CERITA ORANG BANDUNG #121: Andi Tetap Menyusuri Jalan dengan Roda Mainan Anak
Andi sudah lansia dan sakit-sakitan. Ia tetap mencari nafkah sebagai pedagang keliling di Bandung demi sesuap nasi.
Penulis Adinda Putri S26 Oktober 2026
BandungBergerak - Mainan di atas gerobak milik Andi warnanya sudah memudar karena terkena panas matahari. Namun, ia tak punya pilihan selain terus berkeliling dan singgah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saat tiba di Cihapit, matahari semakin menyengat. Di antara hilir mudik pengunjung pasar, Andi menepi. Dagangnya masih sepi.
Pria berusia 65 tahun itu sudah tiga tahun berjualan mainan keliling. Sebelumnya, ia bekerja sebagai penarik becak. Seiring bertambahnya usia, ia tak sanggup lagi mengayuh moda roda tiga tersebut.
Selama tiga tahun berdagang, ia belum pernah mendapat untung, bahkan belum balik modal. Andi membeli gerobak dan barang dagangannya dari sisa tabungan ketika masih menarik becak. Pekerjaan itu pula yang membiayai kuliah kedua anaknya dan membuatnya mampu membeli sepeda motor untuk salah satu dari mereka. Kini, kedua anaknya sudah bekerja dan tinggal terpisah.
“Saya dari kecil punya cita-cita. Ingin anak yang pinter. Ya istilahnya keturutan, Neng. Sampai saya bisa nguliahkan anak,” ujar Andi pada Sabtu siang, 5 September 2026, di Cihapit.
Berasal dari Jawa, Andi merantau ke Bandung sejak muda untuk berjualan minyak wangi. Ia kemudian mengikuti teman-temannya menjadi penarik becak. Saat itu, penghasilannya bisa mencapai 500.000 rupiah sehari, dari bekerja pukul 05.00 hingga 15.00.
Namun, bertahun-tahun memforsir tenaga membuat tubuhnya semakin ringkih. Andi mengaku jarang beristirahat saat masih menarik becak karena khawatir kehilangan penghasilan.
“Karena saya sudah mungkin kecapean-kecapean. Jadi, waktu narik becak belum pernah berhenti. Kalau berhenti, rugi,” tuturnya.
Kini, menjadi pedagang keliling pun bukan perkara mudah. Andi tinggal di Cimindi dan harus menempuh perjalanan Panjang untuk menjajakan dagangannya. Ia tak lagi kuat berdiri lama-lama. Kedua kakinya melepuh dan terasa panas ketika terkena air. Tangan kanannya juga mengalami gangguan yang tak ia ketahui penyebabnya. Jari telunjuknya tampak bengkok, sehingga ia menduga dirinya terkena stroke.
“Hancurnya saya, ini Neng, gak bisa jalan. Kena ini,” ucapnya sambil memperlihatkan lepuhan di kaki.
Untuk memeriksakan kondisinya ke rumah sakit, Andi tak punya cukup uang. Memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja masih sulit. Ia sempat menunjukkan dompetnya yang hanya berisi selembar KTP.
Jika lelah, Andi terpaksa tidur di jalan. Ia jarang membeli makanan. Ketika mendapat sedikit uang dari hasil jualan, ia hanya mampu membeli roti murah. Saat dagangan tak laku, air putih menjadi pengganjal lapar. Menurutnya, terakhir kali ada pembeli sekitar dua bulan lalu.
Di gerobaknya, Andi menjajakan mobil-mobilan, motor-motoran, robot-robotan, dan berbagai mainan plastik lainnya. Ia menilai anak-anak kini kurang tertarik membeli mainan karena sibuk bermain dengan gawai.
Sepinya pembeli bukan satu-satunya persoalan. Andi pernah kehilangan tiga mobil-mobilan saat meninggalkan gerobaknya sebentar di tepi jalan. Pembeli juga kerap menawar barang di bawah harga modal.
“Dari tokonya 12.000 (rupiah), kadang-kadang ada yang nawar 10.000 (rupiah). Ya, sok ajalah,” katanya.
Ia bahkan menawarkan dua mainan seharga 15.000 rupiah. Meski demikian, Andi lebih senang jika dagangannya dibeli dengan harga murah daripada harus membawanya kembali tanpa hasil.
Sesekali, ada perempuan yang memberinya makanan atau uang. Meski berusaha menolak pemberian itu, Andi tetap menghargai kebaikan mereka.
Ia juga pernah mengalami kejadian yang membuatnya takut. Suatu hari, seorang pria kekar menghampirinya dan menunjukkan foto seseorang di layar ponsel. Pria itu bertanya apakah Andi mengenal orang dalam foto tersebut.
“Ya saya gak kenal, Om,” ujar Andi saat itu. “Dia marah-marah, sampai geradah loket (dompet) saya. Iya, saya digeledah, saya gak bisa jalan. Untungnya saya gak ada uang,” ungkapnya. Pria itu kemudian mengaku sebagai aparat.
Selain mainan, Andi menjual barang-barang kecil seperti peniti dan jarum pentul. Kotak-kotak plastik tempat menyimpan jarum itu sudah kusam, sementara sebagian jarumnya tampak berkarat. Barang yang dianggapnya tak layak jual ia simpan di bagian bawah gerobak. Terkadang, ia melarang pembeli memilih barang-barang tersebut.
Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #119: Warkop, Mahasiswa, dan Masakan Babeh
CERITA ORANG BANDUNG #120: Sayap Kupu-kupu Kayu Menemani Langkah Panjang Syukron

Potret Kemiskinan
Kisah Andi memperlihatkan kerentanan warga lanjut usia yang masih harus bekerja di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi. Kondisinya juga menjadi bagian dari persoalan kemiskinan di Kota Bandung.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, persentase penduduk miskin pada 2025 mencapai 3,78 persen atau sekitar 99.120 orang. Angka ini menurun dibandingkan dengan 3,87 persen pada 2024 dan 3,96 persen pada 2023.
Namun, penurunan persentase penduduk miskin tersebut tidak diikuti oleh penurunan garis kemiskinan. Sebaliknya, garis kemiskinan Kota Bandung terus meningkat dari tahun ke tahun. Garis kemiskinan merupakan batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup di suatu wilayah. Kenaikannya menunjukkan bahwa biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat semakin tinggi.
Data BPS Kota Bandung pada 2024 juga mencatat bahwa 24,01 persen penduduk miskin bekerja di sektor informal. Dalam Profil Kemiskinan Kota Bandung 2024, BPS menjelaskan bahwa bekerja tidak serta-merta menjamin kesejahteraan. Pekerja informal, terutama yang berpenghasilan rendah, tetap rentan terhadap kemiskinan akibat pendapatan terbatas dan ketidakpastian pekerjaan.
Andi menjadi salah satu gambaran kerentanan tersebut. Di tengah kondisi fisik yang kian memburuk, ia tetap berjualan meski hasilnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya jualannya kemampuannya gini,” cerita Andi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


