PROFIL KOMUNITAS UTARA CREW: Musik Rap untuk Merawat Kekacauan
Berangkat dari tongkrongan di Sukajadi, kolektif rap Bandung Utara Crew membangun ruang berkarya yang egaliter dan menolak pakem.
Penulis Djoko Subinarto9 Oktober 2026
BandungBergerak - Sekelompok orang muda dari kolektif hiphop Utara Crew (UTC) asyik berbincang di sebuah ruangan 4x3 meter kawasan Sukajadi, Bandung, Jumat malam, 18 September 2026. Ruangan itu sederhana: rak buku tertata rapi, sebuah meja berisi laptop dan alat perekam, sepasang speaker di kiri-kanan yang terus memutar musik hiphop bertempo cepat, serta kepulan asap rokok.
Di antara orang-orang muda tersebut, Jengsky dan Kinep secara bergantian bercerita tentang UTC kepada saya. Utara Crew adalah kolektif hiphop asal Bandung yang terbentuk sejak Desember 2025 dan aktif merilis karya di berbagai platform digital. Ruang ini pada mulanya lahir dari semangat tongkrongan yang terpantik oleh sebuah proyek dokumenter untuk kebutuhan kuliah dari Suara Langit, yang dibantu oleh Jengsky dan Rai. Proyek film itu akhirnya rampung, namun komunikasi di antara mereka tetap terjalin karena kesamaan minat pada musik hip hop, hingga akhirnya lahir Utara Crew sebagai ruang pengkaryaan bersama.
"Terus urang sebagai kakak tingkat diskusi akhirnya bikin lah grup UTC, karena studio urang jadi kaya tempat berkumpul kreatif hub," ujar Jengsky.
Ia menyebut, UTC merupakan turunan Katastrofe, komunitas film yang diklaim egaliter. Tidak ada hierarki di sana, tanpa perencanaan, semua orang sutradara sekaligus crew. Komunitas ini mengusung pada semangat DIWO (Do It With Other) karena berkarya sendirian dianggap mustahil.
"Karena kita masih butuh orang lain, walaupun maneh mengaku sebagai individualis, maneh mangaku sebagai egois segala macem," timpal Kinep.
Seiring waktu, UTC membuka ruang bagi siapa pun yang memiliki minat sama pada seni musik rap meski datang dari latar belakang berbeda. Anggota UTC hari ini tercatat sudah ada 12 rapper di antaranya Jengsky, Kinep, Suara Langit, Hecozgun, Just Dextro, JyO, Bloodheartz, Ieszha, Blessthekid, Jysanju, Snoopyrip, dan Veilss – sebagian besar bahkan awalnya saling mengenal lewat media sosial, khususnya Instagram dan Discord.
Salah satu contohnya adalah Ieszha, yang bergabung pada Juni 2026 dan tercatat sebagai anggota termuda UTC. Ia masih berstatus siswa sekolah menengah pertama, namun sudah memiliki sejumlah rilisan musik. Ieszha menceritakan bahwa awal mula ia bergabung berawal dari kesulitannya menemukan teman sesama penggemar hiphop di Bandung, hingga akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan langsung kepada Yoyo alias Blood Heartz setelah menemukan akunnya di Instagram. Dari situlah keduanya berkenalan.
Sebelum bergabung dengan Utara Crew, Ieszha sebenarnya telah aktif merekam musik hiphop secara mandiri dengan peralatan seadanya, menggunakan headset gaming yang disambungkan ke mikrofon di sebuah warnet. Ketertarikannya pada musik hiphop bermula saat mendengarkan lagu "Free York City" milik Doms Dee.
Jengsky mengenang bahwa saat pertama kali datang ke tongkrongan UTC, Ieszha langsung diajak untuk merekam bersama, dan semangat pengkaryaan itu terbukti membuahkan hasil karena kemampuan Ieszha ternyata di luar dugaan.
"Kalau lu jago ya jago, kita angkat, kita bantuin, kita bareng-bareng, kita berteman dengan baik," ujar Jengsky, menegaskan bahwa di UTC tidak ada yang mempersoalkan siapa yang lebih dulu bergabung.
Menjaga Kolektif Tetap Sehat
UTC berupaya menghilangkan segala bentuk kesenjangan di antara anggotanya agar bisa saling mengingatkan dan tumbuh sebagai kolektif yang sehat. Kinep mencontohkan bahwa ketika Ieszha begadang semalaman namun tetap harus bersekolah keesokan harinya, teman-temannya akan membangunkannya untuk berangkat sekolah, bukan malah membiarkannya bolos atau melakukan hal-hal yang tidak semestinya.
Secara identitas, UTC memandang dirinya sebagai perkumpulan orang-orang "culun" atau nerd yang gemar mengulik hal-hal yang luput dari perhatian gelombang baru (new wave) musik hip hop, sejalan dengan logo yang mereka adopsi, yaitu star of chaos. Jengsky menegaskan bahwa kelompok ini bukan sekumpulan orang yang tersisih dari lingkungan sosial, melainkan orang-orang yang justru mampu berbaur dengan masyarakat namun tetap menggali hal-hal unik—seperti karya Hecozgun yang pernah membuat lagu bertema Kamen Rider dan obrolan santai khas warkop di kawasan utara.
