Masa Depan Petani Makin Gelap: Sumber Air Kering, Lahan Hilang
Petani menghadapi persoalan irigasi dan tekanan pembangunan, sementara pekerjaan tani semakin sulit diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 5 Oktober 2026
BandungBergerak - Sejak kecil, Dean, 20 tahun, mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), melihat sendiri bagaimana ayahnya, seorang petani gurem di Purwakarta, berjuang mempertahankan lahan dan penghidupan keluarganya dari hasil pertanian. Baginya Dean, bertani bukan sekadar pekerjaan.
Namun, persoalan air membuat usaha tersebut semakin sulit dipertahankan. Hingga kini, kata Dean, tidak banyak perubahan yang dirasakan keluarganya. Ayahnya bahkan terpaksa meninggalkan pekerjaan sebagai petani dan beralih menjadi buruh bangunan.
“Sudah dari dulu, dari saya kecil, saya lihat gimana susahnya ayah saya bertani, tapi sampai saat ini gak ada solusi konkret gitu. Bahkan sekarang pun Ayah saya masih kesusahan, akhirnya sekarang malah jadi kuli, kuli bangungan, karena sudah tidak memungkinkan untuk bertani, gak ada air,” ujar Dean selepas berorasi di Aksi Kamisan Jatinangor, Kamis, 24 September 2026.
Mengenakan topi jerami, Dean ditemui BandungBergerak di sela-sela yang bertepatan dengan Hari Tani Nasional 2026. Pengalaman keluarganya itu membuat Dean melihat persoalan pertanian tidak semata-mata berkaitan dengan hasil panen.
Menurut Dean, ketersediaan air, irigasi, lahan, hingga pembangunan infrastruktur turut menentukan apakah petani masih dapat bertahan menggarap sawahnya. Namun, ia juga melihat persoalan konflik lahan mengancam para petani.
Bersama sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad, Dean beberapa kali mengunjungi wilayah pertanian di sekitar Jatinangor dan Sumedang. Dari kunjungan tersebut, ia menemukan persoalan irigasi sebagai salah satu masalah yang masih dihadapi petani.
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh pembangunan berbagai proyek berskala besar yang dinilai belum selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap wilayah pertanian.
“Juga sekarang masalah yang banyak terjadi di banyak tempat itu masalah irigasi, dan ini diperparah oleh banyaknya proyek-proyek strategis nasional yang mungkin rasa-rasanya tidak melihat dampak dari hal tersebut,” katanya.
Terabaikannya petani dalam proyek-proyek pembangunan tersebut pada akhirnya menimbulkan dampak yang cukup serius bagi para petani, terlebih untuk kalangan petani muda. Selain semakin sulitnya para petani tersebut melakukan pertanian karena berbagai hambatan yang bermunculan, hasil yang diterima oleh para petani pun dapat dikatakan tidak sebanding dengan usaha-usaha yang telah mereka lakukan.
Hal ini berdampak jauh hingga menyentuh pada semangat kalangan muda yang saat ini kian berjarak dengan pertanian. Bertani tak lagi menjadi pekerjaan yang dipilih oleh banyak orang yang hidup di negeri agraris ini. Lebih jauh dari itu, tidak sedikit pula petani yang menyerah pada kondisi gelap ini, mereka memilih menjual lahannya dan mencari pekerjaan lainnya yang dinilai lebih menjanjikan.
“Ini di mana-mana juga terjadi. Saat ini para petani kebanyakan pada gulung tikar belakangan ini. Mereka pada gak tahu apa yang harus mereka lakukan,” ujarnya.

Persoalan tersebut turut menyentuh generasi muda. Ketika pertanian dinilai tidak lagi mampu memberikan penghidupan yang layak, pekerjaan sebagai petani semakin jauh dari pilihan generasi berikutnya. Jika kondisi itu terus berlangsung, persoalan pertanian tidak hanya menyangkut kesejahteraan petani hari ini, tetapi juga keberlanjutan sektor pertanian pada masa mendatang.
Bila, 19 tahun, mahasiswi baru Fakultas Pertanian Unpad, merasakan persoalan tersebut dari sisi berbeda. Ketika memilih kuliah di bidang pertanian, ia sempat mendapat pertanyaan dan anggapan dari orang-orang di sekitarnya bahwa menjadi petani bukan pilihan hidup yang menjanjikan.
Bagi Bila, pandangan tersebut justru memperlihatkan adanya jarak antara pentingnya pekerjaan petani dan penghargaan yang diterima para pelakunya. Petani, menurut dia, memiliki peran mendasar karena menyediakan pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
“Kami itu tani yang menyediakan apa yang ada di piring kalian, kami itu mengingatkan kepada kalian bahwa kami ada di sini untuk memenuhi keseharian kalian, memenuhi makanan yang ada di piring kalian sampai saat ini,” kata Bila.
Ia menilai persoalan kesejahteraan petani tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan hak dan ketimpangan yang masih terjadi. Karena itu, perhatian terhadap petani semestinya tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi juga menyentuh kondisi yang mereka hadapi sehari-hari.
Bila juga menjadi salah satu peserta Aksi Kamisan Jatinangor. Aksi yang bertepatan dengan Hari Tani Nasional dan menjadi ruang bagi mahasiswa serta peserta aksi untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi petani.
Baca Juga: Bandung Krisis Air Bersih, Warga Mencari Jalan Keluar Sendiri
EL NINO BANDUNG RAYA: Saat Keran Jatinangor Mengering, Mahasiswa Menumpang Mandi ke Masjid
Dalam Aksi Kamisan Jatinangor, sebuah instalasi memedi sawah diletakkan di atas kain putih. Cat semprot merah membentuk pola menyerupai sketsa tubuh di lokasi kejadian perkara. Instalasi tersebut menjadi simbol keresahan peserta aksi terhadap kondisi petani.
Bagi Bila, momentum Hari Tani Nasional bukan sekadar perayaan. Ia melihat masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, mulai dari kesejahteraan hingga pemenuhan hak petani.
“Kami merasa bahwa sampai hari ini dunia kami begitu gelap. Kami itu bukan untuk merayakan sebenarnya, tapi Hari Tani itu bagi kami adalah hari duka cita kami karena sampai detik ini seharusnya kami mendapatkan yang lebih baik. Tapi sekarang itu kami merasa disepelekan,” ujarnya.
Peringatan Hari Tani memang berlangsung pada satu hari. Namun, persoalan yang melatarbelakanginya tidak berhenti ketika momentum tersebut berakhir. Bagi Dean dan Bila, persoalan air, keberlanjutan lahan, kesejahteraan, dan regenerasi petani merupakan masalah yang terus berlangsung dan menentukan masa depan pertanian.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


