• Berita
  • Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi

Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi

Melalui kuda lumping dan lanskap sunyi, Vincent Rumahloine merumuskan ulang makna keterlepasan. Instalasi dan lukisannya sebagai ruang perjumpaan.

Pameran tunggal Vincent Rumahloine bertajuk Tercerabut, 23 April-17 Mei 2026 di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung. (Foto: M Jadid Alfadlin/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi29 April 2026


BandungBergerak - Di sudut ruang pamer, deretan anyaman bambu berbentuk kuda lumping berjajar dan berdiri diam. Posisi mereka seperti saling kejar dalam barisan spiral yang meliuk-liuk dan terasa ganjil. Garis-garis gambar di atasnya seperti berusaha “menghidupkan kembali” sesuatu yang telah hilang, sebuah tubuh yang pernah dipinjam, lalu berubah.

Vincent Rumahloine menatap karya itu sambil menjelaskan bagaimana ia mencoba mengembalikan “roh” kuda ke dalam bentuk yang sudah terlanjur bergeser maknanya. Ia berangkat dari praktik kesenian kuda lumping, ketika kesadaran manusia dipercaya dapat tergantikan oleh entitas lain. Namun, baginya, yang lebih menarik justru bukan tubuh manusia, melainkan bentuk kuda yang sejak awal hanya dipinjam.

“Jadi kuda kan dipinjam bentuknya jadi bentuk kuda lumping, nah sekarang saya masukin lagi dalam bentuk drawing atau lukisan arwah kuda tapi kudanya nggak bisa sempurna karena rumahnya udah bentuknya udah berubah,” jelas Vincent Rumahloine, dalam pameran tunggal bertajuk “Tercerabut”, 23 April hingga 17 Mei 2026 di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung.

Melalui instalasi ini, seniman 41 tahun tersebut menegaskan bahwa sesuatu yang telah tercerabut tidak pernah benar-benar bisa kembali ke bentuk aslinya. Baginya, pameran “Tercerabut” merupakan pameran seni yang tidak selalu hadir sebagai ruang estetika semata, tetapi juga sebagai medium refleksi personal dan sosial.

Pameran ini merupakan refleksi dari perjalanan panjang Vincent dalam mempertanyakan identitas dirinya. Melalui berbagai medium seperti lukisan kanvas berukuran 3 x 6 meter, 21 anyaman bambu berbentuk kuda, hingga video dokumentasi pertunjukan kuda lumping—Vincent menyampaikan pengalaman “tercerabut” yang ia alami sejak kecil.

Karya-karya Vincent menyodorkan pertanyaan mendasar, siapa dirinya sebenarnya dan pertanyaan ini juga tertuju pada kita, siapa kita sebenarnya?

Sebagai seorang anak keturunan Ambon yang lahir dan besar di Bandung, Vincent tumbuh dengan perasaan berbeda dari lingkungan sekitarnya. Ia harus terus beradaptasi agar dapat diterima, meski memiliki latar belakang, nama, warna kulit, dan keyakinan yang berbeda.

Pengalaman hidup yang berpindah-pindah dari tempat, lingkungan, hingga pekerjaan untuk membentuk perasaan tercerabut yang kuat dalam dirinya. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai keterlepasan dari akar, seperti sesuatu yang tidak benar-benar tertanam di satu tempat.

“Pengalaman saya tercerabut, sampai di situasi mempertanyakan kalau saya itu (orang) Ambon atau (orang) Sunda. Soal looks saya (orang) Ambon, tapi begitu saya ngomong (bahasa) Sunda saya lekoh,” ungkap Vincent.

Pameran tunggal Vincent Rumahloine bertajuk Tercerabut, 23 April-17 Mei 2026 di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung. (Foto: M Jadid Alfadlin/BandungBergerak)
Pameran tunggal Vincent Rumahloine bertajuk Tercerabut, 23 April-17 Mei 2026 di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung. (Foto: M Jadid Alfadlin/BandungBergerak)

Dilema ini semakin terasa karena meskipun memiliki darah Ambon, Vincent justru tumbuh dengan bahasa dan budaya Sunda. Ia bahkan tidak bisa berbahasa Ambon. Ketika berkunjung ke Ambon, dialek Sunda masih melekat dalam tutur katanya, menimbulkan kebingungan bagi lawan bicara, sekaligus mengembalikan pertanyaan yang sama: ia sebenarnya berasal dari mana?

