehidupan dapat tumbuh dari harapan, dibangun melalui pengorbanan, dijalani dengan ketakutan, bahkan melalui usaha seseorang untuk bertahan satu hari lebih lama.
“Fana ini bukan hanya berbicara tentang lahir, hidup dan mati sebagai tiga tahapan yang akan dilalui, tetapi juga tentang apa saja yang terjadi di antara ketiganya,” kata Andika.
Keragaman karya dalam pameran tersebut memperlihatkan bagaimana tema yang sama dapat diterjemahkan melalui pengalaman berbeda. Pada bagian Lahir, misalnya, terdapat karya yang mengajak pengunjung melihat dunia melalui sudut pandang seorang anak kecil. Karya lain mengangkat kehidupan seorang penyandang disabilitas yang bekerja membuat replika tangan dan kaki.
Di bagian akhir perjalanan ruang pameran, karya membawa pengunjung kembali pada persoalan kefanaan. Kematian tidak hanya dibaca sebagai akhir biologis, tetapi juga sebagai kemungkinan berakhirnya sesuatu yang selama ini melekat pada diri seseorang.
Bagi satu orang, melepaskan mungkin berarti meninggalkan masa lalu, meninggalkan kehidupan. Bagi orang lain, hal itu dapat berarti mengubah cara memandang diri sendiri atau memberi ruang bagi pengalaman baru. Tidak semua hal dapat dipertahankan selamanya, tetapi pengalaman yang pernah terjadi tetap menjadi bagian dari perjalanan seseorang.
Melalui karya Lepas ini Alya mengajak pengunjung melihat perubahan sebagai bagian dari kehidupan. Di antara hal-hal yang lahir, tumbuh, dan berakhir, ada proses personal yang tidak selalu terlihat dari luar: usaha seseorang untuk berdamai dengan keadaan dan menjalani hidup dengan pemahaman yang berbeda.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


