Pameran Fotografi CitiesFiction: Membaca Wajah Bandung yang Tak Pernah Benar-benar Utuh
Amalaika Priambodo lewat Transremembering JakDungArtaBan menjahit seratus foto kenangan tentang Bandung di atas selembar kain.
Penulis Zahran Gabriel15 Oktober 2026
BandungBergerak - Berbagai karya seni rupa terpajang di ruang pameran Grey Art Gallery, Braga, Bandung. Di tengah ramainya pengunjung, sejumlah orang tampak berbincang dan bertukar pandangan. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya menjadi objek untuk dilihat, tetapi juga memantik percakapan tentang pengalaman dan ingatan mereka terhadap Kota Bandung.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Transremembering JakDungArtaBan karya Amalaika Priambodo, yang ditampilkan dalam pameran CitiesFiction pada 29 September 2026. Selembar kain berbingkai itu dipenuhi potongan foto yang disusun berdampingan dan disatukan dengan jahitan benang merah. Dari kejauhan, potongan-potongan tersebut tampak membentuk satu kesatuan. Namun, ketika diamati lebih dekat, setiap gambar menampilkan bagian yang berbeda.
Karya itu berangkat dari pengalaman Amalaika yang tinggal di Bandung sejak 2022 untuk berkuliah. Selama masa studinya, Bandung menjadi bagian dari kesehariannya. Setelah lulus pada 2026, ia meninggalkan kota tersebut dan kembali ke Jakarta. Justru setelah kepergiannya, ingatan tentang pengalaman hidup di Bandung mulai muncul dan menjadi dasar penciptaan _Transremembering JakDungArtaBan_.
“Potongan-potongan gambar yang disusun dalam karya, menggambarkan bahwa tidak sepenuhnya utuh. Tetapi tersusun dari berbagai memori dan pengalaman,” tutur Amalaika.
Ingatan Amalaika tentang Bandung tidak hadir sebagai rekaman yang utuh. Ia justru mengingat kota tersebut melalui pengalaman yang dijumpainya di Jakarta. Pengalaman dari dua kota itu kemudian bertemu dalam satu karya, membuat batas antara tempat yang pernah ditinggali dan tempat yang sedang ditempati menjadi tidak sepenuhnya jelas.
Amalaika menerjemahkan ingatan tersebut melalui potongan-potongan fotografi. Alih-alih menampilkan kota dari satu sudut pandang, ia menyusun beragam fragmen gambar menjadi satu bidang. Sebanyak 100 foto disatukan di atas kain dengan jahitan benang merah. Baginya, benang merah lebih mudah terlihat dibandingkan benang putih. Jahitan itu sengaja dibiarkan tampak untuk memberikan kesan seolah-olah membelah satu foto dengan foto lainnya.
Proses penyatuan seratus foto tersebut membutuhkan ketelitian. Setiap potongan harus dijahit secara terperinci agar dapat membentuk satu kesatuan tanpa menghilangkan kesan terpisah di antara gambar-gambar tersebut.
“Karya ini terinspirasi dari David Hockney, terutama teknik panograph atau joiner yang menggabungkan beberapa foto menjadi satu kesatuan,” Ujar Amalaika.
Melalui proses tersebut, Amalaika menekankan pentingnya pengerjaan manual dalam penciptaan karya seni. Proses menjahit satu per satu potongan foto tidak hanya menjadi cara untuk menyatukan gambar, tetapi juga bagian dari pengalaman artistik yang membentuk karya itu sendiri. Setiap jahitan memperlihatkan bahwa gambaran tentang kota tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses menyusun pengalaman dan ingatan yang beragam.
Namun, persoalan yang dihadirkan CitiesFiction tidak berhenti pada cara seniman merekam atau mengingat sebuah kota. Pameran ini juga mengajak pengunjung mempertanyakan kembali makna kota dalam karya seni rupa. Apakah kota hanya diwakili oleh bangunan, jembatan, dan jalan publik?