Perasaan ini tidak pernah benar-benar menemukan jawaban. Bahkan ketika diminta memilih, Vincent menolak untuk menyederhanakan identitasnya menjadi satu pilihan tunggal.

“Kalau suatu waktu saya harus milih Ambon atau Sunda, saya gak bisa milih. Gak bisa, saya gak bisa milih. Jangan disuruh milih aja saya mah,” ujarnya.

Secara konseptual, “tercerabut” merujuk pada kondisi terlepas dari tempat asal, seperti tanaman yang dicabut dari tanahnya atau memori yang terputus dari sejarahnya. Namun Vincent tidak hanya melihatnya sebagai kondisi kehilangan.

Ia juga melihat “tercerabut” sebagai titik awal dari kemampuan adaptasi. Ketika seseorang tidak lagi memiliki akar yang kuat di satu tempat, ia justru terdorong untuk membaca situasi dan menyesuaikan diri dengan lebih cepat. 

“Nah, sebenernya perasaan tercerabut itu yang bikin kamu adaptasi ya, adaptif sama berbagai macam situasi. Akhirnya kamu bisa mudah untuk beradaptasi dan untuk bisa ngebaca situasi lebih cepat.”

Dalam perspektif ini, tercerabut menjadi sesuatu yang produktif, mendorong manusia untuk terus bergerak dan menemukan cara baru dalam bertahan hidup, bahkan menanam “akar” di tempat yang berbeda.

Bagi Vincent, seni rupa menjadi medium utama untuk mengolah kegelisahan tersebut. Ia tidak berusaha memberikan jawaban final atas dilema identitasnya, melainkan menciptakan ruang untuk menerima ketidakpastian itu sendiri.

“Kan semua orang punya problem ya tentang identitas, nah saya pikir lewat seni rupa itu kaya terapi sih untuk pencarian identitas tadi. Ini tuh kaya proses menerima aja situasinya, walaupun tidak terjawab tapi ada usaha untuk menerima dan mencari gitu,” ucapnya.

Karya-karya dalam pameran ini dikerjakan dalam waktu 2–3 bulan, namun didahului oleh proses riset yang panjang, mulai dari 2 hingga 5 tahun. Dalam proses tersebut, Vincent juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti eksil Indonesia di Praha, pelukis Jelekong, hingga warga RW 04 di Cijengkol.

Pendekatan ini mencerminkan praktik artistiknya yang berbasis komunitas dan keterlibatan sosial (socially engaged art), di mana relasi personal dan kepercayaan menjadi bagian penting dalam proses penciptaan karya.

Dalam pameran ini, Vincent juga memperkenalkan pendekatan yang ia sebut sebagai Jelekongism, sebuah gagasan tentang gaya melukis yang berakar dari praktik seni lukis di Jelekong yang telah berlangsung sejak 1970-an.

Ia melihat bahwa banyak gaya seni yang diajarkan secara formal masih berakar pada tradisi Barat. Karena itu, ia berupaya merumuskan pendekatan yang lebih kontekstual dengan Indonesia.

“Banyak gaya lukis itu kan dibuatnya dengan gaya barat, yang dikenal pada waktu kuliah. Saya pengin bikin gaya lukisan yang asli Indonesia. Bermuaranya sebenernya ke lukisan gua di Sulawesi,” terangnya. 

Menurutnya, praktik ini telah melahirkan berbagai istilah dan teknik yang cukup matang untuk disebut sebagai sebuah “isme” dalam seni lukis.

