• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG #120: Sayap Kupu-kupu Kayu Menemani Langkah Panjang Syukron

CERITA ORANG BANDUNG #120: Sayap Kupu-kupu Kayu Menemani Langkah Panjang Syukron

Dengan kaki kanan yang terbatas, Syukron berjalan menyusuri jalanan Bandung menjajakan mainan kayu buatannya demi menghidupi keluarga dan menyekolahkan dua anaknya.

Syukron, 50 tahun, pedagang mainan kupu-kupu kayu, Minggu, 20 September 2026. (Foto: Zahran Gabriel/BandungBergerak)

Penulis Zahran Gabriel2 Oktober 2026


BandungBergerak - Suara gemerincing terdengar dari ujung Jalan Batununggal, Bandung, Minggu, 20 September 2026. Seekor kupu-kupu kayu bergerak mengikuti roda yang didorong di atas aspal. Sayapnya yang berwarna-warni ikut mengepak setiap kali mainan itu berjalan. Mainan tersebut hanya terbuat dari kayu. Sebuah roda dipasang di bagian bawahnya agar dapat bergerak, sementara bentuk kupu-kupu menjadi penghias sekaligus daya tarik bagi pembeli.

Di belakang mainan itu, seorang lelaki berjalan pelan sambil memikul dagangannya. Beban tersebut ia letakkan di pundak. Tangannya erat memegang barang dagangan agar tidak terjatuh. Wajahnya tampak lelah. Garis-garis halus terlihat di wajahnya yang mulai dimakan usia.

Lelaki itu adalah Syukron. Sehari-hari ia berjualan mainan kayu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hari itu, senyumnya mengembang ketika seorang pembeli menghampiri dagangannya. Raut wajahnya seketika berubah lebih cerah. Senyum itu menjadi seperti secercah harapan setelah beberapa jam ia menunggu pembeli.

Syukron bercerita, sebelum pembeli tersebut datang, tidak ada satu pun orang yang membeli dagangannya. Ia mulai berjualan setelah salat zuhur hingga matahari mulai tenggelam.

Di usianya yang menginjak setengah abad, Syukron tetap berkeliling mencari penghasilan dengan cara yang ia mampu. Ia tidak ingin dikasihani dan enggan mengemis, meski keterbatasan pada kaki kanannya membuat aktivitasnya tidak selalu mudah.

Kaki kanannya mengalami keterbatasan akibat kecelakaan. Kondisi tersebut tidak membuat Syukron berhenti bekerja. Ia masih berkeliling membawa mainan kayu buatannya sendiri.

Ada alasan yang membuatnya terus bertahan. Salah satunya adalah anak-anaknya yang masih bersekolah.

Namun, Syukron mengaku penjualannya kini menurun dibandingkan sebelumnya. Dalam satu hari, ia terkadang hanya mampu menjual sekitar sepuluh mainan. Satu mainan kayu tersebut dibanderol 4.000 rupiah.

“Dulu mah, sampe 25, sekarang mah 10 juga berat,” ujar Syukron saat bercerita kepada BandungBergerak.

Mainan yang dijajakan Syukron bukan barang yang sekadar ia ambil dari orang lain. Ia membuat sendiri mainan-mainan tersebut. Dalam sekali membuat, ia dapat menghasilkan sekitar seratus mainan kayu. Kemampuan tersebut ia dapatkan ketika dahulu bekerja sebagai kuli bangunan.

Syukron mengatakan dirinya dulu memiliki kemampuan dalam berbagai pekerjaan bangunan. Ia terbiasa mengerjakan banyak hal. Namun, setelah kecelakaan yang menyebabkan keterbatasan pada kaki kanannya, kesempatan untuk bekerja tidak selalu mudah didapat.

Keterbatasan tersebut membuat sebagian orang meragukan kemampuannya untuk bekerja. Syukron kemudian memilih membuat dan menjual mainan kayu sebagai salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan.

Ia membawa mainan-mainan tersebut berkeliling mencari pembeli. Tempat berjualannya pun tidak selalu sama. Sesekali ia memasuki kawasan kompleks perumahan untuk menawarkan dagangannya.

Syukron sendiri lahir di Cirebon sebelum kemudian berpindah ke Bandung. Ia pernah berjualan hingga kawasan Lembang. Untuk sampai ke sana, ia bahkan pernah berjalan kaki sambil membawa dagangannya.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #118: Jatuh Bangun Rendi di Bawah Tol Buah Batu
CERITA ORANG BANDUNG #119: Warkop, Mahasiswa, dan Masakan Babeh

Dari Kuli Bangunan Menjadi Pembuat Mainan

Keterampilannya membuat mainan kayu tak datang begitu saja. Sebelum berjualan mainan kayu, ia dahulu tukang bangunan. Pekerjaan tersebut membuat ia mahir dengan beberapa alat-alat bangunan, seperti kayu dan keterampilan mengukir. Pengalaman ini menjadi bekal untuk beralih profesi membuat mainan kayu.

Sehari-hari ia mengolah kayu menjadi mainan kecil yang ditempel sayap kupu-kupu agar terlihat cantik. Kupu-kupu ini ditambahkan beberapa roda sehingga bisa melaju di atas jalan.

Dalam sekali produksinya, Syukron dapat membuat mainan tersebut seratus buah untuk dijual keliling. Jalan Batununggal bukan satu-satunya yang ia lewati untuk berjualan. Terkadang ia singgah dan beristirahat di pinggir jalan. Ia juga biasanya berkeliling jualan ke daerah perumahan.

Tidak setiap perjalanan berdagang dengan barang yang habis. Ia pernah juga membawa dagangannya ke daerah Lembang yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Cara berjualan seperti itu tidak membuat setiap harinya sama. Ada beberapa mainan yang laku terjual, bahkan pernah mainannya numpuk tak ada pembeli.

Di balik aktivitasnya berkeliling menjual mainan kayu, ada kebutuhan keluarga yang ia harus penuhi. Syukron memiliki dua anak yang masih duduk di bangku SMK. Penghasilan dari berjualan mainan kayu menjadi andalan utama ekonomi keluarganya. Karena itu, yang ia lakukan bukan hanya menjajakan mainan kayunya di pinggir jalan. Tetapi ada  harapan yang indah bagi kebutuhan keluarga dan drinya. Namun ia memiliki jiwa optimis, ia tetap membuat mainan kayu tersebut dan membawanya berkeliling untuk mencari pembeli.

Menjelang matahari menenggelamkan wajahnya, Syukron kembali berjalan dan membawa mainan kayunya, menyusuri Jalan Batununggal, sembari membawa beberapa mainan yang tersisa.  Di atas jalan beraspal, mainan kupu-kupu kayu itu bergerak, sayapnya mengepak.

Bagi Syukron, mainan-mainan itu adalah penyambung nyawanya untuk bisa bertahan hidup di dunia yang keras. Keringatnya menjadi saksi, bahwa ia terus berjalan, membawa sisa dagangan yang belum laku. Besok, ia akan membuat dan menjajakan lagi, sama seperti hari-hari sebelumnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//