CERITA ORANG BANDUNG #122: Kayla Bertahan di Tengah Sunyi Pasar Modern Batununggal
Omzet mie ayam Kayla merosot sejak akhir 2025. Di tengah kios-kios yang tutup dan pembeli yang jarang, ia dan suami berjualan demi membayar sewa kios dan biaya anak.
Penulis Zahran Gabriel29 Oktober 2026
BandungBergerak - Sebagian kios di Pasar Modern Batununggal, Bandung, tampak tutup dan lengang. Aktivitas pembeli kini hanya terkonsentrasi pada jam-jam tertentu. Kondisi tersebut menjadi tekanan tersendiri bagi Kayla, pedagang mi ayam di pasar ini. Sepi pembeli tersebut bukan terjadi sekali dua kali, melainkan mulai dirasakan sejak akhir 2025 lalu.
“Pendapatan tuh menurun sampai 85 persen sekarang mah,” ucap Kayla, saat ditemui BandungBergerak, 14 oktober 2026.
Situasi lesu ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa awal ia dan suaminya merintis usaha di pasar tersebut. Kayla dan Jamaludin merupakan pasangan perantau asal Tegal, Jawa Tengah, yang mulai membangun usaha bersama di Bandung sejak 2013. Sebelum berdagang di pasar modern, mereka sempat merintis usaha kuliner khas Timur Tengah bersama seorang rekan, namun kandas di tengah jalan akibat dikhianati oleh mitra bisnis tersebut.
Memasuki tahun 2014, peruntungan mereka mulai membaik seiring viralnya fenomena batu akik di Pasar Modern Batununggal. Aktivitas pasar kembali ramai ketika ada pameran yang menghadirkan para pemain sinetron Preman Pensiun. Puncaknya pada tahun 2016 hingga 2017, ketika para pemain Tamiya memadati arena balap dan kalangan orang kantoran menjadi pelanggan tetap Kayla.
Bagi pelaku UMKM, perubahan jumlah pengunjung tidak hanya tecermin dari suasana pasar yang sepi, tetapi juga berdampak langsung pada merosotnya pendapatan. Kayla mengungkapkan bahwa omzetnya merosot drastis seiring menurunnya aktivitas pasar. Tekanan ini kian nyata dengan banyaknya pedagang di sekitar kios Kayla dan Jamaludin yang memilih gulung tikar dan menutup kios mereka, sehingga jumlah pelaku usaha yang bertahan semakin berkurang.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat semua kios tutup. Sebagian pelaku usaha berupaya memutar otak untuk mendapatkan pelanggan dan pemasukan, salah satunya dengan tidak lagi hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke pasar.
Strategi utama yang dijalankan Kayla dan Jamaludin adalah memanfaatkan media sosial. Mereka mempromosikan dagangan melalui grup WhatsApp dan membuka layanan pemesanan di luar pasar. Pesanan tidak hanya diambil di kios; Jamaludin juga aktif mengantar makanan langsung ke daerah perumahan sekitar. Usaha kuliner mereka kemudian didaftarkan ke platform pesan antar seperti ShopeeFood dan GoFood guna memperluas jangkauan pembeli.
Kendati merambah jalur digital, strategi tersebut tetap berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan pelanggan lama. Kayla menyebutkan bahwa sebagian besar pembelinya saat ini masih didominasi oleh pelanggan tetap, seperti para karyawan kantoran di sekitar kawasan pasar.
Di sisi lain, Kayla konsisten mempertahankan menu andalannya. Ia tidak mengubah menu utama mi ayam yang menjadi ciri khas sekaligus pembeda dari pedagang lain. Selain itu, ia tetap menyediakan menu pendukung seperti Indomie, jus, kopi, susu, dan rokok. Harga makanan juga dipertahankan dan tidak mengalami kenaikan maupun penurunan, yakni tetap berkisar Rp13.000 per porsi.
Penyesuaian cermat juga dilakukan pada aspek produksi dan manajemen stok. Kayla tidak lagi menyiapkan makanan dalam jumlah besar di tengah ketidakpastian jumlah pelanggan. Makanan kini dimasak sedikit demi sedikit mengikuti dinamika pembeli harian guna meminimalisir risiko kerugian akibat sisa makanan yang tidak terjual.
Langkah ini menunjukkan bahwa penurunan pengunjung tidak sekadar memengaruhi pemasukan, melainkan juga menuntut kejelian pelaku usaha dalam mengatur pola produksi. Ketika permintaan pasar sulit diprediksi, penjual harus cermat menyiapkan bahan baku agar terhindar dari potensi kerugian.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #120: Sayap Kupu-kupu Kayu Menemani Langkah Panjang Syukron
CERITA ORANG BANDUNG #121: Andi Tetap Menyusuri Jalan dengan Roda Mainan Anak
Di tengah lesunya aktivitas pasar, beban operasional seperti biaya sewa kios tetap harus dibayarkan setiap bulan. Untuk menghadapi situasi tersebut, pembagian tugas harian dijalankan secara kompak oleh pasangan suami istri ini. Jamaludin bertugas berbelanja bahan baku dan mengantar pesanan, sementara Kayla fokus memasak dan menyiapkan dagangan di kios.
Di balik tantangan ekonomi tersebut, tanggung jawab keluarga menjadi motivasi utama mereka untuk terus bertahan. Kayla dan Jamaludin dikaruniai dua anak: anak pertama sedang menempuh pendidikan tinggi di perguruan tinggi, sementara anak kedua masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika pendapatan merosot, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup sehari-hari tetap harus dipenuhi, memaksa keduanya memangkas pengeluaran yang tidak mendesak.
Bagi Kayla, kewajiban membayar sewa kios dan melunasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) anak sulungnya adalah alasan terbesar mengapa ia tetap bertahan di tengah surutnya aktivitas pasar, di samping menjadikan usaha ini sebagai sumber utama perekonomian keluarga.
Hingga kini, Kayla menegaskan tidak memiliki rencana untuk menutup kiosnya. Ia memang sempat mempertimbangkan opsi untuk pindah ke lokasi yang lebih terbuka dan strategis di dekat jalan raya agar lebih mudah dijangkau dan dilihat oleh calon pembeli. Namun, ikatan emosional dan loyalitas para pelanggan tetap membuat Kayla mantap memilih untuk terus bertahan dan berdagang di Pasar Modern Batununggal.
Diketahui, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu bagian penting dalam perekonomian masyarakat. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah yang dipublikasikan melalui Open Data Kota Bandung, jumlah usaha mikro di Kota Bandung tercatat sebanyak 12.124 unit pada 2025, meningkat dari 8.684 unit pada 2022.
Data tersebut secara khusus mencakup usaha mikro yang tercatat dalam sistem pemerintah kota, bukan keseluruhan UMKM yang ada di Bandung. Pertumbuhan jumlah usaha ini memperlihatkan pentingnya keberadaan pelaku usaha skala mikro dalam kehidupan ekonomi perkotaan.
Secara lebih luas, Bank Indonesia menyebut UMKM sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Peran tersebut berkaitan dengan kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Pengalaman krisis ekonomi 1997–1998 juga menunjukkan bahwa UMKM seperti yang dijalankan Kayla dan suami berperan sebagai penyangga perekonomian, meskipun sektor ini tetap menghadapi berbagai tantangan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