Bagi kurator Henrycus, kota tidak sekadar ruang fisik yang terdiri atas gedung-gedung tinggi dan bangunan. Ada dimensi lain yang membentuk makna sebuah kota, yakni hubungan emosional manusia dengan ruang yang mereka tinggali. Setiap sudut Bandung, misalnya, dapat menyimpan cerita yang berbeda bagi setiap orang.
Hubungan emosional tersebut membentuk ingatan tentang kota. Melalui ingatan, seseorang dapat melihat dan memaknai ruang yang sama dari perspektif yang berbeda. Sebuah tempat bisa menjadi bagian dari memori kolektif, sementara bagi orang lain, tempat yang sama mungkin menyimpan kenangan personal, termasuk tentang seseorang yang pernah dicintai.
Pengalaman manusia yang beragam itulah yang turut membentuk citra kota. Setiap seniman memiliki cerita dan Bandung-nya sendiri. Karena itu, cara mereka memahami dan merepresentasikan Bandung pun tidak pernah sepenuhnya sama.
Baca Juga: Pameran ACT MOVE di Orbital Dago: Dari Jalanan Kota ke Dinding Pameran
Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi

Atas dasar itu, Henrycus mempertemukan seniman dari generasi yang berbeda. Bandung yang dialami seseorang puluhan tahun lalu tentu tidak selalu sama dengan Bandung yang dikenal mahasiswa masa kini. Perbedaan pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan kota turut memengaruhi ingatan dan cara manusia memandangnya.
“Kalau yang masih muda mungkin mengalami Bandung sekarang saja. Tapi kalau misalnya, kalau saya pernah mengalami Bandung yang tiap hari berkabut. Tidak pernah mengalami kemacetan. Masih bisa menikmati jalanan di Bandung. Kalau sekarang udah hampir mustahil,” ujar Henrycus.
Dengan demikian, CitiesFiction bukan sekadar pameran fotografi tentang Kota Bandung. Pameran ini mempertemukan beragam cara manusia mengalami, mengingat, dan melihat kota. Bandung tidak hadir sebagai satu gambaran yang seragam, melainkan sebagai ruang yang terus dimaknai melalui pengalaman personal setiap individu.
Cara pandang tersebut juga terlihat dari pengalaman Giyanti, salah satu pengunjung pameran. Karya-karya yang ditampilkan membawanya kembali memperhatikan ruang, suasana, bangunan, dan pengalaman sehari-hari yang selama ini mungkin dianggap biasa.
Melalui karya seni, pengalaman personal seniman bertemu dengan ingatan pengunjung. Ketika pengunjung membaca karya-karya di CitiesFiction, mereka tidak hanya melihat Bandung dari sudut pandang seniman, tetapi juga menemukan kembali kota itu melalui pengalaman mereka sendiri.
“Menurut saya iya, sedikit berubah. Saya jadi lebih memperhatikan hal-hal kecil di Bandung yang biasanya saya anggap biasa saja. Ternyata tempat, bangunan, suasana, dan lingkungan sekitar juga bisa menyimpan cerita dan kenangan bagi orang yang melihat atau mengalaminya,” Gumam Giyanti, pengunjung pameran CitiesFiction.
CitiesFiction memang tidak menawarkan satu gambaran tunggal tentang Bandung. Sebaliknya, pameran ini memperlihatkan keragaman wajah kota yang bergantung pada siapa yang mengalami, mengingat, dan melihatnya. Bandung yang hadir di dalam karya-karya tersebut bukan sekadar kumpulan bangunan dan ruang fisik, melainkan kota yang dibentuk oleh pengalaman manusia di dalamnya. Sebab, sebuah kota mungkin tidak pernah memiliki satu cerita saja. Ia terus berubah dan tumbuh, sementara ingatan manusia menyimpan, menyusun, dan menghadirkan kembali makna kota dengan caranya masing-masing.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