Pameran tunggal Vincent Rumahloine bertajuk Tercerabut, 23 April-17 Mei 2026 di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung. (Foto: Muhamad Rafi/BandungBergerak)
Pameran tunggal Vincent Rumahloine bertajuk Tercerabut, 23 April-17 Mei 2026 di Tjap Sahabat Cultural Hub & Gallery, Bandung. (Foto: Muhamad Rafi/BandungBergerak)

Baca Juga: Delapan Seniman Perempuan di Pameran Banda Indung #2
Sindiran di Pameran Asal Pamer dari Partai Asal Ketawa

Tiga Perspektif Tercerabut: Politik, Spiritual, dan Lingkungan

Pameran “Tercerabut” tidak hanya berangkat dari pengalaman personal, tetapi juga diperluas ke dalam tiga perspektif utama: politik, spiritual, dan lingkungan hidup.

Vincent menghadirkan instalasi berupa papan elektronik dengan teks berjalan bertuliskan: “Apakah saudara setuju dengan rezim yang baru?”.

Karya ini terinspirasi dari kisah eksil Indonesia pasca 1965. Mahasiswa Indonesia di luar negeri saat itu harus menjawab pertanyaan tersebut untuk menentukan nasib mereka.

“Karena kan 1966 kan Suharto masuk, rezim baru naik. Namanya New Order kan, order baru. Di-screening, kalau yang setuju, kamu pulang, lalu kamu lanjutkan hidup. Kalau yang gak setuju, passport-nya dicabut. Jadi pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan yang netral, tapi jawabannya itu yang bahaya,” paparnya.

Pertanyaan yang tampak sederhana ini menyimpan konsekuensi besar—memaksa individu untuk menentukan identitas politiknya dengan risiko kehilangan tanah air.

Dalam instalasi kuda lumping, Vincent mengeksplorasi kondisi tercerabut secara spiritual. Sementara dalam lukisan lanskapnya, Vincent menggambarkan kerusakan lingkungan: hutan yang ditebang, ekspansi sawit, dan industrialisasi. Menariknya, manusia tidak hadir secara visual dalam karya tersebut.

Ketidakhadiran ini justru menjadi penegasan bahwa manusialah pelaku utama kerusakan tersebut.

“Jadi itu tijak-tijak manusia yang akhirnya kita semua tuh punya andil. Jadi kamu, saya, dan semua. Makanya nggak ada orang kan? Kita orangnya tuh. Kita yang bikin, bikin kaya gini, jadi semuanya salah sebenernya.”

Melalui pendekatan ini, Vincent merujuk pada konsep antroposen—bahwa krisis lingkungan adalah hasil dari aktivitas manusia secara kolektif.

Perasaan tercerabut ini tidak hanya dialami Vincent. Dalam rangkaian acara Talking Artist di pameran tersebut, Fathiyyah Maryufani (Fani) membagikan pengalaman yang serupa.

Pada usia 17 tahun, Fani pindah ke Brasil untuk menempuh pendidikan selama sekitar satu tahun lima bulan. Namun ketika kembali ke Indonesia, ia justru mengalami keterasingan di tempat yang sebelumnya ia anggap sebagai rumah.

“Pas saya balik ke sini (Indonesia), saya gak merasa cukup untuk jadi orang Indonesia tapi saya juga gak merasa cukup untuk jadi orang Brasil, ya karena saya juga bukan orang Brasil,” tutur Fani.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa identitas tidak selalu bersifat tetap. Ia bisa menjadi cair, berada di antara, dan terus berubah seiring pengalaman hidup—terutama dalam konteks perpindahan geografis dan budaya.

Akhirnya, “Tercerabut” bukan sekadar tentang kehilangan akar, tetapi juga tentang kemungkinan untuk terus tumbuh dalam kondisi yang tidak pasti. Pameran ini mengajak audiens untuk merefleksikan bagian diri mereka yang mungkin juga sedang “tercerabut” di tengah dunia yang terus berubah, serta mempertanyakan apakah di dalamnya terdapat kekuatan untuk beradaptasi, bertahan, dan membentuk makna baru.

***

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Muhammad Jadid Alfadlin dan Muhamad Rafi. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//