Perbedaan latar belakang tiap anggota UTC juga melahirkan ciri khas masing-masing. Jengsky, Suara Langit, Blessthekid, dan Kinep misalnya, banyak mengambil referensi dari dunia film, sementara Bloodheartz yang aktif berselancar di internet lebih banyak menyerap referensi dari ranah digital. Secara spektrum politik, kelompok ini menyebut diri menganut paham post-life.
Setelah pertemuan awal antara Jengsky, Suara Langit, dan Rae, mereka kemudian bertemu rekan-rekan lain secara daring maupun tidak sengaja bertemu, yaitu Kinep, Bloodheartz dan Dextro, yang berkenalan lewat Discord. Dari sinilah lahir karya-karya awal Utara Crew, diawali oleh Kinep dengan album bertajuk Terror Swag, disusul Dextro dengan album Bramacorah.
Saat ini, pergerakan Utara Crew berfokus pada branding di ranah internet serta produksi karya, termasuk penggarapan mixtape gabungan yang merangkum lagu-lagu dari seluruh anggota UTC menjadi satu rilisan. Jengsky memandang dirinya sebagai seniman yang pada akhirnya harus melepas karyanya ke publik tanpa banyak pertimbangan berlebih.
Di balik proses berkarya yang terus berjalan, UTC juga menjalankan semacam mekanisme internal untuk menjaga kesehatan kolektifnya. Jengsky mencontohkan bahwa ketika pernah muncul kasus yang bersinggungan dengan pedofilia di antara mereka, orang yang bersangkutan langsung dikeluarkan dari kolektif. Kasus tersebut sengaja tidak diekspos ke publik, namun tetap diberikan sanksi sosial.
"Ya bikin nyamanlah buat semua orang, buat kawan-kawan semua, buat kawan queer, kawan transgender, LGBTQ," ujar Jengsky, menjelaskan alasan di balik langkah tersebut.
Baca Juga: PROFIL KOMUNITAS VOLUBIT: Ruang bagi Orang Muda Belajar dan Bertahan di Dunia Kripto
PROFIL KOMUNITAS OUR HOME: Sekolah Tanpa Seragam untuk Anak Jalanan
Ekosistem Rap Bandung
UTC menyadari posisinya sebagai kolektif bawah tanah dengan jumlah pendengar berkisar antara 200 hingga 700 orang per rilisan. Meski demikian, nama UTC cukup dikenal, terutama di pusat industri musik hip hop, yakni Jakarta Selatan.
Menurut Jengsky, gelombang baru (new wave) hiphop Bandung belum benar-benar terbentuk karena panggung sejarahnya masih dikuasai generasi old school. Ia menyebut sulit untuk melepaskan diri dari pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung, dari sosok seperti Ucok Homicide dan Def Bloc—figur yang menurutnya telah membangun "menara gading" dengan kekuatan lirik dan substansi.
UTC juga tidak menampik bahwa kemunculan new wave tidak lepas dari kondisi material di sekitarnya. Bagi mereka, ini merupakan bentuk bagaimana mereka tetap bertahan sebagai kelompok lumpen. Kondisi ini tergambar dari lirik Suara Langit yang menuliskan tentang kursi Indomaret sebagai tempatnya melamun.
Situasi ini membuat ekosistem hiphop lokal sulit berkembang, terlebih ketika brand-brand lokal lebih memilih mendatangkan artis dari kota lain seperti Jakarta dan Bekasi untuk tampil di Bandung, sementara musisi lokal sendiri jarang mendapat panggung. Jengsky menilai skena Bandung masih kurang mapan dibandingkan Jakarta Selatan yang sudah terbentuk sejak 2017–2018, melalui era Kuldesak, BHAP, hingga Onar.
Banyak anggota UTC sebenarnya saling terhubung dan bertemu setelah momentum Onar Fest, festival rap pertama yang sepenuhnya digagas dan didanai secara swadaya (crowdfunding) tanpa sponsor. Jengsky membandingkan pengalamannya tampil di dua kota tersebut.
"Urang sering banget konser di Bandung, tapi ketika urang konser di luar, ngisi acara di Jakarta Selatan, urang bisa dibayar dengan benar, sedangkan di Bandung nol yang masuk," ujarnya, menyebut kondisi ini cukup miris dan mencerminkan lemahnya ekosistem musik di kota asalnya.
Semangat yang dipegang UTC sejalan dengan logo yang mereka usung, yaitu chaos star. Prinsipnya sederhana: membuat apa pun, merilis apa pun, dan meramaikannya. Produktivitas mereka pun terbilang tinggi; tak jarang mereka merilis karya setiap hari, bahkan mampu merampungkan dua album hanya dalam rentang dua minggu. Di saat kolektif atau musisi lain sibuk memikirkan struktur organisasi dan strategi pemasaran, UTC memilih untuk sepenuhnya berfokus pada semangat penciptaan karya.
Jengsky menutup dengan menjelaskan filosofi di balik nama besar mereka: chaos magic dimaknai sebagai bentuk manifestasi, dan bagi UTC, hip hop yang mereka bangun adalah wujud dari manifestasi itu sendiri—sebuah bentuk hip hop yang tidak tunduk pada aturan baku, melainkan menciptakan aturannya sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


